alexametrics
31.7 C
Pontianak
Monday, August 8, 2022

Kemenkes Antisipasi Stigma

Babak Baru Penanganan Corona di Tanah Air 

JAKARTA – Masa observasi di Pangkalan Terpadu TNI sudah selesai, Sabtu (15/2). Sebanyak 238 warga Indonesia yang dievakuasi dari Hubei, Tiongkok, dapat kembali ke pelukan keluarga. Empat di antaranya adalah warga Kalbar. Namun, pekerjaan rumah tak hanya berhenti ketika semuanya sudah sampai kampung halaman. Kementerian Kesehatan ingin memastikan tak ada stigma buruk terhadap mereka.

Proses pemulangan secara umum berjalan lancar. Pada pukul 15.24, pesawat milik TNI dengan nomor registrasi A-7306 sampai Bandara Halim Perdanakusuma. Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto keluar pertama kali. Diikuti lima pejabat lainnya di belakangnya. Selanjutnya peserta observasi turun mereka melambaikan bandara merah putih.

Dalam pemulangan tersebut ada tiga kali penerbangan. Pesawat Boeing 737-400 itu merupakan yang pertama mendarat. Masih ada satu Boeing dan Herkules yang menyusul selanjutnya.

Di apron Bandara Halim Perdana Kusuma, puluhan pejabat menjemput mereka. Sementara keluarga menunggu di sisi bandara komersil. Peserta karantina seluruhnya keluar dari pintu selatan. Selanjutnya mereka bertemu dengan tim penjemput dari masing-masing pemerintah daerah.

“Tadi saat salaman dengan anak-anaknya, ada yang sampai menangis,” tutur Anggota Komisi IX Kurniasih Mufidayati. Mufida merupakan salah satu pejabat yang turut menjemput.

WNI saat tiba di Bandara Halim, usai menjalani masa karantina di Pulau Natuna selama 14 hari. HARITSAH ALMUDATSIR/ DERY/ JAWA POS

Sayangnya, proses kepulangan peserta observasi tak dibarengi dengan informasi yang jelas. Mufida menemukan ada keluarga yang menunggu di pintu kedatangan Bandara Haim Perdanakusuma. Mereka hanya mengetahui dari pesan yang dikirimkan anaknya kalau penjemputan ada di Bandara Halim Perdanakusuma. Sayangnya sampai bandara, tak ada kejelasan informasi.

“Saya sudah tekankan kepada pemerintah kalau harus ada informasi dan transparansi,” ungkap Mufida. Namun menurutnya hal tersebut tidak terlaksana.

Aprillia, salah satu penjemput menuturkan informasi yang didapat hanya dari anaknya, Harry Yusuf. Dia memang berinisiatif untuk menjemput anaknya itu. Namun, saat sampai bandara, komunikasi tak mudah. Hal ini membuat Aprilia sempat khawatir.

Baca Juga :  Dukung Penanganan Pandemi, BRI Bantu Fasilitas Penunjang RS di Berbagai Wilayah Indonesia

 

Tak Perlu Prosedur Khusus

 

Kepala Dinas Kesehatan Kalbar, Harisson mengatakan empat warga Kalbar yang ikut dalam rombongan dari Pulau Natuna usai karantina, tak perlu lagi melalui prosedur apapun setelah sampai ke daerah. Saat ini status mereka sama dengan orang lain yang sehat.

Keempat warga Kalbar itu dibebaskan untuk kembali ke tempat tinggal masing-masing. Tidak perlu ada pengawalan, penjemputan atau lain sebagainya. Yang jelas mereka sudah dipastikan sehat dan sudah melalui masa karantina di Natuna.

“Tidak perlu, karena mereka orang yang sudah dijamin oleh pemerintah bahwa mereka datang dari Wuhan (Tiongkok) dalam keadaan sehat. Selama dikarantina (di Natuna) juga telah dilakukan pemeriksaan kesehatan setiap hari selama 14 hari dan mereka dinyatakan sehat,” jelas Harisson kepada Pontianak Post, Sabtu (15/2).

