alexametrics
25.6 C
Pontianak
Tuesday, August 16, 2022

Ada Tinggalan Kolonialisme yang Tak Berakhir setelah Kemerdekaan

Nun di Hamburg, Katrin Bandel memilih jurusan yang mempertemukannya dengan Indonesia gara-gara cerita sang ayah tentang Bali. Agak menepikan sastra dulu dan kini memilih mencurahkan perhatian ke kajian gender pascakolonial.

BAGUS PUTRA PAMUNGKAS, Jogjakarta

SEMUA berawal dari keheranan. Mengapa orang Indonesia lebih menaruh hormat kepada warga Barat? Mengapa orang Barat selalu dianggap lebih pintar? Katrin Bandel yang datang dari Jerman pun meneliti apa yang memicu keheranannya tersebut. Sampai akhirnya pada 2017 terbitlah buku dengan judul: Kajian Gender dalam Konteks Pascakolonial.

Ternyata, inferioritas di hadapan Barat itu tertanam sejak kedatangan Belanda pada 1596. Yang kemudian terbawa bahkan setelah Belanda angkat kaki dari Indonesia (meski sesudah 1945 mereka dua kali melakukan agresi militer dan baru melakukan ”penyerahan kedaulatan” pada 1949) berakhir pada 1942.

Belum lagi soal isu gender yang saat ini masih dipengaruhi era kolonial. Pada masa penjajahan, wanita diperlakukan lebih buruk ketimbang laki-laki. ”Zaman kolonial, argumen soal perempuan yang belum pantas mendapat perlakuan setara laki-laki terus direproduksi,” ungkap dosen Program Magister Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma Jogjakarta itu.

Lahir dan besar di Jerman, Katrin tahu sekali bahwa stigma itu masih menancap kuat di Barat. ”Bagi mereka, perempuan di negara ketiga belum maju dan harus dibantu,” tambahnya.

Padahal, kini kaum hawa sudah mendapat kesetaraan dalam berbagai hal. Mulai pendidikan hingga posisi dalam pekerjaan.

Meski memang ada ”pengecualian” di sana sini. Katrin mencontohkan kehidupan wanita di kota-kota metropolitan dengan di daerah. Wanita dari kota seperti Jakarta lebih beruntung karena diperlakukan setara dengan pria. ”Tapi, bukan berarti apa yang diterapkan wanita Jakarta bisa dilakukan pada wanita daerah. Semua punya porsi masing-masing,” ungkap wanita yang memilih mualaf pada 2016 itu.

Baca Juga :  Model Kemitraan Agribisnis Closed Loop dalam Ekosistem Digital Tingkatkan Kesejahteraan Petani

Begitu pula mereka yang berada di Barat yang menganggap perempuan dunia ketiga, termasuk Indonesia, harus segera dibantu. ”Kalaupun membantu, feminis Barat tidak bisa langsung mengatakan ini benar atau itu salah. Tidak bisa dengan sikap menggurui. Kebutuhan wanita di Indonesia dengan di Amerika (Serikat) pasti berbeda,” jelas Katrin.

Problem-problem itulah yang masih didapati Katrin. Menurut dia, Indonesia boleh saja sudah merdeka. Kemudian lepas dari jajahan Belanda, termasuk Jepang. ”Tapi, ada masalah yang tidak langsung berakhir dengan diraihnya kemerdekaan. Stigma pikiran yang minder kepada warga Barat atau soal kesetaraan gender yang harus dibenahi,” katanya.

Itu memang bukan hanya problem khas Indonesia. ”Beberapa negara yang pernah mengalami era kolonialisme juga demikian,” terang wanita kelahiran 29 Desember 1972 tersebut.

Pada titik itulah perhatian Katrin kini terfokus. Dia sering menulis soal kesetaraan gender, termasuk soal religi atau agama.

Penulis buku Sastra Kolonialisme Pascakolonialitas itu ingin memberitahukan: orang Indonesia bisa saja lebih pintar daripada warga Barat dan perempuan bisa meraih apa saja yang dicita-citakan. ”Sebenarnya negara bukan belum maju. Tapi, semua negara bekas kolonial belum tahu cara mengatasi kondisi seperti itu,” terang wanita yang lahir di kota kecil di Jerman, Wuppertal, itu.

Saking pedulinya dengan kehidupan pascakolonial, Katrin sampai agak menepikan dulu sastra. Padahal, sebelumnya, Katrin lebih dikenal karena menelurkan banyak karya terkait dengan sastra Indonesia.

Salah satu karya pentingnya adalah Sastra, Perempuan, Seks. Pada buku terbitan 2006 itu, dia menulis beda antara ”penulis perempuan” dan ”perempuan penulis”.

