alexametrics
24 C
Pontianak
Thursday, May 26, 2022

Serangan Virus Korona Tak Terkendali, Italia Isolasi 16 Juta Orang, Semua Akses di Wilayah Utara Ditutup

Serangan virus korona di Italia makin tak terkendali. Karena itu, pemerintah Italia akhirnya mengambil kebijakan untuk menutup akses alias me-lockdown wilayah bagian utara. Perintah Perdana Menteri Giuseppe Conte yang berlaku selama sebulan itu membuat 16 juta orang terisolasi.

Menurut dekrit yang ditandatangani Conte, hanya penduduk dengan urusan mendesak yang boleh meninggalkan zona karantina. Larangan itu tak berlaku untuk turis atau orang yang sedang berada di wilayah karantina, tapi tinggal di tempat lain. ”Penduduk di dalam wilayah pun diimbau tak keluar, kecuali untuk pekerjaan atau keperluan medis,” ungkap Conte seperti dilansir CNN.

Dekrit tersebut berlaku hingga 3 April. Selain imbauan itu, pemerintah Italia memerintahkan penutupan sekolah, kampus, bioskop, dan teater untuk seluruh negeri. Bahkan, perayaan agama dan upacara pemakaman juga dilarang.

Keputusan tersebut diambil setelah persebaran Covid-19 di Italia meluas. Hanya dalam 24 jam, kasus baru sudah menembus 1.200 pasien. Korban jiwa akibat virus itu sudah mencapai 230 orang. Angka tersebut terbesar setelah pusat virus, Tiongkok.

Conte membutuhkan keberanian lebih untuk menerapkan larangan tersebut. Apalagi, media sudah membocorkan rencana itu sehari sebelumnya. Pakar virus Roberto Burioni langsung mendukung Conte dan mengutuk media yang menyebarkan kabar tersebut. ’’Bocornya hal ini hanya akan menimbulkan kepanikan dan membuat orang kabur ke luar wilayah. Mereka akan membawa virus ke wilayah baru dan mempercepat persebaran,’’ ungkapnya kepada Agence France-Presse.

Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus memuji kebijakan Conte. Menurut dia, langkah berani itu bisa menyelamatkan jutaan nyawa di Italia atau dunia. ’’Pemerintah dan bangsa Italia mengambil tindakan pemberani. WHO akan terus mendukung mereka,’’ ungkapnya.

Sementara itu, proses karantina di Tiongkok juga menemui berbagai aral. Sabtu lalu (7/3), hotel yang digunakan sebagai pusat karantina di Quanzhou roboh. Tim penyelamat berhasil menemukan 48 korban dari reruntuhan. Sepuluh di antaranya tidak bernyawa. ’’Tolong temukan ibu saya. Dia tadi berada di samping saya,’’ ujar seorang bocah berusia 12 tahun dalam rekaman video.

Baca Juga :  Didera Covid-19, Perbanyak Program Bidang Pertanian

Menurut Quanzhou Evening News, 58 pasien terduga Covid-19 sedang dikarantina di gedung tersebut. Namun, mereka semua disimpulkan negatif. Saat ini, 800 personel penyelamat dan 750 petugas medis dikerahkan untuk mencari korban lain.

Kabar lain muncul dari Sun Yat-sen University di Guangzhou. Peneliti di universitas tersebut mengatakan bahwa cuaca panas menghambat persebaran Covid-19. Mereka menyebut pengetesan yang dilakukan di suhu dingin memperlihatkan patogen bergerak dengan cepat. ’’Negara dengan cuaca dingin harus memberlakukan penindakan paling ketat,’’ tulis peneliti dalam makalah yang dilansir South China Morning Post.

Pada saat yang sama, menurut riset Marc Lipsitch, persebaran virus bisa terjadi di segala cuaca. Karena itu, publik tak seharusnya bergantung pada musim panas untuk mengakhiri virus korona. ’’Rasanya salah jika kita berharap penyakit ini akan berakhir seperti flu. Belum ada bukti kuat soal itu,’’ ujar Mike Ryan, direktur eksekutif WHO.

