alexametrics
23 C
Pontianak
Wednesday, June 29, 2022

Ingatkan Umat Beragama Patuhi PSBB

JAKARTA– Di tengah pelaksanaan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), kegiatan ibadah berjamaah di masjid, musala, atau tempat ibadah lainnya dibatasi. Wakil Menteri Agama (Wamenag) Zainut Tauhid Sa’adi mengingatkan supaya umat beragama tidak salah paham dalam menjalankan aturan tersebut.

Dia menjelaskan ada pemahaman masyarakat yang salah terhadap penerapan pembatasan sosial dalam PSBB. ’’Yakni membandingkan terjadinya pembatasan di tempat ibadah dengan tempat lainnya,’’ katanya, kemarin (1/5). Seperti di pabrik, pasar, atau tempat berkerumunan lainnya.

Ada sekelompok masyarakat yang berpandangan, pembatasan sosial di tempat ibadah penerapannya sangat ketat. Misalnya tempat ibadah digembok atau bahkan sampai terjadi pembubaran ibadah. Sementara di tempat lain seperti pasar, pabrik, dan sejenisnya pembatasan sosialnya dilakukan lebih longgar.

’’Hal ini menimbulkan salah paham. Seakan ada diskriminasi perlakuan,’’ jelas pria yang juga Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu. Padahal Zainut mengatakan pemberlakuan PSBB di tempat ibadah, pabrik, pasar, atau lainnya tidak dalam posisi diperhadapkan.

Baca Juga :  Menjadi Penyintas Covid-19

Zainut mengatakan ketentuan pebatasan itu harus dimaknai sebagai upaya penyelamatan jiwa manusia. Sehingga harus dipahami sebagai kewajiban dan perintah agama. ’’Umat beragama seharusnya bersyukur karena dari sekian pembatasan yang ada, umat beragama termasuk paling banyak menaatinya,’’ tuturnya. Sehingga manfaat keselamatan akan kembali pada diri masing-masing.

Dia memberikan apresiasi dan penghargaan kepada seluruh umat beragama yang mengikuti anjuran para tokoh agama dan pemerintah di masa PSBB. Termasuk anjuran untuk melaksanakan ibadah di rumah masing-masing dalam rangka menerapkan physical distancing.

Dengan mematuhi anjuran beribadah di rumah masing-masing, umat beragama ikut berkontribusi menghambat penyebaran dan penularan wabah Covid-19. Zainut mengatkaan larangan beribadah di masjid dan tempat ibadah lainnya dalam kondisi pandemi seperti sekarang, semata-mata untuk menjaga keselamatan jiwa. Baik untuk dirinya sendiri, maupun orang lain. Dia menegaskan menjaga keselamatan jiwa (hifdzu an-nafs) merupakan salah satu kewajiban utama dalam beragama.

Baca Juga :  Lampaui Target dan Optimis Penjualan ST008 Semakin Laris BRI Tutup Penjualan ORI020

Saat ini sejumlah daerah memberlakukan PSBB. Seperti di Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik. Sementara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memperpanjang pemberlakuan PSBB. Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga memperpanjang penerapan PSBB di Kota Depok, Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Kota Bekasi, dan Kabupaten Bekasi.

Di sejumlah derah sempat terjadi gejolak dalam pemberlakuan PSBB dikaitkan dengan pelaksanaan ibadah. Di Pulogadung Jakarta sekelompok pemuda menendang rumah warga, karena diduga orang di rumah itu melaporkan pelaksanaan tarawih di masjid. Sementara itu di Kecamatan Ujung, Kota Parepare sempat geger persoalan pembubaran kegiatan salat jumat. (wan)

JAKARTA– Di tengah pelaksanaan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), kegiatan ibadah berjamaah di masjid, musala, atau tempat ibadah lainnya dibatasi. Wakil Menteri Agama (Wamenag) Zainut Tauhid Sa’adi mengingatkan supaya umat beragama tidak salah paham dalam menjalankan aturan tersebut.

Dia menjelaskan ada pemahaman masyarakat yang salah terhadap penerapan pembatasan sosial dalam PSBB. ’’Yakni membandingkan terjadinya pembatasan di tempat ibadah dengan tempat lainnya,’’ katanya, kemarin (1/5). Seperti di pabrik, pasar, atau tempat berkerumunan lainnya.

Ada sekelompok masyarakat yang berpandangan, pembatasan sosial di tempat ibadah penerapannya sangat ketat. Misalnya tempat ibadah digembok atau bahkan sampai terjadi pembubaran ibadah. Sementara di tempat lain seperti pasar, pabrik, dan sejenisnya pembatasan sosialnya dilakukan lebih longgar.

’’Hal ini menimbulkan salah paham. Seakan ada diskriminasi perlakuan,’’ jelas pria yang juga Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu. Padahal Zainut mengatakan pemberlakuan PSBB di tempat ibadah, pabrik, pasar, atau lainnya tidak dalam posisi diperhadapkan.

Baca Juga :  Harga Jual Ikan Mersot,  Pembeli pun Tidak Ada 

Zainut mengatakan ketentuan pebatasan itu harus dimaknai sebagai upaya penyelamatan jiwa manusia. Sehingga harus dipahami sebagai kewajiban dan perintah agama. ’’Umat beragama seharusnya bersyukur karena dari sekian pembatasan yang ada, umat beragama termasuk paling banyak menaatinya,’’ tuturnya. Sehingga manfaat keselamatan akan kembali pada diri masing-masing.

Dia memberikan apresiasi dan penghargaan kepada seluruh umat beragama yang mengikuti anjuran para tokoh agama dan pemerintah di masa PSBB. Termasuk anjuran untuk melaksanakan ibadah di rumah masing-masing dalam rangka menerapkan physical distancing.

Dengan mematuhi anjuran beribadah di rumah masing-masing, umat beragama ikut berkontribusi menghambat penyebaran dan penularan wabah Covid-19. Zainut mengatkaan larangan beribadah di masjid dan tempat ibadah lainnya dalam kondisi pandemi seperti sekarang, semata-mata untuk menjaga keselamatan jiwa. Baik untuk dirinya sendiri, maupun orang lain. Dia menegaskan menjaga keselamatan jiwa (hifdzu an-nafs) merupakan salah satu kewajiban utama dalam beragama.

Baca Juga :  Layanan Digital Lengkap, BRI Gandeng Traveloka Tambah Fitur Travel di BRImo

Saat ini sejumlah daerah memberlakukan PSBB. Seperti di Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik. Sementara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memperpanjang pemberlakuan PSBB. Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga memperpanjang penerapan PSBB di Kota Depok, Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Kota Bekasi, dan Kabupaten Bekasi.

Di sejumlah derah sempat terjadi gejolak dalam pemberlakuan PSBB dikaitkan dengan pelaksanaan ibadah. Di Pulogadung Jakarta sekelompok pemuda menendang rumah warga, karena diduga orang di rumah itu melaporkan pelaksanaan tarawih di masjid. Sementara itu di Kecamatan Ujung, Kota Parepare sempat geger persoalan pembubaran kegiatan salat jumat. (wan)

Most Read

Artikel Terbaru

/