alexametrics
25 C
Pontianak
Friday, May 27, 2022

Tangguh dan Tumbuh Menuju Era Super Smart Society

HARI ini, 7 November, ditetapkan sebagai Hari Wayang Nasional, yang diperingati sekali dalam setahun. Menurut situs correcto.id, sejarah penetapannya bermula ketika organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau UNESCO pada 7 November 2003 menetapkan wayang kulit sebagai warisan budaya tak benda. Tentunya ini adalah sebuah sejarah yang perlu dikenang, di mana wayang kulit sebagai budaya Indonesia diakui di dunia internasional sebagai warisan dunia.

Adapun penetapan wayang kulit oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia bukanlah hal mudah. Sebab beberapa kriteria yang harus terpenuhi, di antaranya kebudayaan tersebut dibuat oleh kelompok maupun perorangan dalam masyarakat, serta menunjukkan identitas sosial berdasarkan standar dan nilai-nilai yang diucapkan atau diikuti secara turun temurun.

Dari semua kriteria atau syarat tersebut, wayang kulit memenuhi syarat, dan ditetapkanlah sebagai Master Piece of Oral and Intangible Heritage of Humanity atau warisan budaya dunia yang berasa dari Indonesia, pada 7 November 2003. Berangkat dari penetapan oleh UNESCO tersebut masyarakat Indonesia, khususnya para pegiat seni wayang kulit mendorong pemerintah untuk menetapkan Hari Wayang Nasional.

Atas saran dari dari masyarakat salah satunya komunitas wayang, Sena Wangi, mendorong pemerintah agar menjadikan tanggal 7 November sebagai Hari Wayang Nasional. Permohonan tersebut disampaikan langsung oleh 40 perwakilan seniman dan budayawan yang saat itu bertemu langsung di Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka.

Pemerintah pun menerima saran dari masyarakat tersebut dan menetapkan 7 November sebagai Hari Wayang Nasional. Hal tersebut tertuang dalam surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2018 Tentang Hari Wayang Nasional. Keputusan tersebut berisi penetapan Keputusan Presiden Tentang Hari Wayang Nasional dengan beberapa poin di antaranya menetapkan tanggal 7 November sebagai Hari Wayang Nasional, Hari Wayang Nasional bukan merupakan hari libur, dan Keputusan Presiden ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Keputusan tersebut juga berlandas pada pertimbangan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia atas budaya yang dimiliki bahwa dalam rangka meningkatkan kesadaran dan kecintaan masyarakat terhadap upaya pemajuan wayang Indonesia, Pemerintah menetapkan tanggal 7 November sebagai Hari Wayang Nasional.

Baca Juga :  Selamat Hari Penyu Sedunia

Bicara tentang wayang, tentu tak dibisa dilepaskan dari peran dalang. Dalang dalam dunia pewayangan diartikan sebagai seseorang yang mempunyai keahlian khusus memainkan boneka wayang atau disebut ndalang. Keahlian ini biasanya diperoleh dari bakat turun-temurun dari leluhurnya. Seorang anak dalang akan bisa mendalang tanpa belajar secara formal. Ia akan mengikuti ayahnya selagi mendalang dengan membawakan peralatan, menata panggung, mengatur wayang (nyimping), menjadi pengrawit, atau duduk di belakang ayahnya untuk membantu mempersiapkan wayang yang akan dimainkan. Selama mengikuti ayahnya ndalang dalam kurun waktu yang lama inilah, proses pembelajaran itu terjadi dengan sangat alami. Rata-rata anak dalang akan bisa mendalang setelah besar nanti. Tetapi banyak juga seorang anak dalang tidak akan menjadi dalang di kelak kemudian hari, karena mempunyai pilihan hidup sendiri, misalnya berprofesi menjadi pegawai negeri, swasta, TNI, dan sebagainya. Tetapi fenomena itu tidak selamanya benar. Dengan adanya sekolah-sekolah pedalangan baik setingkat SMU dan perguruan tinggi, seperti Jurusan Pedalangan Sekolah Tinggi Seni Indonesia Surakarta (STSI) –sekarang Institut Seni Indonesia Surakarta– mencetak sarjana pedalangan yang tidak hanya mumpuni memainkan wayang, tetapi juga berwawasan luas dan berpikir kritis. Dalam perguruan tinggi inilah lahir pula dalang yang bukan dari keturunan seorang dalang, tetapi hanya seseorang yang mempunyai niat yang kuat untuk belajar dalang dan akhirnya bisa mendalang.

