Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Palung-Mendawak Kalbar Diusulkan ke UNESCO Jadi Cagar Biosfer

Syahriani Siregar • Kamis, 11 Januari 2024 | 18:05 WIB
Taman Nasional Gunung Palung
Taman Nasional Gunung Palung

PONTIANAK - Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura Pontianak menginisiasi pengusulan Cagar Biosfer Palung-Mendawak ke UNESCO.

Cagar Biosfer ini mencakup Taman Nasional Gunung Palung, lanskap Mendawak, dengan luas wilayah 1,9 juta hektar yang membentang melintasi empat kabupaten, yakni Kabupaten Kubu Raya, Kayong Utara, Ketapang, dan Sanggau.

Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura Pontianak Dr. Farah Diba mengatakan, saat ini proses pengusulan tersebut tengah berlangsung, dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk pihak perusahaan, baik perkebunan maupun HTI, yang berada di sektar lanskap tersebut.

“Di Kalbar ini baru ada satu cagar biosfer, yakni Cagar Biosfer Betung Kerihun-Danau Sentarum yang berada di Kapuas Hulu. Kami bersama pemangku kebijakan dan sejumlah perusahaan ingin mengusulkan biosfer Palung Mendawak ini sebagai upaya perlindungan dan konservasi di Kalbar,” ujar Farah saat berkunjung ke redaksi Pontianak Post, Senin (8/1) malam.

Dikatakan Farah, ada tiga fungsi utama cagar biosfer, di antaranya sebagai konservasi, pembangunan dan dukungan logistic.

Konservasi yang dimaksud, jelas farah, yakni mempromosikan keanekaragaman hayati, ekosistem dan lanskap.

Fungsi pembangunan, yakni mendorong pembangunan berkelanjutan yang sesuai secara sosial, ekoomi dan budaya.

Sedangkan dukungan logistic, memberikan dukungan untuk penelitian, pemanfaatan, dan Pendidikan tentang masalah lingkungan.

“Nanti akan terbagi tiga zona, yakni zona inti, zona penyangga dan zona transisi,” katanya.

Lanskap Mendawak misalnya, lanskap ini membentang sekitar 500.000 hektar yang berada di sebalah Utara Gunung Palung.

Sementara 108.043,90 hektar Gunung Palung yang dilindungi menyediakan tempat perlindungan yang aman bagi hingga 3.000 orangutan (Pongo pygmaeus wurmbii). 

“Karena lanskap ini memiliki hutan primer dan sekunder, rawa gambut dan hutan bakau pantai, maka sangat lengkap,” bebernya.

Dikatakan Farah, selain kawasan lindung, Cagar Biosfer Palung-Mendawak juga terdiri dari 43 konsesi, 98 desa, 66 kawasan perhutanan sosial yang dikelola dan dilestarikan oleh masyarakat, bersama dengan beberapa kawasan lindung termasuk Taman Nasional Gunung Palung, Hutan Lindung Gunung Tarak, dan Hutan Lindung Mendawak seluas 18.681 hektar. 

“Total luas wilayah ini sekitar  1.997.950,15 hektar, dengan luas daratan 1.253.199,85 hektar dan wilayah laut 744.750,30 hektar,” terangnya. 

Menurut Farah, penunjukan Cagar Biosfer UNESCO menjadi penanda kondisi ekologi yang penting, dan Indonesia saat ini ada total 19 cagar biosfer yang semuanya adalah anggota Jaringan Cagar Biosfer Dunia (WNBR). 

Sehingga, secara resmi memberikan pengakuan cagar biosfer sebagai area prioritas konservasi dalam kerangka kerja yang dihormati secara global untuk konservasi dan pembangunan berkelanjutan.

Hal Ini juga menetapkan kerangka kerja untuk proyek konservasi dan meningkatkan upaya yang ada.

“Penetapan Cagar Biosfer Palung Mendawak akan menciptakan jalan untuk mengembangkan konektivitas hutan yang menghubungkan kawasan hutan di dalam konsesi, terutama jika kawasan HCV termasuk dalam zona inti. Konektivitas zona inti yang efektif mendorong kemitraan strategis dan memperkuat upaya konservasi tingkat lanskap,” bebernya.

Tim manajemen cagar biosfer dapat menjadi ujung tombak inisiatif konservasi, melibatkan perusahaan dalam upaya kolaboratif, dan menjaga kualitas dan konektivitas hutan di seluruh lanskap.

