PONTIANAK POST - Harta konglomerat papan atas Indonesia, Prajogo Pangestu kelahiran Sungai Betung, Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat turun tajam, dampak dari portofolio saham yang dimilikinya kompak ambruk pada pembukaan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Jumat (7/2).
Tak tanggung-tanggung total kerugian yang ditanggung pria asli bernama Phang Djoem Phen ini diperkirakan mencapai Rp 160 triliunan lebih, hanya dalam beberapa detik dan menit di perdagangan bursa.
Lima emiten (saham) milik Prajogo dibuka di zona merah. Empat diantaranya bahkan menyentuh batas auto rejection bawah (ARB) yakni Barito Renewables Energy (BREN), Petrindo Jaya Kreasi (CUAN). Sampai menjelang batas penutupan bursa, Petrosea (TPIA) ikut ambruk lebih dari 19-20 persen. Pun demikian engan Petrosea (PTRO). Keempatnya adalah portofolio perusahaan terbuka paling anyar milik Prajogo.
Ambruknya saham-saham milik Taipan kelahiran Kalbar ini menjadikan IHSG anjlok lebih dari 2-3 persen dan kembali ke level 6.600-6741 jelang sore. Namun IHSG juga memangkas koreksi dampak pelemahan tersebut. Saham-saham milik Prajogo juga masuk dalam 10 emiten yang paling membebani kinerja IHSG hari ini.
Ambruknya saham-saham Prajogo terjadi setelah adanya kabar Morgan Stanley Capital International tidak akan memasukkan tiga emiten konglomerasi Prajogo Pangestu ke dalam indeks MSCI Investable Market pada review Februari 2025. Salah satunya yakni emiten BREN. Selain saham BREN, ada PT Petrosea Tbk (PTRO) dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN).
Ini ini diperkirakan terjadi setelah analisis dan masukan, adanya kendala investability di ketiga saham tersebut. MSCI meninjau kembali kelayakan saham-saham tersebut sebagai bagian dari tinjauan indeks di masa mendatang dan akan memberikan komunikasi lebih lanjut sesuai kebutuhan.
Sebelumnya, rebalancing atau kocok ulang indeks MSCI akan diumumkan pada 12 Februari mendatang. Rumor beredar akan ada tiga saham konglomerat masuk, di mana salah satunya yakni BREN.
Indeks MSCI kerap menjadi acuan investor asing berinvestasi di negara-negara tertentu, termasuk emerging market seperti Indonesia. Dalam setahun, mereka melakukan kocok ulang ini empat kali, yakni pada bulan Februari, Mei, Agustus, dan November.
Kabar pasar saat ini tengah ramai diperbincangkan soal tiga saham konglomerat yang akan masuk jadi jajaran konstituen MSCI Indonesia Large-Cap. Rumor tiga saham itu masuk MSCI sebenarnya sudah dari lama. Apalagi, untuk BREN ini menjadi kedua kalinya karena sebelumnya gagal masuk ke indeks FTSE gara-gara dinilai tidak memenuhi syarat free float. Ini terjadi karena dinilai tak memenuhi syarat free float minimal 5 persen.
Waktu itu, FTSE menilai 97 persen jumlah saham beredar BREN masih terkonsentrasi pada empat pemegang saham. Namun, hal tersebut akhirnya disanggah pihak manajemen BREN dan meminta pihak FTSE Russell untuk mencabut pernyataan tersebut dan mengeluarkan klarifikasi.(den)
Editor : A'an