alexametrics
25.6 C
Pontianak
Tuesday, August 16, 2022

Tsamara Amany, Bayi Pengidap Kelainan Jantung yang Butuh Uluran Tangan

Jantungnya Sempat Berhenti Berdetak Selama Lima Menit

Tsamara Amany tengah berjuang melawan penyakit yang dialami sejak lahir pada akhir Maret 2020 lalu. Bayi kelahiran Bengkayang ini mengidap bibir sumbing, sekaligus kelainan jantung dan infeksi paru-paru. Kini ia dirawat intensif di RSUD Dr Soedarso Pontianak.

SITI SULBIYAH, Pontianak

PASANGAN Firdaus Ayok (29) dan Juli Wati (22) sempat pesimistis dengan keadaan yang dialami oleh Tsamara. Beberapa hari yang lalu, kondisi sang buah hati kritis. Jantungnya sempat berhenti berdetak sekira lima menit. Kondisi itu terjadi beberapa kali. Saat itu keduanya sudah memasrahkan diri.

“Mereka (Petugas medis, red) terus memompa jantung, akhirnya Tsamara bernapas lagi. Itu terjadi beberapa kali. Kami sebentar-sebentar dipanggil,” kata Firdaus kepada Pontianak Post, Sabtu (30/5).

Kini kondisi Tsamara sudah lebih baik dari yang sebelumnya, meski masih dirawat intensif di Ruang NICU di RSUD Dr Soedarso Pontianak. Bayi berusia dua bulan itu kini terlihat ada perubahan positif. Ia sudah bisa bergerak dan menangis. “Kami jadi agak semangat,” tuturnya.

Dua minggu sudah, putri kecil Firdaus dan Juli Wati berada di ruangan itu. RSUD Dr Soedarso adalah rumah sakit ke sekian yang dikunjungi. Sebelumnya, Tsamara sempat berpindah dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain. Setelah kelahiran dengan operasi caesar di RSUD Bengkayang, ia dirawat intensif di Ruang Neonatologi di rumah sakit yang sama. Kondisinya waktu itu kritis. Bibirnya sumbing berat.

Baca Juga :  Tanggapi Aspirasi Mahasiswa, Usul PTPN Fokus Produksi Migor

Sekitar empat hari dirawat di sana, dokter menyatakan tidak mampu menangani. Tsamara lantas dipindahkan ke RSU Harapan Bersama Singkawang. Tiga minggu dirawat, hasilnya tak menunjukkan perubahan signifikan. Dokter pun merujuk ke RSUD Soedarso Pontianak agar ia mendapat perawatan yang lebih baik.

“Tetapi saat itu kondisi tidak memungkinkan ke Soedarso. Jadi kami minta izin pulang ke Bengkayang,” katanya. Sekitar dua minggu dirawat di rumah, kondisi Tsamara memburuk. Demam. Ia lantas dirawat di Rumah Sakit Umum (RSU) Bethesda Serukam Bengkayang. Sempat membaik setelah seminggu dirawat, tapi kemudian kondisinya kembali drop.

Dari sinilah diketahui bahwa Tsamara juga mengalami kelainan jantung. Ada kebocoran pada organ penting itu. Ia lalu dirujuk ke RSUD Soedarso. “Tanggal 17 Mei kami dirujuk. Sekarang sudah 15 hari Tsamara dirawat di ruang NICU,” katanya.

Selama perawatan di rumah sakit daerah itu, Firdaus juga baru mengetahui bahwa selain bibir sumbing dan kelainan jantung, putri kecilnya juga menderita infeksi paru-paru. Itu sebabnya, kata Firdaus, ada banyak lendir yang keluar dari mulut Tsamara. Dokter menyarankan untuk dioperasi, tapi saat ini kondisinya belum stabil.

Tsamara merupakan anak pertama Firdaus, yang lahir pada 26 Maret 2020 yang lalu. Nama Tsamara Amany ia berikan kepada sang buah hati, lantaran sangat mengidolakan Tsamara Amany, politikus muda Indonesia.

Baca Juga :  Peduli Musibah Banjir, Pegawai BPJS Salurkan Bantuan

“Karena Tsamara Amany wanita yang cerdas, pintar, dan lincah. Saya ingin anak saya seperti itu,” katanya.

Firdaus saat ini bekerja sebagai staf di salah satu gereja di Bengkayang. Sejak buah hatinya sakit, ia terpaksa cuti. Dirinya dan istri fokus mengusahkan kesembuhan Tsamara. Berpindah dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain membuat tabungannya terkuras. Bahkan ketika dirujuk ke rumah sakit, di dompetnya cuma ada uang sejuta rupiah. Itu untuk bekalnya selama menetap di sana.

Untunglah, tidak sedikit rekan-rekannya yang membantu. Ada yang menyumbang dan menggalang dana. “Banyak juga kawan bantu publikasi ke WA, FB, twitter, dan ada yang sampai dibuatkan pamfletnya,” tutur dia.

Selain kebutuhan harian, biaya juga ia butuhkan untuk membeli obat-obatan yang dibutuhkan Tsamara. Harga obatnya terbilang mahal, sehingga ia membutuhkan uang yang tidak sedikit. Selain itu, obat tersebut juga sulit dicari. Firdaus kadang harus mencari dari apotek satu ke apotek lain.