Ia berharap masyarakat dapat menerima kepulangan mereka. “Masyarakat diharapkan tidak khawatir dan tetap menerima saudara kita ini dengan baik, karena mereka adalah sudara kita yang sudah dinyatakan tidak terserang corona oleh Pemerintah Tiongkok maupun oleh Pemerintah Indonesia, melalui prosedur pemeriksaan kesehatan dan prosedur karantina yang ketat,” pungkasnya.

Namun, pekerjaan tak berhenti ketika semuanya sudah sampai kampung halaman. Upaya penanggulangan virus corona memasuki babak baru. Kementerian Kesehatan ingin memastikan tak ada stigma buruk. Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Anung Sugihantono mengungkapkan bahwa pihakya sudah mempersiapkan hal tersebut.

Kementerian Kesehatan telah memberikan surat keterangan sehat untuk seluruh peserta observasi. Surat tersebut berdasarkan hasil pemeriksaan selama 14 hari di tempat observasi. “Keredaksiannya berbunyi ‘yang bersangkutan selama 14 hari tidak menunjukkan gejala dan tanda Covid-19,” tutur Anung.

 

Jadi Duta Kesehatan

Menteri Kesehatan, Terawan pun menegaskan bahwa 238 warga Indonesia yang telah menjalani observasi di Natuna dalam keadaan sehat dan tidak terpapar virus corona. “Semuanya sehat. Saya tadi sama-sama mereka satu pesawat,” ujarnya di Halim Perdanakusuma, Sabtu (15/2). Terawan berujar, mereka semuanya telah ditetapkan sebagai duta kesehatan. Hal ini karena mereka sudah tiba di Tanah Air dengan selamat tanpa terpapar virus corona.

Baca Juga :  Kepergian yang Terlalu Cepat

Diharapkan, kepulangan mereka bisa ikut mengedukasi masyarakat di sekitar mereka bagaimana cara melindungi diri dari virus corona. “Mereka sekarang ini menjadi duta-duta kesehatan, dan sekalian memberitahu bahwa mereka sehat,” kata Terawan.

Terawan juga menambahkan bahwa 238 WNI itu boleh berada di tengah kerumunan orang tanpa perlu khawatir menularkan virus. “Silakan mau berkerumun dengan mereka. Mereka datang ke acara seperti Java Jazz juga boleh,” ungkapnya.

Terawan mengatakan, bahwa mereka tidak akan memantau lebih lanjut kondisi kesehatan 238 WNI tersebut. Ini sebagai bukti bahwa pemerintah sepenuhnya meyakini mereka bebas dari virus corona.“Tidak ada (tidak ada pemantauan, Red)‎,” katanya.

Terawan menambahkan, mereka yang telah dinyatakan sehat akan diberikan sertifikat. Hal itu sebagai bukti bahwa mereka tidak terkena virus yang berasal dari kelelawar tersebut. “Kami lengkapi sertifikat kesehatan dari hasil pemeriksaan dan pemantauan selama observasi,” katanya.

Terawan berujar, organisasi kesehatan dunia (WHO) juga menyaksikan mereka semuanya dalam keadaan sehat dan tidak terpapar virus yang berasal dari Tiongkok tersebut. “Semua ini disaksikan oleh WHO, sehingga kita sangat terbuka dalam menyampaikan informasi dan tidak ada yang disembunyikan,” ungkapnya.

