alexametrics
26 C
Pontianak
Thursday, June 30, 2022

Terdampak Korona, Ekonomi Indonesia Diprediksi Hanya Tumbuh 4,7 Persen

Ekonom dan juga mantan Menteri Keuangan Periode 2013-2014 Chatib Basri memprediksi pertumbuhan perekonomian Indonesia bakal melambat akibat dampak virus korona. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi bisa menurun drastis dan diperkirakan hanya tumbuh sebesar 4,7 persen.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, pemerintah harus berkaca ketika wabah virus SARS menyerang pada 2003 lalu. Ketika itu, pertumbuhan ekonomi Tiongkok menurun sebesar 2 persen.

“Di 2003 pertumbuhan ekonomi kuartal I Tiongkok turun dari 11 persen ke 9 persen, itu mirip dengan kasus sekarang aktivitas perdagangan berhenti, semua orang nggak travel dan sebagainya,” kata dia di Gedung Pakarti Centre, Jakarta, Selasa (18/2).

Namun, pada kurun waktu Kuartal II, ekonomi Tiongkok mulai membaik dengan meningkat menjadi 10 persen. Kemudian, pada kuartal III dan IV terpantau stabil, secara keseluruhan, pertumbuhan perekonomian Tiongkok ditutup pada 10 persen.

Baca Juga :  Merger 3 Bank Syariah BUMN, Pelayanan Berjalan Normal

“Di kuartal II itu naik menjadi 10 persen, kuartal III dan kuartal IV stabil, jadi whole year pertumbuhan ekonomi Tiongkok karena SARS itu sekitar 10 persen,” ujarnya.

Chatib juga menuturkan pandangannya terkait wabah COVID-2019 yang akan berpengaruh pada perekonomian Indonesia, berdasarkan sensitivitas perhitungan econometrics, 1 persen pertumbuhan ekonomi Tiongkok itu berdampak sekitar 0,1 sampai 0,3 persen terhadap Indonesia.

“Jadi kalau China turunnya 1 persen, mungkin growth kita bisa turun di kisaran 0,1 sampai 0,3 persen. Jadi kalau angka kita terakhir kemarin 5 persen, jadi bisa dibawah 5 persen. Bisa jadi 4,7 sampai 4,9 persen kira-kira range-nya, kalau polanya sama seperti SARS,” terangnya.

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal memprediksi pertumbuham ekonomi Indonesia bergerak dikisaran 4,9 persen. Tahun lalu, pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2019 berada di angka 5,02 persen.

Baca Juga :  PTPN XIII Harap Penegakan Hukum Kasus Pengurusan Izin ISPO

Prediksi melambatnya perekonomuan karena adanya kejadian yang tidak terprediksi, yakni wabah virus korona yang telah menjangkiti beberapa negara.

“Kalau kemudian virus ini berlangsung secara lama, ini akan mengarah pada potensi pertumbuhan 4,9 persen,” ucap dalam Outlook Ekonomi dan Perdagangan 2020 di Gedung Kemendag, Jakarta, Selasa (11/2).

Editor : Mohamad Nur Asikin

Reporter : Saifan Zaking

Ekonom dan juga mantan Menteri Keuangan Periode 2013-2014 Chatib Basri memprediksi pertumbuhan perekonomian Indonesia bakal melambat akibat dampak virus korona. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi bisa menurun drastis dan diperkirakan hanya tumbuh sebesar 4,7 persen.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, pemerintah harus berkaca ketika wabah virus SARS menyerang pada 2003 lalu. Ketika itu, pertumbuhan ekonomi Tiongkok menurun sebesar 2 persen.

“Di 2003 pertumbuhan ekonomi kuartal I Tiongkok turun dari 11 persen ke 9 persen, itu mirip dengan kasus sekarang aktivitas perdagangan berhenti, semua orang nggak travel dan sebagainya,” kata dia di Gedung Pakarti Centre, Jakarta, Selasa (18/2).

Namun, pada kurun waktu Kuartal II, ekonomi Tiongkok mulai membaik dengan meningkat menjadi 10 persen. Kemudian, pada kuartal III dan IV terpantau stabil, secara keseluruhan, pertumbuhan perekonomian Tiongkok ditutup pada 10 persen.

Baca Juga :  Rancang Regulasi Lindungi Industri Media

“Di kuartal II itu naik menjadi 10 persen, kuartal III dan kuartal IV stabil, jadi whole year pertumbuhan ekonomi Tiongkok karena SARS itu sekitar 10 persen,” ujarnya.

Chatib juga menuturkan pandangannya terkait wabah COVID-2019 yang akan berpengaruh pada perekonomian Indonesia, berdasarkan sensitivitas perhitungan econometrics, 1 persen pertumbuhan ekonomi Tiongkok itu berdampak sekitar 0,1 sampai 0,3 persen terhadap Indonesia.

“Jadi kalau China turunnya 1 persen, mungkin growth kita bisa turun di kisaran 0,1 sampai 0,3 persen. Jadi kalau angka kita terakhir kemarin 5 persen, jadi bisa dibawah 5 persen. Bisa jadi 4,7 sampai 4,9 persen kira-kira range-nya, kalau polanya sama seperti SARS,” terangnya.

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal memprediksi pertumbuham ekonomi Indonesia bergerak dikisaran 4,9 persen. Tahun lalu, pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2019 berada di angka 5,02 persen.

Baca Juga :  Perekonomian Kalbar Terus Membaik

Prediksi melambatnya perekonomuan karena adanya kejadian yang tidak terprediksi, yakni wabah virus korona yang telah menjangkiti beberapa negara.

“Kalau kemudian virus ini berlangsung secara lama, ini akan mengarah pada potensi pertumbuhan 4,9 persen,” ucap dalam Outlook Ekonomi dan Perdagangan 2020 di Gedung Kemendag, Jakarta, Selasa (11/2).

Editor : Mohamad Nur Asikin

Reporter : Saifan Zaking

Most Read

Artikel Terbaru

/