alexametrics
27.8 C
Pontianak
Thursday, August 18, 2022

Kasus Covid-19 Melonjak, Tenaga Medis Bisa Kewalahan

 Melonjaknya kasus baru harian positif Covid-19 dikhawatirkan akan membebani tenaga medis dan fasilitas kesehatan. Karena itu, semestinya masyarakat bisa lebih mematuhi protokol kesehatan seiring mulai diberlakukannya kebijakan new normal.

Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Mohammad Adib Khumaidi menjelaskan, banyaknya kasus positif hingga Pasien Dalam Perawatan (PDP) membutuhkan perawatan di rumah sakit. Tentu hal itu menjadi beban bagi fasilitas kesehatan dan tenaga medis.

“Kalau di DKI Jakarta ada data berapa jumlah pasien yang masih dirawat atau pasien baru yang masuk. Nah kalau itu melebihi, bisa menjadi beban treatment. Angka terkonfirmasi positif tak berbanding lurus dengan fasilitas kesehatan,” kata dr. Adib kepada JawaPos.com, Rabu (10/6).

Dia berpesan kepada tenaga medis dan fasilitas kesehatan untuk bersiap menghadapi lonjakan pasien. Sebab ada potensi risiko fasilitas kesehatan kelebihan kapasitas. Bahkan dokter dan tenaga kesehatan bisa kelelahan.

Baca Juga :  MUI Kalbar Serukan Tiadakan Shalat Jumat

“Kami akhirnya berpesan kepada teman-teman medis, teman-teman medis harus siap. Potensi buat kami pun mudah-mudahan tak terjadi ya fluktuasi dalam skala besar. Sebab bukan hanya overload kapasitas faskesnya, kelelahan bisa dialami dokter dan tenaga kesehatan. Bukan tak mungkin tenaga medis mengalami risiko juga, sakit, dan tertular,” papar dr. Adib.

Selain itu, dr. Adib secara tegas meminta agar rumah sakit dan fasilitas kesehatan ditentukan zonasinya atau mapping. Jadi, tak semua rumah sakit bisa menampung pasien Covid-19. Tujuannya agar tak terjadi penularan silang pada pasien-pasien non-Covid-19 yang berkunjung untuk mendapatkan perawatan.

“Saya dari awal bilang harus ada mapping dulu. Jakarta harus punya mapping di masa new normal ini. Usulan dari kami harus ada klustering RS. Ada RS khusus Covid-19 saja. Dan ada RS yang non-Covid-19. Sebab jika semua RS merawat Covid-19, potensi crossing penularan semakin tinggi,” katanya.

Baca Juga :  Rapid Test 13 OTG di Badau Dipastikan Non Reaktif

Maka transisi atau penularan pada pasien dengan penyakit komorbit yang bukan Covid-19, bisa dicegah. Masa transisi new normal bisa membuat pasien dengan penyakit selain Covid-19 bisa kembali berobat.

“Pada saat berobat, ada pasien penyakit komorbit harus diperhatikan. Sehingga saat berobat tak ada potensi penularan, supaya masyarakat terlayani dengan baik dan terlindungi agar tak tertular,” tegasnya.

Editor : Nurul Adriyana Salbiah/Jawa Pos

Reporter : Marieska Harya Virdhani

 Melonjaknya kasus baru harian positif Covid-19 dikhawatirkan akan membebani tenaga medis dan fasilitas kesehatan. Karena itu, semestinya masyarakat bisa lebih mematuhi protokol kesehatan seiring mulai diberlakukannya kebijakan new normal.

Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Mohammad Adib Khumaidi menjelaskan, banyaknya kasus positif hingga Pasien Dalam Perawatan (PDP) membutuhkan perawatan di rumah sakit. Tentu hal itu menjadi beban bagi fasilitas kesehatan dan tenaga medis.

“Kalau di DKI Jakarta ada data berapa jumlah pasien yang masih dirawat atau pasien baru yang masuk. Nah kalau itu melebihi, bisa menjadi beban treatment. Angka terkonfirmasi positif tak berbanding lurus dengan fasilitas kesehatan,” kata dr. Adib kepada JawaPos.com, Rabu (10/6).

Dia berpesan kepada tenaga medis dan fasilitas kesehatan untuk bersiap menghadapi lonjakan pasien. Sebab ada potensi risiko fasilitas kesehatan kelebihan kapasitas. Bahkan dokter dan tenaga kesehatan bisa kelelahan.

Baca Juga :  Belajar Nulis Aksara Jawa Malah Dikira Bikin Mantra Jimat

“Kami akhirnya berpesan kepada teman-teman medis, teman-teman medis harus siap. Potensi buat kami pun mudah-mudahan tak terjadi ya fluktuasi dalam skala besar. Sebab bukan hanya overload kapasitas faskesnya, kelelahan bisa dialami dokter dan tenaga kesehatan. Bukan tak mungkin tenaga medis mengalami risiko juga, sakit, dan tertular,” papar dr. Adib.

Selain itu, dr. Adib secara tegas meminta agar rumah sakit dan fasilitas kesehatan ditentukan zonasinya atau mapping. Jadi, tak semua rumah sakit bisa menampung pasien Covid-19. Tujuannya agar tak terjadi penularan silang pada pasien-pasien non-Covid-19 yang berkunjung untuk mendapatkan perawatan.

“Saya dari awal bilang harus ada mapping dulu. Jakarta harus punya mapping di masa new normal ini. Usulan dari kami harus ada klustering RS. Ada RS khusus Covid-19 saja. Dan ada RS yang non-Covid-19. Sebab jika semua RS merawat Covid-19, potensi crossing penularan semakin tinggi,” katanya.

Baca Juga :  Beri KemudahanUntuk UMKM 

Maka transisi atau penularan pada pasien dengan penyakit komorbit yang bukan Covid-19, bisa dicegah. Masa transisi new normal bisa membuat pasien dengan penyakit selain Covid-19 bisa kembali berobat.

“Pada saat berobat, ada pasien penyakit komorbit harus diperhatikan. Sehingga saat berobat tak ada potensi penularan, supaya masyarakat terlayani dengan baik dan terlindungi agar tak tertular,” tegasnya.

Editor : Nurul Adriyana Salbiah/Jawa Pos

Reporter : Marieska Harya Virdhani

Most Read

Artikel Terbaru

/