alexametrics
26 C
Pontianak
Sunday, June 26, 2022

Virus Korona Bisa Menyebar dari Ruang Ganti APD Tenaga Medis RS

Beberapa penelitian sebelumnya sudah mengungkapkan bahwa virus Korona jenia SARS-CoV-2 memang bisa bertahan di udara dalam bentuk aerosol. Misalnya partikel Coronavirus bisa berlama-lama di udara seperti di rumah sakit.

Temuan itu, berdasarkan pada pengukuran partikel di udara di dua rumah sakit di Wuhan selama wabah. Penelitian juga menunjukkan partikel virus SARS-CoV-2 dapat bertahan pada peralatan pelindung pekerja medis (APD) atau di udara dalam toilet yang digunakan oleh pasien. Beberapa jejak juga ditemukan dalam endapan aerosol pada permukaan di ICU.

Penelitian yang akan diterbitkan dalam jurnal Nature, mengindikasikan bahwa virus tersebut berpotensi menular melalui tetesan kecil yang tergantung di udara yang disebut aerosol. Dan aerosol yang sarat virus dapat berperan dalam mencemari permukaan.

Para peneliti Universitas Wuhan, mengukur konsentrasi SARS-CoV-2 RNA dalam aerosol dari 30 area yang berbeda dari dua rumah sakit selama wabah di Wuhan. Kabar baiknya, jika semua peralatan medis dan ruangan rumah sakit memiliki ventilasi yang baik dan rutin didesinfeksi maka penularan akan terbatas.

“Hasil kami menunjukkan bahwa ventilasi ruangan, ruang terbuka, sanitasi pakaian pelindung, dan penggunaan yang tepat dan desinfeksi area toilet dapat secara efektif membatasi konsentrasi Sars-CoV-2 RNA dalam aerosol,” kata para peneliti seperti dilansir dari South China Morning Post, Sabtu (2/5).

Baca Juga :  APBD Berbasis Pendekatan Antisipasi dan Paska Covid-19

Bisa Menular dari Kamar Ganti Petugas Medis

Di satu rumah sakit, tim menemukan peningkatan kadar SARS-CoV-2 RNA di kamar ganti yang digunakan oleh petugas medis untuk melepas peralatan pelindung pribadi mereka (APD). Terlihat partikel virus menyebar dari pakaian pelindung (APD) mereka ke udara.

Tapi untungnya, jika setelah itu langsung disemprot desinfektan, maka tidak ada jejak virus yang ditemukan setelah kamar didesinfeksi. Termasuk membersihkan alat pelindung sebelum dipindahkan.

Tak hanya kamar ganti, toilet kecil yang berventilasi buruk di salah satu rumah sakit juga menyimpan virus di udara. Para peneliti melihat partikel virus bisa berasal dari napas pasien yang terinfeksi, atau mungkin ada dalam tinja dan urin dan menyebar ketika toilet disiram. Sementara peneliti mencatat konsentrasi rendah Coronavirus terdapat di udara yang berventilasi baik atau ruang publik terbuka.

Peran tetesan aerosol dalam penularan penyakit telah menjadi subjek penyelidikan dan perdebatan sejak awal wabah. Tetesan aerosol, yang diklasifikasikan sebagai udara berdiameter lebih kecil dari 5 mikrometer, mampu menyebar jarak lebih jauh dan tetap berada di udara lebih lama.

Baca Juga :  Antam Serahkan Bantuan 2000 Pcs Vitamin

Tetapi penularan lewat aerosol belum diidentifikasi sebagai penularan utama. Sebab Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tetap menekankan penularan adalah jika kontak erat dengan orang lain, terkena tetesan yang lebih besar baik langsung dari batuk dan bersin atau pada permukaan yang telah mereka sentuh.

“Di luar lingkungan medis, ada kemungkinan partikel virus terguncang ke udara jika orang tidak melepas masker atau pakaian yang terkontaminasi dengan hati-hati,” kata Ahli Virologi Kesehatan Klinis dan Masyarakat di Universitas Hong Kong, Malik Peiris.

“Risiko yang lebih besar adalah jika Anda melepas topeng Anda menyentuh bagian depan topeng dan tidak mencuci tangan dan menyentuh mata Anda, itu risiko yang jauh lebih besar daripada apa pun yang terguncang ke udara,” tukas Peiris.

