alexametrics
27.8 C
Pontianak
Wednesday, May 18, 2022

BNPB Turunkan Tim dan Kirim Logistik ke Lokasi Bencana Erupsi Gunung Semeru

PRESIDEN Joko Widodo (Jokowi) memerintahkan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Mayor Jenderal TNI Suharyanto dan jajarannya segera menuju ke lokasi bencana erupsi Gunung Semeru, di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Jokowi meminta agar tahapan penanganan darurat bencana erupsi Semeru berjalan cepat dan tepat.

“Atas petunjuk Bapak Presiden, kami juga, Kepala BNPB dan tim besok pagi kesempatan pertama akan segera ke Lumajang, ke daerah bencana untuk memastikan tahap-tahap penanganan darurat, khususnya penanganan pengungsi ini bisa berjalan tepat dan cepat dan tentunya kebutuhan dasar para pengungsi akan kami yakinkan untuk terdukung secara maksimal,” kata Sharyanto saat konferensi pers seperti disiarkan YouTube BNPB, Sabtu (4/12).

Tim BNPB telah diturunkan untuk mendampingi BPBD Lumajang dan Provinsi Jawa Timur untuk bergerak cepat menangani bencana. Selain itu, sejumlah logistik mulai dari selimut, tenda, hingga makanan tadi malam telah dikirimkan.

“Dari BNPB malam ini juga kami sudah mengirimkan tim reaksi cepat, untuk mendampingi BPBD Kab Lumajang dan BPBD Povinsi Jatim yang bergerak bersama dengan unsur dari Kemenkes, malam ini bergerak lewat darat, dan membawa logistik antara lain selimut, makanan siap saji, terpal, tenda darurat, matras, dan logistik dasar lainnya,” ucapnya.

Suharyanto memastikan dirinya telah menyurati Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa untuk membantu mengirimkan bantuan personel TNI dan peralatan ke lokasi bencana. Selain itu, dia juga melakukan koordinasi dengan pihak BPBD setempat dan Pemprov Jawa Timur serta Pemkab Lumajang untuk memenuhi kebutuhan dasar para korban.

“Kami juga sudah laksanakan koordinasi dan berkirim surat kepada Panglima TNI untuk meminta bantuan, baik personel dan alat-peralatan, kemudian koordinnasi dengan BPBD Provinsi Jatim, Pemprov Jatim, dan Pemkab Lumajang untuk memastikan langkah-langkah penanganan masyarakat khususnya yang terdampak bencana erupsi ini, para pengungsi kebutuhan dasar bisa terpenuhi secara maksimal,” ujarnya.

Baca Juga :  Pencairan Dana Pilkada Masih di Bawah 40 Persen

Berdasarkan catatan BNPB, Gunung Semeru yang berada di wilayah Provinsi Jawa Timur memiliki catatan panjang sejarah erupsi yang terekam pada 1818. Catatan letusan yang terekam pada 1818 hingga 1913 tidak banyak informasi yang terdokumentasikan.

Kemudian pada 1941-1942 terekam aktivitas vulkanik dengan durasi panjang. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyebutkan leleran lava terjadi pada periode 21 September 1941 hingga Februari 1942. Saat itu letusan sampai di lereng sebelah timur dengan ketinggian 1.400 hingga 1.775 meter. Material vulkanik hingga menimbun pos pengairan Bantengan.

Selanjutnya beberapa aktivitas vulkanik tercatat beruntun pada 1945, 1946, 1947, 1950, 1951, 1952, 1953, 1954, 1955 – 1957, 1958, 1959, 1960. Tak berhenti sampai di sini, Gunung Semeru termasuk salah satu gunung api aktif yang melanjutkan aktivitas vulkaniknya. Seperti pada 1 Desember 1977, guguran lava menghasilkan awan panas guguran dengan jarak hingga 10 km di Besuk Kembar.

Volume endapan material vulkanik yang teramati mencapai 6,4 juta m3. Awan panas juga mengarah ke wilayah Besuk Kobokan. Saat itu sawah, jembatan dan rumah warga rusak. Aktivitas vulkanik berlanjut dan tercatat pada 1978 – 1989.

PVMBG juga mencatat aktivitas vulkanik Gunung Semeru pada 1990, 1992, 1994, 2002, 2004, 2005, 2007 dan 2008. Pada tahun 2008, tercatat beberapa kali erupsi, yaitu pada rentang 15 Mei hingga 22 Mei 2008. Teramati pada 22 Mei 2008, empat kali guguran awan panas yang mengarah ke wilayah Besuk Kobokan dengan jarak luncur 2.500 meter.

