alexametrics
27.8 C
Pontianak
Tuesday, July 5, 2022

Tetap Prajurit TNI-AD dengan Nama Baru

Dia lahir dinyatakan sebagai perempuan, puluhan tahun hidup sebagai perempuan, tetapi kini baru tahu bahwa dirinya sejatinya adalah laki-laki. Semasa menjadi atlet voli nasional, setidaknya tiga kali statusnya dipertanyakan.

SAHRUL Y.-RAGIL P.I., Jakarta

DARI layar raksasa di Markas Besar (Mabes) TNI-AD, Jakarta Pusat, senyum itu terpancar. Senyum yang mungkin tertahan puluhan tahun dalam diri Aprilia Santini Manganang.

Kemarin sore (9/3) personel TNI-AD berpangkat sersan dua tersebut tampil mendampingi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Andika Perkasa saat menyampaikan keterangan kepada awak media. Namun, dia tidak langsung berdiri di samping Andika. Sebab, atlet voli nasional itu masih terbaring di RSPAD Gatot Soebroto.

”Ini momen yang sangat saya tunggu. Bahagia banget. Puji Tuhan Yesus, saya bisa lewati ini,” kata Manganang.

Persis di sampingnya, duduk mendampingi Ketua Umum Persit Kartika Chandra Kirana Hetty Andika Perkasa serta orang tua Manganang, Akip Manganang dan Suryati. Mereka menemani Manganang melalui salah satu momen paling penting dalam hidup.

Tepat pada 27 April 1992, Manganang lahir di Tahuna, Kepulauan Sangihe Talaud, Sulawesi Utara. Layaknya pasangan lain, Akip dan Suryati sangat senang lantaran dipercaya Tuhan untuk merawat seorang anak. Namun, keadaan dan ketidakmampuan mereka memaksa Manganang dilahirkan di rumah dengan bantuan seorang bidan.

BERPRESTASI: Aprilia Manganang saat membela Bandung BJB dalam pertandingan pekan pertama Proliga 2020 di Pekanbaru. Foto kanan, KSAD Jenderal TNI Andika Perkasa memperkenalkan Serda Aprilia Manganang via videotron di Mabes AD.
(FEDRIK TARIGAN/JAWA POS)

”Seseorang yang diberi nama Aprilia Santini Manganang tidak seberuntung kita semua,” ujar Andika.

Ya, Manganang terlahir dengan kelainan pada sistem reproduksi yang dalam bahasa medis disebut hipospadia. Mengutip situs Alodokter, hipospadia adalah suatu kelainan ketika letak lubang kencing pada bayi laki-laki tidak normal. Kondisi tersebut merupakan kelainan bawaan sejak lahir. Pada kondisi normal, uretra terletak tepat di ujung penis. Namun, pada bayi dengan hipospadia, uretra berada di bagian bawah penis. Jika tidak ditangani, penderita hipospadia bisa sulit buang air kecil atau berhubungan seksual saat dewasa. Kelainan sangat langka yang biasa ditemui pada bayi laki-laki.

Karena itulah, Manganang seperti hidup dalam dua dunia. Sama dengan sang kakak, Amarsya, orang mengenal Manganang sebagai atlet voli putri tangguh dengan smes tajam dan blok kuat. Serta lama malang melintang bersama tim nasional putri di SEA Games maupun Asian Games.

Namun, Manganang sesungguhnya lelaki. Puluhan tahun sejak 27 April 1992, baru pada 3 Februari lalu fakta tersebut diketahui. Oleh Manganang sendiri, keluarganya, serta seluruh jajaran TNI-AD. Sejak lahir, paramedis yang membantu persalinan Manganang menyatakan bayi yang dilahirkan Suryati adalah anak perempuan. Yang oleh orang tuanya kemudian diberi nama Aprilia Santini Manganang. Nama untuk seorang anak perempuan. Sejak saat itu, dia melalui hari-harinya sebagai perempuan.

