Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Tato Dayak, Perpaduan Seni, Spiritualitas, dan Identitas Budaya yang Terus Bertahan

Novantar Ramses Negara • Selasa, 3 Februari 2026 | 11:20 WIB

 

Proses Pembuatan Tato.
Proses Pembuatan Tato.

PONTIANAK POST - Tato tidak selalu soal gaya atau tren. Namun, di balik gambar dibuat, tersimpan jejak seni, keyakinan, hingga identitas budaya yang panjang. Sarat makna dan bernilai filosofis.

Pada tradisi lama, proses pembuatan tato dilakukan dengan cara yang sangat sederhana. Alat yang digunakan bisa berupa jarum dari duri pohon, tulang binatang yang diruncingkan, ataupun benda tajam lain yang tersedia di alam. Tintanya berasal dari campuran arang pembakaran dan jelaga gula (berasal dari gula putih yang dikentalkan,red), lalu dicampur hingga pekat.

“Tidak ada kayu khusus, karena yang penting tajam saja,” ujar seniman tato di Kota Pontianak, Kristianus (45) saat diwawancarai Pontianak Post, Kamis (29/1) siang.

Dahulu, pembuatannya menggunakan mal dari kayu yang diukir sesuai motif, kemudian dicelupkan ke tinta hitam dan ditempelkan ke kulit sebelum proses pengetukan dimulai. Ritmenya pelan dan berulang, berbeda dengan mesin tato modern.

Menurut Kristianus, di masa lalu tato tidak bisa dilepaskan dari unsur ritual. Ada doa-doa khusus, bahkan prosesi simbolik. Seperti pemotongan ayam sebagai bagian dari “buang darah” demi kelancaran dan keberhasilan proses tato. Namun seiring waktu, aspek ritual itu kian berkurang.

Ia menjelaskan ritual masih mungkin dilakukan, jika tato dibuat dalam konteks adat yang ketat. Misalnya, pada masyarakat Iban yang memang memiliki tradisi tato lengkap dengan upacara. Namun di kota seperti Pontianak, tato tradisional umumnya dibuat tanpa ritual, terutama jika pemiliknya bukan berasal dari suku pemilik tradisi tersebut.

Bagi suku Iban dan Kayan, tato bukan sekadar hiasan tubuh. Setiap motif memiliki makna filosofis yang dalam. Motif bunga terong, misalnya, melambangkan kedewasaan dan pengalaman merantau. Ada pula motif ketam (kepiting) yang melambangkan keberanian dan kemampuan beradaptasi di mana saja, serta tengkawang yang dimaknai sebagai harapan agar pemilik tato mampu hidup dan berkembang di mana pun berada.

“Tato Iban biasanya dimiliki laki-laki, sementara pada suku Kayan justru perempuan. Itu identitas yang sangat spesifik,” jelasnya.

Kristianus mengatakan bahwa kekhawatiran akan hilangnya motif tradisional justru tidak terbukti. Motif-motif lama masih bertahan karena telah terdokumentasi dengan baik, baik dalam buku maupun foto-foto lama.

“Yang terjadi justru pengembangan motif tradisional dimodifikasi agar sesuai dengan selera dan kebutuhan zaman modern, tanpa menghilangkan makna dasarnya. Kalau nilai filosofinya, itu tidak bisa digeser. Yang berkembang hanya bentuk visualnya,” katanya.

Kristianus menambahkan jika perkembangan teknologi turut mendorong kebangkitan tato tradisional. Jika dulu informasi hanya datang dari majalah luar negeri, kini internet membuka mata banyak orang tentang kekayaan tato Iban, Kayan, dan suku-suku lain di Kalimantan. Penerimaan publik pun semakin luas.

Meski penerimaan masyarakat kian terbuka, tantangan masih ada, terutama dalam dunia kerja. Kristianus berharap, ke depan tato tidak lagi menjadi penghalang bagi seseorang untuk mengakses pekerjaan tertentu.

“Tato itu bukan kriminalitas. Banyak orang baik yang bertato. Saya sendiri ASN dan bertato,” tegasnya. (mse)

 

Editor : Hanif
#Tato Dayak #Tato #spiritual #seni #era modern #identitas budaya