alexametrics
27.8 C
Pontianak
Wednesday, May 18, 2022

Gunung Semeru Kembali Meletus, Warga Berhamburan Keluar Rumah, Dua Korban Meninggal, Puluhan Luka-Luka

SUPITURANG  – Gunung tertinggi di Jawa Timur, Gunung Semeru kembali meletus. Letusan terjadi sekitar pukul 15.00 WIB. Warga yang berada di sekitar lereng gunung lari berhamburan keluar rumah.

Sanhaji, salah satu warga Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo mengungkapkan, awalnya terdengar suara letusan beberapa kali. Warga setempat menganggap hal itu biasa. Namun, letusan akhirnya disertai awan panas yang membumbung cukup tinggi.

“Sekitar jam 13.00, ada aliran lahar dingin kecil di sekitar Curahkobokan. Tetapi, aliran semakin besar dan ada suara letusan beberapa kali. Suaranya seperti guntur dan petir. Setelah tahu Gunung Semeru meletus, warga langsung mengungsi,” ungkapnya.

Warga secepatnya mengungsi di sejumlah tempat karena hujan abu mulai turun. “Di sini listriknya padam juga,” tambahnya.

Sementara itu, penduduk beberapa kecamatan di sekitar lereng Gunung Semeru juga ikut mengungsi ke tempat aman. Abu juga menyelimuti bangunan dan lingkungan sekitar.

Sementara itu, Kabid Kedaruratan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Badan Penanggulangan Bencana Daerah Joko Sambang mengatakan pihaknya masih mengumpulkan informasi. Namun, dia membenarkan adanya letusan Gunung Semeru.

Dusun Kampung Renteng, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro menjadi salah satu desa yang terdampak paling parah. Sebab, abu vulkanik dari erupsi Gunung Semeru menutupi hampir semua kawasan tersebut.

Dusun yang berjarak sekitar dua kilometer dari Sungai Rejali tersebut tertimbun abu vulkanik. Aliran sungai itu tidak membawa abu. Abu vulkanik justru mengalir lewat  jalan desa setempat sehingga akses ke dusun lainnya terputus.

“Sementara belum terdeteksi ada berapa jumlah warga sini yang terluka. Tetapi ada tiga warga dengan kulit terkena lahar panas. Mereka sopir dari luar desa,” ujar Sekretaris Desa Sumberwuluh, Samsul Arifin.

Korban langsung dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan perawatan. “Informasinya di dusun Kampung Renteng masih ada warga yang terjebak di sana,” pungkasnya.

Lebih Parah dari Tahun Lalu

Erupsi Gunung Semeru menyebabkan Jembatan Piket Nol, di Desa Sumberwuluh, Kecamatan Pronojiwo putus. Praktis akses Lumajang-Malang jalur selatan terhenti total. Sejumlah petugas dikerahkan untuk mengamankan kawasan tersebut.

Baca Juga :  Menhub Pastikan Penerapan Prokes di Bandara

Tidak hanya itu, sejumlah orang dikabarkan hilang. Informasi sementara yang berhasil dihimpun jumlahnya ada tiga orang. Dua orang warga Supiturang, Pronojiwo. “Sedangkan satu orang lagi merupakan warga Kebumen Jawa Tengah,” kata Agus, Warga Supiturang.

Sementara itu, Wakil Bupati Lumajang, Indah Amperawati langsung mendatangi sejumlah lokasi terdampak. “Iya saya tadi dapat informasi ada tiga orang yang hilang, mereka terjebak kepulan asap dan sekarang masih dicari,” kata Bunda Indah.

Sejauh ini jumlah korban jiwa masih didata petugas. Akan tetapi, untuk korban luka-luka terdampak erupsi sudah puluhan orang. Dua orang dikabarkan meninggal karena tertimpa rumah yang roboh diterjang lahar erupsi.

