alexametrics
30 C
Pontianak
Saturday, May 28, 2022

Sempat Kehilangan Kesadaran dan Mimpi Organ Tubuh Diambil

Melawan Covid-19 memang butuh perjuangan yang begitu berat. Ada orang yang tidak sakit, ada yang tanpa gejala. Namun, ada juga yang sakit parah, bahkan hampir kehilangan nyawa. Pengalaman dr Era Catur Prasetya SpKJ berikut mengajari kita agar tidak meremehkan Covid-19.

SHABRINA PARAMACITRA, Surabaya

SEORANG perempuan bertumbuh tambun dan berkulit gelap menculik dr Era Catur Prasetya SpKJ pada Mei lalu. Tubuh Catur yang sudah lemah akibat paparan Covid-19 dibawa terbang dari Surabaya ke Bangladesh. Di Bangladesh, perempuan itu menyerahkan tubuh Catur kepada komplotan jahat.

Anggota komplotan itu lantas mengerumuni Catur. Di sebuah ruangan yang remang-remang dan ada jendela kecil di salah satu sudut dindingnya, Catur ”dikeroyok” komplotan tersebut. Tubuh Catur dikoyak-koyak. Satu per satu organnya diambil. Jantung, paru-paru, bahkan alat kelaminnya habis semua.

Anggota komplotan jahat itu lantas pergi, meninggalkan tubuh Catur yang tinggal sebagian dan berlumur darah. Catur sendirian di ruang algojo yang pengap itu. Namun, jiwa Catur masih menempel pada tubuh yang hancur lebur dan tak lagi lengkap tersebut. Catur belumlah mati.

Catur sedih. Dia gagal meminta tolong kepada istrinya agar diselamatkan dari komplotan jahat yang menculiknya. Teman-temannya juga tak menyadari bahwa dia sedang berada dalam marabahaya. Kini Catur hanya seonggok daging dan tulang dengan jiwa yang masih hidup. Dia harus melarikan diri.

Gedung yang ditempatinya itu, yang berjendela kecil di salah satu sudut ruangan itu, akan diledakkan. Dia tak mau kembali ”hancur”. Dia berdoa agar Tuhan menunjukkan kemurahan hati. Catur ingin kembali ke Indonesia, menemui istri dan empat anaknya. Dia ingin tubuhnya kembali utuh.

”Rupanya, itu semua adalah mimpi-mimpi saya. Ketika bangun, saya merasa berada di sebuah ruangan kecil. Saya menoleh ke salah satu sudut ruangan dan keadaannya sama seperti di mimpi saya: remang-remang dan ada jendela kecil di samping saya,” kata Catur Rabu (30/6).

Baca Juga :  Mahfud MD Tegaskan Cari Lahan Baru Bangun Lapas, Aset BLBI Jadi Sumber Dana

Ya. Itu semua hanyalah mimpi. Mimpi yang menemani hari-hari Catur selama dirawat di RSUD dr Soetomo, Surabaya. Di RS tersebut, dia sempat mendapatkan perawatan intensif akibat paparan Covid-19. Sebelumnya, psikiater dari RS Muhammadiyah Lamongan itu menjalani isolasi mandiri di tempatnya bekerja. Saat menjalani isolasi mandiri, dia sempat membaca novel Origin karya Dan Brown.

Pria yang pada dasarnya menyukai bacaan-bacaan thriller itu, rupanya, terbawa oleh adegan-adegan dalam novel-novel yang dibacanya. Adegan itu terjadi dalam mimpinya karena dia mengalami delirium saat dirawat di ICU RSUD dr Soetomo.

Catur termasuk pasien Covid-19 yang sangat beruntung bisa sembuh. Sebab, dia sempat mengalami kondisi kritis. Dia sulit bernapas hingga memerlukan bantuan ventilator. Rupanya, saturasi oksigennya tak kunjung membaik. Dia pun dirawat dengan bantuan extracorporeal membrane oxygenation (ECMO).

Alat itu membuat paru-paru Catur yang terinfeksi virus beristirahat. Tim dokter RSUD dr Soetomo menggunakan metode tersebut demi menyelamatkan Catur yang saat itu kondisinya sudah sangat parah dan mengalami hipoksia.

Untuk membantu Catur, tim dokter memasangkan slang yang dimasukkan lewat pembuluh vena di pangkal paha dan leher. Lewat slang itu, darah diambil keluar, diproses untuk dihilangkan karbon dioksidanya, lalu oksigen dimasukkan ke darah, lantas darah kembali dimasukkan lewat slang yang terpasang di leher. Begitu terus, selama 24 jam, berhari-hari.

”Kami bergantian menjaga pasien karena rangkaian perawatan dengan ECMO ini harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Hingga akhirnya, paru-paru dokter Catur membaik dan berfungsi normal. Infeksi teratasi dan tidak ada infeksi sekunder,” ujar dr Kun Arifi Abbas SpAn KIC, anggota tim ECMO RSUD dr Soetomo.