WHO bahkan ikut mendampingi para WNI saat dilepas ke keluarganya masing-masing. “Dari hasil pemeriksaan pemantauan selama observasi dan tadi saya disertai dengan representatif dari WHO. Jadi teman dari WHO ada bersama-sama dengan saya satu pesawat juga menjemput dan mengantar sampai Halim,” ujar Terawan. (lyn/jbar/pg)

Babak Baru Penanganan Corona di Tanah Air 

JAKARTA – Masa observasi di Pangkalan Terpadu TNI sudah selesai, Sabtu (15/2). Sebanyak 238 warga Indonesia yang dievakuasi dari Hubei, Tiongkok, dapat kembali ke pelukan keluarga. Empat di antaranya adalah warga Kalbar. Namun, pekerjaan rumah tak hanya berhenti ketika semuanya sudah sampai kampung halaman. Kementerian Kesehatan ingin memastikan tak ada stigma buruk terhadap mereka.

Proses pemulangan secara umum berjalan lancar. Pada pukul 15.24, pesawat milik TNI dengan nomor registrasi A-7306 sampai Bandara Halim Perdanakusuma. Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto keluar pertama kali. Diikuti lima pejabat lainnya di belakangnya. Selanjutnya peserta observasi turun mereka melambaikan bandara merah putih.

Dalam pemulangan tersebut ada tiga kali penerbangan. Pesawat Boeing 737-400 itu merupakan yang pertama mendarat. Masih ada satu Boeing dan Herkules yang menyusul selanjutnya.

Di apron Bandara Halim Perdana Kusuma, puluhan pejabat menjemput mereka. Sementara keluarga menunggu di sisi bandara komersil. Peserta karantina seluruhnya keluar dari pintu selatan. Selanjutnya mereka bertemu dengan tim penjemput dari masing-masing pemerintah daerah.

“Tadi saat salaman dengan anak-anaknya, ada yang sampai menangis,” tutur Anggota Komisi IX Kurniasih Mufidayati. Mufida merupakan salah satu pejabat yang turut menjemput.

WNI saat tiba di Bandara Halim, usai menjalani masa karantina di Pulau Natuna selama 14 hari. HARITSAH ALMUDATSIR/ DERY/ JAWA POS

Sayangnya, proses kepulangan peserta observasi tak dibarengi dengan informasi yang jelas. Mufida menemukan ada keluarga yang menunggu di pintu kedatangan Bandara Haim Perdanakusuma. Mereka hanya mengetahui dari pesan yang dikirimkan anaknya kalau penjemputan ada di Bandara Halim Perdanakusuma. Sayangnya sampai bandara, tak ada kejelasan informasi.

“Saya sudah tekankan kepada pemerintah kalau harus ada informasi dan transparansi,” ungkap Mufida. Namun menurutnya hal tersebut tidak terlaksana.

Aprillia, salah satu penjemput menuturkan informasi yang didapat hanya dari anaknya, Harry Yusuf. Dia memang berinisiatif untuk menjemput anaknya itu. Namun, saat sampai bandara, komunikasi tak mudah. Hal ini membuat Aprilia sempat khawatir.

Baca Juga :  Kapolres: Cegah Hoaks

 

Tak Perlu Prosedur Khusus

 

Kepala Dinas Kesehatan Kalbar, Harisson mengatakan empat warga Kalbar yang ikut dalam rombongan dari Pulau Natuna usai karantina, tak perlu lagi melalui prosedur apapun setelah sampai ke daerah. Saat ini status mereka sama dengan orang lain yang sehat.

Keempat warga Kalbar itu dibebaskan untuk kembali ke tempat tinggal masing-masing. Tidak perlu ada pengawalan, penjemputan atau lain sebagainya. Yang jelas mereka sudah dipastikan sehat dan sudah melalui masa karantina di Natuna.

“Tidak perlu, karena mereka orang yang sudah dijamin oleh pemerintah bahwa mereka datang dari Wuhan (Tiongkok) dalam keadaan sehat. Selama dikarantina (di Natuna) juga telah dilakukan pemeriksaan kesehatan setiap hari selama 14 hari dan mereka dinyatakan sehat,” jelas Harisson kepada Pontianak Post, Sabtu (15/2).

