PONTIANAK POST – Wakil Gubernur Kalimantan Barat Krisantus Kurniawan menilai lonjakan inflasi menjelang perayaan hari besar keagamaan seperti Imlek, Ramadhan, dan Idul Fitri merupakan pola berulang yang seharusnya dapat diantisipasi secara struktural, bukan sekadar ditangani dengan operasi pasar.
Menurut Krisantus, hampir setiap tahun penyebab inflasi relatif sama, yakni peningkatan permintaan bahan pokok menjelang Imlek, Ramadan, hari raya dan lainnya.
“Saya setiap tahun ikut rapat inflasi, penyebabnya pasti hari raya. Imlek, Lebaran, Natal, inflasi. Lalu apa yang dilakukan? Operasi pasar, jual barang murah. Itu bukan solusi,” ujar Krisantus, baru-baru ini, di Pontianak.
Ia menyebut sejumlah komoditas yang kerap mengalami lonjakan harga antara lain ayam, sapi, kambing, babi, telur, cabai, hingga kedelai. Ketika permintaan meningkat sementara pasokan terbatas, harga otomatis terdorong naik.
“Kalau permintaan banyak, stok sedikit, harga pasti naik. Daya beli masyarakat menurun, keterjangkauan makin berat,” katanya.
Krisantus mengungkapkan, dalam rapat koordinasi terakhir disepakati perlunya kolaborasi lintas sektor untuk mengatasi persoalan inflasi secara lebih fundamental. Ia menekankan sinergi antara dinas kelautan dan perikanan, tanaman pangan hortikultura, perkebunan dan peternakan, pertanian, serta perindustrian dan perdagangan di tingkat provinsi hingga kabupaten/kota.
“Programnya harus sinergi. Provinsi, kabupaten, kota harus satu irama untuk mendorong produksi,” ujarnya.
Menurutnya, peningkatan kapasitas produksi menjadi kunci utama menjaga stabilitas harga, terutama untuk komoditas pangan strategis.
“Kita harus tingkatkan produksi petani, produksi sayur mayur, ikan, ayam, telur, dan lainnya. Kalau kebutuhan cukup, harga stabil, daya beli masyarakat terjaga,” tegasnya.
Krisantus juga menyinggung adanya peningkatan kebutuhan pangan seiring pelaksanaan program Makanan Bergizi Gratis (MBG). Program tersebut, kata dia, turut mendorong kenaikan permintaan sejumlah komoditas.
“Dengan adanya MBG, kebutuhan meningkat. Ayam yang dulu perlu seribu, sekarang jadi dua ribu. Tempe dan tahu juga naik kebutuhannya. Beras pasti meningkat dibanding sebelum ada MBG,” jelasnya.
Ia menilai peningkatan permintaan tanpa diimbangi lonjakan produksi dapat menjadi salah satu faktor pendorong inflasi.
Meski demikian, Krisantus menegaskan pemerintah daerah tidak boleh hanya bergantung pada intervensi jangka pendek seperti operasi pasar. Menurutnya, pendekatan tersebut tidak mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat, terutama di daerah pelosok.
“Operasi pasar tidak mungkin menjangkau sampai ke pelosok. Solusi jangka panjangnya adalah meningkatkan produksi dan memperkuat distribusi,” pungkasnya. (den)
Editor : Hanif