alexametrics
25 C
Pontianak
Sunday, May 22, 2022

Ekonom Sebut Pengucuran Kredit Picu Pemulihan Ekonomi

BANDUNG- Pemulihan dan akselerasi pertumbuhan ekonomi di Indonesia pada tahun 2021 akan dipengaruhi pengucuran kredit ke pelaku usaha.

Ekonom dari Unpad, Aldrin Herwany menambahkan, jika hanya mengandalkan dana APBN dan dana Bank Indonesia, maka pemulihan ekonomi menjadi tidak optimal.

Ia melanjutkan, pengucuran kredit menjadi faktor pendorong pemulihan. Terlebih lagi saat ini suku bunga sudah turun dan permintaan kredit tinggi. Namun sayangnya, suplai dari kredit masih sangat rendah.

Salah satu penyebabnya karena perbankan masih melihat risiko yang tinggi saat memberi kredit ke pelaku usaha.

Ia mengaku telah melakukan survei terhadap 50-70 debitur kelas menengah ke atas dan merupakan nasabah eksisting bank yang berkategori lancar pembayaran cicilan kreditnya, namun mendapatkan penolakan secara halus dari bank atas pengajuan kredit modal kerjanya.

Baca Juga :  Pengusaha Sumbang Rp2 Triliun Bantu Penanganan Covid-19

Menurut Aldrin, pelaku usaha khususnya korporasi, dalam kondisi seperti ini banyak yang memerlukan kredit modal kerja untuk mempertahankan keberlangsungan operasional dalam menghindari pemutusan hubungan kerja (PHK).

Bank memberikan persyaratan kredit yang lebih berat dan tidak biasa seperti pada saat kondisi sebelum pandemi Covid-19, sehingga pada akhirnya debitur mundur teratur dan pada akhirnya kredit tidak tumbuh.

Kondisi tersebut, lanjutnya, karena masih berbedanya persepsi terkait risiko dan kondisi ekonomi saat ini antara pemerintah, Bank Indonesia, dengan perbankan.

Untuk itu, semua pemangku kepentingan baik pemerintah, BI, OJK, LPS, dan perbankan harus sering-sering duduk bersama mendiskusikan dan menyamakan persepsi, bisa melalui focus group discussion (FGD) atau pertemuan lainnya. (ant)

Baca Juga :  Benarkah Ancaman Denda Penggunaan Masker Tanpa SNI?

BANDUNG- Pemulihan dan akselerasi pertumbuhan ekonomi di Indonesia pada tahun 2021 akan dipengaruhi pengucuran kredit ke pelaku usaha.

Ekonom dari Unpad, Aldrin Herwany menambahkan, jika hanya mengandalkan dana APBN dan dana Bank Indonesia, maka pemulihan ekonomi menjadi tidak optimal.

Ia melanjutkan, pengucuran kredit menjadi faktor pendorong pemulihan. Terlebih lagi saat ini suku bunga sudah turun dan permintaan kredit tinggi. Namun sayangnya, suplai dari kredit masih sangat rendah.

Salah satu penyebabnya karena perbankan masih melihat risiko yang tinggi saat memberi kredit ke pelaku usaha.

Ia mengaku telah melakukan survei terhadap 50-70 debitur kelas menengah ke atas dan merupakan nasabah eksisting bank yang berkategori lancar pembayaran cicilan kreditnya, namun mendapatkan penolakan secara halus dari bank atas pengajuan kredit modal kerjanya.

Baca Juga :  Beri Penghargaan KUR, Menko Airlangga Sebut Pemulihan UMKM Jadi Program Utama

Menurut Aldrin, pelaku usaha khususnya korporasi, dalam kondisi seperti ini banyak yang memerlukan kredit modal kerja untuk mempertahankan keberlangsungan operasional dalam menghindari pemutusan hubungan kerja (PHK).

Bank memberikan persyaratan kredit yang lebih berat dan tidak biasa seperti pada saat kondisi sebelum pandemi Covid-19, sehingga pada akhirnya debitur mundur teratur dan pada akhirnya kredit tidak tumbuh.

Kondisi tersebut, lanjutnya, karena masih berbedanya persepsi terkait risiko dan kondisi ekonomi saat ini antara pemerintah, Bank Indonesia, dengan perbankan.

Untuk itu, semua pemangku kepentingan baik pemerintah, BI, OJK, LPS, dan perbankan harus sering-sering duduk bersama mendiskusikan dan menyamakan persepsi, bisa melalui focus group discussion (FGD) atau pertemuan lainnya. (ant)

Baca Juga :  Paus Tutul Lepas Dari Jeratan Maut, Lambaikan Ekor Ungkapan Terima Kasih

Most Read

Artikel Terbaru

/