Pria yang juga menjadi dokter anesthesiologists, perfusionist, dan intensivist di tempatnya bekerja itu menyebutkan, sejauh ini ada lima pasien Covid-19 yang berhasil sembuh dengan perawatan ECMO. Catur adalah satu di antaranya.

Baca Juga :  Vaksinasi Jadi Game Changer

Kun merasa senang saat mengetahui kabar bahwa Catur kini dapat bernapas tanpa bantuan alat apa pun. Dia berharap Catur yang kini sedang berada di rumahnya di Tuban terus membaik.

”Setelah bekerja bersama tim secara sif, meski capek, kami pasti senang melihat pasien akhirnya sembuh. Melihat mereka bisa bernapas lagi, jalan lagi, bekerja lagi, rasanya kelelahan dokter itu terbayar,” ungkapnya.

Catur pun merasa sangat bersyukur. Dia juga merasa, meski dalam mimpi organ-organ tubuhnya diambil, di sisi lain dirinya jelas merasa ada doa-doa yang dipanjatkan dalam mimpi itu. Dia merasa, dalam mimpinya yang mencekam, dirinya tetap menggantungkan harapan kepada Yang Mahakuasa untuk diberi kesempatan hidup sekali lagi.

Dia mengingat salah satu adegan dalam novel karya Viktor Frankl, Man’s Search for Meaning. Ada salah satu nukilan cerita tentang bagaimana manusia bertahan di kamar gas milik Nazi. Di tangan tokoh tersebut, dia memegang kitab suci. ”Jadi benar, spiritual itu harapan yang paling ndak kaleng-kaleng,” ujar Catur yang juga dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya.

Sang istri, dr Nur Izzati SpS, sangat bahagia dan bersyukur karena Tuhan menunjukkan kemurahan hati-Nya. Dia bangga pada perjuangan sang suami melawan Covid-19. Dia juga sangat berterima kasih kepada tim dokter RSUD dr Soetomo. Sebab, saat suaminya dirawat pada Mei–Juni lalu, dia sudah berserah jika Tuhan akhirnya mengambil nyawa suaminya.

”Ini seperti mukjizat. Ternyata yang kita kira tidak bisa sembuh, dengan kuasa Allah, semua dibalikkan,” katanya. Dia juga beterima kasih kepada seluruh teman, keluarga, dan pasien yang sempat mengadakan doa bersama lewat Zoom untuk kesembuhan suami tercinta. *

Melawan Covid-19 memang butuh perjuangan yang begitu berat. Ada orang yang tidak sakit, ada yang tanpa gejala. Namun, ada juga yang sakit parah, bahkan hampir kehilangan nyawa. Pengalaman dr Era Catur Prasetya SpKJ berikut mengajari kita agar tidak meremehkan Covid-19.

SHABRINA PARAMACITRA, Surabaya

SEORANG perempuan bertumbuh tambun dan berkulit gelap menculik dr Era Catur Prasetya SpKJ pada Mei lalu. Tubuh Catur yang sudah lemah akibat paparan Covid-19 dibawa terbang dari Surabaya ke Bangladesh. Di Bangladesh, perempuan itu menyerahkan tubuh Catur kepada komplotan jahat.

Anggota komplotan itu lantas mengerumuni Catur. Di sebuah ruangan yang remang-remang dan ada jendela kecil di salah satu sudut dindingnya, Catur ”dikeroyok” komplotan tersebut. Tubuh Catur dikoyak-koyak. Satu per satu organnya diambil. Jantung, paru-paru, bahkan alat kelaminnya habis semua.

Anggota komplotan jahat itu lantas pergi, meninggalkan tubuh Catur yang tinggal sebagian dan berlumur darah. Catur sendirian di ruang algojo yang pengap itu. Namun, jiwa Catur masih menempel pada tubuh yang hancur lebur dan tak lagi lengkap tersebut. Catur belumlah mati.

Catur sedih. Dia gagal meminta tolong kepada istrinya agar diselamatkan dari komplotan jahat yang menculiknya. Teman-temannya juga tak menyadari bahwa dia sedang berada dalam marabahaya. Kini Catur hanya seonggok daging dan tulang dengan jiwa yang masih hidup. Dia harus melarikan diri.

Gedung yang ditempatinya itu, yang berjendela kecil di salah satu sudut ruangan itu, akan diledakkan. Dia tak mau kembali ”hancur”. Dia berdoa agar Tuhan menunjukkan kemurahan hati. Catur ingin kembali ke Indonesia, menemui istri dan empat anaknya. Dia ingin tubuhnya kembali utuh.

”Rupanya, itu semua adalah mimpi-mimpi saya. Ketika bangun, saya merasa berada di sebuah ruangan kecil. Saya menoleh ke salah satu sudut ruangan dan keadaannya sama seperti di mimpi saya: remang-remang dan ada jendela kecil di samping saya,” kata Catur Rabu (30/6).

