alexametrics
25 C
Pontianak
Tuesday, June 28, 2022

Melihat Galeri Harry Eko Rivanto, Ampas Kopi Hasilkan Lukisan Bernilai Seni Tinggi

Kopi menjadi minuman favorit berbagai kalangan. Namun siapa sangka, ampas dari minuman itu bisa menjadi lukisan dengan nilai seni tinggi. Karya itu lahir dari tangan, Harry Eko Rivanto.

RAMSES TOBING, Pontianak

GALERI milik Harry Eko Rivanto berupa bangunan sederhana di Gang Belibis Tengah, Jalan Merdeka, Kecamatan Pontianak kota. Di dalamnya penuh dengan ragam karya dari tangan Harry Eko Rivanto.

Tanpa banyak yang tahu jika disebut Harry Eko Rivanto. Sebagian besar orang mengenal pria berusia 63 tahun itu dengan sebutan Mustang. Ia dikenal sebagai seniman limbah. Dalam ruangan itu juga banyak karya-karya seninya yang semuanya memanfaatkan limbah. Salah satunya adalah ampas kopi.

Tiga tahun sudah Mustang bergelut dengan seni ampas kopi. Berawal dari sepanjang Jalan Gajahmada yang menjadi sentra warung kopi. Ia mendapatkan ide memanfaatkan ampas kopi itu agar tidak menjadi limbah yang mencemarkan lingkungan.

Bagi pemilik warung kopi, ampas itu dibuang begitu saja. Ia justru melakukan sebaliknya. Ampas kopi itu dikumpulkan dan diolah menjadi karya dengan nilai seni tinggi.

“Jika dibuang, ampas kopi ini akan membaur dengan lumpur dan tanah, sehingga tidak kelihatan bahwa itu pencemaran lingkungan,” kata bapak dua anak ini.

Mustang menyebutkan ampas kopi itu didapatkan secara gratis dari pemilik warung kopi. Untuk satu warung kopi, ia bisa mengumpulkan enam hingga delapan kilo ampas. “Itu hanya memakan waktu setengah hari saja. Kalau satu hari penuh bisa terkumpul sepuluh hingga dua belas kilo ampas kopi,” kata dia.

Mustang menyiapkan tempat khusus bagi pemilik warung kopi. Satu tempat untuk menampung ampas kopi. Satu tempat lainnya untuk menampung sampah.

Baca Juga :  Plat Nomor Luar Harus Berganti KB

Cara ini dilakukan untuk mengedukasi pemilik warung agar memilah-milah limbah. Dengan cara ini juga ia tak harus repot mengumpulkan ampas kopi. Tnggal datang di pagi hari dan mengambil ampas yang sudah terkumpul.

Namun tak semua ampas itu diambilnya dari setiap warung kopi. Alasannya karena keterbatasan tempat. “Jika terlalu banyak tidak sanggup mengolahnya, karena tidak ada tempat lagi untuk menampung. Kecuali untuk pembinaan di satu tempat, ampas-ampas kopi bisa dikumpulkan,” jelas dia.

Jika ampas yang didapatkan itu dalam kondisi basah maka tidak harus diolah lagi. Ampas yang seperti itu bisa langsung digunakan untuk melukis, dan tidak harus dijemur. “Tetapi dijemur pun bisa tapi cara melukisnya yang berbeda,” kata dia.

Ada dua cara yang bisa dilakukan melukis dengan menggunakan ampas kopi. Jika menggunakan ampas basah, maka tinggal dimasukkan plastik berbentuk segitiga. Plastik itu yang digunakan ibu-ibu untuk menghiasi kue.

Jika menggunakan ampas kering, maka penggunaannya dicampur dengan lem. Berbeda dengan yang basah, penggunaan ampas kering ini menggunakan kuas saat melukis.

Ia menyebutkan sebagian besar seniman baik itu di Pontianak maupun di luar melukis justru menggunakan sisa-sisa air ampas kopi. “Saya mengolah dengan karya seni sendiri, sehingga lebih banyak menghabiskan ampas kopi,” kata dia.

Untuk proses melukis sendiri diawali dengan membuat sketsa. Sketsa itu dibuat dengan teknik potoshop atau corel draw. Sketsa yang sebelumnya full colour dijadikan siluet. Sketsa itu kemudian ditransfer ke media yang sudah disiapkan untuk melukis.

Mustang juga memanfaatkan limbah lainnya sebagai media lukisan. Ia menggunakan triplek dan karung goni. Karung goni itu didapatkan dari bekas-bekas pembungkus cabai kering dan kacang tanah. “Untuk triplek saya menggunakan yang paling tipis,” kata da.

