alexametrics
33 C
Pontianak
Thursday, July 7, 2022

Jangan Paksa Tatap Muka Serentak

JAKARTA – Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) mengingatkan faktor risiko yang sangat besar jika sekolah dipaksa dibuka serentak pada pertengahan Juli 2021 nanti. Hal ini mengingat angka penularan Covid-19 yang masih tinggi dan munculnya varian baru B117 yang lebih ganas. Apalagi angka positivity rate juga masih di atas 10 persen di banyak daerah.

Koordinator Nasional P2G, Satriwan Salim menilai, memaksa membuka sekolah serentak akan mengancam nyawa, keselamatan, dan masa depan siswa termasuk guru dan keluarganya. “Bagi P2G, ada dua indikator mutlak sekolah bisa dimulai tatap muka di awal Tahun Ajaran Baru Juli 2021 nanti, yaitu tuntasnya vaksinasi guru dan tenaga kependidikan (tendik). Kemudian, sekolah sudah memenuhi semua daftar periksa kesiapan sekolah tatap muka, yang berisi 11 item. Dua hal ini tidak bisa ditawar-tawar” ujarnya, Sabtu (5/6).

Satriwan melanjutkan syarat pertama adalah tuntasnya vaksinasi guru. Adapun proses vaksinasi guru dan tendik semula ditargetkan oleh Mendikbud Nadiem Makarim rampung pada Juni 2021. Namun, dari target lima juta pendidik dan tendik, ternyata hingga awal Juni baru sekitar 1 juta guru yang divaksin.

“Kami dari awal mendapatkan laporan dari jaringan P2G daerah, vaksinasi guru tendik memang lambat di daerah-daerah. Kami meminta kementerian terkait gercep (gerak cepat), apalagi kita baru impor vaksin dari luar,” imbuhnya.

P2G meminta Kemendikbud, Kemenag, dan Pemda benar-benar melakukan koordinasi dan pemetaan. Mengingat kewenangan mengelola sekolah di bawah pemda bukan di bawah Kemendikbud.
“Maka, P2G memandang kebijakan sekolah dimulai tatap muka Juli 2021 nanti, tidak dapat dilakukan secara serentak seluruhnya di 514 kota/kab dan 34 provinsi, dengan jumlah 435 ribu sekolah. Ada daerah yang sudah dapat melakukan PTM, tapi ada juga yang masih PJJ,” pungkas Satriwan.

Baca Juga :  Menkes Terbitkan Edaran Vaksinasi Booster

Di sisi lain, P2G mengapresiasi Kemendikbud dan Kemenag yang sudah membuat Buku Panduan Penyelenggaran Pembelajaran Pauddikdasmen di Masa Covid-19 yang sangat lengkap dan detail, sebagai pedoman bagi pemda dan sekolah dalam menyiapkan Pembelajaran Tatap Muka di awal tahun ajaran baru 2021/2022.

Anak Juga Berisiko Terinfeksi Covid-19 Berat

Rencana pembelajaran tatap muka pada Juli harus dipersiapkan dengan hati-hati. Merujuk pada penelitian RSUPN dr Cipto Mangunkusumo (RSCM) dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), risiko keparahan infeksi Covid-19 juga dialami anak-anak. Terutama mereka yang memiliki penyakit bawaan (komorbid).

Dalam artikel yang dipublikasikan di International Journal of Infectious Diseases (IJID), disampaikan bahwa 40 persen pasien anak yang terkonfirmasi Covid-19 di RSCM meninggal. Penelitian itu dilakukan pada Maret–Oktober 2020. Pada rentang waktu tersebut, sebetulnya ada 31.075 pasien dari segala usia yang datang ke UGD.

Sebanyak 1.373 pasien dikonfirmasi positif Covid-19. Untuk kasus anak, tercatat 490 kasus yang dikategorikan sebagai suspect.