Dampak erupsi Gunung Semeru kali ini lebih parah dibanding tahun lalu. Sebab, muntahan lahar menyebabkan Dusun Kampung Renteng, Desa Sumberwuluh tertimbun abu vulkanik.

Informasi yang berhasil dihimpun, ketebalan abu vulkanik tersebut sekitar dua meter. Bahkan, abu yang menutupi hampir semua kawasan tersebut masih mengeluarkan asap panas. Sejumlah personel diturunkan. Mereka masih berupaya melakukan pencarian dan evakuasi.

“Untuk ketebalannya ini dua meter lebih. Kalau diukur dari atas jembatan yang menjadi penghubung antardusun saja sudah satu meter lebih. Sedangkan di sisi selatan agak lebih tinggi. Saat disorot cahaya tadi ada yang hampir mencapai atap gardu. Ya hampir tiga meter,” ungkap Budi Hartono ketua Satgas Keamanan Desa (SKD) setempat.

Dia menjelaskan, proses pencarian masih dilakukan. Dia juga mencoba menghubungi sejumlah warga yang terjebak di sisi selatan kawasan tertutup abu vulkanik. Sementara, ada delapan warga yang terjebak. Namun, dia menduga jumlahnya bisa lebih.

“Listrik padam. Jadi sulit komunikasi di awal. Tetapi, petang tadi saya hubungi lagi. Mereka menjawab aman. Dan bertahan di sekitar tanggul yang lokasinya lebih tinggi. Ada delapan orang. Tetapi, jumlahnya bisa bertambah,” jelasnya.

Menurutnya, ada sekitar 60 warga yang tinggal di dusun tesebut. Sebagian besar sudah mengungsi ke Kantor Desa. Sebab, pihak desa sudah menginformasikan adanya guguran lava sesaat setelah kejadian.

Baca Juga :  Wamendag: Pembangunan Tak Hanya Fisik, Tetapi Mencakup Pengelolaannya

Abdul Muhari, Plt. Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB mengatakan Gunung Semeru mengalami peningkatan aktivitas vulkanik yang ditunjukkan dengan terjadinya guguran awan panas mengarah ke Besuk Kobokan, Desa Sapiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, pada Sabtu (4/12) pukul 15.20 WIB.

Kronologi kejadian yang diamati dari Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Gunung Semeru di Pos Gunung Sawur, Dusun Poncosumo, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, getaran banjir lahar atau guguran awan panas tercatat mulai pukul 14.47 WIB dengan amplitudo maksimal 20 milimeter.

Pada pukul 15.10 WIB, PPGA Pos Gunung Sawur kemudian melaporkan visual abu vulkanik dari guguran awan panas sangat jelas teramati mengarah ke Besuk Kobokan dan beraroma belerang. Selain itu, laporan visual dari beberapa titik lokasi juga mengalami kegelapan akibat kabut dari abu vulkanik.

Catatan yang dihimpun Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), guguran lava pijar teramati dengan jarak luncur kurang lebih 500-800 meter dengan pusat guguran berada kurang lebih 500 meter di bawah kawah.

Sebagai respon cepat dari adanya kejadian guguran awan panas tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang telah mengeluarkan imbauan kepada masyarakat dan para penambang untuk tidak beraktivitas di sepajang Daerah Aliran Sungai (DAS) Mujur dan Curah Kobokan.

Anggota BPBD Kabupaten Lumajang bersama tim gabungan lainnya segera menuju lokasi kejadian di sektor Candipuro-Pronojiwo untuk melakukan pemantauan, kaji cepat, pendataan, evakuasi dan tindakan lainnya yang dianggap perlu dalam penanganan darurat.

Tim BPBD Kabupaten Lumajang saat ini tengah mengupayakan untuk mendirikan kamp pengungsian sektoral di Lapangan Kamarkajang, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang. Hingga berita ini diturunkan visual Gunung Semeru masih tertutup kabut disertai hujan dengan intensitas sedang. Adapun kerugian materil dan dampak lainnya masih dalam pendataan. (kin/fid)

SUPITURANG  – Gunung tertinggi di Jawa Timur, Gunung Semeru kembali meletus. Letusan terjadi sekitar pukul 15.00 WIB. Warga yang berada di sekitar lereng gunung lari berhamburan keluar rumah.

