alexametrics
25 C
Pontianak
Friday, May 20, 2022

Imunisasi Dasar di Pontianak Capai 60 Persen

PONTIANAK – Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Sidiq Handanu mengungkapkan, capaian vaksinasi imunisasi dasar lengkap di tahun lalu baru mencapai 60 persen. Capaian tersebut dipandang masih belum terekspektasi dan harus dikebut agar sesuai target. Kendala rendahnya vaksinasi imunisasi dasar disebabkan karena situasi Pontianak yang masih dalam penanganan pandemi covid-19.

“Untuk 2021 capaian kita (Dinkes Pontianak) masih di bawah 60 persen khusus imunisasi dasar lengkap. Harus ada upaya untuk mengejar baik melalui bulan imunisasi anak sekolah dan lainnya,” ujar Sidiq Handanu, kemarin.

Jika dilihat dari capaian imunisasi anak selama ini masih rendah. Bahkan target 80 persen imunisasi dasar belum mampu dicapai Dinkes Pontianak. Padahal dalam upaya mengejar 80 persen target vaksinasi imunisasi dasar pada anak. Pihaknya sudah melakukan kesiapan. Mulai dari aspek pelayanan dari tenaga, stok vaksin hingga jadwal vaksin sudah dibuat.

Namun kenyataan, ketika pelaksanaan vaksin di lapangan memang belum sesuai harapan. Angkanya masih kecil. Kendalanya bermacam. Bahkan tak ditutupi Sidiq, beberapa masyarakat justru masih tak percaya dengan vaksin.

Baca Juga :  Cegah Difteri dengan Imunisasi

Padahal vaksin sangat penting. Karena ada beberapa penyakit yang formulanya adalah imunisasi.

“Imunisasi merupakan upaya penting dalam mencegah penyebaran penyakit menular yang bisa diantisipasi dengan imunisasi,” ujarnya.

Ia melanjutkan belum tercapainya vaksinasi imunisasi dasar pada anak, salah satunya karena kurun dua tahun ke belakang Pontianak masih dirundung covid. Sehingga para tenaga kesehatan masih berjibaku dalam penanganan Covid.Dengan menurunnya kasus covid 19 pihaknya akan menggencarkan vaksinasi. Terutama dengan momentum bulan vaksinasi nasional. Sehingga diharapkan bisa mengejar ketertinggalan selama pandemi covid 19.

“Untuk mendapatkan vaksin, bisa dimana saja. Mulai di puskemas, fasilitas kesehatan swasta, bidan hingga rumah sakit. Nanti semua laporannya akan terhimpun di Dinkes,” katanya.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Kalimantan Barat mengimbau para orangtua membawa anaknya ke Posyandu untuk melakukan penyuntikan imunisasi.

Ketua IDAI Kalimantan Barat, James L. Alvin Sinaga mengatakan anak yang diimunisasi memperoleh kesehatan lebih baik dari yang tidak.

“Imbauan saya agar para orangtua datang ke posyandu, untuk penyuntikan imunisasi pada,” kata Alvin di Pontianak, kemarin.

Baca Juga :  Cegah Pesebaran Covid-19, Jakarta Siap Karantina Wilayah, Tutup Tol hingga Jalur Tikus

Ia menyampaikan itu berkaitan dengan Bulan Imunisasi Anak Nasional (BIAN) pada tahun 2022. Seperti diketahui pandemi Covid-19 mengakibatkan pelaksanaan imunisasi rutin tidak dapat berjalan optimal.

Dampaknya terjadi penurunan cakupan imunisasi yang dapat dilihat dari Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) seperti Campak, Rubella dan Difteri.

Sementara itu dilanjutkan Alvin, Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) merupakan reaksi medis yang muncul setelah imunisasi. Menurutnya KIPI ini bisa saja disebabkan efek dari suntikan vaksin atau bukan.

Lanjut Alvin, jika terjadi karena efek dari vaksin maka disebabkan antigen yang di dalamnya. Diketahui antigen itu menimbulkan reaksi yang bisa menyebabkan demam, badak tidak enak, ruam-ruam merah karena reaksi alergi.

