Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Menjemput Lailatul Qadr

Hanif PP • Rabu, 11 Maret 2026 | 11:48 WIB

Mustafa
Mustafa

Oleh: Mustafa*

Ramadan merupakan bulan yang penuh keberkahan dan ampunan. Di dalamnya terdapat satu malam yang sangat istimewa, yaitu malam yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan. Jika dikonversikan dalam hitungan waktu, seribu bulan setara dengan lebih dari delapan puluh tiga tahun. Malam itu dikenal sebagai Lailatul Qadr, malam kemuliaan yang menjadi kesempatan besar bagi umat Islam untuk meraih pahala yang berlipat ganda.

Keutamaan malam ini ditegaskan dalam firman Allah SWT dalam Surah Al-Qadr. Allah menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan pada malam Lailatul Qadr, sebuah peristiwa agung yang menjadi tonggak penting dalam sejarah peradaban manusia. Pada malam itu pula para malaikat, termasuk Malaikat Jibril, turun ke bumi dengan izin Allah untuk mengatur berbagai urusan hingga terbit fajar.

Keagungan malam tersebut menunjukkan betapa besarnya kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Allah menyediakan satu malam yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan agar manusia memiliki kesempatan memperbanyak amal saleh dan meraih ampunan-Nya. Oleh karena itu, malam Lailatul Qadr menjadi momentum spiritual yang sangat dinantikan oleh umat Islam di seluruh dunia.

Istilah Lailatul Qadr sendiri memiliki beberapa makna. Kata qadr dapat diartikan sebagai takdir atau penentuan, sekaligus bermakna kemuliaan dan kedudukan yang tinggi. Kedua makna tersebut saling melengkapi. Pada malam itulah Allah menetapkan berbagai ketentuan bagi kehidupan manusia, sekaligus menjadikannya sebagai malam yang penuh kemuliaan.

Sayyid Qutb dalam tafsir Fi Zhilalil Qur’an menjelaskan bahwa turunnya Al-Qur’an pada malam Lailatul Qadr merupakan peristiwa yang sangat agung dalam sejarah manusia. Melalui wahyu itulah manusia memperoleh petunjuk untuk menjalani kehidupan dengan benar dan penuh makna.

Keutamaan malam Lailatul Qadr juga ditegaskan oleh Rasulullah SAW dalam berbagai hadis. Beliau menyampaikan bahwa bulan Ramadan adalah bulan yang penuh berkah dan di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk menghidupkan malam tersebut dengan berbagai ibadah dan amal kebaikan.

Namun, waktu pasti terjadinya Lailatul Qadr tidak diketahui secara pasti. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah hendak memberitahukan waktu datangnya malam tersebut kepada para sahabat.

Akan tetapi, karena terjadi perdebatan di antara dua orang muslim, pengetahuan tentang waktu pastinya kemudian diangkat. Rasulullah SAW selanjutnya menganjurkan agar umat Islam mencarinya pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan.

Hal ini mengandung hikmah yang besar. Dengan tidak diketahuinya secara pasti kapan Lailatul Qadr terjadi, umat Islam terdorong untuk meningkatkan ibadah sepanjang sepuluh malam terakhir Ramadan. Setiap malam menjadi kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan penuh kesungguhan.

Teladan ini dicontohkan langsung oleh Rasulullah SAW. Aisyah ra. meriwayatkan bahwa ketika memasuki sepuluh malam terakhir Ramadan, Rasulullah SAW meningkatkan kesungguhan dalam beribadah. Beliau menghidupkan malam-malam tersebut dengan shalat, doa, dan berbagai amal kebaikan, bahkan membangunkan keluarganya untuk ikut beribadah.

Karena itu, sepuluh malam terakhir Ramadan menjadi momentum yang sangat berharga bagi setiap muslim. Pada malam-malam tersebut dianjurkan untuk memperbanyak tilawah Al-Qur’an, melaksanakan shalat sunnah, bersedekah, serta melakukan i’tikaf di masjid. Selain itu, malam-malam tersebut juga menjadi waktu yang tepat untuk memohon ampunan kepada Allah atas berbagai dosa dan kesalahan yang telah dilakukan.

Rasulullah SAW juga mengajarkan doa yang sebaiknya dibaca ketika seorang muslim berharap bertemu dengan Lailatul Qadr. Ketika Aisyah ra. bertanya tentang doa yang perlu dibaca pada malam tersebut, Rasulullah SAW menjawab agar membaca doa: “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku.”

Doa ini mencerminkan kerendahan hati seorang hamba yang menyadari betapa banyak kekurangan dan kelalaian dalam hidupnya. Dengan memohon ampunan, seorang muslim berharap memperoleh rahmat dan kasih sayang Allah.

Pada akhirnya, setiap muslim tentu berharap dapat menjumpai malam Lailatul Qadr. Malam yang penuh kemuliaan itu merupakan kesempatan besar untuk meraih pahala yang luar biasa. Satu malam ibadah di dalamnya dapat bernilai seperti ibadah selama lebih dari delapan puluh tiga tahun.

Karena itu, sepuluh malam terakhir Ramadan seharusnya menjadi momentum untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah. Dengan penuh iman dan keikhlasan, umat Islam berusaha menjemput Lailatul Qadr dengan memperbanyak ibadah dan doa. Semoga Allah memberikan kesempatan kepada kita semua untuk meraih kemuliaan malam tersebut serta mendapatkan ampunan dan keberkahan-Nya. Semoga. (**)

 

*) Penulis adalah Guru MAN 2 Pontianak dan Pengurus KAHMI Kalbar

Editor : Hanif
#lailatul qadr #malam lebih baik dari seribu bulan #ramadan #10 malam terakhir #umat islam