Baca Juga :  Pemerintah Optimis Tak Ada Kasus Baru PMK Mulai Akhir Tahun

Katrin mengenal Indonesia saat kuliah di Universitas Hamburg, Jerman, pada 1992. Dia memilih jurusan yang tidak diminati banyak mahasiswa saat itu: kajian Austronesia.

Pilihan itu mempertemukannya dengan budaya Malaysia, Filipina, dan beberapa negara Asia-Pasifik lainnya. ”Tapi, lebih fokusnya ke budaya Indonesia. Bisa dibilang agak ngawur aku ambil jurusan itu,” jelas Katrin, lantas tertawa.

Adalah sang ayah, Klaus Bandel, yang membuat Katrin terjerumus ke jurusan itu. Klaus adalah seorang ahli paleontologi.

Tepat sebelum Katrin masuk kuliah, sang ayah mendapat tugas di Bali. Meneliti soal fosil di perairan Pulau Dewata. ”Begitu pulang ke Jerman, ayah saya bercerita banyak tentang kebudayaan di Bali. Saya yang dasarnya memang suka budaya kemudian merasa tertarik,” kenangnya.

Setelah kuliah, Katrin malah merasa lebih cocok dengan sastra Indonesia. Pada 1995, dia mendapat beasiswa di Universitas Udayana, Denpasar.

Selesai kuliah 1999, dia memilih menetap di Bali. Lantas bertemu dengan sastrawan Saut Situmorang dan menikah pada 2002.

Dari Saut-lah Katrin banyak belajar. Termasuk mulai bertemu dengan sastrawan-sastrawan lain. ”Secara otomatis saya masuk langsung ke dunia sastra Indonesia. Tahu siapa tokoh-tokoh berpengaruh. Saya mendapat banyak akses. Jadi, lebih banyak referensi untuk menulis,” jelas anak pertama di antara dua bersaudara tersebut.

Setelah itu, Katrin menetap di Jogjakarta. Tapi, dia masih harus bolak-balik ke Hamburg. Sebab, saat itu dia tengah menyelesaikan gelar doktor dalam bidang sastra Indonesia.

Dia lulus pada 2004 dengan disertasi berjudul Pengobatan dan Ilmu Gaib dalam Prosa Modern Indonesia. Setelah meraih gelar doktor, Katrin diterima sebagai dosen di Universitas Sanata Dharma Jogjakarta pada akhir 2004 yang digeluti sampai saat ini.*

Nun di Hamburg, Katrin Bandel memilih jurusan yang mempertemukannya dengan Indonesia gara-gara cerita sang ayah tentang Bali. Agak menepikan sastra dulu dan kini memilih mencurahkan perhatian ke kajian gender pascakolonial.

BAGUS PUTRA PAMUNGKAS, Jogjakarta

SEMUA berawal dari keheranan. Mengapa orang Indonesia lebih menaruh hormat kepada warga Barat? Mengapa orang Barat selalu dianggap lebih pintar? Katrin Bandel yang datang dari Jerman pun meneliti apa yang memicu keheranannya tersebut. Sampai akhirnya pada 2017 terbitlah buku dengan judul: Kajian Gender dalam Konteks Pascakolonial.

Ternyata, inferioritas di hadapan Barat itu tertanam sejak kedatangan Belanda pada 1596. Yang kemudian terbawa bahkan setelah Belanda angkat kaki dari Indonesia (meski sesudah 1945 mereka dua kali melakukan agresi militer dan baru melakukan ”penyerahan kedaulatan” pada 1949) berakhir pada 1942.

Belum lagi soal isu gender yang saat ini masih dipengaruhi era kolonial. Pada masa penjajahan, wanita diperlakukan lebih buruk ketimbang laki-laki. ”Zaman kolonial, argumen soal perempuan yang belum pantas mendapat perlakuan setara laki-laki terus direproduksi,” ungkap dosen Program Magister Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma Jogjakarta itu.

Lahir dan besar di Jerman, Katrin tahu sekali bahwa stigma itu masih menancap kuat di Barat. ”Bagi mereka, perempuan di negara ketiga belum maju dan harus dibantu,” tambahnya.

Padahal, kini kaum hawa sudah mendapat kesetaraan dalam berbagai hal. Mulai pendidikan hingga posisi dalam pekerjaan.

Meski memang ada ”pengecualian” di sana sini. Katrin mencontohkan kehidupan wanita di kota-kota metropolitan dengan di daerah. Wanita dari kota seperti Jakarta lebih beruntung karena diperlakukan setara dengan pria. ”Tapi, bukan berarti apa yang diterapkan wanita Jakarta bisa dilakukan pada wanita daerah. Semua punya porsi masing-masing,” ungkap wanita yang memilih mualaf pada 2016 itu.

