"Salah satu kesenangan dan menjadi semacam kebudayaan kami adalah mempererat hubungan antara sesepuh, keluarga, saudara, dan teman-teman," ucapnya belum lama ini.
Menurut dia, di keluarga besarnya, Imlek yang dirayakan secara turun-temurun memiliki makna tersendiri.
Sesepuhnya menceritakan bahwa Imlek diartikan sebagai perayaan seusai panen di masa lampau. Oleh karena itu, Imlek sangat wajib dirayakan dengan riang gembira, penuh suka cita.
Imlek dirayakan warga Tionghoa dari berbagai negara sejak ribuan tahun lalu. Berbalut dalam keanekaragaman budaya, dalam prosesnya Imlek juga diritualkan sesuai agama.
"Ada memang ritualnya. Seperti dalam keluarga kami, yang mayoritas beragama kristen tetap merayakan dalam bentuk agama kami," ucapnya.
Nah, di balik Imlek, berbagai tradisi kebudayaan masih melekat dalam keluarganya. Hampir setiap tahun, di malam menyambut Imlek, bunyi petasan dan kembang api saling bersahut-sahutan.
"Dulu seperti begitu. Tetapi pelan-pelan sudah berkurang, meskipun masih banyak yang melakukan," kata dia.
Bersih-bersih dan berhias rumah juga menjadi semacam kebudayaan bagi keluarga Tionghoa dalam menyambut Imlek. Dia ingat betul bagaimana orang tua, dan keluarganya hingga dirinya merias bangunan tempat tinggalnya sehingga menjadi indah, nyaman, dan bersih. Ada semacam filosofi di balik perbuatan tersebut.
Seperti misalnya, tempat tinggal yang rapi dan indah dipercaya bakal mendatangkan rezeki baik di tahun itu. Di sisi lain, rumah bersih juga menghindari penyakit.
"Ini menjadi kepercayaan kami di balik ritual menyambut Imlek," ujarnya.
Namun, lanjut dia, yang utama dari itu semua adalah silaturahmi antar keluarga. Yang muda mengunjungi yang tua. Rumah sesepuh sering menjadi ajang kumpul seluruh keluarga. Ini sebagai wujud rasa hormat, dan bakti kepada orang tua, kakek, dan juga nenek.
Hal yang paling mengesankan adalah ketika sanak keluarga dari luar Kalbar banyak yang pulang kampung. Ada yang datang dari Jakarta, Surabaya, Batam hingga kota-kota lainnya. Ada juga dari luar negeri, yang sengaja datang untuk merayakan Imlek bersama-sama.
Biasanya, dari situ muncul ide-ide tentang peluang bisnis pada tahun mendatang.
"Kumpul kembali, mempererat lagi. Bisnis juga bertambah bagus. Itu filosofi kumpul keluarga," ucap Sudiantono.
Ketika perayaan Imlek, yang juga mengesankan baginya adalah makanan khas seperti kue keranjang, kue bulan, dan kue bunga merah yang manis-manis akan banyak tersaji. Menu utama seperti sate, opor, lontong dan lain-lain juga tersedia.
"Itulah sekelumit cerita di balik makna Imlek 2023 ini," pungkasnya. (den) Editor : Syahriani Siregar