alexametrics
28 C
Pontianak
Thursday, May 26, 2022

Lelah Namun Tetap Optimis Virus Corona akan Berakhir

Bagi sebagian orang, melihat Pontianak dan Kubu Raya menjadi tempat yang nyaman untuk menetap. Namun tak sedikit yang menjadikannya sebagai tempat mempertaruhkan hidup, berjuang tanpa mundur apa lagi menoleh untuk pulang.

DENY HAMDANI, Pontianak

IBU kota provinsi dan daerah penyangganya tetap ramai dan hidup, meski sudah hampir dua tahun berjuang melawan virus corona (Covid-19). Penduduknya seakan tak ingin kalah dengan pandemi Covid-19 yang telah mewafatkan banyak orang di Kalbar ini. Terlihat jelas di sudut Pontianak dan Kubu Raya, lalu lalang orang-orang yang bekerja masih ada demi dapat bertahan hidup. Lelah, capek, dan letih ditambah  keadaan yang seperti saat ini akibat pandemi yang belum kunjung berakhir. Meski di tengah PPKM level 3 dan 4, tetapi semangat orang mencari makan tetap tinggi.

Malam itu, di tengah ramainya hiruk pikuk suara malam terlihat seorang pria paruh bayah sedang berdiri di depan gerobak jualannya, sambil menggoreng beberapa makanan. Hendratno (45) nama panggilannya. Pria asal Jawa Tengah ini telah lama menetap di Kubu Raya hingga kemudian berkeluarga dan tak pernah balik lagi ke kampung halaman dengan alasan besarnya biaya untuk kembali.

Baca Juga :  46 Advokat Peradi Diambil Sumpah di Pengadilan Tinggi

Dari banyaknya orang yang berusaha bertahan di tengah pandemi Covid-19 di Kubu Raya, Hendratno salah satu orang yang tidak patah semangat. Untuk bertahan hidup, dia sehari-harinya menjual berbagai gorengan seperti, gorengan tempe, tahu, bakwan, pisang goreng, molen dan lumpia. Beliau bangun sejak subuh dan mulai mempersiapkan jualannya.

“Setiap hari saya bangun sejak subuh, dan sekitar jam enam mulai mempersiapkan jualan. Saya jualan mulai jam dua siang dan selesai hingga sembilan malam,” katanya.

Meskipun bekerja sebagai penjual gorengan, dia juga ternyata ikut merasakan dampak dari pandemi Covid-19 ini. Perkerjaan yang menjadi penopang hidup keluarganya selama bertahun-tahun ini harus mengalami penurunan lantaran pandemi Covid-19 yang tak kunjung berakhir.

“Turunnya dari omset pendapatan itu bisa turun 30-50 persen. Biasanya 500-1 juta. Sekarang tinggal 100.00- sampai 200.000 saja. Selama pandemi ini semakin kesini semakin nurun. Belum lagi harga-harga bahan pada naik sedangkan harga gorengan ga mungkin dinaikan. Kayak sembako sama sayuran itu pada naik semua. Jadi omset kita makin turun dan keuntungan makin turun lagi,” katanya.

Baca Juga :  Gubernur Peringati Hari Lahir Pancasila Bersama Presiden

Untuk menambah penghasilan, Dia  juga membangun sebuah warung kecil di rumahnya. Warung tersebut sehari-harinya dijaga istrinya. Sementara dia berjualan gorengan di bibir jalan Adisucipto, Kubu Raya. Akan tetapi sejak beberapa tahun lalu, sang istri meninggal dunia, hingga dirinya saat ini hanya tinggal bersama dua anaknya. Dua anaknya lagi masing-masing sudah menikah.

“Di rumah itu ada warung yang dijaga istri, dan karena istri udah ga ada (meninggal) jadi udah ga ada lagi yang jaga warung dan saya tinggal hidup sama anak saya. Akhirnya warung tutup, tinggal jualan gorengan saja,” tukasnya.

Pada akhirnya wawancara, dia berharap semoga pandemi segera berakhir supaya  dirinya bisa mendapatkan omset seperti biasanya. Sebab hanya dari hasil jualan gorengan inilah dirinya dapat memenuhi kebutuhan hidup bersama sang anak.