Baca Juga :  Kader Gerindra Puji Langkah Airlangga Bangun Koalisi Indonesia Bersatu

Sekali lagi, ketidakmampuan yang kali ini ditambah ketidaktahuan membawa Manganang melewati hidup tidak seperti semestinya. ”Kondisi itu terus berlangsung sampai Aprilia Santini Manganang masuk sekolah dasar, SMP di Tahuna, kemudian pindah SMA ke Manado, sampai akhirnya pada 2016 Angkatan Darat melihat prestasi anak itu,” papar Andika.

Manganang diterima sebagai bagian dari Korps Wanita Angkatan Darat (Kowad) melalui jalur prestasi. Dia masuk lewat jalur rekrutmen khusus bintara berprestasi. Lolos dan langsung dilantik sebagai Kowad. Selain bertugas sebagai prajurit, Manganang diberi kesempatan oleh Angkatan Darat untuk terus melebarkan sayap di dunia yang ditekuninya. Hingga akhirnya, dia dikenal sebagai atlet voli nasional berprestasi mentereng.

Tapi, tanda tanya pada status Manganang berkali-kali menghadang karirnya. Pada SEA Games 2015 di Singapura, tim Filipina mengajukan protes. Manganang pun menjalani tes medis dan dinyatakan lolos. Dia akhirnya boleh bermain.

Empat tahun sebelumnya di Livoli, tim Popsivo Polwan sebenarnya juga mempertanyakan status Manganang. Dua tahun kemudian, giliran Bank Jatim Surabaya dan Petrokimia Gresik yang melakukan protes serupa di Proliga. Di dua kesempatan tersebut, protes ditolak dan Manganang tetap bisa bermain.

Hipospadia benar-benar menutup identitas asli Manganang. Rapat, amat rapat. Sampai-sampai, Manganang tidak tahu bahwa dirinya adalah pria.

Namun, Andika sebagai pimpinan sekaligus pembina seluruh prajurit TNI-AD melihat ada yang lain dalam diri Manganang. Dia lantas meminta pemeriksaan ulang dilakukan. Secara detail dan lebih terperinci. Pemeriksaan awal dilakukan di Manado. Kemudian, Andika memanggil Manganang ke Jakarta untuk bertemu secara langsung. Andika bertanya kepada Manganang apa yang diinginkan dan apa yang bisa dibantu Angkatan Darat.

”Jadi, saya menawarkan apa yang bisa kami bantu untuk dia,” kata Andika.

Dan, Manganang menjawab: berobat. Hasil pemeriksaan awal di Manado memang tidak maksimal akibat keterbatasan alat. Begitu Manganang dibawa ke Jakarta dan dicek di RSPAD Gatot Soebroto, hasil pemeriksaannya lebih akurat. ”Dari pemeriksaan itu, ternyata dilihat dari urologi Sersan (Dua) Manganang memiliki organ-organ jenis kelamin laki-laki. Bahkan, tidak ada organ internal jenis kelamin wanita,” ungkap Andika.

Pemeriksaan hormonal pun menyatakan demikian. ”Manganang lebih memiliki hormonal yang masuk kategori normal laki-laki,” tambahnya.

Baca Juga :  KRI Nanggala 402 Terbelah Tiga

Tidak cukup sampai di situ, TNI-AD turut melakukan pemeriksaan radiologi lewat magnetic resonance imaging (MRI). Hasilnya tetap sama. Andika pun menyampaikan semua itu kepada Manganang. Respons dia, lanjutnya, luar biasa. ”Menyambut dengan sangat excited. Rupanya, itu yang ditunggu-tunggu (oleh Manganang),” ujarnya.

Andika menghadirkan tim dokter terbaik yang dimiliki TNI-AD untuk membantu Manganang. Kelainan hipospadia yang dialami Manganang diobati secara serius. Tim dokter RSPAD Gatot Soebroto melakukan corrective surgery atau operasi korektif terhadap Manganang. Operasi itu dua kali dilakukan. ”Sersan (Dua) Manganang sudah menjalani corrective surgery yang pertama. Secara umum, hasilnya baik,” jelas Andika.

Keterangan yang disampaikan Andika selaras dengan keadaan Manganang dari balik layar. Dia merasa sangat beruntung telah dipertemukan dengan Andika dan seluruh jajaran TNI-AD. ”Saya berterima kasih kepada dokter yang sudah bantu saya. Saya sangat bahagia. Selama 28 tahun, saya menunggu keinginan saya dan akhirnya tahun ini tercapai,” ucap Manganang.

