Untuk mengatasi tantangan tersebut, Jurnalis Perempuan Khatulistiwa (JPK) bersama TFCA merangkul para jurnalis perempuan di Kota Pontianak dan sekitarnya untuk mendorong penguatan akses dan peran perempuan dalam perlindungan serta pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) yang inklusif dan berkelanjutan di Kalimantan Barat.
“Isu terkait Sumber Daya Alam di Kalimantan Barat, itu sangat seksi, namun sejauh ini hanya terbatas pada kelompok atau gender tertentu. Melalui lokakarya ini, kami mendorong jurnalis Perempuan ini untuk lebih optimal dalam mengangkat isu terkait lingkungan, SDA dan sejenisnya,” kata Ketua Jurnalis Perempuan Khatulistiwa (JPK), Aseanty Pahlevi di sela-sela Lokakarya Penguatan Akses dan Peran Perempuan dalam Perlindungan serta Pengelolaan Sumber Daya Alam yang inklusif dan berkelanjutan di Kalimantan Barat yang digelar JPK bersama TFCA Kalimantan, Jumat (12/7) di Hotel Neo Pontianak.
Perempuan yang kerap disapa Levi ini menilai, lokakarya tersebut merupakan salah satu aksi afirmasi agar isu lingkungan yang dituliskan oleh Perempuan, dengan sudut pandang Perempuan sebagai kelompok dikedepankan dalam isu lingkungan.
“Melalui lokakarya ini kami ingin mendorong jurnalis perempuan bisa membuat tulisan terkait isu lingkungan yang lebih komprehensif dengan sudut pandang Perempuan,” jelasnya.
“Kenapa kami tekankan ke perempuan, karena kalau bukan Perempuan, siapa lagi yang bisa melakukan Tindakan afirmasi ini,” tambahnya.
Levi pun berharap jurnalis perempuan bisa menulis tentang isu lingkungan dengan sudut pandang Perempuan dan bisa menyajikan tulisan yang membuat para pembaca tergugah untuk mengubah kebijakan atau apa yang telah dilakukan selama ini, agar ke depannya bisa lebih optimal mengakomodir suara-suara kaum perempuan sejak kebijakan itu belum ditetapkan.
"Tentunya diharapkan setelah lokakarya ini, para jurnalis Perempuan in bisa memberikan kontribusi lebih banyak dalam perlindungan serta pengelolaan Sumber Daya Alam yang inklusif dan berkelanjutan,” papar Puspa
TFCA sendiri lanjut Puspa, bekerja sama dengan banyak pihak dengan tujuan melestarikan keanekaragaman hayati dan mendukung pengembangan ekonomi masyarakat di sekitar kawasan hutan.
Ia menekankan pentingnya memaksimalkan pemanfaatan sumber daya alam Indonesia yang sangat beragam, dengan melibatkan masyarakat setempat.
"Kita banyak terlibat dengan melibatkan masyarakat dan membantu mereka untuk mulai memahami lingkungan yang menghasilkan sumber daya alam sekitar," jelasnya.
Salah satu pameteri Dalam lokakarya tersebut, Sri Haryanti dari Gemawan memaparkan peran penting perempuan dalam menjaga lingkungan.
Ia menjelaskan bahwa perempuan dapat berkontribusi dengan cara sederhana yang hanya membutuhkan lahan di sekitar rumah.
"Ini bisa dilakukan oleh kaum perempuan yang sehari-hari disibukkan dengan urusan dapur," ujarnya.
Perempuan yang biasa disapa Anti ini mencontohkan, dengan menanam sendiri di sekitar rumah bumbu dapur seperti cabai, tomat, dan berbagai sayuran lainnya merupakan langkah nyata dalam menjaga lingkungan.
Anti menilai, sekecil apapun tindakan yang dilakukan perempuan dalam pemanfaatan lingkungan sangat berarti bagi kelangsungan kehidupan.
Menurutnya, perempuan yang dekat dengan lingkungan kesehariannya, membuktikan bahwa mereka berperan besar dalam pelestarian lingkungan.
"Dengan menanam sendiri bumbu dapur, juga membuat Perempuan bisa berperan menjaga pelestarian lingkungan. Tidak hanya bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga, bahkan jika jeli dan digeluti secara bersungguh-sungguh juga bisa menambah penghasilan,” pungkas Sri Haryanti, seraya berharap melalui lokakarya mampu mendorong inspirasi bagi para jurnalis dan perempuan di Kalimantan Barat untuk terus berperan aktif dalam melindungi dan mengelola sumber daya alam secara inklusif dan berkelanjutan. (ash)
Editor : Syahriani Siregar