alexametrics
31 C
Pontianak
Sunday, June 26, 2022

100 Juta Dosis Vaksin Telat

JAKARTA – Laju pasokan vaksin Covid-19 terkendala akibat embargo. Selain Indonesia, banyak negara juga mengalami hal serupa. Hal ini pun menjadi perhatian dari Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin. Menurut Budi, ada 100 juta dosis vaksin Covid-19 yang terhambat datang ke Indonesia pascaadanya embargo dari beberapa negara produsen.

Padahal rencananya, sebanyak 462 juta dosis vaksin Covid-19 dipakai di Indonesia pada 2021 ini. “Jadi, ada 100 juta dosis vaksin yang sampai sekarang menjadi agak tidak pasti jadwalnya,” kata Budi dalam rapat kerja dengan Komisi IX DPR RI, Kamis (8/4).

Budi menjelaskan 100 juta dosis vaksin tersebut melalui dua mekanisme. Pertama, yakni 54 juta vaksin Astrazeneca melalui mekanisme multiteral dengan GAVI secara gratis. Kemudian kedua, dengan mekanisme bilateral melalui Bio Farma dan AstraZeneca sebanyak 50 juta.

“Pertama yang Covax/GAVI karena adanya embargo dari India sehingga mengalami hambatan. Jadi GAVI merelokasi vaksin yang harusnya diterima 11 juta pada Maret-April ditunda semuanya di bulan Mei. Kita hanya dapat 1 juta,” katanya.

Budi melanjutkan, untuk 50 juta vaksin melalui mekanisme bilateral melalui PT Bio Farma ke AstraZeneca, kedatangannya mesti bertahap. Jadi tidak semua 50 juta dosis vaksin bisa langsung masuk ke Indonesia.

“Rencananya 50 juta tahun ini, mereka undurkan hanya bisa 20 juta dosis tahun ini dan 30 juta sisanya diundur ke 2022,” ungkapnya.

Budi mengatakan dengan adanya embargo tersebut maka laju penyuntikan vaksin Covid-19 di dalam negeri melambat. “Jadi pada April ini memang produksinya di titik terendah itu sebabnya kenapa pada April ini kita agak mengurangi laju vaksinasi,” pungkasnya.

Meski demikian, ia juga menyebutkan, Indonesia saat ini berada di urutan kedelapan dari 60 negara di dunia, untuk kategori negara tercepat dalam melakukan vaksinasi Covid-19. Indonesia berada di bawah Jerman, Turki, Brazil, India, Inggris dan Amerika Serikat.

Baca Juga :  Bank Mandiri Dukung Penyaluran Bantuan Sosial di Kalbar

“Sampai sekarang dari seluruh negara, ada sekitar hampir 60 negara yang sudah melakukan vaksinasi di dunia, Indonesia ada di ranking nomor delapan,” ujar Budi dalam rapat dengan Komisi IX DPR RI, Kamis (8/4). Oleh sebab itu, Budi mengaku Indonesia cukup beruntung mendapatkan stok vaksin dari jauh-jauh hari. Ini karena lobi-lobi pemerintah yang dilakukan sejak awal.

“Indonesia beruntung karena kita sudah melakukan lobi yang cukup awal dan kita melakukannya dengan beberapa negara yang berbeda,” katanya. Namun demikian, lanjut Budi, saat ini yang menjadi tantangan terbesar penyuntikan vaksin itu adalah dari vaksin Covid-19 itu sendiri. Sebab saat ini sedang ada embargo yang dilakukan negara produsen vaksin. “Jadi diketahui bersama tantangan paling besar di vaksinasi adalah ketersediaan vaksinnya itu sendiri,” ungkapnya.

Menurut Budi, ada negara-negara penghasil vaksin Covid-19 namun hanya diperuntukan bagi rakyatnya sendiri sehingga tidak diperuntukan bagi negara-negara lain. “Contohnya Amerika Serikat semua vaksin yang diproduksi di Amerika Serikat hanya boleh dipakai di Amerika Seikat saja. Hal yang sama juga berlaku di Inggris,” tuturnya. Jadi saat ini negara penghasil vaksin Covid-19 yang melakukan ekspor ke negara-negara lain hanyalah Tiongkok dan India. Karena itu, dia berharap Indonesia bisa tetap mendapatkan pasokan vaksin dari Tiongkok dan Indonesia.

Vaksinasi Lansia

Pemerintah memprioritaskan vaksinasi Covid-19 pada warga lanjut usia atau lansia menjelang Lebaran. “Kami mempersiapkan khusus untuk Lebaran, karena Lebaran itu adalah saat di mana semua orang ingin bertemu orang tua, padahal itu yang sangat berbahaya dan bisa membuat fatal pada orang tua mereka,” kata ​​​Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam rapat kerja bersama DPR di Jakarta, Kamis.

