alexametrics
25.6 C
Pontianak
Tuesday, August 16, 2022

Cerita Para Lansia Jalani Kehidupan di Masa Tua

Tentang Hari Lansia Nasional

HARI Lanjut Usia Nasional merupakan salah satu hari penting di Indonesia yang diperingati setiap 29 Mei sebagai wujud kepedulian dan penghargaan terhadap orang lanjut usia. Hari tersebut dicanangkan secara resmi oleh Presiden Soeharto di Semarang pada 29 Mei 1996, untuk menghormati jasa Dr. KRT Radjiman Wediodiningrat yang di usia lanjutnya memimpin sidang pertama Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

(Diolah dari berbagai sumber)

 

Interaksi Terhalangi Pandemi

Setiap orang menjalani takdir yang berbeda-beda, termasuk di masa tuanya. Ada yang melaluinya dengan bekerja dan beraktivitas seperti biasa. Ada pula yang menghabiskan masa tuanya di Panti Jompo dengan berbagai sebab.

SITI SULBIYAH, Pontianak

ADALAH Abdul Hamid. Usianya tahun ini menginjak kepala tujuh. Namun begitu, ia masih tampak bugar. Profesi sebagai dosen masih ia lakoni. Ketika masa pandemi Covid-19 pun, aktivitas belajar tidak dihentikan. Mahasiswanya belajar di ruang virtual. Ia tidak gagap teknologi, meski usianya tak lagi muda.

“Sementara karena ada Covid-19, mengajar secara online. Biasanya saya pakai aplikasi Google Classroom. Terkadang kalau ada undangan pertemuan online, saya juga pakai Zoom,” ungkap Abdul Hamid, kepada Pontianak Post, Sabtu (30/5).

Bagi dosen Teknik Sipil Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak ini, usia tak menjadi penghalang untuk belajar memanfaatkan teknologi. Dirinya mengaku masih aktif menggunakan media sosial facebook. Hampir setiap hari pasang status. “Saya biasanya membaca, menulis, dan aktif bermain medsos,” tutur dia, saat menceritakan aktivitasnya sehari-hari.

Peraih gelar Master of Engineering di Asian Institute of Technology (AIT) Bangkok, Thailand ini, merasa tubuhnya masih sehat dan bugar meski usianya sudah lanjut. Sejak usia 25 tahun, ia tak pernah sekali pun dirawat di rumah sakit. Sejak masih muda, dirinya berusaha untuk menjaga tubuh dengan mengonsumsi makanan yang bergizi dan seimbang, termasuk menjalankan Sunnah Nabi Muhammad SAW, yakni mengonsumsi madu dan jintan hitam.

Baca Juga :  Kuota Haji Kalbar 1.150 Jemaah

“Jarang ke medical check up. Kalau ada gejala sakit baru datang memeriksakan diri,” pungkas kakek empat cucu ini.

Lain lagi cerita para lansia yang menghabiskan masa tuanya di panti jompo. Mereka terpaksa tinggal di sana dengan berbagai alasan. Di UPT Panti Sosial Rehabilitasi Lanjut Usia Mulia Dharma misalnya, saat ini terdapat 48 orang lansia yang tinggal di sana.

“Latar belakangnya beragam, ada KDRT (kekerasan dalam rumah tangga), dibuang oleh keluarga, tidak ada sanak keluarga, mantan penderita gangguan jiwa yang sudah tidak diterima keluarga, serta anak atau keluarga tidak mampu memberikan penghidupan yang layak,” ungkap Kepala UPT Panti Sosial Rehabilitasi Lanjut Usia Mulia Dharma, Claudia Ani, Sabtu (30/5).

Para lansia yang tinggal di sana, berasal dari berbagai daerah di Kalbar, seperti Bengkayang, Sanggau, Singkawang, Kota Pontianak, hingga Kubu Raya. Beberapa di antaranya, juga berasal dari luar Kalbar, seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Yogyakarta.