Rismala Dewi, salah seorang peneliti, mengatakan, mereka yang suspect dites PCR. Dari jumlah tersebut, 50 anak terkonfirmasi positif Covid-19. Di antara kasus anak yang positif itu, 20 pasien atau 40 persen meninggal.

Baca Juga :  Ratusan Warga Ikut Vaksinasi Massal di Mapolres

Merujuk pada penelitian itu, disebutkan tidak ada perbedaan tingkat kematian antara laki-laki dan perempuan terhadap pasien anak positif Covid-19. ”Hanya empat pasien (meninggal, Red) yang komorbidnya satu. Enam belas lainnya komorbidnya lebih dari satu,” ujarnya kemarin.

Menurut dia, kebanyakan pasien tersebut mengalami gagal ginjal dan keganasan penyakit. Karena itu, pada penelitian tersebut belum bisa disimpulkan apakah anak-anak murni meninggal karena Covid-19 atau karena keparahan penyakit akibat komorbid. Mengingat, sebagai rumah sakit tersier, rata-rata pasien datang ke RSCM dengan komorbid dan merupakan pasien kronis.

Selain itu, kata dia, penelitian dilakukan di awal pandemi Covid-19. Saat itu ada ketakutan masyarakat terhadap Covid-19 sehingga membuat pasien yang biasa datang akhirnya menunda ke rumah sakit. Akibatnya, ketika datang ke RS, kondisinya sudah cukup berat. ”Tentu ini tidak bisa diekstrapolasikan yang di RSCM yang pusat rujukan dengan yang di daerah atau rumah sakit nontersier,” katanya.

Kendati begitu, menurut Dekan FKUI Prof Ari Syam, data tersebut bisa menjadi warning. Yakni, risiko keganasan infeksi Covid-19 pada anak juga besar. Terutama bagi mereka yang punya komorbid.
Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dari Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi Prof dr Menaldi Rasmin mengamini pendapat tersebut. Karena itu, dia meminta pemerintah benar-benar berhati-hati atas rencana pembelajaran tatap muka (PTM) yang akan diperluas Juli 2021.(jp)

JAKARTA – Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) mengingatkan faktor risiko yang sangat besar jika sekolah dipaksa dibuka serentak pada pertengahan Juli 2021 nanti. Hal ini mengingat angka penularan Covid-19 yang masih tinggi dan munculnya varian baru B117 yang lebih ganas. Apalagi angka positivity rate juga masih di atas 10 persen di banyak daerah.

Koordinator Nasional P2G, Satriwan Salim menilai, memaksa membuka sekolah serentak akan mengancam nyawa, keselamatan, dan masa depan siswa termasuk guru dan keluarganya. “Bagi P2G, ada dua indikator mutlak sekolah bisa dimulai tatap muka di awal Tahun Ajaran Baru Juli 2021 nanti, yaitu tuntasnya vaksinasi guru dan tenaga kependidikan (tendik). Kemudian, sekolah sudah memenuhi semua daftar periksa kesiapan sekolah tatap muka, yang berisi 11 item. Dua hal ini tidak bisa ditawar-tawar” ujarnya, Sabtu (5/6).

Satriwan melanjutkan syarat pertama adalah tuntasnya vaksinasi guru. Adapun proses vaksinasi guru dan tendik semula ditargetkan oleh Mendikbud Nadiem Makarim rampung pada Juni 2021. Namun, dari target lima juta pendidik dan tendik, ternyata hingga awal Juni baru sekitar 1 juta guru yang divaksin.

“Kami dari awal mendapatkan laporan dari jaringan P2G daerah, vaksinasi guru tendik memang lambat di daerah-daerah. Kami meminta kementerian terkait gercep (gerak cepat), apalagi kita baru impor vaksin dari luar,” imbuhnya.