Baca Juga :  Pengaturan Ulang Hubungan Manusia dengan Alam

 

Baca juga: Nekat Bentuk Sanggar Demi Wayang

Untuk forum komunikasi demi memelihara dan mengembangkan mutu dalang, kemudian dibentuklah Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi). Diceritakan dalam situs pepadi.id bahwa organisasi ini didirikan oleh Jenderal Surono yang waktu itu menjabat sebagai Pangkowilhan II (Jawa Madura) pada 14 April 1971, dalam musyawarah pedalangan se-Jawa dan Madura di Yogyakarta sebagai organisasi pedalangan yang bersifat nasional. Sebelumnya Jenderal Surono telah mendirikan organisasi pedalangan yang bersifat regional bernama Ganasidi (Lembaga Pembina Seni Pedalangan Indonesia) pada 12 Juli 1969 saat menjabat sebagai Pangdam VII Diponegoro.

Dalam musyawarah nasional Pepadi di Yogyakarta pada 31 Juli 1975, diputuskan mengubah organisasi pedalangan yang bersifat kedaerahan menjadi bersifat nasional sehingga Ganasidi secara bertahap meleburkan diri menjadi Pepadi.

Baca juga: Gelar Wayang Climen

Sementara di Kalimantan Barat sendiri, Pepadi Provinsi Kalimantan Barat Periode 2017 – 2022 diketuai Prof. Slamet Rahardjo. Kepengurusannya dikukuhkan pada 8 September 2018, di Halaman Nine Teen Untan Pontianak. Pengukuhannya dilakukan langsung oleh Ketua Umum Pepadi Pusat, Kondang Sutrisno. Dalam pengukuhan tersebut mereka menampilkan lima dalang yang kesemuanya berasal dari Kalimantan Barat. Lima dalang tersebut yakni Ki Suyadi, Ki Sutrisno, Ki Joko Panguripan, Ki Haryono, dan Ki M. Rifai. (berbagai sumber)

HARI ini, 7 November, ditetapkan sebagai Hari Wayang Nasional, yang diperingati sekali dalam setahun. Menurut situs correcto.id, sejarah penetapannya bermula ketika organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau UNESCO pada 7 November 2003 menetapkan wayang kulit sebagai warisan budaya tak benda. Tentunya ini adalah sebuah sejarah yang perlu dikenang, di mana wayang kulit sebagai budaya Indonesia diakui di dunia internasional sebagai warisan dunia.

Adapun penetapan wayang kulit oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia bukanlah hal mudah. Sebab beberapa kriteria yang harus terpenuhi, di antaranya kebudayaan tersebut dibuat oleh kelompok maupun perorangan dalam masyarakat, serta menunjukkan identitas sosial berdasarkan standar dan nilai-nilai yang diucapkan atau diikuti secara turun temurun.

Dari semua kriteria atau syarat tersebut, wayang kulit memenuhi syarat, dan ditetapkanlah sebagai Master Piece of Oral and Intangible Heritage of Humanity atau warisan budaya dunia yang berasa dari Indonesia, pada 7 November 2003. Berangkat dari penetapan oleh UNESCO tersebut masyarakat Indonesia, khususnya para pegiat seni wayang kulit mendorong pemerintah untuk menetapkan Hari Wayang Nasional.

Atas saran dari dari masyarakat salah satunya komunitas wayang, Sena Wangi, mendorong pemerintah agar menjadikan tanggal 7 November sebagai Hari Wayang Nasional. Permohonan tersebut disampaikan langsung oleh 40 perwakilan seniman dan budayawan yang saat itu bertemu langsung di Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka.

Pemerintah pun menerima saran dari masyarakat tersebut dan menetapkan 7 November sebagai Hari Wayang Nasional. Hal tersebut tertuang dalam surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2018 Tentang Hari Wayang Nasional. Keputusan tersebut berisi penetapan Keputusan Presiden Tentang Hari Wayang Nasional dengan beberapa poin di antaranya menetapkan tanggal 7 November sebagai Hari Wayang Nasional, Hari Wayang Nasional bukan merupakan hari libur, dan Keputusan Presiden ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Keputusan tersebut juga berlandas pada pertimbangan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia atas budaya yang dimiliki bahwa dalam rangka meningkatkan kesadaran dan kecintaan masyarakat terhadap upaya pemajuan wayang Indonesia, Pemerintah menetapkan tanggal 7 November sebagai Hari Wayang Nasional.