SEBELUM LOCKDOWN: Petugas Bandara Internasional Fiumicino, Italia, mengarahkan para penumpang yang baru turun dari pesawat. (Laurent EMMANUEL/AFP)

Satu WNI di Singapura Positif Korona

Sementara itu, seorang WNI di Singapura dinyatakan positif Covid-19 pada Sabtu (7/3). Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno L.P. Marsudi menyampaikan, WNI berusia 62 tahun tersebut terhubung dengan agenda makan-makan yang dilaksanakan di SAFRA Jurong pertengahan bulan lalu (15/2). Retno memastikan bahwa pihaknya akan mencermati kondisi WNI tersebut melalui jaringan mereka di Singapura.

Tambahan seorang WNI positif korona di Singapura itu sekaligus menggenapkan jumlah WNI yang terkena Covid-19 di sana. Sebelumnya, seorang WNI lebih dulu dinyatakan positif korona. ”Per detik ini (kemarin) jumlah WNI yang terjangkit atau terpapar adalah 12 orang,” ungkap Retno. Angka itu tidak termasuk WNI yang dinyatakan positif korona di tanah air.

Retno membeberkan, di antara 12 WNI tersebut, sembilan orang berada di Jepang. ”Yang sembuh sudah 6, yang 3 stabil,” ujarnya. Lalu, dua orang berada di Singapura, dengan 1 WNI sudah sembuh dan 1 kasus baru. Kemudian, satu WNI lainnya berada di Taiwan. ”Dalam kondisi stabil,” tegas dia.

Baca Juga :  Pasien Covid-19 Sembuh di Landak Bertambah Menjadi 17 Orang

Meski jumlah WNI yang positif korona bertambah, Retno tetap optimistis melihat peluang mereka sembuh. Sebab, 7 di antara 12 WNI tersebut sudah dinyatakan sembuh. Dia juga menyatakan bahwa potensi sembuh semakin besar apabila mereka cepat ditangani.

Lebih lanjut, Retno mengungkapkan, berdasar informasi yang diperoleh Kemenlu dari otoritas di Amerika Serikat, sedikitnya 57 ABK asal Indonesia berada di atas kapal pesiar Grand Princess. Sebanyak 21 penumpang di kapal tersebut dinyatakan positif korona. Posisi terakhir kapal itu berada di San Francisco. ”Kami sedang mengamati perkembangannya,” ujar dia. Dari informasi terbaru yang diperoleh Kemenlu, 57 WNI tersebut dalam kondisi sehat.

Retno menyatakan, bukan hanya Indonesia yang menghadapi tantangan Covid-19. Banyak negara di dunia yang menghadapi masalah serupa. ”Karena itu, kami perlu memperkuat kerja sama,” katanya. Dia menyebutkan, setiap hari komunikasi dengan WHO tidak pernah putus. Itu penting lantaran pemerintah perlu mengetahui setiap perkembangan di dunia. ”Itu juga untuk melihat perkembangannya seperti apa, kemudian inovasi yang sudah dilakukan WHO seperti apa, sangat berguna bagi Indonesia,” beber Retno.

Pemerintah juga terus memantau kebijakan yang diterapkan Iran, Italia, dan Korea Selatan. Tiga negara tersebut telah menjadi daerah endemi korona. Setiap hari Retno mendapat dua kali laporan dari tiga negara tersebut. Salah satu isi laporan itu adalah perkembangan angka positif korona. ”Dan selalu saya tanyakan, WNI kita bagaimana,” imbuhnya. Data yang dia peroleh sampai kemarin siang, sudah 93 negara di dunia yang terjangkit korona. Lima di antaranya negara baru. Yakni, Kolombia, Peru, Serbia, Togo, dan Vatikan. ”Total confirmed disease seluruh negara sudah melebihi 100 ribu,” ujarnya. Angka tepatnya 101.927 kasus. Sebagian besar berada di Tiongkok.

