Penipuan Digital Meningkat di Kalbar, Bank dan Operator Telekomunikasi Tingkatkan Keamanan
Meidy Khadafi• Kamis, 13 November 2025 | 23:55 WIB
Head of Branch Sales IM3 Pontianak, Muhammad Ayatullah, memaparkan maraknya modus penipuan digital yang menarget 65 persen pengguna tiap minggu.
PONTIANAK POST – Lonjakan kasus penipuan digital di Kalimantan Barat kian mengkhawatirkan. Dalam sepekan, puluhan warga menjadi korban phishing, scamming, hingga pencurian data pribadi.
Fenomena ini memicu langkah siaga dari berbagai sektor, termasuk perbankan dan operator telekomunikasi, yang sama-sama memperingatkan: dunia digital kini bukan lagi ruang aman tanpa ancaman.
Kepala Divisi Teknologi Informasi Bank Kalbar, Toni Darmawan, menegaskan bahwa serangan siber terhadap nasabah semakin canggih dan sulit dikenali. Modus yang paling banyak digunakan adalah phishing, yakni pencurian data pribadi melalui email palsu, situs tiruan, atau pesan berisi tautan berbahaya.
“Kadang kita tidak tahu mana email yang benar dan mana yang palsu. Pastikan dulu siapa pengirimnya, jangan sembarangan klik tautan atau membuka file dari sumber yang tidak jelas,” ujarnya dalam kegiatan edukasi digital yang digelar Aliansi Wartawan Kriminal (Awak) di Pontianak, Kamis (13/11).
Toni mengungkapkan, Bank Kalbar mengelola lebih dari 100 server berlapis keamanan di Pontianak, Jakarta, dan Surabaya, untuk menjaga data nasabah tetap terlindungi. Namun, menurutnya, teknologi secanggih apa pun tidak akan berarti tanpa kesadaran digital dari masyarakat.
“Kunci keamanan siber adalah kesadaran. Dunia digital penuh peluang, tapi juga penuh jebakan,” tegasnya.
Ia juga menyoroti modus giveaway palsu di media sosial yang marak meniru akun resmi bank. Pelaku memancing korban dengan iming-iming hadiah atau ponsel gratis, lalu mencuri data atau uang.
Kepala Divisi TI Bank Kalbar, Toni Darmawan, mengingatkan nasabah agar tak sembarangan membuka tautan atau giveaway palsu di dunia maya.
Sementara itu, dari sektor telekomunikasi, IM3 Pontianak turut bersuara lantang. Muhammad Ayatullah, Head of Branch Sales IM3 Pontianak, mengungkapkan bahwa sekitar 65 persen masyarakat kini menjadi target penipuan digital setiap minggu—angka yang mencengangkan dan menandakan betapa luasnya celah kejahatan siber di tingkat pengguna.
“Semua orang sekarang pakai handphone, bahkan ada yang punya dua sampai empat. Nah, di situlah pelaku masuk, mencuri data pribadi seperti nama, nomor KTP, hingga informasi perbankan,” ungkapnya dalam Diskusi Publik Kejahatan Digital yang digelar Aliansi Wartawan Kriminal (AWAK) Pontianak di Aula Rumah Dinas Wakil Wali Kota, Kamis (13/11).
Menurut Ayatullah, banyak korban baru sadar setelah data pribadinya disalahgunakan untuk pinjaman online atau transaksi keuangan ilegal.
“Ada warga yang tiba-tiba terdaftar sebagai debitur, padahal tidak pernah mengajukan pinjaman. Ini menimbulkan kerugian finansial sekaligus merusak reputasi,” jelasnya.
Untuk menekan maraknya penipuan ini, IM3 meluncurkan fitur ‘Satspam IM3’, layanan anti-spam dan anti-scam yang memberi notifikasi otomatis kepada pengguna saat menerima pesan atau panggilan mencurigakan.
“Begitu ada panggilan atau WA dari nomor berpotensi penipuan, sistem langsung memberi peringatan. Fitur ini terus kami perbarui sesuai pola baru pelaku,” tambah Ayatullah.
Langkah Bank Kalbar dan IM3 ini menjadi alarm keras bagi publik: kejahatan digital bukan lagi sekadar urusan hacker, tapi ancaman nyata di genggaman tangan.
Masyarakat diimbau untuk tidak lagi memandang ringan peringatan keamanan data. Sebab di era keterhubungan tanpa batas ini, satu klik sembrono bisa berarti kebocoran identitas, pembobolan rekening, atau kehancuran reputasi pribadi.
Seperti dikatakan Toni Darmawan, pesan yang paling sederhana justru paling penting:
“Jangan biarkan dokumen pribadi terbuka, jangan asal membagikan informasi. Dunia digital tidak hanya soal koneksi, tapi juga soal kewaspadaan.” (mdy)