PONTIANAK POST – Direktur Manajemen Pembangkit PT PLN (Persero), Rizal Calvary Marimbo, mengatakan pengembangan energi baru terbarukan seperti biomassa kini semakin dibutuhkan. Ia menyebut, di tengah tren penurunan produksi batu bara kalori menengah hingga tinggi secara nasional, pembangkit berbasis biomassa mulai dilirik sebagai salah satu solusi untuk jangka panjang.
“Kehadiran pembangkit ini sangat penting karena dua hal utama. Pertama, sebagai solusi atas semakin langkanya suplai batu bara di masa depan. Kedua, ini adalah pembangkit yang sangat pro-green yang secara langsung akan mengurangi ketergantungan kita pada pembangkit berbahan bakar fosil dan diesel di berbagai wilayah,” ujarnya usai meresmikan Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm) berkapasitas 5 Mega Watt (MW) di Desa Kuala Mandor A, Kabupaten Kubu Raya, yang dioperasikan PT Pundi Global Investama, Senin (2/3) sore
Secara nasional, potensi biomassa disebut mencapai 10 hingga 15 gigawatt (GW). Kalimantan Barat menjadi salah satu daerah dengan ketersediaan bahan baku yang dinilai kuat, terutama dari limbah kayu dan sektor perkebunan.
Rizal menyebut peluang pengembangan di Kubu Raya masih terbuka lebar. “Kami melihat peluang untuk ekstensi hingga 10 MW, 15 MW, bahkan 20 MW. PLN akan memberikan perhatian penuh pada daerah yang memiliki ketersediaan suplai biomassa yang kuat,” katanya.
Baca Juga: PLN Pastikan Keandalan Listrik Perayaan Imlek dan Cap Go Meh 2577 di Kalimantan Barat
Selain memperkuat bauran energi hijau, proyek ini juga membentuk ekosistem ekonomi baru di tingkat lokal. Skema penyediaan bahan baku melibatkan masyarakat sekitar sebagai pemasok biomassa. Limbah yang sebelumnya kurang termanfaatkan kini memiliki nilai ekonomi dan menjadi bagian dari rantai produksi listrik.
Wakil Bupati Kubu Raya, Sukiryanto, melihat potensi lebih jauh, terutama dalam pengelolaan sampah perkotaan. Ia berharap ke depan ada integrasi antara industri biomassa dan penyelesaian persoalan sampah di wilayah kabupaten.
Menurutnya, selama ada pelaku usaha, dukungan PLN, serta pembiayaan perbankan, pengembangan industri biomassa akan lebih mudah dilakukan dan bisa menjadi bagian dari komitmen daerah dalam mengurangi persoalan lingkungan.
Lanjut Sukiryanto, dengan kapasitas awal 5 MW dan peluang ekspansi hingga beberapa kali lipat, biomassa di Kuala Mandor bukan hanya menambah pasokan listrik. Ia menjadi bagian dari upaya mengurangi ketergantungan pada energi fosil sekaligus membuka ruang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar. (mse)