alexametrics
25 C
Pontianak
Friday, August 19, 2022

Kalimantan Barat Darurat Karhutla

JAKARTA– Setelah sempat menurun dengan bantuan turunnya hujan pada akhir bulan Agustus lalu, kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) kembali meningkat intensitasnya pada awal September 2019.

Plt. Kapusdatin dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Agus Wibowo mengungkapkan bahwa pihaknya memang memprediksi bahwa September akan menjadi puncak dari risiko karhutla. “Memang ketika kemarau mencapai puncak, dan curah hujan menurun, jumlah hotspot pasti akan meningkat,” kata Agus, kemarin (6/9)
Berdasarkan laporan dari lapangan per 6 September 2019 pukul 16.00 WIB, jumlah titik panas meroket hingga 1.233 titik.

Sangat tinggi untuk rata-rata 2 bulan terakhir. Enam Provinsi yang mengalami darurat karhutla yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Tengah dan Selatan terpapar asap dengan tingkatan sedang hingga pekat.

Baca Juga :  Potensi Karhutla hingga 1 April

Kualitas udara dalam parameter PM 2,5 menunjukkan angka rata-rata di atas 100 dengan kategori tidak sehat. Bahkan di Kalimantan Barat, indeks PM 2,5 sudah menyentuh angka 215 dengan kategori sangat tidak sehat atau satu tingkat di bawah berbahaya.

Agus mengatakan, selain jutaan liter air yang telah dijatuhkan dalam operasi water bombing sejak Juli lalu, operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) juga telah dilakukan. Di Riau, 157 ribu ton bahan semai telah disebar di awan. Sementara di

Sumatera Selatan, 1,6 ton bahan semai sudah disebar di awan.
Agus menjelaskan, berdasarkan data, sebaran hotspot pada 5 hingga 6 September 2019 terus mendaki naik melampaui angka 6.500 titik. Semakin mendekati rekor hotspot pada saat bencana karhutla pada tahun 2015 yang hampir mencapai 7.500 titik panas.(tau)

Baca Juga :  Antusiasme Masyarakat Semakin Tinggi, Penjualan SR015 Di BRI Meningkat Pesat

JAKARTA– Setelah sempat menurun dengan bantuan turunnya hujan pada akhir bulan Agustus lalu, kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) kembali meningkat intensitasnya pada awal September 2019.

Plt. Kapusdatin dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Agus Wibowo mengungkapkan bahwa pihaknya memang memprediksi bahwa September akan menjadi puncak dari risiko karhutla. “Memang ketika kemarau mencapai puncak, dan curah hujan menurun, jumlah hotspot pasti akan meningkat,” kata Agus, kemarin (6/9)
Berdasarkan laporan dari lapangan per 6 September 2019 pukul 16.00 WIB, jumlah titik panas meroket hingga 1.233 titik.

Sangat tinggi untuk rata-rata 2 bulan terakhir. Enam Provinsi yang mengalami darurat karhutla yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Tengah dan Selatan terpapar asap dengan tingkatan sedang hingga pekat.

Baca Juga :  Jadi Salah Satu Rights Issue Terbesar di Dunia, Bukti Kepercayaan pada Indonesia

Kualitas udara dalam parameter PM 2,5 menunjukkan angka rata-rata di atas 100 dengan kategori tidak sehat. Bahkan di Kalimantan Barat, indeks PM 2,5 sudah menyentuh angka 215 dengan kategori sangat tidak sehat atau satu tingkat di bawah berbahaya.

Agus mengatakan, selain jutaan liter air yang telah dijatuhkan dalam operasi water bombing sejak Juli lalu, operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) juga telah dilakukan. Di Riau, 157 ribu ton bahan semai telah disebar di awan. Sementara di

Sumatera Selatan, 1,6 ton bahan semai sudah disebar di awan.
Agus menjelaskan, berdasarkan data, sebaran hotspot pada 5 hingga 6 September 2019 terus mendaki naik melampaui angka 6.500 titik. Semakin mendekati rekor hotspot pada saat bencana karhutla pada tahun 2015 yang hampir mencapai 7.500 titik panas.(tau)

Baca Juga :  Distribusi Vaksin Merah Putih Akan Mundur ke Akhir Tahun 2021

Most Read

Artikel Terbaru

/