23.9 C
Pontianak
Thursday, December 1, 2022

Dewan Kalbar Rindu Pak Gubernur, Bahas APBD Perubahan 2022 Sering Diwakilkan

PONTIANAK – Ketuk palu sekaligus pembacaan pandangan akhir fraksi-fraksi DPRD Kalbar pada Rapat Paripurna Perubahan APBD 2022 sudah selesai dilakukan. Hanya saja dalam beberapa kali pertemuan, sejak  pembahasan awal hingga ketuk palu, sosok Gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji “seolah-olah” menghilang. Meskipun sudah diwakilkan kepada Wakil Gubernur, Sekda atau Asisten, tetap saja politisi-politisi berbagai fraksi menyatakan kerinduannya.

Heri Mustamin anggota DPRD Provinsi Kalimantan Barat mengatakan secara sistem dan mekanisme, ketidakhadiran Gubernur Kalbar, Sutarmidji bukanlah masalah atau  persoalan dalam pembahasan APBD Perubahan 2022.

“Sistemnya memang sudah seperti itu. Kalau tidak hadir kan biasanya diamanatkan untuk diwakilkan ke Wakil Gubernur, Sekda atau Asisten. Sah-sah saja dan diperbolehkan dalam aturan mainnya,” kata dia.

Hanya saja, lanjut Heri, DPRD Kalbar semua merasa sedikit kurang saja dalam pembahasan beberapa kali APBD Perubahan 2022 ini. Itu karena APBD adalah urat nadi pembangunan di Kalimantan Barat. Seyogyanya juga kehadiran Gubernur Kalbar menjadi sangat penting, meskidalam sistem pemerintahan tak masalah, lantaran sudah memberikan mandat ke bawahannya.

Baca Juga :  Wali Kota Pontianak Akui Orang Miskin Bertambah, Volume APBD Kian Meningkat

“Nah kehadiran pak Gubernur ini yang dirindukan kawan-kawan di DPRD Kalbar. Beberapa kali pembahasan, kami lihat dari awal penyampaian APBD Perubahan, sampai pengesahan, pak Gub seolah-olah menghilang atau tidak hadir. Sering diwakilkan kepada Wagub, Sekda bahkan Asisten,” ujarnya.

Secara aturan juga, ulangnya kembali, memang kehadiran tak menjadi masalah berat. Sebab memang kepala daerah tidak melanggar sistem dan mekanisme. Dibolehkan dilakukan, berkenaan dengan tugas kepala daerah mengamanatkan kepada bawahannya. Hanya saja raut wajah kawan-kawan di DPRD Kalbar, sesungguhnya memang merindukan kehadiran Gubernur Kalbar.

Tadi seusai penyampaian juru bicara fraksi dan sejumlah anggota DPRD Kalbar, banyak yang keluar ruangan? Heri menjawab bahwa kemungkinan kawan-kawan keluar ruangan sebentar, saat paripurna pengesahan dan pembacaan pandangan akhir fraksi-fraksi di DPRD Kalbar lantaran merasa capek dan lelah. Sebab, tim banggar DPRD hingga perwakilan fraksi-fraksi sesungguhnya sangat intensif bekerja membahas pengesahan APBD Perubahan tahun 2022 ini.

Baca Juga :  Serapan Anggaran Cuma 82,16 Persen, Midji Beberkan Penyebab Belum Maksimal

“Jadi kalau kawan-kawan wartawan menanyakan kecewa, rasanya tidak kok. Semuanya lebih kepada capek atau lelah saja,” kata dia.

Hanya saja, Heri kembali mengulang bahwa APBD adalah urat nadi dan penting. Namanya urat nadi menyangkut berbagai hal penting untuk pembangunan di Kalimantan Barat. Makanya ada aura berbeda saja, apabila bicara kehadiran atau tidak sosok Gubernur Kalbar, Sutarmidji.