Baca Juga :  HNSI dan Pemilik Kapal Tolak Kapal Asing Beroperasi di WPP RI

Menurut data PVMBG, aktivitas Gunung Semeru berada di kawah Jonggring Seloko. Kawah ini berada di sisi tenggara puncak Mahameru. Sedangkan karakter letusannya, Gunung Semeru ini bertipe vulkanian dan strombolian yang terjadi 3 – 4 kali setiap jam.

Karakter letusan vulcanian berupa letusan eksplosif yang dapat menghancurkan kubah dan lidah lava yang telah terbentuk sebelumnya. Sementara, karakter letusan strombolian biasanya terjadi pembentukan kawan dan lidah lava baru.  Saat ini Gunung Semeru berada pada status level II  atau ‘waspada’ dengan rekomendasi sebagai berikut.

Pertama, masyarakat, pengunjung atau wisatawan tidak beraktivitas dalam radius 1 km dari kawah atau puncak Gunung Semeru dan jarak 5 Km arah bukaan kawah di sektor tenggara – selatan, serta mewaspadai awan panas guguran, guguran lava dan lahar di sepanjang aliran sungai atau lembah yang berhulu di puncak Gunung Semeru. Radius dan jarak rekomendasi ini akan dievaluasi terus untuk antisipasi jika terjadi gejala perubahan ancaman bahaya.

Kedua, masyarakat menjauhi atau tidak beraktivitas di area terdampak material awan panas karena saat ini suhunya masih tinggi. Ketiga, perlu diwaspadai  potensi luncuran di sepanjang lembah  jalur awan panas Besuk Kobokan.

Keempat, mewaspadai ancaman lahar di  alur sungai atau lembah yang berhulu di Gunung Semeru, mengingat banyaknya material vulkanik yang sudah terbentuk.

Terkait dengan perkembangan erupsi Gunung Semeru, BNPB mengimbau warga untuk tetap waspada dan siaga dengan memperhatikan rekomendasi yang telah dikeluarkan oleh PVMBG. BNPB terus memantau dan melakukan koordinasi dengan BPBD setempat dalam penanganan darurat erupsi.(jp)

PRESIDEN Joko Widodo (Jokowi) memerintahkan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Mayor Jenderal TNI Suharyanto dan jajarannya segera menuju ke lokasi bencana erupsi Gunung Semeru, di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Jokowi meminta agar tahapan penanganan darurat bencana erupsi Semeru berjalan cepat dan tepat.

“Atas petunjuk Bapak Presiden, kami juga, Kepala BNPB dan tim besok pagi kesempatan pertama akan segera ke Lumajang, ke daerah bencana untuk memastikan tahap-tahap penanganan darurat, khususnya penanganan pengungsi ini bisa berjalan tepat dan cepat dan tentunya kebutuhan dasar para pengungsi akan kami yakinkan untuk terdukung secara maksimal,” kata Sharyanto saat konferensi pers seperti disiarkan YouTube BNPB, Sabtu (4/12).

Tim BNPB telah diturunkan untuk mendampingi BPBD Lumajang dan Provinsi Jawa Timur untuk bergerak cepat menangani bencana. Selain itu, sejumlah logistik mulai dari selimut, tenda, hingga makanan tadi malam telah dikirimkan.

“Dari BNPB malam ini juga kami sudah mengirimkan tim reaksi cepat, untuk mendampingi BPBD Kab Lumajang dan BPBD Povinsi Jatim yang bergerak bersama dengan unsur dari Kemenkes, malam ini bergerak lewat darat, dan membawa logistik antara lain selimut, makanan siap saji, terpal, tenda darurat, matras, dan logistik dasar lainnya,” ucapnya.

Suharyanto memastikan dirinya telah menyurati Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa untuk membantu mengirimkan bantuan personel TNI dan peralatan ke lokasi bencana. Selain itu, dia juga melakukan koordinasi dengan pihak BPBD setempat dan Pemprov Jawa Timur serta Pemkab Lumajang untuk memenuhi kebutuhan dasar para korban.

