alexametrics
30.6 C
Pontianak
Monday, August 8, 2022

Rancang Regulasi Lindungi Industri Media

Presiden Hadiri Puncak HPN 2020 di Banjarmasin

BANJARMASIN– Persaingan pers dengan platform digital menjadi isu utama yang diangkat dalam puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2020 di Banjarmasin, Sabtu (8/2). Presiden Joko Widodo membuka peluang adanya regulasi setelah mendapat desakan dari insan pers. Tujuannya agar perusahaan pers bisa bertahan dari gempuran platform digital.

Selain presiden, sejumlah tokoh hadir dalam peringatan Hari Pers tersebut di antaranya Ketua MPR Bambang Soesatyo, Ketua DPR Puan Maharani, Ketua Dewan Pers Mohammad Nuh, beberapa menteri, dan sejumlah duta besar negara sahabat. Perwakilan media massa se-Indonesia juga hadir.

Presiden sekaligus meresmikan Taman Hutan Pers di Banjarbaru. Dia menanam pohon mersawa bersama sejumlah menteri. Seusai puncak perayaan HPN, Jokowi langsung terbang ke Canberra, Australia.

Beberapa waktu belakangan, dunia pers mengalami disrupsi setelah banyak platform digital, khususnya media sosial, menjadi tren. Yang dipersoalkan kalangan pers bukanlah kemunculan platform-platform tersebut, melainkan minimnya regulasi yang mengaturnya. Alhasil, bisnis media pun terkena imbas yang tentu saja merembet pada dunia pers.

Baca Juga :  Pers Harus Semakin Tepat dan Akurat

’’Perlu dukungan tegas berupa hadirnya negara untuk mewujudkan berbagai regulasi yang menjamin terjadinya persaingan bisnis media yang sehat, seimbang, dan setara,’’ ujar Ketua Dewan Pers Atal S. Depari. Di saat yang sama, peraturan itu juga harus mampu memberantas gelombang berita bohong alias hoaks, terutama lewat media sosial.

Salah satu bagian yang dipersoalkan adalah pajak. ’’Perlu aturan yang lebih adil dalam tata cara perpajakan terkait fungsi media,’’ lanjutnya. Pemerintah dan DPR harus menunjukkan komitmen nyata untuk melindungi dan memastikan keberlanjutan media massa. Khususnya saat berhadapan dengan platform media digital global yang saat ini belum menunjukkan sisi keadilan.

Menanggapi hal tersebut, presiden setuju bahwa ekosistem media harus dilindungi dan diproteksi. Dengan demikian, masyarakat bisa mendapatkan konten berita yang baik. ’’Untuk itu, dibutuhkan industri pers yang sehat,’’ terangnya.

Baca Juga :  Extrajoss Peduli Daya Tahan Garda Terdepan Pahlawan Covid-19

Jokowi mengakui, platform digital yang regulasinya belum ada sangat menjajah dunia pers. Dia juga sempat berbincang dengan para pemimpin redaksi media massa terkait keberlangsungan industri media. ’’Saya minta untuk segera disiapkan draf regulasi yang bisa melindungi dan memproteksi dunia pers kita,’’ lanjut Jokowi.

Jangan sampai semuanya diambil platform digital dari luar. Di satu sisi, mereka tidak membayar pajak. Aturan main juga tidak ada. Sebaliknya, aturan untuk pers di Indonesia sangat rigid. Maka, perlu ada regulasi karena sebenarnya problem yang sama juga dihadapi banyak negara. Yakni, produknya sudah telanjur masuk, sedangkan aturannya belum ada.