“Bahkan bisa hal yang lebih berat, seperti anafilaksis dan itu semua karena zat di dalam vaksin,” kata Alvin. Ia mengingatkan untuk segera melapor ke petugas yang memvaksin jika mengalami KIPI pasca dilakukan imunisasi. (mse/iza)

PONTIANAK – Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Sidiq Handanu mengungkapkan, capaian vaksinasi imunisasi dasar lengkap di tahun lalu baru mencapai 60 persen. Capaian tersebut dipandang masih belum terekspektasi dan harus dikebut agar sesuai target. Kendala rendahnya vaksinasi imunisasi dasar disebabkan karena situasi Pontianak yang masih dalam penanganan pandemi covid-19.

“Untuk 2021 capaian kita (Dinkes Pontianak) masih di bawah 60 persen khusus imunisasi dasar lengkap. Harus ada upaya untuk mengejar baik melalui bulan imunisasi anak sekolah dan lainnya,” ujar Sidiq Handanu, kemarin.

Jika dilihat dari capaian imunisasi anak selama ini masih rendah. Bahkan target 80 persen imunisasi dasar belum mampu dicapai Dinkes Pontianak. Padahal dalam upaya mengejar 80 persen target vaksinasi imunisasi dasar pada anak. Pihaknya sudah melakukan kesiapan. Mulai dari aspek pelayanan dari tenaga, stok vaksin hingga jadwal vaksin sudah dibuat.

Namun kenyataan, ketika pelaksanaan vaksin di lapangan memang belum sesuai harapan. Angkanya masih kecil. Kendalanya bermacam. Bahkan tak ditutupi Sidiq, beberapa masyarakat justru masih tak percaya dengan vaksin.

Baca Juga :  Kru Sriwijaya Air Antar Jasad Pilot ke Pemakaman

Padahal vaksin sangat penting. Karena ada beberapa penyakit yang formulanya adalah imunisasi.

“Imunisasi merupakan upaya penting dalam mencegah penyebaran penyakit menular yang bisa diantisipasi dengan imunisasi,” ujarnya.

Ia melanjutkan belum tercapainya vaksinasi imunisasi dasar pada anak, salah satunya karena kurun dua tahun ke belakang Pontianak masih dirundung covid. Sehingga para tenaga kesehatan masih berjibaku dalam penanganan Covid.Dengan menurunnya kasus covid 19 pihaknya akan menggencarkan vaksinasi. Terutama dengan momentum bulan vaksinasi nasional. Sehingga diharapkan bisa mengejar ketertinggalan selama pandemi covid 19.

“Untuk mendapatkan vaksin, bisa dimana saja. Mulai di puskemas, fasilitas kesehatan swasta, bidan hingga rumah sakit. Nanti semua laporannya akan terhimpun di Dinkes,” katanya.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Kalimantan Barat mengimbau para orangtua membawa anaknya ke Posyandu untuk melakukan penyuntikan imunisasi.

Ketua IDAI Kalimantan Barat, James L. Alvin Sinaga mengatakan anak yang diimunisasi memperoleh kesehatan lebih baik dari yang tidak.

“Imbauan saya agar para orangtua datang ke posyandu, untuk penyuntikan imunisasi pada,” kata Alvin di Pontianak, kemarin.

Baca Juga :  Omicron Berpotensi Kuasai Dunia, Dalam Tempo Tiga Sampai Enam Bulan

Ia menyampaikan itu berkaitan dengan Bulan Imunisasi Anak Nasional (BIAN) pada tahun 2022. Seperti diketahui pandemi Covid-19 mengakibatkan pelaksanaan imunisasi rutin tidak dapat berjalan optimal.

Dampaknya terjadi penurunan cakupan imunisasi yang dapat dilihat dari Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) seperti Campak, Rubella dan Difteri.

Sementara itu dilanjutkan Alvin, Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) merupakan reaksi medis yang muncul setelah imunisasi. Menurutnya KIPI ini bisa saja disebabkan efek dari suntikan vaksin atau bukan.

Lanjut Alvin, jika terjadi karena efek dari vaksin maka disebabkan antigen yang di dalamnya. Diketahui antigen itu menimbulkan reaksi yang bisa menyebabkan demam, badak tidak enak, ruam-ruam merah karena reaksi alergi.

“Bahkan bisa hal yang lebih berat, seperti anafilaksis dan itu semua karena zat di dalam vaksin,” kata Alvin. Ia mengingatkan untuk segera melapor ke petugas yang memvaksin jika mengalami KIPI pasca dilakukan imunisasi. (mse/iza)

Most Read

Artikel Terbaru

/