“Kami juga sudah laksanakan koordinasi dan berkirim surat kepada Panglima TNI untuk meminta bantuan, baik personel dan alat-peralatan, kemudian koordinnasi dengan BPBD Provinsi Jatim, Pemprov Jatim, dan Pemkab Lumajang untuk memastikan langkah-langkah penanganan masyarakat khususnya yang terdampak bencana erupsi ini, para pengungsi kebutuhan dasar bisa terpenuhi secara maksimal,” ujarnya.

Baca Juga :  HNSI dan Pemilik Kapal Tolak Kapal Asing Beroperasi di WPP RI

Berdasarkan catatan BNPB, Gunung Semeru yang berada di wilayah Provinsi Jawa Timur memiliki catatan panjang sejarah erupsi yang terekam pada 1818. Catatan letusan yang terekam pada 1818 hingga 1913 tidak banyak informasi yang terdokumentasikan.

Kemudian pada 1941-1942 terekam aktivitas vulkanik dengan durasi panjang. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyebutkan leleran lava terjadi pada periode 21 September 1941 hingga Februari 1942. Saat itu letusan sampai di lereng sebelah timur dengan ketinggian 1.400 hingga 1.775 meter. Material vulkanik hingga menimbun pos pengairan Bantengan.

Selanjutnya beberapa aktivitas vulkanik tercatat beruntun pada 1945, 1946, 1947, 1950, 1951, 1952, 1953, 1954, 1955 – 1957, 1958, 1959, 1960. Tak berhenti sampai di sini, Gunung Semeru termasuk salah satu gunung api aktif yang melanjutkan aktivitas vulkaniknya. Seperti pada 1 Desember 1977, guguran lava menghasilkan awan panas guguran dengan jarak hingga 10 km di Besuk Kembar.

Volume endapan material vulkanik yang teramati mencapai 6,4 juta m3. Awan panas juga mengarah ke wilayah Besuk Kobokan. Saat itu sawah, jembatan dan rumah warga rusak. Aktivitas vulkanik berlanjut dan tercatat pada 1978 – 1989.

PVMBG juga mencatat aktivitas vulkanik Gunung Semeru pada 1990, 1992, 1994, 2002, 2004, 2005, 2007 dan 2008. Pada tahun 2008, tercatat beberapa kali erupsi, yaitu pada rentang 15 Mei hingga 22 Mei 2008. Teramati pada 22 Mei 2008, empat kali guguran awan panas yang mengarah ke wilayah Besuk Kobokan dengan jarak luncur 2.500 meter.

Baca Juga :  Pencairan Dana Pilkada Masih di Bawah 40 Persen

Menurut data PVMBG, aktivitas Gunung Semeru berada di kawah Jonggring Seloko. Kawah ini berada di sisi tenggara puncak Mahameru. Sedangkan karakter letusannya, Gunung Semeru ini bertipe vulkanian dan strombolian yang terjadi 3 – 4 kali setiap jam.

Karakter letusan vulcanian berupa letusan eksplosif yang dapat menghancurkan kubah dan lidah lava yang telah terbentuk sebelumnya. Sementara, karakter letusan strombolian biasanya terjadi pembentukan kawan dan lidah lava baru.  Saat ini Gunung Semeru berada pada status level II  atau ‘waspada’ dengan rekomendasi sebagai berikut.

Pertama, masyarakat, pengunjung atau wisatawan tidak beraktivitas dalam radius 1 km dari kawah atau puncak Gunung Semeru dan jarak 5 Km arah bukaan kawah di sektor tenggara – selatan, serta mewaspadai awan panas guguran, guguran lava dan lahar di sepanjang aliran sungai atau lembah yang berhulu di puncak Gunung Semeru. Radius dan jarak rekomendasi ini akan dievaluasi terus untuk antisipasi jika terjadi gejala perubahan ancaman bahaya.

Kedua, masyarakat menjauhi atau tidak beraktivitas di area terdampak material awan panas karena saat ini suhunya masih tinggi. Ketiga, perlu diwaspadai  potensi luncuran di sepanjang lembah  jalur awan panas Besuk Kobokan.

Keempat, mewaspadai ancaman lahar di  alur sungai atau lembah yang berhulu di Gunung Semeru, mengingat banyaknya material vulkanik yang sudah terbentuk.

Terkait dengan perkembangan erupsi Gunung Semeru, BNPB mengimbau warga untuk tetap waspada dan siaga dengan memperhatikan rekomendasi yang telah dikeluarkan oleh PVMBG. BNPB terus memantau dan melakukan koordinasi dengan BPBD setempat dalam penanganan darurat erupsi.(jp)

Most Read

Artikel Terbaru

/