Editor : Ilham Safutra/Jawa Pos

Reporter : bil/syn/lyn/c7/oni

Serangan virus korona di Italia makin tak terkendali. Karena itu, pemerintah Italia akhirnya mengambil kebijakan untuk menutup akses alias me-lockdown wilayah bagian utara. Perintah Perdana Menteri Giuseppe Conte yang berlaku selama sebulan itu membuat 16 juta orang terisolasi.

Menurut dekrit yang ditandatangani Conte, hanya penduduk dengan urusan mendesak yang boleh meninggalkan zona karantina. Larangan itu tak berlaku untuk turis atau orang yang sedang berada di wilayah karantina, tapi tinggal di tempat lain. ”Penduduk di dalam wilayah pun diimbau tak keluar, kecuali untuk pekerjaan atau keperluan medis,” ungkap Conte seperti dilansir CNN.

Dekrit tersebut berlaku hingga 3 April. Selain imbauan itu, pemerintah Italia memerintahkan penutupan sekolah, kampus, bioskop, dan teater untuk seluruh negeri. Bahkan, perayaan agama dan upacara pemakaman juga dilarang.

Keputusan tersebut diambil setelah persebaran Covid-19 di Italia meluas. Hanya dalam 24 jam, kasus baru sudah menembus 1.200 pasien. Korban jiwa akibat virus itu sudah mencapai 230 orang. Angka tersebut terbesar setelah pusat virus, Tiongkok.

Conte membutuhkan keberanian lebih untuk menerapkan larangan tersebut. Apalagi, media sudah membocorkan rencana itu sehari sebelumnya. Pakar virus Roberto Burioni langsung mendukung Conte dan mengutuk media yang menyebarkan kabar tersebut. ’’Bocornya hal ini hanya akan menimbulkan kepanikan dan membuat orang kabur ke luar wilayah. Mereka akan membawa virus ke wilayah baru dan mempercepat persebaran,’’ ungkapnya kepada Agence France-Presse.

Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus memuji kebijakan Conte. Menurut dia, langkah berani itu bisa menyelamatkan jutaan nyawa di Italia atau dunia. ’’Pemerintah dan bangsa Italia mengambil tindakan pemberani. WHO akan terus mendukung mereka,’’ ungkapnya.

Sementara itu, proses karantina di Tiongkok juga menemui berbagai aral. Sabtu lalu (7/3), hotel yang digunakan sebagai pusat karantina di Quanzhou roboh. Tim penyelamat berhasil menemukan 48 korban dari reruntuhan. Sepuluh di antaranya tidak bernyawa. ’’Tolong temukan ibu saya. Dia tadi berada di samping saya,’’ ujar seorang bocah berusia 12 tahun dalam rekaman video.

Baca Juga :  Solusi Hilangnya 20 Persen Kompetensi Belajar Siswa

Menurut Quanzhou Evening News, 58 pasien terduga Covid-19 sedang dikarantina di gedung tersebut. Namun, mereka semua disimpulkan negatif. Saat ini, 800 personel penyelamat dan 750 petugas medis dikerahkan untuk mencari korban lain.

Kabar lain muncul dari Sun Yat-sen University di Guangzhou. Peneliti di universitas tersebut mengatakan bahwa cuaca panas menghambat persebaran Covid-19. Mereka menyebut pengetesan yang dilakukan di suhu dingin memperlihatkan patogen bergerak dengan cepat. ’’Negara dengan cuaca dingin harus memberlakukan penindakan paling ketat,’’ tulis peneliti dalam makalah yang dilansir South China Morning Post.

Pada saat yang sama, menurut riset Marc Lipsitch, persebaran virus bisa terjadi di segala cuaca. Karena itu, publik tak seharusnya bergantung pada musim panas untuk mengakhiri virus korona. ’’Rasanya salah jika kita berharap penyakit ini akan berakhir seperti flu. Belum ada bukti kuat soal itu,’’ ujar Mike Ryan, direktur eksekutif WHO.