“Harapan kami semoga teman-teman bisa kiranya membantu kami dengan berdoa, atau meringankan beban kami supaya anak kami bisa menjalani perawatan di sini,” pungkasnya.*

Jantungnya Sempat Berhenti Berdetak Selama Lima Menit

Tsamara Amany tengah berjuang melawan penyakit yang dialami sejak lahir pada akhir Maret 2020 lalu. Bayi kelahiran Bengkayang ini mengidap bibir sumbing, sekaligus kelainan jantung dan infeksi paru-paru. Kini ia dirawat intensif di RSUD Dr Soedarso Pontianak.

SITI SULBIYAH, Pontianak

PASANGAN Firdaus Ayok (29) dan Juli Wati (22) sempat pesimistis dengan keadaan yang dialami oleh Tsamara. Beberapa hari yang lalu, kondisi sang buah hati kritis. Jantungnya sempat berhenti berdetak sekira lima menit. Kondisi itu terjadi beberapa kali. Saat itu keduanya sudah memasrahkan diri.

“Mereka (Petugas medis, red) terus memompa jantung, akhirnya Tsamara bernapas lagi. Itu terjadi beberapa kali. Kami sebentar-sebentar dipanggil,” kata Firdaus kepada Pontianak Post, Sabtu (30/5).

Kini kondisi Tsamara sudah lebih baik dari yang sebelumnya, meski masih dirawat intensif di Ruang NICU di RSUD Dr Soedarso Pontianak. Bayi berusia dua bulan itu kini terlihat ada perubahan positif. Ia sudah bisa bergerak dan menangis. “Kami jadi agak semangat,” tuturnya.

Dua minggu sudah, putri kecil Firdaus dan Juli Wati berada di ruangan itu. RSUD Dr Soedarso adalah rumah sakit ke sekian yang dikunjungi. Sebelumnya, Tsamara sempat berpindah dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain. Setelah kelahiran dengan operasi caesar di RSUD Bengkayang, ia dirawat intensif di Ruang Neonatologi di rumah sakit yang sama. Kondisinya waktu itu kritis. Bibirnya sumbing berat.

Baca Juga :  Kota Akan Miliki Dua IPALD

Sekitar empat hari dirawat di sana, dokter menyatakan tidak mampu menangani. Tsamara lantas dipindahkan ke RSU Harapan Bersama Singkawang. Tiga minggu dirawat, hasilnya tak menunjukkan perubahan signifikan. Dokter pun merujuk ke RSUD Soedarso Pontianak agar ia mendapat perawatan yang lebih baik.

“Tetapi saat itu kondisi tidak memungkinkan ke Soedarso. Jadi kami minta izin pulang ke Bengkayang,” katanya. Sekitar dua minggu dirawat di rumah, kondisi Tsamara memburuk. Demam. Ia lantas dirawat di Rumah Sakit Umum (RSU) Bethesda Serukam Bengkayang. Sempat membaik setelah seminggu dirawat, tapi kemudian kondisinya kembali drop.

Dari sinilah diketahui bahwa Tsamara juga mengalami kelainan jantung. Ada kebocoran pada organ penting itu. Ia lalu dirujuk ke RSUD Soedarso. “Tanggal 17 Mei kami dirujuk. Sekarang sudah 15 hari Tsamara dirawat di ruang NICU,” katanya.

Selama perawatan di rumah sakit daerah itu, Firdaus juga baru mengetahui bahwa selain bibir sumbing dan kelainan jantung, putri kecilnya juga menderita infeksi paru-paru. Itu sebabnya, kata Firdaus, ada banyak lendir yang keluar dari mulut Tsamara. Dokter menyarankan untuk dioperasi, tapi saat ini kondisinya belum stabil.

Tsamara merupakan anak pertama Firdaus, yang lahir pada 26 Maret 2020 yang lalu. Nama Tsamara Amany ia berikan kepada sang buah hati, lantaran sangat mengidolakan Tsamara Amany, politikus muda Indonesia.

Baca Juga :  Wali Kota Pontianak Puji Kinerja Kepolisian

“Karena Tsamara Amany wanita yang cerdas, pintar, dan lincah. Saya ingin anak saya seperti itu,” katanya.

Firdaus saat ini bekerja sebagai staf di salah satu gereja di Bengkayang. Sejak buah hatinya sakit, ia terpaksa cuti. Dirinya dan istri fokus mengusahkan kesembuhan Tsamara. Berpindah dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain membuat tabungannya terkuras. Bahkan ketika dirujuk ke rumah sakit, di dompetnya cuma ada uang sejuta rupiah. Itu untuk bekalnya selama menetap di sana.

Untunglah, tidak sedikit rekan-rekannya yang membantu. Ada yang menyumbang dan menggalang dana. “Banyak juga kawan bantu publikasi ke WA, FB, twitter, dan ada yang sampai dibuatkan pamfletnya,” tutur dia.

Selain kebutuhan harian, biaya juga ia butuhkan untuk membeli obat-obatan yang dibutuhkan Tsamara. Harga obatnya terbilang mahal, sehingga ia membutuhkan uang yang tidak sedikit. Selain itu, obat tersebut juga sulit dicari. Firdaus kadang harus mencari dari apotek satu ke apotek lain.

“Harapan kami semoga teman-teman bisa kiranya membantu kami dengan berdoa, atau meringankan beban kami supaya anak kami bisa menjalani perawatan di sini,” pungkasnya.*

Most Read

Die Roten Rajai Der Klassiker

Waspada Penyakit Pancaroba

KPPN Pontianak Tetap Jalan

Kapolres: Cegah Hoaks

Artikel Terbaru

/