Boleh jadi, ulang tahun ke-29 Manganang bulan depan menjadi ulang tahun paling istimewa. Sebab, dia bisa bebas dari segala tekanan yang selama ini dirasakan. Manganang menjalani hidup sebagai perempuan karena sejak lahir dinyatakan sebagai perempuan. Kondisi yang bertolak belakang dengan pertumbuhan fisiknya. Tidak jarang, dia mendapat tudingan-tudingan yang sebetulnya benar, tetapi keliru. Sebab, saat itu Manganang tidak mengetahui dirinya adalah laki-laki. Dengan segenap daya yang dimilikinya, kala itu Manganang hanya bisa membela diri. Sejak lahir, Manganang adalah laki-laki. Namun, kelainan menutupi itu. TNI-AD pun mengambil tindakan medis. ”Tidak ada pergantian kelamin,” tegasnya.

Karena itu pula, TNI-AD tidak akan mengeluarkan Manganang. Dia justru akan dipindahtugaskan ke bagian lain. Manganang tetap prajurit TNI-AD. Namun, dia tidak lagi menjadi bagian dari Kowad. ”Saya dan staf akan melakukan evaluasi untuk memberikan tugas yang lebih pas,” tutur Andika.

Dia memastikan, penugasan Manganang selanjutnya tidak melenceng dari passion sebagai seorang prajurit TNI-AD. Bisa di perbekalan dan angkutan, bisa pula di bidang kesehatan. TNI-AD, sambung Andika, juga sudah menyiapkan langkah-langkah sesuai dengan mekanisme hukum untuk membantu Manganang mempertegas identitasnya sebagai seorang laki-laki. Mereka akan mengajukan permohonan kepada Pengadilan Negeri Tondano untuk mengganti data administrasi kependudukan Manganang. Dari perempuan menjadi laki-laki. ”Menetapkan perubahan nama, dari nama sebelumnya ke nama yang nanti dipilih Sersan (Dua) Manganang dan orang tuanya,” kata dia.

Dia lahir dinyatakan sebagai perempuan, puluhan tahun hidup sebagai perempuan, tetapi kini baru tahu bahwa dirinya sejatinya adalah laki-laki. Semasa menjadi atlet voli nasional, setidaknya tiga kali statusnya dipertanyakan.

SAHRUL Y.-RAGIL P.I., Jakarta

DARI layar raksasa di Markas Besar (Mabes) TNI-AD, Jakarta Pusat, senyum itu terpancar. Senyum yang mungkin tertahan puluhan tahun dalam diri Aprilia Santini Manganang.

Kemarin sore (9/3) personel TNI-AD berpangkat sersan dua tersebut tampil mendampingi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Andika Perkasa saat menyampaikan keterangan kepada awak media. Namun, dia tidak langsung berdiri di samping Andika. Sebab, atlet voli nasional itu masih terbaring di RSPAD Gatot Soebroto.

”Ini momen yang sangat saya tunggu. Bahagia banget. Puji Tuhan Yesus, saya bisa lewati ini,” kata Manganang.

Persis di sampingnya, duduk mendampingi Ketua Umum Persit Kartika Chandra Kirana Hetty Andika Perkasa serta orang tua Manganang, Akip Manganang dan Suryati. Mereka menemani Manganang melalui salah satu momen paling penting dalam hidup.

Tepat pada 27 April 1992, Manganang lahir di Tahuna, Kepulauan Sangihe Talaud, Sulawesi Utara. Layaknya pasangan lain, Akip dan Suryati sangat senang lantaran dipercaya Tuhan untuk merawat seorang anak. Namun, keadaan dan ketidakmampuan mereka memaksa Manganang dilahirkan di rumah dengan bantuan seorang bidan.

BERPRESTASI: Aprilia Manganang saat membela Bandung BJB dalam pertandingan pekan pertama Proliga 2020 di Pekanbaru. Foto kanan, KSAD Jenderal TNI Andika Perkasa memperkenalkan Serda Aprilia Manganang via videotron di Mabes AD.
(FEDRIK TARIGAN/JAWA POS)

”Seseorang yang diberi nama Aprilia Santini Manganang tidak seberuntung kita semua,” ujar Andika.

