Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Menghadirkan Empati di Bulan Mulia

Hanif PP • Jumat, 6 Maret 2026 | 12:04 WIB

Dr. Amalia Irfani, M.Si
Dr. Amalia Irfani, M.Si

Oleh : Dr. Amalia Irfani, M.Si

Sering kita mendengar istilah empati. Dalam stigma sosial, seseorang yang tidak peduli terhadap penderitaan orang lain di sekitarnya kerap dianggap sebagai individu yang tidak memiliki empati. Padahal, empati bukanlah sesuatu yang remeh dan tidak dimiliki oleh setiap orang. Empati merupakan sikap sekaligus kemampuan yang tumbuh pada hamba Allah SWT yang beriman serta cerdas secara emosional.

Empati berada pada tingkat yang lebih tinggi daripada simpati. Para ahli sepakat bahwa empati merupakan proses kedewasaan yang perlu terus diasah. Individu yang memiliki empati biasanya lebih peka dan sensitif terhadap penderitaan orang lain.

Dalam kehidupan sosial sehari-hari, empati menjadi pilar utama dalam membangun hubungan yang kuat dan harmonis. Di tengah masyarakat, empati tercermin melalui komunikasi yang efektif sehingga dapat mengurangi konflik. Dalam lingkup komunitas maupun keluarga, empati terlihat ketika seseorang memberikan dukungan kepada teman atau saudara dengan mendengarkan keluhan dan curahan hati, serta membantu sesuai kemampuan yang dimiliki.

Empati juga berkaitan dengan kemampuan memahami perspektif orang lain, memberikan dukungan emosional, serta meningkatkan kebahagiaan dan kesehatan mental diri sendiri. Kemampuan ini dapat terus diasah melalui interaksi dengan orang lain.

Dr. Aisyah Dahlan, praktisi neuroparenting skill, menjelaskan bahwa peningkatan empati berkaitan erat dengan pemahaman cara kerja otak manusia, emosi, dan komunikasi yang efektif. Ketiga hal tersebut menjadi landasan untuk menyelami perasaan orang lain sehingga mampu memberikan dukungan moral dan saling menguatkan.

Empati dapat dibedakan ke dalam tiga kategori. Pertama, empati kognitif, yaitu kemampuan memahami pikiran orang lain. Kedua, empati emosional atau afektif, yakni kemampuan merasakan emosi orang lain. Ketiga, empati aksi atau kompasioner, yaitu dorongan untuk membantu berdasarkan pemahaman dan perasaan tersebut dalam bentuk tindakan nyata.

 

Empati di Bulan Mulia

Secara etimologis, empati berasal dari bahasa Yunani Kuno empatheia yang secara harfiah berarti merasakan di dalam atau ikut merasakan perasaan orang lain. Dalam konteks sosiologi, empati diibaratkan sebagai berjalan dengan sepatu orang lain (role-taking), yaitu memahami latar belakang, perasaan, dan pemikiran seseorang dari sudut pandangnya.

Dalam kaitannya dengan bulan suci Ramadan, empati dapat tercermin ketika seorang mukmin ikut merasakan lapar, dahaga, dan kesulitan yang dialami oleh saudaranya. Pemahaman tersebut bukan sekadar ujian fisik, melainkan sarana menumbuhkan kepedulian.

Ketika seorang mukmin berempati kepada saudaranya, tujuannya semata-mata mengharapkan rida Allah SWT. Tanpa empati, puasa seorang hamba berpotensi menjadi sia-sia karena hanya menjadi ritual menahan lapar dan dahaga.

Ada beberapa alasan mengapa empati sangat penting di bulan Ramadan. Pertama, empati menjadi jembatan antara ritual ibadah dan kepedulian sosial untuk mengumpulkan pahala. Kedua, empati menumbuhkan kerendahan hati (tawadhu) dan menghilangkan keangkuhan, sehingga ibadah tidak dilakukan untuk dipamerkan. Tanpa disadari, empati juga dapat meredam kecenderungan narsisme yang berkembang di era internet, ketika pencarian pengakuan sering menjadi bagian dari identitas diri individu.

Ketiga, empati mengubah pengetahuan menjadi kesadaran. Seseorang tidak sekadar mengetahui penderitaan orang lain, tetapi juga seolah turut merasakannya. Empati menjadi perekat solidaritas yang menciptakan kehidupan yang aman, damai, dan saling memahami.

Ibnu Qayyim, seorang ilmuwan, teolog, dan pakar hukum Islam berpengaruh pada abad ke-14, menjelaskan bahwa empati merupakan rahmat Allah kepada hamba-Nya yang berhati lembut. Semakin luas rahmat di hati seseorang, semakin besar pula kemampuannya merasakan penderitaan dan kesulitan saudaranya.

Rasulullah SAW juga bersabda sebagai pesan untuk melembutkan hati dalam kebaikan, “Jika kamu ingin melunakkan hatimu, maka berilah makan orang miskin dan usaplah kepala anak yatim.” (HR. Ahmad). (**)

 

*) Penulis adalah Kaprodi Studi Agama-Agama FUSHA IAIN Pontianak / LPPA PWA Kalbar

 

Editor : Hanif
#Hubungan Sosial #sehat #simpati #empati #harmonis