Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Bukber dan Rahasia Keluarga yang Tetap Harmonis

Hanif PP • Sabtu, 7 Maret 2026 | 11:57 WIB

H. Mi'rad
H. Mi'rad

Oleh : H. Mi'rad

Ramadan selalu hadir membawa pesan yang sama: memperlambat langkah, menata ulang prioritas, dan mendekatkan yang sempat menjauh. Di antara berbagai tradisi Ramadan, ada satu kebiasaan yang kerap dianggap sederhana, tetapi memiliki dampak besar bagi ketahanan keluarga, yakni buka puasa bersama.

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, makan bersama keluarga sering menjadi kemewahan. Ayah pulang larut, ibu sibuk dengan berbagai peran, sementara anak-anak tenggelam dalam aktivitas sekolah dan gawai. Rumah kerap hanya menjadi tempat singgah, bukan ruang perjumpaan. Ramadan kemudian datang menawarkan jeda: waktu magrib yang seolah mengajak semua orang berhenti sejenak dan berkumpul.

Saat azan berkumandang, meja makan berubah fungsi. Ia bukan sekadar tempat menyantap hidangan, tetapi juga menjadi ruang dialog, ruang mendengar, dan ruang berbagi cerita. Dalam suasana sederhana, dengan hidangan seperti air kelapa, kurma, bubur pedas, dan menu lainnya, tercipta pertemuan emosional yang jarang hadir pada hari-hari biasa.

Buka puasa bersama (Bukbermembuka kembali pintu komunikasi keluarga. Anak-anak lebih leluasa bercerita tentang sekolah, pertemanan, dan kegelisahan mereka. Orang tua pun memiliki ruang untuk mendengar tanpa menginterogasi serta menasihati tanpa menggurui. Percakapan mengalir alami, diselingi tawa dan kehangatan. Dari sinilah kepercayaan tumbuh.

Banyak persoalan keluarga sebenarnya berawal dari komunikasi yang terputus. Kesalahpahaman, jarak emosional, hingga konflik berkepanjangan sering terjadi bukan karena masalah besar, melainkan karena kurangnya waktu bersama. Dalam konteks ini, buka puasa bersama menjadi “obat sederhana” yang kerap terlupakan.

Dampak kebiasaan ini terasa nyata bagi keharmonisan keluarga. Rutinitas berbuka bersama menumbuhkan rasa memiliki, memperkuat ikatan emosional, dan menurunkan potensi konflik. Keluarga tidak lagi sekadar hidup di bawah satu atap, tetapi saling terhubung secara batin. Rumah kembali menjadi tempat pulang yang menenangkan, bukan sekadar alamat administratif.

Lebih dari itu, buka puasa bersama juga menjadi sarana pendidikan karakter yang efektif. Anak belajar menahan diri, bersabar menunggu azan, memahami adab makan, berbagi, serta mensyukuri apa yang tersedia. Nilai-nilai tersebut tidak diajarkan melalui ceramah panjang, melainkan melalui keteladanan yang mereka saksikan setiap hari.

Bagi orang tua, momen ini menjadi pengingat bahwa kehadiran merupakan bentuk kasih sayang yang paling nyata. Di tengah tuntutan ekonomi dan pekerjaan, meluangkan waktu untuk duduk bersama sering kali lebih bermakna daripada memberikan fasilitas materi. Anak mungkin melupakan hadiah mahal, tetapi jarang melupakan momen kebersamaan.

Dalam perspektif yang lebih luas, keluarga harmonis merupakan fondasi masyarakat yang sehat. Banyak persoalan sosial, mulai dari kenakalan remaja hingga kekerasan dalam rumah tangga, tidak jarang berakar dari rapuhnya hubungan keluarga. Menguatkan keluarga tidak selalu membutuhkan program besar dan biaya mahal. Kadang, hal itu cukup dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.

Ramadan mengajarkan bahwa harmoni lahir dari hal-hal sederhana yang dijalankan dengan kesadaran. Buka puasa bersama adalah salah satunya. Ia bukan sekadar ritual tahunan, melainkan momentum untuk memperbaiki relasi, menumbuhkan empati, dan meneguhkan kembali makna keluarga.

Ketika Ramadan berakhir, semestinya kebiasaan baik ini tidak ikut berlalu. Meja makan yang tetap ramai, percakapan yang terus hidup, serta waktu bersama yang dijaga menjadi warisan Ramadan yang paling berharga. Sebab keluarga yang sering berbuka bersama bukan hanya kenyang secara fisik, tetapi juga kaya secara emosional. Dari keluarga yang hangat, lahirlah masyarakat yang kuat. (**)

 

*) Penulis adalah Kabid Urusan Agama Islam (Urais) Kanwil Kemenag Kalbar dan Ketua BP4 Kalbar

Editor : Hanif
#ramadan #komunikasi #Keharmonisan rumah tangga #Bukber keluarga #empati