Bagaimanapun, tambah presiden, negara sangat membutuhkan kehadiran pers dalam situasi yang jernih. Untuk melawan ”penyakit” seperti hoaks, ujaran kebencian, hingga fitnah yang mengancam demokrasi. ’’Karena masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang mendapatkan informasi yang sehat dan baik,’’ tambahnya. (byu/c10/oni)

Presiden Hadiri Puncak HPN 2020 di Banjarmasin

BANJARMASIN– Persaingan pers dengan platform digital menjadi isu utama yang diangkat dalam puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2020 di Banjarmasin, Sabtu (8/2). Presiden Joko Widodo membuka peluang adanya regulasi setelah mendapat desakan dari insan pers. Tujuannya agar perusahaan pers bisa bertahan dari gempuran platform digital.

Selain presiden, sejumlah tokoh hadir dalam peringatan Hari Pers tersebut di antaranya Ketua MPR Bambang Soesatyo, Ketua DPR Puan Maharani, Ketua Dewan Pers Mohammad Nuh, beberapa menteri, dan sejumlah duta besar negara sahabat. Perwakilan media massa se-Indonesia juga hadir.

Presiden sekaligus meresmikan Taman Hutan Pers di Banjarbaru. Dia menanam pohon mersawa bersama sejumlah menteri. Seusai puncak perayaan HPN, Jokowi langsung terbang ke Canberra, Australia.

Beberapa waktu belakangan, dunia pers mengalami disrupsi setelah banyak platform digital, khususnya media sosial, menjadi tren. Yang dipersoalkan kalangan pers bukanlah kemunculan platform-platform tersebut, melainkan minimnya regulasi yang mengaturnya. Alhasil, bisnis media pun terkena imbas yang tentu saja merembet pada dunia pers.

Baca Juga :  Jokowi Respon Koalisi Indonesia Bersatu, Projo: KIB Manuver Cerdas

’’Perlu dukungan tegas berupa hadirnya negara untuk mewujudkan berbagai regulasi yang menjamin terjadinya persaingan bisnis media yang sehat, seimbang, dan setara,’’ ujar Ketua Dewan Pers Atal S. Depari. Di saat yang sama, peraturan itu juga harus mampu memberantas gelombang berita bohong alias hoaks, terutama lewat media sosial.

Salah satu bagian yang dipersoalkan adalah pajak. ’’Perlu aturan yang lebih adil dalam tata cara perpajakan terkait fungsi media,’’ lanjutnya. Pemerintah dan DPR harus menunjukkan komitmen nyata untuk melindungi dan memastikan keberlanjutan media massa. Khususnya saat berhadapan dengan platform media digital global yang saat ini belum menunjukkan sisi keadilan.

Menanggapi hal tersebut, presiden setuju bahwa ekosistem media harus dilindungi dan diproteksi. Dengan demikian, masyarakat bisa mendapatkan konten berita yang baik. ’’Untuk itu, dibutuhkan industri pers yang sehat,’’ terangnya.

Baca Juga :  Wagub Kalbar Hadiri Hari Pers Nasional 2021 Secara Virtual

Jokowi mengakui, platform digital yang regulasinya belum ada sangat menjajah dunia pers. Dia juga sempat berbincang dengan para pemimpin redaksi media massa terkait keberlangsungan industri media. ’’Saya minta untuk segera disiapkan draf regulasi yang bisa melindungi dan memproteksi dunia pers kita,’’ lanjut Jokowi.

Jangan sampai semuanya diambil platform digital dari luar. Di satu sisi, mereka tidak membayar pajak. Aturan main juga tidak ada. Sebaliknya, aturan untuk pers di Indonesia sangat rigid. Maka, perlu ada regulasi karena sebenarnya problem yang sama juga dihadapi banyak negara. Yakni, produknya sudah telanjur masuk, sedangkan aturannya belum ada.

Bagaimanapun, tambah presiden, negara sangat membutuhkan kehadiran pers dalam situasi yang jernih. Untuk melawan ”penyakit” seperti hoaks, ujaran kebencian, hingga fitnah yang mengancam demokrasi. ’’Karena masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang mendapatkan informasi yang sehat dan baik,’’ tambahnya. (byu/c10/oni)

Most Read

Artikel Terbaru

/