PONTIANAK POST - Puasa Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan ibadah yang dimulai dari niat yang sungguh-sungguh di dalam hati.
Karena itu, memahami tata cara niat puasa, mulai dari waktu pelaksanaan hingga redaksi bacaannya, menjadi bagian penting agar ibadah puasa sah dan bernilai di sisi Allah SWT.
Baca Juga: Bukan Sekadar Lapar dan Haus, Ini Tiga Tingkatan Puasa Menurut Imam Al-Ghazali
Tata Cara Niat Puasa Ramadan
Dalam pelaksanaan niat puasa Ramadan, pengucapan secara lisan saja tidaklah mencukupi.
Niat harus benar-benar terpatri di dalam hati, disertai kesadaran akan status puasa yang dijalankan, apakah puasa wajib Ramadan, puasa qadha, atau puasa nazar.
Mengacu pada kitab Tausyih Syarhu Fathul Qarib, karya Syekh Nawawi Banten, niat puasa boleh dilakukan sejak terbenamnya matahari hingga sebelum terbit fajar (waktu Subuh).
Di tengah masyarakat, niat puasa umumnya dilakukan setelah shalat Tarawih berjamaah.
Praktik ini dibolehkan, namun para ulama menganjurkan agar niat tersebut diulang kembali pada paruh malam terakhir, yakni menjelang waktu sahur, sebagai bentuk kehati-hatian dan penyempurnaan ibadah (hal. 111).
Bacaan dan Arti Niat Puasa Ramadan
Merujuk pada kitab Ghayatul Muna, terdapat dua redaksi niat puasa Ramadan yang lazim diamalkan.
Pertama, bacaan niat puasa Ramadan:
“Nawaitu shauma ghadin ‘an ada’i fardhi syahri Ramadana hadzihis sanati lillahi Ta‘ala.”
Artinya: “Aku berniat puasa esok hari untuk menunaikan kewajiban bulan Ramadan tahun ini karena Allah Ta‘ala.”
Kedua, dianjurkan menambahkan bacaan berikut:
Imanan waḥtisaban liwajhillahil karim.
Artinya: “Dalam keadaan beriman dan mengharapkan pahala sepenuhnya semata-mata karena Allah Yang Maha Mulia.”
Keterangan ini disampaikan oleh Muhammad bin Ali Ad-Du’ani dalam Ghayatul Muna Syarhu Safinatin Naja (hal. 572).
Demikian penjelasan mengenai tata cara, waktu, dan bacaan niat puasa Ramadan. Semoga tulisan ini dapat membantu kita dalam mengamalkan ibadah puasa dengan lebih yakin dan sempurna. Amin. Wallahu a‘lam. (*)
Editor : Miftahul Khair