Baca Juga :  TB Scan, Teknologi Baru Diagnosis Tuberkulosis Berbasis Nuklir

Begitu pula mereka yang berada di Barat yang menganggap perempuan dunia ketiga, termasuk Indonesia, harus segera dibantu. ”Kalaupun membantu, feminis Barat tidak bisa langsung mengatakan ini benar atau itu salah. Tidak bisa dengan sikap menggurui. Kebutuhan wanita di Indonesia dengan di Amerika (Serikat) pasti berbeda,” jelas Katrin.

Problem-problem itulah yang masih didapati Katrin. Menurut dia, Indonesia boleh saja sudah merdeka. Kemudian lepas dari jajahan Belanda, termasuk Jepang. ”Tapi, ada masalah yang tidak langsung berakhir dengan diraihnya kemerdekaan. Stigma pikiran yang minder kepada warga Barat atau soal kesetaraan gender yang harus dibenahi,” katanya.

Itu memang bukan hanya problem khas Indonesia. ”Beberapa negara yang pernah mengalami era kolonialisme juga demikian,” terang wanita kelahiran 29 Desember 1972 tersebut.

Pada titik itulah perhatian Katrin kini terfokus. Dia sering menulis soal kesetaraan gender, termasuk soal religi atau agama.

Penulis buku Sastra Kolonialisme Pascakolonialitas itu ingin memberitahukan: orang Indonesia bisa saja lebih pintar daripada warga Barat dan perempuan bisa meraih apa saja yang dicita-citakan. ”Sebenarnya negara bukan belum maju. Tapi, semua negara bekas kolonial belum tahu cara mengatasi kondisi seperti itu,” terang wanita yang lahir di kota kecil di Jerman, Wuppertal, itu.

Saking pedulinya dengan kehidupan pascakolonial, Katrin sampai agak menepikan dulu sastra. Padahal, sebelumnya, Katrin lebih dikenal karena menelurkan banyak karya terkait dengan sastra Indonesia.

Salah satu karya pentingnya adalah Sastra, Perempuan, Seks. Pada buku terbitan 2006 itu, dia menulis beda antara ”penulis perempuan” dan ”perempuan penulis”.

Baca Juga :  Bank Kalbar Raih Penghargaan Infobank TOP BUMD Awards 2021

Katrin mengenal Indonesia saat kuliah di Universitas Hamburg, Jerman, pada 1992. Dia memilih jurusan yang tidak diminati banyak mahasiswa saat itu: kajian Austronesia.

Pilihan itu mempertemukannya dengan budaya Malaysia, Filipina, dan beberapa negara Asia-Pasifik lainnya. ”Tapi, lebih fokusnya ke budaya Indonesia. Bisa dibilang agak ngawur aku ambil jurusan itu,” jelas Katrin, lantas tertawa.

Adalah sang ayah, Klaus Bandel, yang membuat Katrin terjerumus ke jurusan itu. Klaus adalah seorang ahli paleontologi.

Tepat sebelum Katrin masuk kuliah, sang ayah mendapat tugas di Bali. Meneliti soal fosil di perairan Pulau Dewata. ”Begitu pulang ke Jerman, ayah saya bercerita banyak tentang kebudayaan di Bali. Saya yang dasarnya memang suka budaya kemudian merasa tertarik,” kenangnya.

Setelah kuliah, Katrin malah merasa lebih cocok dengan sastra Indonesia. Pada 1995, dia mendapat beasiswa di Universitas Udayana, Denpasar.

Selesai kuliah 1999, dia memilih menetap di Bali. Lantas bertemu dengan sastrawan Saut Situmorang dan menikah pada 2002.

Dari Saut-lah Katrin banyak belajar. Termasuk mulai bertemu dengan sastrawan-sastrawan lain. ”Secara otomatis saya masuk langsung ke dunia sastra Indonesia. Tahu siapa tokoh-tokoh berpengaruh. Saya mendapat banyak akses. Jadi, lebih banyak referensi untuk menulis,” jelas anak pertama di antara dua bersaudara tersebut.

Setelah itu, Katrin menetap di Jogjakarta. Tapi, dia masih harus bolak-balik ke Hamburg. Sebab, saat itu dia tengah menyelesaikan gelar doktor dalam bidang sastra Indonesia.

Dia lulus pada 2004 dengan disertasi berjudul Pengobatan dan Ilmu Gaib dalam Prosa Modern Indonesia. Setelah meraih gelar doktor, Katrin diterima sebagai dosen di Universitas Sanata Dharma Jogjakarta pada akhir 2004 yang digeluti sampai saat ini.*

Most Read

Artikel Terbaru

/