Ia berharap masyarakat dapat menerima kepulangan mereka. “Masyarakat diharapkan tidak khawatir dan tetap menerima saudara kita ini dengan baik, karena mereka adalah sudara kita yang sudah dinyatakan tidak terserang corona oleh Pemerintah Tiongkok maupun oleh Pemerintah Indonesia, melalui prosedur pemeriksaan kesehatan dan prosedur karantina yang ketat,” pungkasnya.

Namun, pekerjaan tak berhenti ketika semuanya sudah sampai kampung halaman. Upaya penanggulangan virus corona memasuki babak baru. Kementerian Kesehatan ingin memastikan tak ada stigma buruk. Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Anung Sugihantono mengungkapkan bahwa pihakya sudah mempersiapkan hal tersebut.

Kementerian Kesehatan telah memberikan surat keterangan sehat untuk seluruh peserta observasi. Surat tersebut berdasarkan hasil pemeriksaan selama 14 hari di tempat observasi. “Keredaksiannya berbunyi ‘yang bersangkutan selama 14 hari tidak menunjukkan gejala dan tanda Covid-19,” tutur Anung.

 

Jadi Duta Kesehatan

Menteri Kesehatan, Terawan pun menegaskan bahwa 238 warga Indonesia yang telah menjalani observasi di Natuna dalam keadaan sehat dan tidak terpapar virus corona. “Semuanya sehat. Saya tadi sama-sama mereka satu pesawat,” ujarnya di Halim Perdanakusuma, Sabtu (15/2). Terawan berujar, mereka semuanya telah ditetapkan sebagai duta kesehatan. Hal ini karena mereka sudah tiba di Tanah Air dengan selamat tanpa terpapar virus corona.

Baca Juga :  Satgas Bencana Nasional BUMN Kalbar Serahkan Bantuan 1000 Masker N95 dan 1000 Masker Bedah

Diharapkan, kepulangan mereka bisa ikut mengedukasi masyarakat di sekitar mereka bagaimana cara melindungi diri dari virus corona. “Mereka sekarang ini menjadi duta-duta kesehatan, dan sekalian memberitahu bahwa mereka sehat,” kata Terawan.

Terawan juga menambahkan bahwa 238 WNI itu boleh berada di tengah kerumunan orang tanpa perlu khawatir menularkan virus. “Silakan mau berkerumun dengan mereka. Mereka datang ke acara seperti Java Jazz juga boleh,” ungkapnya.

Terawan mengatakan, bahwa mereka tidak akan memantau lebih lanjut kondisi kesehatan 238 WNI tersebut. Ini sebagai bukti bahwa pemerintah sepenuhnya meyakini mereka bebas dari virus corona.“Tidak ada (tidak ada pemantauan, Red)‎,” katanya.

Terawan menambahkan, mereka yang telah dinyatakan sehat akan diberikan sertifikat. Hal itu sebagai bukti bahwa mereka tidak terkena virus yang berasal dari kelelawar tersebut. “Kami lengkapi sertifikat kesehatan dari hasil pemeriksaan dan pemantauan selama observasi,” katanya.

Terawan berujar, organisasi kesehatan dunia (WHO) juga menyaksikan mereka semuanya dalam keadaan sehat dan tidak terpapar virus yang berasal dari Tiongkok tersebut. “Semua ini disaksikan oleh WHO, sehingga kita sangat terbuka dalam menyampaikan informasi dan tidak ada yang disembunyikan,” ungkapnya.

WHO bahkan ikut mendampingi para WNI saat dilepas ke keluarganya masing-masing. “Dari hasil pemeriksaan pemantauan selama observasi dan tadi saya disertai dengan representatif dari WHO. Jadi teman dari WHO ada bersama-sama dengan saya satu pesawat juga menjemput dan mengantar sampai Halim,” ujar Terawan. (lyn/jbar/pg)

Most Read

Artikel Terbaru

/