Sanhaji, salah satu warga Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo mengungkapkan, awalnya terdengar suara letusan beberapa kali. Warga setempat menganggap hal itu biasa. Namun, letusan akhirnya disertai awan panas yang membumbung cukup tinggi.

“Sekitar jam 13.00, ada aliran lahar dingin kecil di sekitar Curahkobokan. Tetapi, aliran semakin besar dan ada suara letusan beberapa kali. Suaranya seperti guntur dan petir. Setelah tahu Gunung Semeru meletus, warga langsung mengungsi,” ungkapnya.

Warga secepatnya mengungsi di sejumlah tempat karena hujan abu mulai turun. “Di sini listriknya padam juga,” tambahnya.

Sementara itu, penduduk beberapa kecamatan di sekitar lereng Gunung Semeru juga ikut mengungsi ke tempat aman. Abu juga menyelimuti bangunan dan lingkungan sekitar.

Sementara itu, Kabid Kedaruratan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Badan Penanggulangan Bencana Daerah Joko Sambang mengatakan pihaknya masih mengumpulkan informasi. Namun, dia membenarkan adanya letusan Gunung Semeru.

Dusun Kampung Renteng, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro menjadi salah satu desa yang terdampak paling parah. Sebab, abu vulkanik dari erupsi Gunung Semeru menutupi hampir semua kawasan tersebut.

Dusun yang berjarak sekitar dua kilometer dari Sungai Rejali tersebut tertimbun abu vulkanik. Aliran sungai itu tidak membawa abu. Abu vulkanik justru mengalir lewat  jalan desa setempat sehingga akses ke dusun lainnya terputus.

“Sementara belum terdeteksi ada berapa jumlah warga sini yang terluka. Tetapi ada tiga warga dengan kulit terkena lahar panas. Mereka sopir dari luar desa,” ujar Sekretaris Desa Sumberwuluh, Samsul Arifin.

Korban langsung dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan perawatan. “Informasinya di dusun Kampung Renteng masih ada warga yang terjebak di sana,” pungkasnya.

Lebih Parah dari Tahun Lalu

Erupsi Gunung Semeru menyebabkan Jembatan Piket Nol, di Desa Sumberwuluh, Kecamatan Pronojiwo putus. Praktis akses Lumajang-Malang jalur selatan terhenti total. Sejumlah petugas dikerahkan untuk mengamankan kawasan tersebut.

Baca Juga :  Wamendag: Pembangunan Tak Hanya Fisik, Tetapi Mencakup Pengelolaannya

Tidak hanya itu, sejumlah orang dikabarkan hilang. Informasi sementara yang berhasil dihimpun jumlahnya ada tiga orang. Dua orang warga Supiturang, Pronojiwo. “Sedangkan satu orang lagi merupakan warga Kebumen Jawa Tengah,” kata Agus, Warga Supiturang.

Sementara itu, Wakil Bupati Lumajang, Indah Amperawati langsung mendatangi sejumlah lokasi terdampak. “Iya saya tadi dapat informasi ada tiga orang yang hilang, mereka terjebak kepulan asap dan sekarang masih dicari,” kata Bunda Indah.

Sejauh ini jumlah korban jiwa masih didata petugas. Akan tetapi, untuk korban luka-luka terdampak erupsi sudah puluhan orang. Dua orang dikabarkan meninggal karena tertimpa rumah yang roboh diterjang lahar erupsi.

Dampak erupsi Gunung Semeru kali ini lebih parah dibanding tahun lalu. Sebab, muntahan lahar menyebabkan Dusun Kampung Renteng, Desa Sumberwuluh tertimbun abu vulkanik.