“Kembali lagi, Dewan Kalbar sendiri sesungguhnya rindu sosok pak Gubernur dan berharap hadir. Itu saja,” ucapnyah mengakhiri pembicaraan. (den)

PONTIANAK – Ketuk palu sekaligus pembacaan pandangan akhir fraksi-fraksi DPRD Kalbar pada Rapat Paripurna Perubahan APBD 2022 sudah selesai dilakukan. Hanya saja dalam beberapa kali pertemuan, sejak  pembahasan awal hingga ketuk palu, sosok Gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji “seolah-olah” menghilang. Meskipun sudah diwakilkan kepada Wakil Gubernur, Sekda atau Asisten, tetap saja politisi-politisi berbagai fraksi menyatakan kerinduannya.

Heri Mustamin anggota DPRD Provinsi Kalimantan Barat mengatakan secara sistem dan mekanisme, ketidakhadiran Gubernur Kalbar, Sutarmidji bukanlah masalah atau  persoalan dalam pembahasan APBD Perubahan 2022.

“Sistemnya memang sudah seperti itu. Kalau tidak hadir kan biasanya diamanatkan untuk diwakilkan ke Wakil Gubernur, Sekda atau Asisten. Sah-sah saja dan diperbolehkan dalam aturan mainnya,” kata dia.

Hanya saja, lanjut Heri, DPRD Kalbar semua merasa sedikit kurang saja dalam pembahasan beberapa kali APBD Perubahan 2022 ini. Itu karena APBD adalah urat nadi pembangunan di Kalimantan Barat. Seyogyanya juga kehadiran Gubernur Kalbar menjadi sangat penting, meskidalam sistem pemerintahan tak masalah, lantaran sudah memberikan mandat ke bawahannya.

Baca Juga :  Sampaikan Pertanggungjawaban APBD

“Nah kehadiran pak Gubernur ini yang dirindukan kawan-kawan di DPRD Kalbar. Beberapa kali pembahasan, kami lihat dari awal penyampaian APBD Perubahan, sampai pengesahan, pak Gub seolah-olah menghilang atau tidak hadir. Sering diwakilkan kepada Wagub, Sekda bahkan Asisten,” ujarnya.

Secara aturan juga, ulangnya kembali, memang kehadiran tak menjadi masalah berat. Sebab memang kepala daerah tidak melanggar sistem dan mekanisme. Dibolehkan dilakukan, berkenaan dengan tugas kepala daerah mengamanatkan kepada bawahannya. Hanya saja raut wajah kawan-kawan di DPRD Kalbar, sesungguhnya memang merindukan kehadiran Gubernur Kalbar.

Tadi seusai penyampaian juru bicara fraksi dan sejumlah anggota DPRD Kalbar, banyak yang keluar ruangan? Heri menjawab bahwa kemungkinan kawan-kawan keluar ruangan sebentar, saat paripurna pengesahan dan pembacaan pandangan akhir fraksi-fraksi di DPRD Kalbar lantaran merasa capek dan lelah. Sebab, tim banggar DPRD hingga perwakilan fraksi-fraksi sesungguhnya sangat intensif bekerja membahas pengesahan APBD Perubahan tahun 2022 ini.

Baca Juga :  PSP Terancam Dipansuskan Dewan Kalbar

“Jadi kalau kawan-kawan wartawan menanyakan kecewa, rasanya tidak kok. Semuanya lebih kepada capek atau lelah saja,” kata dia.

Hanya saja, Heri kembali mengulang bahwa APBD adalah urat nadi dan penting. Namanya urat nadi menyangkut berbagai hal penting untuk pembangunan di Kalimantan Barat. Makanya ada aura berbeda saja, apabila bicara kehadiran atau tidak sosok Gubernur Kalbar, Sutarmidji.

“Kembali lagi, Dewan Kalbar sendiri sesungguhnya rindu sosok pak Gubernur dan berharap hadir. Itu saja,” ucapnyah mengakhiri pembicaraan. (den)

Most Read

Artikel Terbaru

/