Saksikan video menarik berikut ini:

 

 

Editor : Nurul Adriyana Salbiah/Jawa Pos

Reporter : Marieska Harya Virdhani

Beberapa penelitian sebelumnya sudah mengungkapkan bahwa virus Korona jenia SARS-CoV-2 memang bisa bertahan di udara dalam bentuk aerosol. Misalnya partikel Coronavirus bisa berlama-lama di udara seperti di rumah sakit.

Temuan itu, berdasarkan pada pengukuran partikel di udara di dua rumah sakit di Wuhan selama wabah. Penelitian juga menunjukkan partikel virus SARS-CoV-2 dapat bertahan pada peralatan pelindung pekerja medis (APD) atau di udara dalam toilet yang digunakan oleh pasien. Beberapa jejak juga ditemukan dalam endapan aerosol pada permukaan di ICU.

Penelitian yang akan diterbitkan dalam jurnal Nature, mengindikasikan bahwa virus tersebut berpotensi menular melalui tetesan kecil yang tergantung di udara yang disebut aerosol. Dan aerosol yang sarat virus dapat berperan dalam mencemari permukaan.

Para peneliti Universitas Wuhan, mengukur konsentrasi SARS-CoV-2 RNA dalam aerosol dari 30 area yang berbeda dari dua rumah sakit selama wabah di Wuhan. Kabar baiknya, jika semua peralatan medis dan ruangan rumah sakit memiliki ventilasi yang baik dan rutin didesinfeksi maka penularan akan terbatas.

“Hasil kami menunjukkan bahwa ventilasi ruangan, ruang terbuka, sanitasi pakaian pelindung, dan penggunaan yang tepat dan desinfeksi area toilet dapat secara efektif membatasi konsentrasi Sars-CoV-2 RNA dalam aerosol,” kata para peneliti seperti dilansir dari South China Morning Post, Sabtu (2/5).

Baca Juga :  Wabah Korona bikin Italia Mati Suri, Saudi Isolasi Kota Qatif

Bisa Menular dari Kamar Ganti Petugas Medis

Di satu rumah sakit, tim menemukan peningkatan kadar SARS-CoV-2 RNA di kamar ganti yang digunakan oleh petugas medis untuk melepas peralatan pelindung pribadi mereka (APD). Terlihat partikel virus menyebar dari pakaian pelindung (APD) mereka ke udara.

Tapi untungnya, jika setelah itu langsung disemprot desinfektan, maka tidak ada jejak virus yang ditemukan setelah kamar didesinfeksi. Termasuk membersihkan alat pelindung sebelum dipindahkan.

Tak hanya kamar ganti, toilet kecil yang berventilasi buruk di salah satu rumah sakit juga menyimpan virus di udara. Para peneliti melihat partikel virus bisa berasal dari napas pasien yang terinfeksi, atau mungkin ada dalam tinja dan urin dan menyebar ketika toilet disiram. Sementara peneliti mencatat konsentrasi rendah Coronavirus terdapat di udara yang berventilasi baik atau ruang publik terbuka.

Peran tetesan aerosol dalam penularan penyakit telah menjadi subjek penyelidikan dan perdebatan sejak awal wabah. Tetesan aerosol, yang diklasifikasikan sebagai udara berdiameter lebih kecil dari 5 mikrometer, mampu menyebar jarak lebih jauh dan tetap berada di udara lebih lama.

Baca Juga :  Ringankan Ekonomi Masyarakat, PT CMI Bagikan 2.160 Paket Sembako

Tetapi penularan lewat aerosol belum diidentifikasi sebagai penularan utama. Sebab Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tetap menekankan penularan adalah jika kontak erat dengan orang lain, terkena tetesan yang lebih besar baik langsung dari batuk dan bersin atau pada permukaan yang telah mereka sentuh.

“Di luar lingkungan medis, ada kemungkinan partikel virus terguncang ke udara jika orang tidak melepas masker atau pakaian yang terkontaminasi dengan hati-hati,” kata Ahli Virologi Kesehatan Klinis dan Masyarakat di Universitas Hong Kong, Malik Peiris.

“Risiko yang lebih besar adalah jika Anda melepas topeng Anda menyentuh bagian depan topeng dan tidak mencuci tangan dan menyentuh mata Anda, itu risiko yang jauh lebih besar daripada apa pun yang terguncang ke udara,” tukas Peiris.

Saksikan video menarik berikut ini:

 

 

Editor : Nurul Adriyana Salbiah/Jawa Pos

Reporter : Marieska Harya Virdhani

Most Read

Artikel Terbaru

/