Ya, Manganang terlahir dengan kelainan pada sistem reproduksi yang dalam bahasa medis disebut hipospadia. Mengutip situs Alodokter, hipospadia adalah suatu kelainan ketika letak lubang kencing pada bayi laki-laki tidak normal. Kondisi tersebut merupakan kelainan bawaan sejak lahir. Pada kondisi normal, uretra terletak tepat di ujung penis. Namun, pada bayi dengan hipospadia, uretra berada di bagian bawah penis. Jika tidak ditangani, penderita hipospadia bisa sulit buang air kecil atau berhubungan seksual saat dewasa. Kelainan sangat langka yang biasa ditemui pada bayi laki-laki.

Karena itulah, Manganang seperti hidup dalam dua dunia. Sama dengan sang kakak, Amarsya, orang mengenal Manganang sebagai atlet voli putri tangguh dengan smes tajam dan blok kuat. Serta lama malang melintang bersama tim nasional putri di SEA Games maupun Asian Games.

Namun, Manganang sesungguhnya lelaki. Puluhan tahun sejak 27 April 1992, baru pada 3 Februari lalu fakta tersebut diketahui. Oleh Manganang sendiri, keluarganya, serta seluruh jajaran TNI-AD. Sejak lahir, paramedis yang membantu persalinan Manganang menyatakan bayi yang dilahirkan Suryati adalah anak perempuan. Yang oleh orang tuanya kemudian diberi nama Aprilia Santini Manganang. Nama untuk seorang anak perempuan. Sejak saat itu, dia melalui hari-harinya sebagai perempuan.

Baca Juga :  Kader Gerindra Puji Langkah Airlangga Bangun Koalisi Indonesia Bersatu

Sekali lagi, ketidakmampuan yang kali ini ditambah ketidaktahuan membawa Manganang melewati hidup tidak seperti semestinya. ”Kondisi itu terus berlangsung sampai Aprilia Santini Manganang masuk sekolah dasar, SMP di Tahuna, kemudian pindah SMA ke Manado, sampai akhirnya pada 2016 Angkatan Darat melihat prestasi anak itu,” papar Andika.

Manganang diterima sebagai bagian dari Korps Wanita Angkatan Darat (Kowad) melalui jalur prestasi. Dia masuk lewat jalur rekrutmen khusus bintara berprestasi. Lolos dan langsung dilantik sebagai Kowad. Selain bertugas sebagai prajurit, Manganang diberi kesempatan oleh Angkatan Darat untuk terus melebarkan sayap di dunia yang ditekuninya. Hingga akhirnya, dia dikenal sebagai atlet voli nasional berprestasi mentereng.

Tapi, tanda tanya pada status Manganang berkali-kali menghadang karirnya. Pada SEA Games 2015 di Singapura, tim Filipina mengajukan protes. Manganang pun menjalani tes medis dan dinyatakan lolos. Dia akhirnya boleh bermain.

Empat tahun sebelumnya di Livoli, tim Popsivo Polwan sebenarnya juga mempertanyakan status Manganang. Dua tahun kemudian, giliran Bank Jatim Surabaya dan Petrokimia Gresik yang melakukan protes serupa di Proliga. Di dua kesempatan tersebut, protes ditolak dan Manganang tetap bisa bermain.

Hipospadia benar-benar menutup identitas asli Manganang. Rapat, amat rapat. Sampai-sampai, Manganang tidak tahu bahwa dirinya adalah pria.

Namun, Andika sebagai pimpinan sekaligus pembina seluruh prajurit TNI-AD melihat ada yang lain dalam diri Manganang. Dia lantas meminta pemeriksaan ulang dilakukan. Secara detail dan lebih terperinci. Pemeriksaan awal dilakukan di Manado. Kemudian, Andika memanggil Manganang ke Jakarta untuk bertemu secara langsung. Andika bertanya kepada Manganang apa yang diinginkan dan apa yang bisa dibantu Angkatan Darat.

”Jadi, saya menawarkan apa yang bisa kami bantu untuk dia,” kata Andika.