Baca Juga :  Permohonan Justice Collaborator Djoko Tjandra Ditolak

Ya. Itu semua hanyalah mimpi. Mimpi yang menemani hari-hari Catur selama dirawat di RSUD dr Soetomo, Surabaya. Di RS tersebut, dia sempat mendapatkan perawatan intensif akibat paparan Covid-19. Sebelumnya, psikiater dari RS Muhammadiyah Lamongan itu menjalani isolasi mandiri di tempatnya bekerja. Saat menjalani isolasi mandiri, dia sempat membaca novel Origin karya Dan Brown.

Pria yang pada dasarnya menyukai bacaan-bacaan thriller itu, rupanya, terbawa oleh adegan-adegan dalam novel-novel yang dibacanya. Adegan itu terjadi dalam mimpinya karena dia mengalami delirium saat dirawat di ICU RSUD dr Soetomo.

Catur termasuk pasien Covid-19 yang sangat beruntung bisa sembuh. Sebab, dia sempat mengalami kondisi kritis. Dia sulit bernapas hingga memerlukan bantuan ventilator. Rupanya, saturasi oksigennya tak kunjung membaik. Dia pun dirawat dengan bantuan extracorporeal membrane oxygenation (ECMO).

Alat itu membuat paru-paru Catur yang terinfeksi virus beristirahat. Tim dokter RSUD dr Soetomo menggunakan metode tersebut demi menyelamatkan Catur yang saat itu kondisinya sudah sangat parah dan mengalami hipoksia.

Untuk membantu Catur, tim dokter memasangkan slang yang dimasukkan lewat pembuluh vena di pangkal paha dan leher. Lewat slang itu, darah diambil keluar, diproses untuk dihilangkan karbon dioksidanya, lalu oksigen dimasukkan ke darah, lantas darah kembali dimasukkan lewat slang yang terpasang di leher. Begitu terus, selama 24 jam, berhari-hari.

”Kami bergantian menjaga pasien karena rangkaian perawatan dengan ECMO ini harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Hingga akhirnya, paru-paru dokter Catur membaik dan berfungsi normal. Infeksi teratasi dan tidak ada infeksi sekunder,” ujar dr Kun Arifi Abbas SpAn KIC, anggota tim ECMO RSUD dr Soetomo.

Pria yang juga menjadi dokter anesthesiologists, perfusionist, dan intensivist di tempatnya bekerja itu menyebutkan, sejauh ini ada lima pasien Covid-19 yang berhasil sembuh dengan perawatan ECMO. Catur adalah satu di antaranya.

Baca Juga :  Pasien Corona Meninggal di Bali

Kun merasa senang saat mengetahui kabar bahwa Catur kini dapat bernapas tanpa bantuan alat apa pun. Dia berharap Catur yang kini sedang berada di rumahnya di Tuban terus membaik.

”Setelah bekerja bersama tim secara sif, meski capek, kami pasti senang melihat pasien akhirnya sembuh. Melihat mereka bisa bernapas lagi, jalan lagi, bekerja lagi, rasanya kelelahan dokter itu terbayar,” ungkapnya.

Catur pun merasa sangat bersyukur. Dia juga merasa, meski dalam mimpi organ-organ tubuhnya diambil, di sisi lain dirinya jelas merasa ada doa-doa yang dipanjatkan dalam mimpi itu. Dia merasa, dalam mimpinya yang mencekam, dirinya tetap menggantungkan harapan kepada Yang Mahakuasa untuk diberi kesempatan hidup sekali lagi.

Dia mengingat salah satu adegan dalam novel karya Viktor Frankl, Man’s Search for Meaning. Ada salah satu nukilan cerita tentang bagaimana manusia bertahan di kamar gas milik Nazi. Di tangan tokoh tersebut, dia memegang kitab suci. ”Jadi benar, spiritual itu harapan yang paling ndak kaleng-kaleng,” ujar Catur yang juga dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya.

Sang istri, dr Nur Izzati SpS, sangat bahagia dan bersyukur karena Tuhan menunjukkan kemurahan hati-Nya. Dia bangga pada perjuangan sang suami melawan Covid-19. Dia juga sangat berterima kasih kepada tim dokter RSUD dr Soetomo. Sebab, saat suaminya dirawat pada Mei–Juni lalu, dia sudah berserah jika Tuhan akhirnya mengambil nyawa suaminya.

”Ini seperti mukjizat. Ternyata yang kita kira tidak bisa sembuh, dengan kuasa Allah, semua dibalikkan,” katanya. Dia juga beterima kasih kepada seluruh teman, keluarga, dan pasien yang sempat mengadakan doa bersama lewat Zoom untuk kesembuhan suami tercinta. *

Most Read

Artikel Terbaru

/