Di panti tersebut, mereka melalui berbagai aktivitas. Ketika bangun, mereka menjalankan ibadah, dilanjutkan dengan sarapan dan senam pagi. Setelah itu, dilanjutkan istirahat dan kegiatan mandiri. “Tapi ada lansia yang tidak berdaya dan penderita gangguan jiwa tidak mengikuti aktivitas rutin, hanya menunggu petugas untuk mandi, makan, dan lain-lain,” kata dia.

Baca Juga :  Pemerintah Belum Serius Tangani Migor

Di UPT tersebut, saat ini punya 26 pegawai. Para pegawai di sana dipastikan dia sangat senang merawat para lansia. Kepikunan para lansia, diakui dia, kadang menjadi cerita lucu bagi para pegawai. “Namanya orang tua, sudah banyak yang pikun, jadi banyak yang lucu. Cuma masalah kebersihan yang harus diingatkan terus,” tutur dia.

Menurutnya, para lansia yang ada di sana sangat membutuhkan dukungan dari keluarga dan masyarakat untuk berinteraksi sosial. Sayangnya, para lansia yang ada di sana sangat jarang mendapat kunjungan dari pihak keluarga. Bahkan beberapa di antara lansia itu, sama sekali tidak pernah dikunjungi. Syukurnya, di sana sering ada kunjungan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok sosial, anak sekolah, hingga perguruan tinggi.

“Secara khusus kami menawarkan kerja sama dengan perguruan tinggi yang berbasis kesehatan untuk menjadi tempat praktik, penelitan, maupun magang bagi mahasiswa, dan program ini sudah berjalan hampir satu tahun,” jelas dia.

Namun di masa pandemi seperti saat ini, sementara pihaknya tidak menerima kunjungan dalam bentuk interaksi secara langsung. Namun begitu, program rutin tetap jalan, seperti pemeriksaan kesehatan sederhana, mulai dari tensi, pemberian vitamin dan obat-obat ringan; pengecekan kebersihan; cukur rambut; potong kuku; dan lain sebagainya. Asupan makanan mereka juga lebih ekstra dijaga. “Memperhatikan asupan makanan dengan memberikan susu dan bubur kacang hijau,” pungkas dia. (*)

Tentang Hari Lansia Nasional

HARI Lanjut Usia Nasional merupakan salah satu hari penting di Indonesia yang diperingati setiap 29 Mei sebagai wujud kepedulian dan penghargaan terhadap orang lanjut usia. Hari tersebut dicanangkan secara resmi oleh Presiden Soeharto di Semarang pada 29 Mei 1996, untuk menghormati jasa Dr. KRT Radjiman Wediodiningrat yang di usia lanjutnya memimpin sidang pertama Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

(Diolah dari berbagai sumber)

 

Interaksi Terhalangi Pandemi

Setiap orang menjalani takdir yang berbeda-beda, termasuk di masa tuanya. Ada yang melaluinya dengan bekerja dan beraktivitas seperti biasa. Ada pula yang menghabiskan masa tuanya di Panti Jompo dengan berbagai sebab.

SITI SULBIYAH, Pontianak

ADALAH Abdul Hamid. Usianya tahun ini menginjak kepala tujuh. Namun begitu, ia masih tampak bugar. Profesi sebagai dosen masih ia lakoni. Ketika masa pandemi Covid-19 pun, aktivitas belajar tidak dihentikan. Mahasiswanya belajar di ruang virtual. Ia tidak gagap teknologi, meski usianya tak lagi muda.

“Sementara karena ada Covid-19, mengajar secara online. Biasanya saya pakai aplikasi Google Classroom. Terkadang kalau ada undangan pertemuan online, saya juga pakai Zoom,” ungkap Abdul Hamid, kepada Pontianak Post, Sabtu (30/5).

Bagi dosen Teknik Sipil Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak ini, usia tak menjadi penghalang untuk belajar memanfaatkan teknologi. Dirinya mengaku masih aktif menggunakan media sosial facebook. Hampir setiap hari pasang status. “Saya biasanya membaca, menulis, dan aktif bermain medsos,” tutur dia, saat menceritakan aktivitasnya sehari-hari.