Dan, Manganang menjawab: berobat. Hasil pemeriksaan awal di Manado memang tidak maksimal akibat keterbatasan alat. Begitu Manganang dibawa ke Jakarta dan dicek di RSPAD Gatot Soebroto, hasil pemeriksaannya lebih akurat. ”Dari pemeriksaan itu, ternyata dilihat dari urologi Sersan (Dua) Manganang memiliki organ-organ jenis kelamin laki-laki. Bahkan, tidak ada organ internal jenis kelamin wanita,” ungkap Andika.

Pemeriksaan hormonal pun menyatakan demikian. ”Manganang lebih memiliki hormonal yang masuk kategori normal laki-laki,” tambahnya.

Baca Juga :  Anang Selalu Senang Setiap Akan ”Sunat”

Tidak cukup sampai di situ, TNI-AD turut melakukan pemeriksaan radiologi lewat magnetic resonance imaging (MRI). Hasilnya tetap sama. Andika pun menyampaikan semua itu kepada Manganang. Respons dia, lanjutnya, luar biasa. ”Menyambut dengan sangat excited. Rupanya, itu yang ditunggu-tunggu (oleh Manganang),” ujarnya.

Andika menghadirkan tim dokter terbaik yang dimiliki TNI-AD untuk membantu Manganang. Kelainan hipospadia yang dialami Manganang diobati secara serius. Tim dokter RSPAD Gatot Soebroto melakukan corrective surgery atau operasi korektif terhadap Manganang. Operasi itu dua kali dilakukan. ”Sersan (Dua) Manganang sudah menjalani corrective surgery yang pertama. Secara umum, hasilnya baik,” jelas Andika.

Keterangan yang disampaikan Andika selaras dengan keadaan Manganang dari balik layar. Dia merasa sangat beruntung telah dipertemukan dengan Andika dan seluruh jajaran TNI-AD. ”Saya berterima kasih kepada dokter yang sudah bantu saya. Saya sangat bahagia. Selama 28 tahun, saya menunggu keinginan saya dan akhirnya tahun ini tercapai,” ucap Manganang.

Boleh jadi, ulang tahun ke-29 Manganang bulan depan menjadi ulang tahun paling istimewa. Sebab, dia bisa bebas dari segala tekanan yang selama ini dirasakan. Manganang menjalani hidup sebagai perempuan karena sejak lahir dinyatakan sebagai perempuan. Kondisi yang bertolak belakang dengan pertumbuhan fisiknya. Tidak jarang, dia mendapat tudingan-tudingan yang sebetulnya benar, tetapi keliru. Sebab, saat itu Manganang tidak mengetahui dirinya adalah laki-laki. Dengan segenap daya yang dimilikinya, kala itu Manganang hanya bisa membela diri. Sejak lahir, Manganang adalah laki-laki. Namun, kelainan menutupi itu. TNI-AD pun mengambil tindakan medis. ”Tidak ada pergantian kelamin,” tegasnya.

Karena itu pula, TNI-AD tidak akan mengeluarkan Manganang. Dia justru akan dipindahtugaskan ke bagian lain. Manganang tetap prajurit TNI-AD. Namun, dia tidak lagi menjadi bagian dari Kowad. ”Saya dan staf akan melakukan evaluasi untuk memberikan tugas yang lebih pas,” tutur Andika.

Dia memastikan, penugasan Manganang selanjutnya tidak melenceng dari passion sebagai seorang prajurit TNI-AD. Bisa di perbekalan dan angkutan, bisa pula di bidang kesehatan. TNI-AD, sambung Andika, juga sudah menyiapkan langkah-langkah sesuai dengan mekanisme hukum untuk membantu Manganang mempertegas identitasnya sebagai seorang laki-laki. Mereka akan mengajukan permohonan kepada Pengadilan Negeri Tondano untuk mengganti data administrasi kependudukan Manganang. Dari perempuan menjadi laki-laki. ”Menetapkan perubahan nama, dari nama sebelumnya ke nama yang nanti dipilih Sersan (Dua) Manganang dan orang tuanya,” kata dia.

Most Read

Artikel Terbaru

/