Baca Juga :  Nekat Bentuk Sanggar Demi Wayang

Bicara tentang wayang, tentu tak dibisa dilepaskan dari peran dalang. Dalang dalam dunia pewayangan diartikan sebagai seseorang yang mempunyai keahlian khusus memainkan boneka wayang atau disebut ndalang. Keahlian ini biasanya diperoleh dari bakat turun-temurun dari leluhurnya. Seorang anak dalang akan bisa mendalang tanpa belajar secara formal. Ia akan mengikuti ayahnya selagi mendalang dengan membawakan peralatan, menata panggung, mengatur wayang (nyimping), menjadi pengrawit, atau duduk di belakang ayahnya untuk membantu mempersiapkan wayang yang akan dimainkan. Selama mengikuti ayahnya ndalang dalam kurun waktu yang lama inilah, proses pembelajaran itu terjadi dengan sangat alami. Rata-rata anak dalang akan bisa mendalang setelah besar nanti. Tetapi banyak juga seorang anak dalang tidak akan menjadi dalang di kelak kemudian hari, karena mempunyai pilihan hidup sendiri, misalnya berprofesi menjadi pegawai negeri, swasta, TNI, dan sebagainya. Tetapi fenomena itu tidak selamanya benar. Dengan adanya sekolah-sekolah pedalangan baik setingkat SMU dan perguruan tinggi, seperti Jurusan Pedalangan Sekolah Tinggi Seni Indonesia Surakarta (STSI) –sekarang Institut Seni Indonesia Surakarta– mencetak sarjana pedalangan yang tidak hanya mumpuni memainkan wayang, tetapi juga berwawasan luas dan berpikir kritis. Dalam perguruan tinggi inilah lahir pula dalang yang bukan dari keturunan seorang dalang, tetapi hanya seseorang yang mempunyai niat yang kuat untuk belajar dalang dan akhirnya bisa mendalang.

Baca Juga :  Jangan Merokok di Tempat Bermain Anak-anak

 

Baca juga: Nekat Bentuk Sanggar Demi Wayang

Untuk forum komunikasi demi memelihara dan mengembangkan mutu dalang, kemudian dibentuklah Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi). Diceritakan dalam situs pepadi.id bahwa organisasi ini didirikan oleh Jenderal Surono yang waktu itu menjabat sebagai Pangkowilhan II (Jawa Madura) pada 14 April 1971, dalam musyawarah pedalangan se-Jawa dan Madura di Yogyakarta sebagai organisasi pedalangan yang bersifat nasional. Sebelumnya Jenderal Surono telah mendirikan organisasi pedalangan yang bersifat regional bernama Ganasidi (Lembaga Pembina Seni Pedalangan Indonesia) pada 12 Juli 1969 saat menjabat sebagai Pangdam VII Diponegoro.

Dalam musyawarah nasional Pepadi di Yogyakarta pada 31 Juli 1975, diputuskan mengubah organisasi pedalangan yang bersifat kedaerahan menjadi bersifat nasional sehingga Ganasidi secara bertahap meleburkan diri menjadi Pepadi.

Baca juga: Gelar Wayang Climen

Sementara di Kalimantan Barat sendiri, Pepadi Provinsi Kalimantan Barat Periode 2017 – 2022 diketuai Prof. Slamet Rahardjo. Kepengurusannya dikukuhkan pada 8 September 2018, di Halaman Nine Teen Untan Pontianak. Pengukuhannya dilakukan langsung oleh Ketua Umum Pepadi Pusat, Kondang Sutrisno. Dalam pengukuhan tersebut mereka menampilkan lima dalang yang kesemuanya berasal dari Kalimantan Barat. Lima dalang tersebut yakni Ki Suyadi, Ki Sutrisno, Ki Joko Panguripan, Ki Haryono, dan Ki M. Rifai. (berbagai sumber)

Most Read

Enam Jenazah Belum Terindentifikasi

Sepakati KUA-PPAS Tahun 2020

Terapkan Prokes saat PTM

Sembahyang Kubur Sepi

Artikel Terbaru

/