Peraih gelar Master of Engineering di Asian Institute of Technology (AIT) Bangkok, Thailand ini, merasa tubuhnya masih sehat dan bugar meski usianya sudah lanjut. Sejak usia 25 tahun, ia tak pernah sekali pun dirawat di rumah sakit. Sejak masih muda, dirinya berusaha untuk menjaga tubuh dengan mengonsumsi makanan yang bergizi dan seimbang, termasuk menjalankan Sunnah Nabi Muhammad SAW, yakni mengonsumsi madu dan jintan hitam.

Baca Juga :  Beri Layanan Kesehatan Lansia

“Jarang ke medical check up. Kalau ada gejala sakit baru datang memeriksakan diri,” pungkas kakek empat cucu ini.

Lain lagi cerita para lansia yang menghabiskan masa tuanya di panti jompo. Mereka terpaksa tinggal di sana dengan berbagai alasan. Di UPT Panti Sosial Rehabilitasi Lanjut Usia Mulia Dharma misalnya, saat ini terdapat 48 orang lansia yang tinggal di sana.

“Latar belakangnya beragam, ada KDRT (kekerasan dalam rumah tangga), dibuang oleh keluarga, tidak ada sanak keluarga, mantan penderita gangguan jiwa yang sudah tidak diterima keluarga, serta anak atau keluarga tidak mampu memberikan penghidupan yang layak,” ungkap Kepala UPT Panti Sosial Rehabilitasi Lanjut Usia Mulia Dharma, Claudia Ani, Sabtu (30/5).

Para lansia yang tinggal di sana, berasal dari berbagai daerah di Kalbar, seperti Bengkayang, Sanggau, Singkawang, Kota Pontianak, hingga Kubu Raya. Beberapa di antaranya, juga berasal dari luar Kalbar, seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Yogyakarta.

Di panti tersebut, mereka melalui berbagai aktivitas. Ketika bangun, mereka menjalankan ibadah, dilanjutkan dengan sarapan dan senam pagi. Setelah itu, dilanjutkan istirahat dan kegiatan mandiri. “Tapi ada lansia yang tidak berdaya dan penderita gangguan jiwa tidak mengikuti aktivitas rutin, hanya menunggu petugas untuk mandi, makan, dan lain-lain,” kata dia.

Baca Juga :  Kalbar Kejar Cakupan Vaksinasi Lansia

Di UPT tersebut, saat ini punya 26 pegawai. Para pegawai di sana dipastikan dia sangat senang merawat para lansia. Kepikunan para lansia, diakui dia, kadang menjadi cerita lucu bagi para pegawai. “Namanya orang tua, sudah banyak yang pikun, jadi banyak yang lucu. Cuma masalah kebersihan yang harus diingatkan terus,” tutur dia.

Menurutnya, para lansia yang ada di sana sangat membutuhkan dukungan dari keluarga dan masyarakat untuk berinteraksi sosial. Sayangnya, para lansia yang ada di sana sangat jarang mendapat kunjungan dari pihak keluarga. Bahkan beberapa di antara lansia itu, sama sekali tidak pernah dikunjungi. Syukurnya, di sana sering ada kunjungan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok sosial, anak sekolah, hingga perguruan tinggi.

“Secara khusus kami menawarkan kerja sama dengan perguruan tinggi yang berbasis kesehatan untuk menjadi tempat praktik, penelitan, maupun magang bagi mahasiswa, dan program ini sudah berjalan hampir satu tahun,” jelas dia.

Namun di masa pandemi seperti saat ini, sementara pihaknya tidak menerima kunjungan dalam bentuk interaksi secara langsung. Namun begitu, program rutin tetap jalan, seperti pemeriksaan kesehatan sederhana, mulai dari tensi, pemberian vitamin dan obat-obat ringan; pengecekan kebersihan; cukur rambut; potong kuku; dan lain sebagainya. Asupan makanan mereka juga lebih ekstra dijaga. “Memperhatikan asupan makanan dengan memberikan susu dan bubur kacang hijau,” pungkas dia. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/