Informasi yang berhasil dihimpun, ketebalan abu vulkanik tersebut sekitar dua meter. Bahkan, abu yang menutupi hampir semua kawasan tersebut masih mengeluarkan asap panas. Sejumlah personel diturunkan. Mereka masih berupaya melakukan pencarian dan evakuasi.

“Untuk ketebalannya ini dua meter lebih. Kalau diukur dari atas jembatan yang menjadi penghubung antardusun saja sudah satu meter lebih. Sedangkan di sisi selatan agak lebih tinggi. Saat disorot cahaya tadi ada yang hampir mencapai atap gardu. Ya hampir tiga meter,” ungkap Budi Hartono ketua Satgas Keamanan Desa (SKD) setempat.

Dia menjelaskan, proses pencarian masih dilakukan. Dia juga mencoba menghubungi sejumlah warga yang terjebak di sisi selatan kawasan tertutup abu vulkanik. Sementara, ada delapan warga yang terjebak. Namun, dia menduga jumlahnya bisa lebih.

“Listrik padam. Jadi sulit komunikasi di awal. Tetapi, petang tadi saya hubungi lagi. Mereka menjawab aman. Dan bertahan di sekitar tanggul yang lokasinya lebih tinggi. Ada delapan orang. Tetapi, jumlahnya bisa bertambah,” jelasnya.

Menurutnya, ada sekitar 60 warga yang tinggal di dusun tesebut. Sebagian besar sudah mengungsi ke Kantor Desa. Sebab, pihak desa sudah menginformasikan adanya guguran lava sesaat setelah kejadian.

Baca Juga :  Dukung Kerja Koperasi, Heri Saman: Koperasi Dukung Pertumbuhan Ekonomi Landak

Abdul Muhari, Plt. Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB mengatakan Gunung Semeru mengalami peningkatan aktivitas vulkanik yang ditunjukkan dengan terjadinya guguran awan panas mengarah ke Besuk Kobokan, Desa Sapiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, pada Sabtu (4/12) pukul 15.20 WIB.

Kronologi kejadian yang diamati dari Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Gunung Semeru di Pos Gunung Sawur, Dusun Poncosumo, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, getaran banjir lahar atau guguran awan panas tercatat mulai pukul 14.47 WIB dengan amplitudo maksimal 20 milimeter.

Pada pukul 15.10 WIB, PPGA Pos Gunung Sawur kemudian melaporkan visual abu vulkanik dari guguran awan panas sangat jelas teramati mengarah ke Besuk Kobokan dan beraroma belerang. Selain itu, laporan visual dari beberapa titik lokasi juga mengalami kegelapan akibat kabut dari abu vulkanik.

Catatan yang dihimpun Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), guguran lava pijar teramati dengan jarak luncur kurang lebih 500-800 meter dengan pusat guguran berada kurang lebih 500 meter di bawah kawah.

Sebagai respon cepat dari adanya kejadian guguran awan panas tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang telah mengeluarkan imbauan kepada masyarakat dan para penambang untuk tidak beraktivitas di sepajang Daerah Aliran Sungai (DAS) Mujur dan Curah Kobokan.

Anggota BPBD Kabupaten Lumajang bersama tim gabungan lainnya segera menuju lokasi kejadian di sektor Candipuro-Pronojiwo untuk melakukan pemantauan, kaji cepat, pendataan, evakuasi dan tindakan lainnya yang dianggap perlu dalam penanganan darurat.

Tim BPBD Kabupaten Lumajang saat ini tengah mengupayakan untuk mendirikan kamp pengungsian sektoral di Lapangan Kamarkajang, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang. Hingga berita ini diturunkan visual Gunung Semeru masih tertutup kabut disertai hujan dengan intensitas sedang. Adapun kerugian materil dan dampak lainnya masih dalam pendataan. (kin/fid)

Most Read

Artikel Terbaru

/