Baca Juga :  BI Tarik Uang Pecahan Lama

Triplek itu dipotong sesuai ukuran yang dibutuhkan. Lalu dilapisi dengan karung goni. Mustang menggunakan lem kayu untuk perekat antara karung goni dan triplek.

Ia mengatakan sebelum dilukis menggunakan ampas kopi, permukaan media yang sudah disiapkan itu harus diamplas hingga halus. Tujuannya untuk memudahkan melukis, sebab harus digambar sesuai bentuk lukisan terlebih dahulu sebelum dilapisi ampas kopi. “Untuk memudahkan menggambar itu permukannya harus halus,” kata dia.

Setelah itu sketsa tersebut kemudian dioleh dengan ampas kopi. Agar hasil lukisan maksimal, Mustang biasanya mengulang hingga tujuh kali. Jika kondisi cuara terik panas matahai, satu lukisan bisa selesai dalam satu hari. Namun dengan catatan konsep lukisan tidak terlalu rumit.

Sebagian besar dari lukisan ampas kopi yang dibuatnya adalah wajah para tokoh. Antara lain Sultan Hamid II, Wali Kota Pontianak, Edi Rusti Kamtono, Gubernur Kalbar Sutarmidji, hingga anggota DPRD Kalimantan Barat.

Ia bahkan juga melukis wajah anaknya menggunakan ampas kopi. Menurutnya lukisan wajah yang paling sulit. Sebab ia akan dikomplain jika wajah yang dilukis itu tak mirip dengan yang asli. Karyanya yang lain berupa plang tempat usaha dan kaligrafi.

Soal harga, Mustang kesulitan menentukan tarifnya. Baginya, apa yang dilakukan hanya berkreasi dengan memanfaatkan limbah. “Saya hanya berkreasi dan bukan berdagang,” kata Mustang.

Ia melukis hanya berdasarkan pesanan. Sebab ia tak lagi memiliki ruang di galeri untuk menyimpan karya seni yang diolahnya dari limbah. “Karena terus didesak, saya patok harga per centimeter itu 200-300 rupiah,” pungkasnya. (*)

Kopi menjadi minuman favorit berbagai kalangan. Namun siapa sangka, ampas dari minuman itu bisa menjadi lukisan dengan nilai seni tinggi. Karya itu lahir dari tangan, Harry Eko Rivanto.

RAMSES TOBING, Pontianak

GALERI milik Harry Eko Rivanto berupa bangunan sederhana di Gang Belibis Tengah, Jalan Merdeka, Kecamatan Pontianak kota. Di dalamnya penuh dengan ragam karya dari tangan Harry Eko Rivanto.

Tanpa banyak yang tahu jika disebut Harry Eko Rivanto. Sebagian besar orang mengenal pria berusia 63 tahun itu dengan sebutan Mustang. Ia dikenal sebagai seniman limbah. Dalam ruangan itu juga banyak karya-karya seninya yang semuanya memanfaatkan limbah. Salah satunya adalah ampas kopi.

Tiga tahun sudah Mustang bergelut dengan seni ampas kopi. Berawal dari sepanjang Jalan Gajahmada yang menjadi sentra warung kopi. Ia mendapatkan ide memanfaatkan ampas kopi itu agar tidak menjadi limbah yang mencemarkan lingkungan.

Bagi pemilik warung kopi, ampas itu dibuang begitu saja. Ia justru melakukan sebaliknya. Ampas kopi itu dikumpulkan dan diolah menjadi karya dengan nilai seni tinggi.

“Jika dibuang, ampas kopi ini akan membaur dengan lumpur dan tanah, sehingga tidak kelihatan bahwa itu pencemaran lingkungan,” kata bapak dua anak ini.

Mustang menyebutkan ampas kopi itu didapatkan secara gratis dari pemilik warung kopi. Untuk satu warung kopi, ia bisa mengumpulkan enam hingga delapan kilo ampas. “Itu hanya memakan waktu setengah hari saja. Kalau satu hari penuh bisa terkumpul sepuluh hingga dua belas kilo ampas kopi,” kata dia.

Mustang menyiapkan tempat khusus bagi pemilik warung kopi. Satu tempat untuk menampung ampas kopi. Satu tempat lainnya untuk menampung sampah.