SEBELUM LOCKDOWN: Petugas Bandara Internasional Fiumicino, Italia, mengarahkan para penumpang yang baru turun dari pesawat. (Laurent EMMANUEL/AFP)

Satu WNI di Singapura Positif Korona

Sementara itu, seorang WNI di Singapura dinyatakan positif Covid-19 pada Sabtu (7/3). Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno L.P. Marsudi menyampaikan, WNI berusia 62 tahun tersebut terhubung dengan agenda makan-makan yang dilaksanakan di SAFRA Jurong pertengahan bulan lalu (15/2). Retno memastikan bahwa pihaknya akan mencermati kondisi WNI tersebut melalui jaringan mereka di Singapura.

Tambahan seorang WNI positif korona di Singapura itu sekaligus menggenapkan jumlah WNI yang terkena Covid-19 di sana. Sebelumnya, seorang WNI lebih dulu dinyatakan positif korona. ”Per detik ini (kemarin) jumlah WNI yang terjangkit atau terpapar adalah 12 orang,” ungkap Retno. Angka itu tidak termasuk WNI yang dinyatakan positif korona di tanah air.

Retno membeberkan, di antara 12 WNI tersebut, sembilan orang berada di Jepang. ”Yang sembuh sudah 6, yang 3 stabil,” ujarnya. Lalu, dua orang berada di Singapura, dengan 1 WNI sudah sembuh dan 1 kasus baru. Kemudian, satu WNI lainnya berada di Taiwan. ”Dalam kondisi stabil,” tegas dia.

Baca Juga :  Kasus Covid-19 Terkendali Jika 14 Hari Nol Kasus

Meski jumlah WNI yang positif korona bertambah, Retno tetap optimistis melihat peluang mereka sembuh. Sebab, 7 di antara 12 WNI tersebut sudah dinyatakan sembuh. Dia juga menyatakan bahwa potensi sembuh semakin besar apabila mereka cepat ditangani.

Lebih lanjut, Retno mengungkapkan, berdasar informasi yang diperoleh Kemenlu dari otoritas di Amerika Serikat, sedikitnya 57 ABK asal Indonesia berada di atas kapal pesiar Grand Princess. Sebanyak 21 penumpang di kapal tersebut dinyatakan positif korona. Posisi terakhir kapal itu berada di San Francisco. ”Kami sedang mengamati perkembangannya,” ujar dia. Dari informasi terbaru yang diperoleh Kemenlu, 57 WNI tersebut dalam kondisi sehat.

Retno menyatakan, bukan hanya Indonesia yang menghadapi tantangan Covid-19. Banyak negara di dunia yang menghadapi masalah serupa. ”Karena itu, kami perlu memperkuat kerja sama,” katanya. Dia menyebutkan, setiap hari komunikasi dengan WHO tidak pernah putus. Itu penting lantaran pemerintah perlu mengetahui setiap perkembangan di dunia. ”Itu juga untuk melihat perkembangannya seperti apa, kemudian inovasi yang sudah dilakukan WHO seperti apa, sangat berguna bagi Indonesia,” beber Retno.

Pemerintah juga terus memantau kebijakan yang diterapkan Iran, Italia, dan Korea Selatan. Tiga negara tersebut telah menjadi daerah endemi korona. Setiap hari Retno mendapat dua kali laporan dari tiga negara tersebut. Salah satu isi laporan itu adalah perkembangan angka positif korona. ”Dan selalu saya tanyakan, WNI kita bagaimana,” imbuhnya. Data yang dia peroleh sampai kemarin siang, sudah 93 negara di dunia yang terjangkit korona. Lima di antaranya negara baru. Yakni, Kolombia, Peru, Serbia, Togo, dan Vatikan. ”Total confirmed disease seluruh negara sudah melebihi 100 ribu,” ujarnya. Angka tepatnya 101.927 kasus. Sebagian besar berada di Tiongkok.

Editor : Ilham Safutra/Jawa Pos

Reporter : bil/syn/lyn/c7/oni

Most Read

Artikel Terbaru

/