P2G meminta Kemendikbud, Kemenag, dan Pemda benar-benar melakukan koordinasi dan pemetaan. Mengingat kewenangan mengelola sekolah di bawah pemda bukan di bawah Kemendikbud.
“Maka, P2G memandang kebijakan sekolah dimulai tatap muka Juli 2021 nanti, tidak dapat dilakukan secara serentak seluruhnya di 514 kota/kab dan 34 provinsi, dengan jumlah 435 ribu sekolah. Ada daerah yang sudah dapat melakukan PTM, tapi ada juga yang masih PJJ,” pungkas Satriwan.

Baca Juga :  Vaksinasi Covid-19 Gapki Kalbar Targetkan 1500 Orang

Di sisi lain, P2G mengapresiasi Kemendikbud dan Kemenag yang sudah membuat Buku Panduan Penyelenggaran Pembelajaran Pauddikdasmen di Masa Covid-19 yang sangat lengkap dan detail, sebagai pedoman bagi pemda dan sekolah dalam menyiapkan Pembelajaran Tatap Muka di awal tahun ajaran baru 2021/2022.

Anak Juga Berisiko Terinfeksi Covid-19 Berat

Rencana pembelajaran tatap muka pada Juli harus dipersiapkan dengan hati-hati. Merujuk pada penelitian RSUPN dr Cipto Mangunkusumo (RSCM) dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), risiko keparahan infeksi Covid-19 juga dialami anak-anak. Terutama mereka yang memiliki penyakit bawaan (komorbid).

Dalam artikel yang dipublikasikan di International Journal of Infectious Diseases (IJID), disampaikan bahwa 40 persen pasien anak yang terkonfirmasi Covid-19 di RSCM meninggal. Penelitian itu dilakukan pada Maret–Oktober 2020. Pada rentang waktu tersebut, sebetulnya ada 31.075 pasien dari segala usia yang datang ke UGD.

Sebanyak 1.373 pasien dikonfirmasi positif Covid-19. Untuk kasus anak, tercatat 490 kasus yang dikategorikan sebagai suspect.

Rismala Dewi, salah seorang peneliti, mengatakan, mereka yang suspect dites PCR. Dari jumlah tersebut, 50 anak terkonfirmasi positif Covid-19. Di antara kasus anak yang positif itu, 20 pasien atau 40 persen meninggal.

Baca Juga :  AMPI Kalbar Gelar Vaksinasi Kedua, 260 Vaksin untuk Milenial

Merujuk pada penelitian itu, disebutkan tidak ada perbedaan tingkat kematian antara laki-laki dan perempuan terhadap pasien anak positif Covid-19. ”Hanya empat pasien (meninggal, Red) yang komorbidnya satu. Enam belas lainnya komorbidnya lebih dari satu,” ujarnya kemarin.

Menurut dia, kebanyakan pasien tersebut mengalami gagal ginjal dan keganasan penyakit. Karena itu, pada penelitian tersebut belum bisa disimpulkan apakah anak-anak murni meninggal karena Covid-19 atau karena keparahan penyakit akibat komorbid. Mengingat, sebagai rumah sakit tersier, rata-rata pasien datang ke RSCM dengan komorbid dan merupakan pasien kronis.

Selain itu, kata dia, penelitian dilakukan di awal pandemi Covid-19. Saat itu ada ketakutan masyarakat terhadap Covid-19 sehingga membuat pasien yang biasa datang akhirnya menunda ke rumah sakit. Akibatnya, ketika datang ke RS, kondisinya sudah cukup berat. ”Tentu ini tidak bisa diekstrapolasikan yang di RSCM yang pusat rujukan dengan yang di daerah atau rumah sakit nontersier,” katanya.

Kendati begitu, menurut Dekan FKUI Prof Ari Syam, data tersebut bisa menjadi warning. Yakni, risiko keganasan infeksi Covid-19 pada anak juga besar. Terutama bagi mereka yang punya komorbid.
Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dari Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi Prof dr Menaldi Rasmin mengamini pendapat tersebut. Karena itu, dia meminta pemerintah benar-benar berhati-hati atas rencana pembelajaran tatap muka (PTM) yang akan diperluas Juli 2021.(jp)

Most Read

Artikel Terbaru

/