alexametrics
25.6 C
Pontianak
Thursday, May 19, 2022

Siap Melayani 24 Jam, Ada Puluhan Grup WA di Ponsel

Kondisi OTG atau pasien dengan gejala ringan tetap harus dipantau meski berada di rumah. Para tenaga kesehatan tentu tidak bisa lepas tangan. Keterbatasan fisik mereka atasi dengan pelayanan daring. Mereka rela walaupun harus melayani pertanyaan darurat tengah malam dari pasien dan keluarga.

RETNO DYAH AGUSTINA, Surabaya

HALO, gimana kondisinya hari ini? Badannya gimana?” sapa dr Ellen Kwesley kepada pasiennya secara daring. Sapaan itu pasti segera diikuti dengan rentetan pertanyaan klinis. Bagaimana saturasi oksigennya? Berapa tarikan napas per menit? Jawaban dari deretan pertanyaan tersebut harus dicatat oleh Ellen, dibandingkan dengan data yang dia miliki pada konsultasi sebelumnya. Apakah itu pertanda membaik atau memburuk.

”Makin tua usia pasien, makin banyak pertanyaannya. Seperti gula darah, itu juga kita mesti tanyakan,” sambung Ellen. Berapa pasien yang ditangani Ellen secara daring? Sebisanya, semampunya. Ellen sendiri tak bisa memastikan angkanya. Setiap hari berubah. Selama ada waktu di sela-sela penanganan pasien secara langsung di RS, Ellen langsung melakukan pelayanan daring lewat layanan Medi-Call.

Memulai pagi dengan telekonsultasi juga dilakukan dr Cynthia Wijaya, dokter yang juga melakukan pendampingan pasien isoman di National Hospital. Sehari-hari Cynthia melayani cek pagi rutin lebih dari 10 orang.

Baca Juga :  Program Pemerintah Pemberdayaan UMKM, Perkuat Stabilitas Ekonomi Daerah

”Masing-masing 15–30 menit. Jadi, ya sekitar 2,5 jam sampai 5 jam,” jelasnya. Durasi yang sama dipakai Cynthia untuk melakukan pengecekan sore. Adanya keterbatasan tenaga membuat pihaknya tak lagi bisa melakukan home visit dan mengalihkannya jadi telekonsultasi dua kali sehari.

Penanganan secara daring memang terbatas pada mereka yang gejalanya ringan. Kalau sudah ada perubahan kondisi, Ellen dan tim harus turun lapangan untuk memastikan yang terbaik.

Ellen dan timnya bisa mengunjungi belasan pasien setiap hari. ”Biasanya kami berdua, saya dan satu perawat, tapi bergantung pada situasi di rumah pasien juga,” imbuhnya.

Tak bisa dipungkiri, naiknya kasus juga disumbang banyaknya kluster keluarga. Ellen tak bisa menangani berdua saja. Pada kasus keluarga dengan anak kecil, Ellen juga dibantu bidan untuk penanganan di rumah. Di masa sulit begini, seluruh nakes harus siap dikerahkan. ”Kasus anak ini makin banyak dibanding gelombang sebelumnya. Dulu orang tua takut bawa anak keluar. Sekarang banyak yang mulai santai,” tutur Ellen dengan suara bergetar, tanda khawatir.

Pendampingan pada pasien isoman memang tak bisa optimal layaknya di rumah sakit. Tenaga medis juga harus melatih keluarga pasien untuk memahami teknis perawatan dan pertolongan pertama. ”Semua alat yang ada di rumah bisa dipakai seperti apa, kita ajari sampai cara baca dan melaporkan ke kita,” jelasnya. Misalnya, pemisahan kamar, alat makan, dan alat mandi. Detail-detail itulah yang tak bisa luput dari edukasi sejak pendampingan dimulai.

Baca Juga :  Mata Ditutup, Mainkan 150 Lagu, Lima Jam Nonstop

”Kita juga mesti melihat kondisi. Kadang ada yang rumahnya memungkinkan ventilasi terbuka, ada yang tidak. Dan harus adaptasi dengan itu,” sambung Ellen.

Membuat grup WhatsApp dengan keluarga juga dilakukan demi pemantauan. ”Kalau ada perubahan kondisi, mereka bisa langsung tanya di grup,” ucap Cynthia. Memang, dia dan nakes lain jadi harus siap ditanya selama 24 jam. Puluhan grup WhatsApp baru di ponsel juga tak masalah. Hal tersebut bentuk dukungan psikologis bagi keluarga dan pasien.

