alexametrics
27 C
Pontianak
Sunday, June 26, 2022

Covid-19 Bisa Tertangani, Ekonomi Diprediksi Rebound Akhir 2020

Wabah Covid-19 membuat sektor ekonomi dan dunia usaha di Indonesia begitu terpukul. Target pertumbuhan ekonomi yangs sebelumnya dipatok 4,7 persen, diperkirakan hanya bisa tumbuh di kisaran 1,5 hingga 2 persen tahun ini. Tak jauh berbeda dengan sektor lainnya, pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) juga mengalami pukulan yang sangat berat.

Ekonom BNI Ryan Kiryanto menyebut banyak perkiraan dari para ahli kesehatan yang memprediksi Covid-19 mulai menurun pada Juni-Juli 2020. “Bila perkiraan itu benar, ekonomi mungkin sudah bisa rebound pada akhir 2020,”ujar Ryan dalam diskusi “Update UMKM; Jurus bertahan Selama Pandemi Covid -19”, Selasa (5/4).

Mandeknya perekonomian dirasakan bukan hanya dari sisi pasokan, tetapi juga disebabkan oleh menurunkan permintaan akibat menurunnya daya beli masyarakat. Salah satunya penyebabnya adalah gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) akibat menurunnnya skala produksi akibat terdampak Covid-19.

Baca Juga :  Kematian Melonjak, Luhut Minta Kepala Daerah Lakukan Evaluasi 3T

Untuk UMKM, ucap Ryan, yang terbaik dalam kondisi saat ini adalah fokus pada kebutuhan konsumen dengan terus berinovasi baik di level produk maupun services sesuai dengan perubahan preferensi dan perilaku konsumen.

Menurutnya, pelaku UMKM terus menjaga hubungan dan tetap melakukan komunikasi dengan dengan vendor, supplier dan distributor dan terus mempererat dalam mengembangkan jejaring dan bisnis. “Pelaku UMKM juga harus terus berkolaborasi dengan perbankan sebagai mitra strategis untuk sumber pembiayaan, informasi, dan pendampingan pengembangan usaha,” katanya.

Ia mengingatkan bahwa pemulihan ekonomi akan sangat bergantung dari penanganan dan pencegahan meluasnya wabah Covid-19 dapat tertangani. Ryan menyebut bahwa banyak kalangan memprediksi penyebaran Covid-19 akan mendatar dan berangsur turun pada akhir Mei. Namun, tidak sedikit juga yang mengkhawatirkan serangan wabah gelombang kedua juga patut di waspadai.

Baca Juga :  Kondisi Terkini Korona di Indonesia, 19 Orang Meninggal, 227 Positif

Intinya, katanya, dalam kondisi penerapan physical distansing dan banyaknya pemberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) menyebabkan melambatnya perekonomian. “Ini yang harus betul-betul diwasapdai karena bukan hanya daya beli yang menurun, dari sisi suplly juga akan mengalami perlambatan,”katanya.

Meski melambat, konsumsi rumah tangga tetap menjadi andalan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Sementara sektor investasi dan ekspor masih sangat sulit untuk diharapkan. “Untuk mendorong perekonomian, salah satu yang sangat diharapkan adalan belanja pemerintah. Dorongan pemerintah ini diharapkan bisa mendorong perekonomian yang saat ini tengah bermaslaah akibat pandemi Covid-19,” katanya.

Editor : Mohamad Nur Asikin/Jawa Pos

Wabah Covid-19 membuat sektor ekonomi dan dunia usaha di Indonesia begitu terpukul. Target pertumbuhan ekonomi yangs sebelumnya dipatok 4,7 persen, diperkirakan hanya bisa tumbuh di kisaran 1,5 hingga 2 persen tahun ini. Tak jauh berbeda dengan sektor lainnya, pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) juga mengalami pukulan yang sangat berat.

Ekonom BNI Ryan Kiryanto menyebut banyak perkiraan dari para ahli kesehatan yang memprediksi Covid-19 mulai menurun pada Juni-Juli 2020. “Bila perkiraan itu benar, ekonomi mungkin sudah bisa rebound pada akhir 2020,”ujar Ryan dalam diskusi “Update UMKM; Jurus bertahan Selama Pandemi Covid -19”, Selasa (5/4).

Mandeknya perekonomian dirasakan bukan hanya dari sisi pasokan, tetapi juga disebabkan oleh menurunkan permintaan akibat menurunnya daya beli masyarakat. Salah satunya penyebabnya adalah gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) akibat menurunnnya skala produksi akibat terdampak Covid-19.

Baca Juga :  Ajak Masyarakat Pontianak Pilah Sampah Masker

Untuk UMKM, ucap Ryan, yang terbaik dalam kondisi saat ini adalah fokus pada kebutuhan konsumen dengan terus berinovasi baik di level produk maupun services sesuai dengan perubahan preferensi dan perilaku konsumen.

Menurutnya, pelaku UMKM terus menjaga hubungan dan tetap melakukan komunikasi dengan dengan vendor, supplier dan distributor dan terus mempererat dalam mengembangkan jejaring dan bisnis. “Pelaku UMKM juga harus terus berkolaborasi dengan perbankan sebagai mitra strategis untuk sumber pembiayaan, informasi, dan pendampingan pengembangan usaha,” katanya.

Ia mengingatkan bahwa pemulihan ekonomi akan sangat bergantung dari penanganan dan pencegahan meluasnya wabah Covid-19 dapat tertangani. Ryan menyebut bahwa banyak kalangan memprediksi penyebaran Covid-19 akan mendatar dan berangsur turun pada akhir Mei. Namun, tidak sedikit juga yang mengkhawatirkan serangan wabah gelombang kedua juga patut di waspadai.

Baca Juga :  Sidak Stock Point, Mendag Pastikan Stok Migor Curah Aman

Intinya, katanya, dalam kondisi penerapan physical distansing dan banyaknya pemberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) menyebabkan melambatnya perekonomian. “Ini yang harus betul-betul diwasapdai karena bukan hanya daya beli yang menurun, dari sisi suplly juga akan mengalami perlambatan,”katanya.

Meski melambat, konsumsi rumah tangga tetap menjadi andalan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Sementara sektor investasi dan ekspor masih sangat sulit untuk diharapkan. “Untuk mendorong perekonomian, salah satu yang sangat diharapkan adalan belanja pemerintah. Dorongan pemerintah ini diharapkan bisa mendorong perekonomian yang saat ini tengah bermaslaah akibat pandemi Covid-19,” katanya.

Editor : Mohamad Nur Asikin/Jawa Pos

Most Read

Artikel Terbaru

/