Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Dakwah Nafsiyah

Hanif PP • Sabtu, 14 Maret 2026 | 12:47 WIB

Cucu Nurjamilah
Cucu Nurjamilah

Oleh : Cucu Nurjamilah*

 

Ada ayat. “Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka tetap istiqamah (dalam pendiriannya), maka akan turun malaikat-malaikat kepada mereka seraya berkata, ‘Janganlah kamu merasa takut dan jangan bersedih hati; bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan kepadamu.’” (QS. Fushilat: 30).

Ayat tersebut mengandung janji Allah Swt. bagi orang-orang yang beriman dan istiqamah dalam menjalankan keyakinannya. Mereka akan memperoleh ketenangan karena didampingi malaikat serta mendapat kabar gembira berupa surga sebagai balasan atas keimanan dan keteguhan mereka.

Tujuan diwajibkannya puasa Ramadan adalah membentuk pribadi yang bertakwa. Ketakwaan itu tentu tidak berhenti pada bulan Ramadan saja, melainkan harus terus dijaga hingga akhir hayat.

Karena itu, setelah Ramadan, umat Islam dituntut tetap mempertahankan bahkan meningkatkan ritme dan kebiasaan ibadah yang telah dilatih selama bulan suci tersebut.

Untuk menjaga konsistensi atau keistiqamahan dalam beribadah dan berbuat baik, terdapat berbagai cara yang dapat dilakukan. Salah satunya melalui dakwah nafsiyah. Menurut Enjang AS, dakwah nafsiyah merupakan dakwah kepada diri sendiri yang dilakukan oleh diri sendiri sebagai upaya memperbaiki dan membangun kualitas kepribadian yang islami.

Upaya tersebut dapat ditempuh melalui berbagai cara, antara lain menuntut ilmu, membaca, melakukan muhasabah al-nafs (introspeksi diri), bertaqarrub kepada Allah melalui zikir dan doa, melakukan wiqayah al-nafs (memelihara pencerahan jiwa), tazkiyah al-nafs (membersihkan jiwa), bertobat, menunaikan salat, berpuasa, mengingat kematian dan kehidupan setelahnya, serta meningkatkan berbagai bentuk ibadah lainnya.

Mengapa Penting

Pertama, secara fitrah manusia memiliki dua kecenderungan sekaligus, yaitu menuju kebaikan (takwa) dan keburukan (fujur). Jika kecenderungan buruk dibiarkan tanpa diarahkan, hal tersebut dapat menyeret manusia pada kerugian, sebagaimana disebutkan dalam QS. Yusuf ayat 53.

Dalam hal ini, dakwah nafsiyah berfungsi sebagai mekanisme pengendalian diri agar hawa nafsu tidak mendominasi perilaku manusia.

Kedua, keimanan manusia bersifat dinamis. Terkadang meningkat, namun pada waktu lain bisa menurun. Tanpa upaya untuk terus mengingatkan diri dan membangun kesadaran, seseorang mudah kembali pada kelalaian. Ketiga, dakwah nafsiyah juga berperan sebagai proses tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa.

Melalui proses ini, hati dibersihkan dari berbagai penyakit seperti riya’, hasad, kesombongan, dan kemalasan. Penyakit-penyakit hati tersebut mudah muncul dalam diri manusia. Jika dibiarkan, penyakit tersebut dapat merusak nilai amal saleh sehingga kebaikan yang dilakukan menjadi sia-sia.

Selain itu, tidak sedikit orang yang sulit menerima nasihat dari orang lain, baik berupa teguran maupun ajakan menuju kebaikan. Karena itu, ketika kesadaran positif telah tumbuh, sebaiknya seseorang mulai memotivasi dan mengingatkan dirinya sendiri.

Dakwah nafsiyah dapat dilakukan secara fleksibel, bahkan melalui dialog batin yang terus-menerus dengan diri sendiri. Dengan demikian, setiap orang dapat berperan sebagai da’i bagi dirinya sendiri dengan cara menginternalisasikan nilai-nilai Al-Qur’an dan hadis dalam kehidupan sehari-hari.

Hal ini menjadi semakin penting terutama setelah Ramadan, ketika rutinitas kembali berjalan dan tantangan kehidupan semakin beragam. Pada fase inilah dakwah nafsiyah perlu terus diperkuat, mulai dari memperkokoh niat, membangun disiplin spiritual, hingga memperkuat pengendalian diri.

Agar hasilnya optimal, seseorang yang menjalankan dakwah nafsiyah juga dituntut untuk terus meningkatkan pengetahuan, terutama dengan memperdalam pemahaman terhadap Al-Qur’an dan hadis sebagai sumber utama nilai dan pedoman kehidupan. (**)

 

*) Penulis adalah Dosen IAIN Pontianak dan Pegiat Dakwah

Editor : Hanif
#dakwah #konsistensi ibadah #islam #Muhasabah Diri #Istiqamah