Baca Juga :  Vaksin Tiba di Kalbar Hari Ini, Midji Akui Tak Masuk Kriteria Penerima

Ia mengatakan bahwa tingkat fatalitas Covid-19–persentase jumlah orang yang meninggal dunia dari total orang yang dikonfirmasi terinfeksi virus corona– di Indonesia sebesar 2,8 persen. Namun tingkat fatalitas penyakit itu pada orang berusia lanjut cenderung lebih tinggi.

“Khusus untuk lansia empat kali lipat lebih rentan wafatnya dibandingkan dengan non-lansia. Dari 1,5 juta orang yang terkena, hanya 10 persen yang lansia. Tapi dari 41.000 yang wafat, 50 persennya lansia,” kata Budi.

Di samping itu, ia melanjutkan, menurut data dari rumah sakit satu dari tiga warga lansia yang terserang Covid-19 meninggal dunia.  “Jadi kita butuh bantuan dari Bapak, Ibu pimpinan DPR agar semua kepala kepala daerah benar-benar memprioritaskan penyuntikan lansia karena mereka yang terbukti kematiannya tinggi,” katanya.

Ia mengemukakan bahwa pemerintah kabupaten dan kota belum seluruhnya memprioritaskan vaksinasi Covid-19 bagi warga lansia. “Umumnya lansia kalah, karena mereka biasanya kan tidak sevokal dengan lainnya,” katanya.

Pemerintah sudah melarang warga mudik mulai dari 6 sampai 17 Mei 2021 guna menekan risiko penularan Covid-19.

Larangan tersebut dikecualikan bagi orang yang harus melakukan perjalanan dinas untuk keperluan distribusi logistik, orang yang harus menjenguk orang sakit atau melayat, ibu hamil yang butuh pelayanan kesehatan dan pendampingnya, serta orang yang membutuhkan layanan persalinan dan pendampingnya.

Mereka yang dikecualikan dari larangan bisa melakukan perjalanan setelah mendapat surat izin dari pimpinan instansi atau tempat bekerja atau pemerintah desa/kelurahan di tempat domisili. (ant/jp)

JAKARTA – Laju pasokan vaksin Covid-19 terkendala akibat embargo. Selain Indonesia, banyak negara juga mengalami hal serupa. Hal ini pun menjadi perhatian dari Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin. Menurut Budi, ada 100 juta dosis vaksin Covid-19 yang terhambat datang ke Indonesia pascaadanya embargo dari beberapa negara produsen.

Padahal rencananya, sebanyak 462 juta dosis vaksin Covid-19 dipakai di Indonesia pada 2021 ini. “Jadi, ada 100 juta dosis vaksin yang sampai sekarang menjadi agak tidak pasti jadwalnya,” kata Budi dalam rapat kerja dengan Komisi IX DPR RI, Kamis (8/4).

Budi menjelaskan 100 juta dosis vaksin tersebut melalui dua mekanisme. Pertama, yakni 54 juta vaksin Astrazeneca melalui mekanisme multiteral dengan GAVI secara gratis. Kemudian kedua, dengan mekanisme bilateral melalui Bio Farma dan AstraZeneca sebanyak 50 juta.

“Pertama yang Covax/GAVI karena adanya embargo dari India sehingga mengalami hambatan. Jadi GAVI merelokasi vaksin yang harusnya diterima 11 juta pada Maret-April ditunda semuanya di bulan Mei. Kita hanya dapat 1 juta,” katanya.

Budi melanjutkan, untuk 50 juta vaksin melalui mekanisme bilateral melalui PT Bio Farma ke AstraZeneca, kedatangannya mesti bertahap. Jadi tidak semua 50 juta dosis vaksin bisa langsung masuk ke Indonesia.

“Rencananya 50 juta tahun ini, mereka undurkan hanya bisa 20 juta dosis tahun ini dan 30 juta sisanya diundur ke 2022,” ungkapnya.

Budi mengatakan dengan adanya embargo tersebut maka laju penyuntikan vaksin Covid-19 di dalam negeri melambat. “Jadi pada April ini memang produksinya di titik terendah itu sebabnya kenapa pada April ini kita agak mengurangi laju vaksinasi,” pungkasnya.

Meski demikian, ia juga menyebutkan, Indonesia saat ini berada di urutan kedelapan dari 60 negara di dunia, untuk kategori negara tercepat dalam melakukan vaksinasi Covid-19. Indonesia berada di bawah Jerman, Turki, Brazil, India, Inggris dan Amerika Serikat.