Karena, kata Farah, sebagian besar habitat orangutan yang tersisa di lanskap Mendawak berada dalam enam konsesi yang dimiliki oleh Sumitomo, Sinar Mas, dan Alas Kusuma, sehingga menunjuk area HCV tersebut sebagai zona inti akan membuka kesempatan konektivitas dan melindungi habitat orangutan yang signifikan.

“Mereka telah menunjukkan komitmen melalui pembentukan koridor hijau di seluruh konsesi mereka, dan keberhasilannya dapat direplikasi di daerah sekitarnya untuk menghubungkan lanskap yang lebih luas,” lanjutnya.

Sementara, di wilayah paling barat dari Cagar Biosfer Palung Mendawak terdapat hutan mangrove pesisir Kandelia Alam.

Garis pantai Kalimantan Barat berfungsi sebagai habitat bagi berbagai spesies yang terancam, termasuk pesut (Orcaella brevirostris), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu hijau (Chelonia mydas), Dugong (Dugong dugon), hiu paus (Rhincodon typus), dan guitarfish raksasa (Rhynchobatus djiddensis).

Survei WWF 2011, mengidentifikasi keberadaan spesies ini di perairan Kubu Raya, termasuk saluran air mangrove dan perairan pesisir yang mengelilingi pulau-pulau kecil di lepas pantai Kubu Raya. 

Hasil survei tersebut mengkonfirmasi keberadaan Pesut yang terancam punah di dalam kawasan cagar biosfer yang diusulkan.

Identifikasi spesies yang kurang dikenal ini sebagai unggulan lokal dari cagar biosfer akan menghasilkan fokus konservasi yang lebih kuat, dengan tujuan utama mengurangi polusi di perairan Kubu Raya, memastikan kelangsungan hidup jangka panjang Pesut.

“Dimasukkannya kawasan ini dalam cagar biosfer memberikan peluang untuk meningkatkan penelitian dan konservasi kawasan melalui kolaborasi multi-pemangku kepentingan,” terangnya.  

Dijelaskan Farah, cagar biosfer adalah model untuk menguji dan menerapkan inovasi untuk pembangunan berkelanjutan.

Melibatkan pemangku kepentingan memfasilitasi eksplorasi dan pengembangan. 

Penelitian kolaboratif mengeksplorasi potensi ekonomi dari produk lokal berkualitas tinggi, dan WNBR memfasilitasi ekspor produk, meningkatkan pendapatan dan berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. 

Cagar biosfer juga membantu mengembangkan “branding”,  memungkinkan perluasan pasar, dan produk-produk seperti minyak Argan dari Cagar Biosfer Arganerair di Maroko, kopi premium dari Cagar Biosfer Kafa di Ethiopia, dan madu Comoé dari Cagar Biosfer Comoé di Cote d’Ivoire, telah mendapatkan pengakuan global, memberikan keamanan ekonomi kepada masyarakat lokal.

“Kawasan Cagar Biosfer Palung-Mendawak juga menciptakan peluang ekonomi bagi masyarakat, misalnya sektor pertanian, perkebunan maupun perikanan. Misalnya, mata pencaharian di kawasan mangrove Kubu Raya meliputi perikanan, pemanenan kepiting, dan pengumpulan madu,” jelasnya.

Penunjukan Cagar Biosfer UNESCO memainkan peran penting dalam memperkuat identitas lokal dan memberdayakan masyarakat melalui apresiasi yang tinggi untuk penggunaan sumber daya yang berkelanjutan, serta pelestarian warisan budaya dan kearifan.

Misalnya keterlibatan kelompok masyarakat adat yang berperan melindungi kawasan hutan melalui praktik pengelolaan tradisional selama beberapa generasi.

“Cagar biosfer mewakili keseimbangan yang harmonis antara konservasi dan pembangunan manusia yang berkelanjutan. Penggabungan kawasan adat ke dalam cagar biosfer memberikan peluang unik untuk memperkuat kawasan hutan adat, mengurangi kerentanan kepemilikan dan konflik,” bebernya.

Selain itu, cagar biosfer ini juga akan membuka peluang dalam bursa karbon. Di mana hutan hujan dan hutan mangrove di dalam cagar biosfer ini berfungsi sebagai reservoir karbon penting.

Mangrove memiliki potensi besar untuk solusi berbasis alam (NBS), termasuk konservasi, restorasi, dan pengelolaan berkelanjutan, menghasilkan kredit karbon untuk menghindari deforestasi dan mengurangi emisi. (arf)

Editor : Syahriani Siregar
#cagar biosfer #palung #unesco #mendawak #taman nasional