PONTIANAK POST – Kepala Makan Bergizi Gratis (MBG) Regional Kalbar, Agus Kurniawi, menegaskan pihaknya telah melakukan evaluasi menyeluruh bersama seluruh mitra yayasan dan Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) se-Kalbar.
Evaluasi itu digelar bersama Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalbar di Pendopo Gubernur, Minggu (28/9), sehari setelah Gubernur Ria Norsan memanggil dirinya terkait kasus keracunan makanan di sejumlah daerah.
Agus menyampaikan, ada sejumlah langkah perbaikan yang disepakati untuk memastikan insiden serupa tidak terulang.
“Pertama, pemerataan jumlah penerima manfaat akan diatur maksimal 2.000 siswa per SPPG. Dengan begitu, kualitas makanan lebih terjaga dibanding bila jumlahnya mencapai 3.000. Untuk kebijakan ini masih menunggu instruksi lebih lanjut,” jelas Agus.
Langkah kedua, lanjut dia, adalah penerapan uji kelayakan makanan langsung di sekolah. Mulai Senin, setiap perwakilan SPPG wajib datang ke sekolah untuk menguji makanan yang akan didistribusikan bersama pihak sekolah.
Uji tersebut memastikan makanan tidak berbau, tidak berubah warna, dan dalam kondisi layak konsumsi. “Hasilnya akan dituangkan dalam berita acara serah terima,” tegas Agus.
Selain itu, jadwal memasak, dan pengantaran makanan juga diatur ulang. Untuk pengantaran pagi, proses masak dimulai pukul 03.00–04.00 WIB, sedangkan pengantaran siang dilakukan pukul 07.00–08.00 WIB.
Agus menambahkan, seluruh SPPG diberikan waktu hingga akhir Oktober untuk melengkapi persyaratan teknis, termasuk Laporan Sumber Hewan Segar (LSHS), dan dokumen pendukung lainnya. “Evaluasi ini kami lakukan demi perbaikan. Intinya, makanan yang diterima siswa harus benar-benar memenuhi standar gizi, dan kualitas sesuai harapan masyarakat,” katanya.
Gubernur Kalbar, Ria Norsan menegaskan hasil evaluasi terhadap koordinator Makanan Bergizi Gratis (MBG) menekankan pentingnya pengawasan sejak proses memasak hingga penyajian kepada anak-anak di sekolah. Ia menambahkan, yayasan atau dapur yang melanggar aturan bisa dikenai sanksi hingga pencabutan izin.
Norsan juga mengingatkan seluruh pihak yang terlibat, mulai dari dapur MBG, penyalur, hingga sekolah, untuk menjaga kualitas makanan yang disajikan kepada siswa. Ia menekankan agar tidak lagi terjadi kasus keracunan akibat menu yang kurang sehat atau tidak bersih. Karena itu, diperlukan kerja sama antara pihak dapur dan sekolah, termasuk memastikan makanan yang diantar tidak terlalu lama sehingga berisiko basi.
“Sebelum dibagikan, sebaiknya dicicipi dulu. Kalau rasanya sudah asam (basi), jangan dibagikan supaya anak-anak tidak keracunan,” tegas Norsan saat meninjau kelayakan menu MBG di SMKN 5 Pontianak, Rabu (1/10).
Norsan juga ikut menikmati makanan yang disajikan kepada siswa untuk memastikan kelayakan dan kualitasnya. Ia sekaligus mengimbau siswa agar membiasakan hidup sehat, dengan meminum air secukupnya sebelum makan, menyantap makanan secara tertib, serta berdoa terlebih dahulu.
“Alhamdulillah, setelah saya lihat, menu MBG hari ini cukup memenuhi syarat makanan bergizi. Ada nasi sebagai sumber karbohidrat, tempe sebagai protein, sayur sebagai serat, serta telur dan buah,” ujarnya.
Siswa SMKN 5 Pontianak, Yakop mengaku program MBG sangat bermanfaat karena membantunya menghemat uang jajan. Menurutnya, keberadaan makanan bergizi gratis tersebut meringankan beban pengeluaran harian sekaligus memudahkan siswa dalam mengelola keuangan pribadi.
Ia berharap program ini dapat terus berlanjut secara konsisten. Yakop juga menegaskan siap menerima menu apa pun yang disajikan selama program tetap berjalan, dan menyampaikan terima kasih kepada pemerintah, khususnya Presiden dan Gubernur, yang telah menggagas program tersebut.
“Harapan saya, semoga MBG tetap berjalan seperti biasa,” tambahnya. (bar/mse)
Editor : Hanif