Baca Juga :  Hasil Swab PCR, Ada Sekolah Terkonformasi Covid-19

“Sampai sekarang dari seluruh negara, ada sekitar hampir 60 negara yang sudah melakukan vaksinasi di dunia, Indonesia ada di ranking nomor delapan,” ujar Budi dalam rapat dengan Komisi IX DPR RI, Kamis (8/4). Oleh sebab itu, Budi mengaku Indonesia cukup beruntung mendapatkan stok vaksin dari jauh-jauh hari. Ini karena lobi-lobi pemerintah yang dilakukan sejak awal.

“Indonesia beruntung karena kita sudah melakukan lobi yang cukup awal dan kita melakukannya dengan beberapa negara yang berbeda,” katanya. Namun demikian, lanjut Budi, saat ini yang menjadi tantangan terbesar penyuntikan vaksin itu adalah dari vaksin Covid-19 itu sendiri. Sebab saat ini sedang ada embargo yang dilakukan negara produsen vaksin. “Jadi diketahui bersama tantangan paling besar di vaksinasi adalah ketersediaan vaksinnya itu sendiri,” ungkapnya.

Menurut Budi, ada negara-negara penghasil vaksin Covid-19 namun hanya diperuntukan bagi rakyatnya sendiri sehingga tidak diperuntukan bagi negara-negara lain. “Contohnya Amerika Serikat semua vaksin yang diproduksi di Amerika Serikat hanya boleh dipakai di Amerika Seikat saja. Hal yang sama juga berlaku di Inggris,” tuturnya. Jadi saat ini negara penghasil vaksin Covid-19 yang melakukan ekspor ke negara-negara lain hanyalah Tiongkok dan India. Karena itu, dia berharap Indonesia bisa tetap mendapatkan pasokan vaksin dari Tiongkok dan Indonesia.

Vaksinasi Lansia

Pemerintah memprioritaskan vaksinasi Covid-19 pada warga lanjut usia atau lansia menjelang Lebaran. “Kami mempersiapkan khusus untuk Lebaran, karena Lebaran itu adalah saat di mana semua orang ingin bertemu orang tua, padahal itu yang sangat berbahaya dan bisa membuat fatal pada orang tua mereka,” kata ​​​Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam rapat kerja bersama DPR di Jakarta, Kamis.

Baca Juga :  Bank Mandiri Dukung Penyaluran Bantuan Sosial di Kalbar

Ia mengatakan bahwa tingkat fatalitas Covid-19–persentase jumlah orang yang meninggal dunia dari total orang yang dikonfirmasi terinfeksi virus corona– di Indonesia sebesar 2,8 persen. Namun tingkat fatalitas penyakit itu pada orang berusia lanjut cenderung lebih tinggi.

“Khusus untuk lansia empat kali lipat lebih rentan wafatnya dibandingkan dengan non-lansia. Dari 1,5 juta orang yang terkena, hanya 10 persen yang lansia. Tapi dari 41.000 yang wafat, 50 persennya lansia,” kata Budi.

Di samping itu, ia melanjutkan, menurut data dari rumah sakit satu dari tiga warga lansia yang terserang Covid-19 meninggal dunia.  “Jadi kita butuh bantuan dari Bapak, Ibu pimpinan DPR agar semua kepala kepala daerah benar-benar memprioritaskan penyuntikan lansia karena mereka yang terbukti kematiannya tinggi,” katanya.

Ia mengemukakan bahwa pemerintah kabupaten dan kota belum seluruhnya memprioritaskan vaksinasi Covid-19 bagi warga lansia. “Umumnya lansia kalah, karena mereka biasanya kan tidak sevokal dengan lainnya,” katanya.

Pemerintah sudah melarang warga mudik mulai dari 6 sampai 17 Mei 2021 guna menekan risiko penularan Covid-19.

Larangan tersebut dikecualikan bagi orang yang harus melakukan perjalanan dinas untuk keperluan distribusi logistik, orang yang harus menjenguk orang sakit atau melayat, ibu hamil yang butuh pelayanan kesehatan dan pendampingnya, serta orang yang membutuhkan layanan persalinan dan pendampingnya.

Mereka yang dikecualikan dari larangan bisa melakukan perjalanan setelah mendapat surat izin dari pimpinan instansi atau tempat bekerja atau pemerintah desa/kelurahan di tempat domisili. (ant/jp)

Most Read

Artikel Terbaru

IPM Kalbar Masih Peringkat 30

Harga Hewan Kurban Melonjak

Usut Tuntas Promo Miras Holywings

/