Baca Juga :  Fraksi PAN Soal SILPA Rp1,1 Triliun; Lebih Baik SILPA daripada Defisit

Cara ini dilakukan untuk mengedukasi pemilik warung agar memilah-milah limbah. Dengan cara ini juga ia tak harus repot mengumpulkan ampas kopi. Tnggal datang di pagi hari dan mengambil ampas yang sudah terkumpul.

Namun tak semua ampas itu diambilnya dari setiap warung kopi. Alasannya karena keterbatasan tempat. “Jika terlalu banyak tidak sanggup mengolahnya, karena tidak ada tempat lagi untuk menampung. Kecuali untuk pembinaan di satu tempat, ampas-ampas kopi bisa dikumpulkan,” jelas dia.

Jika ampas yang didapatkan itu dalam kondisi basah maka tidak harus diolah lagi. Ampas yang seperti itu bisa langsung digunakan untuk melukis, dan tidak harus dijemur. “Tetapi dijemur pun bisa tapi cara melukisnya yang berbeda,” kata dia.

Ada dua cara yang bisa dilakukan melukis dengan menggunakan ampas kopi. Jika menggunakan ampas basah, maka tinggal dimasukkan plastik berbentuk segitiga. Plastik itu yang digunakan ibu-ibu untuk menghiasi kue.

Jika menggunakan ampas kering, maka penggunaannya dicampur dengan lem. Berbeda dengan yang basah, penggunaan ampas kering ini menggunakan kuas saat melukis.

Ia menyebutkan sebagian besar seniman baik itu di Pontianak maupun di luar melukis justru menggunakan sisa-sisa air ampas kopi. “Saya mengolah dengan karya seni sendiri, sehingga lebih banyak menghabiskan ampas kopi,” kata dia.

Untuk proses melukis sendiri diawali dengan membuat sketsa. Sketsa itu dibuat dengan teknik potoshop atau corel draw. Sketsa yang sebelumnya full colour dijadikan siluet. Sketsa itu kemudian ditransfer ke media yang sudah disiapkan untuk melukis.

Mustang juga memanfaatkan limbah lainnya sebagai media lukisan. Ia menggunakan triplek dan karung goni. Karung goni itu didapatkan dari bekas-bekas pembungkus cabai kering dan kacang tanah. “Untuk triplek saya menggunakan yang paling tipis,” kata da.

Baca Juga :  Tegakkan Kampanye Prokes New Normal

Triplek itu dipotong sesuai ukuran yang dibutuhkan. Lalu dilapisi dengan karung goni. Mustang menggunakan lem kayu untuk perekat antara karung goni dan triplek.

Ia mengatakan sebelum dilukis menggunakan ampas kopi, permukaan media yang sudah disiapkan itu harus diamplas hingga halus. Tujuannya untuk memudahkan melukis, sebab harus digambar sesuai bentuk lukisan terlebih dahulu sebelum dilapisi ampas kopi. “Untuk memudahkan menggambar itu permukannya harus halus,” kata dia.

Setelah itu sketsa tersebut kemudian dioleh dengan ampas kopi. Agar hasil lukisan maksimal, Mustang biasanya mengulang hingga tujuh kali. Jika kondisi cuara terik panas matahai, satu lukisan bisa selesai dalam satu hari. Namun dengan catatan konsep lukisan tidak terlalu rumit.

Sebagian besar dari lukisan ampas kopi yang dibuatnya adalah wajah para tokoh. Antara lain Sultan Hamid II, Wali Kota Pontianak, Edi Rusti Kamtono, Gubernur Kalbar Sutarmidji, hingga anggota DPRD Kalimantan Barat.

Ia bahkan juga melukis wajah anaknya menggunakan ampas kopi. Menurutnya lukisan wajah yang paling sulit. Sebab ia akan dikomplain jika wajah yang dilukis itu tak mirip dengan yang asli. Karyanya yang lain berupa plang tempat usaha dan kaligrafi.

Soal harga, Mustang kesulitan menentukan tarifnya. Baginya, apa yang dilakukan hanya berkreasi dengan memanfaatkan limbah. “Saya hanya berkreasi dan bukan berdagang,” kata Mustang.

Ia melukis hanya berdasarkan pesanan. Sebab ia tak lagi memiliki ruang di galeri untuk menyimpan karya seni yang diolahnya dari limbah. “Karena terus didesak, saya patok harga per centimeter itu 200-300 rupiah,” pungkasnya. (*)

Most Read

Nisa Masih Dicari

Warga Abai Pakai Masker

Peradi Pontianak Gelar PKPA ke-16

Artikel Terbaru

/