“Supaya normal kembali kayak dulu lagi, konsumen saya kebanyakan orang kantor dan orang laluj lalang. karena kemarin-kemarin jalur keluar masuk diperketat, sedikit sekali pembeli di tempat saya. Jadi kalau kemungkinan bisa normal kembali yah pendapatan bakalan normal lagi, kerasa susahnya ketika virus Covid-19 ini,” ungkapnya.*

Bagi sebagian orang, melihat Pontianak dan Kubu Raya menjadi tempat yang nyaman untuk menetap. Namun tak sedikit yang menjadikannya sebagai tempat mempertaruhkan hidup, berjuang tanpa mundur apa lagi menoleh untuk pulang.

DENY HAMDANI, Pontianak

IBU kota provinsi dan daerah penyangganya tetap ramai dan hidup, meski sudah hampir dua tahun berjuang melawan virus corona (Covid-19). Penduduknya seakan tak ingin kalah dengan pandemi Covid-19 yang telah mewafatkan banyak orang di Kalbar ini. Terlihat jelas di sudut Pontianak dan Kubu Raya, lalu lalang orang-orang yang bekerja masih ada demi dapat bertahan hidup. Lelah, capek, dan letih ditambah  keadaan yang seperti saat ini akibat pandemi yang belum kunjung berakhir. Meski di tengah PPKM level 3 dan 4, tetapi semangat orang mencari makan tetap tinggi.

Malam itu, di tengah ramainya hiruk pikuk suara malam terlihat seorang pria paruh bayah sedang berdiri di depan gerobak jualannya, sambil menggoreng beberapa makanan. Hendratno (45) nama panggilannya. Pria asal Jawa Tengah ini telah lama menetap di Kubu Raya hingga kemudian berkeluarga dan tak pernah balik lagi ke kampung halaman dengan alasan besarnya biaya untuk kembali.

Baca Juga :  Cek Fungsi Drainase dan Parit

Dari banyaknya orang yang berusaha bertahan di tengah pandemi Covid-19 di Kubu Raya, Hendratno salah satu orang yang tidak patah semangat. Untuk bertahan hidup, dia sehari-harinya menjual berbagai gorengan seperti, gorengan tempe, tahu, bakwan, pisang goreng, molen dan lumpia. Beliau bangun sejak subuh dan mulai mempersiapkan jualannya.

“Setiap hari saya bangun sejak subuh, dan sekitar jam enam mulai mempersiapkan jualan. Saya jualan mulai jam dua siang dan selesai hingga sembilan malam,” katanya.

Meskipun bekerja sebagai penjual gorengan, dia juga ternyata ikut merasakan dampak dari pandemi Covid-19 ini. Perkerjaan yang menjadi penopang hidup keluarganya selama bertahun-tahun ini harus mengalami penurunan lantaran pandemi Covid-19 yang tak kunjung berakhir.

“Turunnya dari omset pendapatan itu bisa turun 30-50 persen. Biasanya 500-1 juta. Sekarang tinggal 100.00- sampai 200.000 saja. Selama pandemi ini semakin kesini semakin nurun. Belum lagi harga-harga bahan pada naik sedangkan harga gorengan ga mungkin dinaikan. Kayak sembako sama sayuran itu pada naik semua. Jadi omset kita makin turun dan keuntungan makin turun lagi,” katanya.

Baca Juga :  Serahkan Dokumen Akta Kematian

Untuk menambah penghasilan, Dia  juga membangun sebuah warung kecil di rumahnya. Warung tersebut sehari-harinya dijaga istrinya. Sementara dia berjualan gorengan di bibir jalan Adisucipto, Kubu Raya. Akan tetapi sejak beberapa tahun lalu, sang istri meninggal dunia, hingga dirinya saat ini hanya tinggal bersama dua anaknya. Dua anaknya lagi masing-masing sudah menikah.

“Di rumah itu ada warung yang dijaga istri, dan karena istri udah ga ada (meninggal) jadi udah ga ada lagi yang jaga warung dan saya tinggal hidup sama anak saya. Akhirnya warung tutup, tinggal jualan gorengan saja,” tukasnya.

Pada akhirnya wawancara, dia berharap semoga pandemi segera berakhir supaya  dirinya bisa mendapatkan omset seperti biasanya. Sebab hanya dari hasil jualan gorengan inilah dirinya dapat memenuhi kebutuhan hidup bersama sang anak.

“Supaya normal kembali kayak dulu lagi, konsumen saya kebanyakan orang kantor dan orang laluj lalang. karena kemarin-kemarin jalur keluar masuk diperketat, sedikit sekali pembeli di tempat saya. Jadi kalau kemungkinan bisa normal kembali yah pendapatan bakalan normal lagi, kerasa susahnya ketika virus Covid-19 ini,” ungkapnya.*

Most Read

Artikel Terbaru

/