Sebagai tenaga medis, rasanya mustahil tak patah hati saat melihat kondisi pasien memburuk. Apalagi keadaan serbasulit. ”Beberapa hari lalu kita layani telekonsul masih bisa, ternyata hari ini harus masuk RS. Sedangkan di IGD kami sendiri, antrean juga banyak,” tutur Cynthia.*

Kondisi OTG atau pasien dengan gejala ringan tetap harus dipantau meski berada di rumah. Para tenaga kesehatan tentu tidak bisa lepas tangan. Keterbatasan fisik mereka atasi dengan pelayanan daring. Mereka rela walaupun harus melayani pertanyaan darurat tengah malam dari pasien dan keluarga.

RETNO DYAH AGUSTINA, Surabaya

HALO, gimana kondisinya hari ini? Badannya gimana?” sapa dr Ellen Kwesley kepada pasiennya secara daring. Sapaan itu pasti segera diikuti dengan rentetan pertanyaan klinis. Bagaimana saturasi oksigennya? Berapa tarikan napas per menit? Jawaban dari deretan pertanyaan tersebut harus dicatat oleh Ellen, dibandingkan dengan data yang dia miliki pada konsultasi sebelumnya. Apakah itu pertanda membaik atau memburuk.

”Makin tua usia pasien, makin banyak pertanyaannya. Seperti gula darah, itu juga kita mesti tanyakan,” sambung Ellen. Berapa pasien yang ditangani Ellen secara daring? Sebisanya, semampunya. Ellen sendiri tak bisa memastikan angkanya. Setiap hari berubah. Selama ada waktu di sela-sela penanganan pasien secara langsung di RS, Ellen langsung melakukan pelayanan daring lewat layanan Medi-Call.

Memulai pagi dengan telekonsultasi juga dilakukan dr Cynthia Wijaya, dokter yang juga melakukan pendampingan pasien isoman di National Hospital. Sehari-hari Cynthia melayani cek pagi rutin lebih dari 10 orang.

Baca Juga :  Mata Ditutup, Mainkan 150 Lagu, Lima Jam Nonstop

”Masing-masing 15–30 menit. Jadi, ya sekitar 2,5 jam sampai 5 jam,” jelasnya. Durasi yang sama dipakai Cynthia untuk melakukan pengecekan sore. Adanya keterbatasan tenaga membuat pihaknya tak lagi bisa melakukan home visit dan mengalihkannya jadi telekonsultasi dua kali sehari.

Penanganan secara daring memang terbatas pada mereka yang gejalanya ringan. Kalau sudah ada perubahan kondisi, Ellen dan tim harus turun lapangan untuk memastikan yang terbaik.

Ellen dan timnya bisa mengunjungi belasan pasien setiap hari. ”Biasanya kami berdua, saya dan satu perawat, tapi bergantung pada situasi di rumah pasien juga,” imbuhnya.

Tak bisa dipungkiri, naiknya kasus juga disumbang banyaknya kluster keluarga. Ellen tak bisa menangani berdua saja. Pada kasus keluarga dengan anak kecil, Ellen juga dibantu bidan untuk penanganan di rumah. Di masa sulit begini, seluruh nakes harus siap dikerahkan. ”Kasus anak ini makin banyak dibanding gelombang sebelumnya. Dulu orang tua takut bawa anak keluar. Sekarang banyak yang mulai santai,” tutur Ellen dengan suara bergetar, tanda khawatir.

Pendampingan pada pasien isoman memang tak bisa optimal layaknya di rumah sakit. Tenaga medis juga harus melatih keluarga pasien untuk memahami teknis perawatan dan pertolongan pertama. ”Semua alat yang ada di rumah bisa dipakai seperti apa, kita ajari sampai cara baca dan melaporkan ke kita,” jelasnya. Misalnya, pemisahan kamar, alat makan, dan alat mandi. Detail-detail itulah yang tak bisa luput dari edukasi sejak pendampingan dimulai.

Baca Juga :  Ada Saja Yang Bertanya, ”Sudah Punya Pacar, Dok?”

”Kita juga mesti melihat kondisi. Kadang ada yang rumahnya memungkinkan ventilasi terbuka, ada yang tidak. Dan harus adaptasi dengan itu,” sambung Ellen.

Membuat grup WhatsApp dengan keluarga juga dilakukan demi pemantauan. ”Kalau ada perubahan kondisi, mereka bisa langsung tanya di grup,” ucap Cynthia. Memang, dia dan nakes lain jadi harus siap ditanya selama 24 jam. Puluhan grup WhatsApp baru di ponsel juga tak masalah. Hal tersebut bentuk dukungan psikologis bagi keluarga dan pasien.

Sebagai tenaga medis, rasanya mustahil tak patah hati saat melihat kondisi pasien memburuk. Apalagi keadaan serbasulit. ”Beberapa hari lalu kita layani telekonsul masih bisa, ternyata hari ini harus masuk RS. Sedangkan di IGD kami sendiri, antrean juga banyak,” tutur Cynthia.*

Most Read

Artikel Terbaru

/