28.9 C
Pontianak
Tuesday, March 28, 2023

Ekonom Sebut Pengucuran Kredit Picu Pemulihan Ekonomi

BANDUNG- Pemulihan dan akselerasi pertumbuhan ekonomi di Indonesia pada tahun 2021 akan dipengaruhi pengucuran kredit ke pelaku usaha.

Ekonom dari Unpad, Aldrin Herwany menambahkan, jika hanya mengandalkan dana APBN dan dana Bank Indonesia, maka pemulihan ekonomi menjadi tidak optimal.

Ia melanjutkan, pengucuran kredit menjadi faktor pendorong pemulihan. Terlebih lagi saat ini suku bunga sudah turun dan permintaan kredit tinggi. Namun sayangnya, suplai dari kredit masih sangat rendah.

Salah satu penyebabnya karena perbankan masih melihat risiko yang tinggi saat memberi kredit ke pelaku usaha.

Ia mengaku telah melakukan survei terhadap 50-70 debitur kelas menengah ke atas dan merupakan nasabah eksisting bank yang berkategori lancar pembayaran cicilan kreditnya, namun mendapatkan penolakan secara halus dari bank atas pengajuan kredit modal kerjanya.

Baca Juga :  Kecelakaan Maut Truk Tangki Tewaskan Belasan Orang

Menurut Aldrin, pelaku usaha khususnya korporasi, dalam kondisi seperti ini banyak yang memerlukan kredit modal kerja untuk mempertahankan keberlangsungan operasional dalam menghindari pemutusan hubungan kerja (PHK).

Bank memberikan persyaratan kredit yang lebih berat dan tidak biasa seperti pada saat kondisi sebelum pandemi Covid-19, sehingga pada akhirnya debitur mundur teratur dan pada akhirnya kredit tidak tumbuh.

Kondisi tersebut, lanjutnya, karena masih berbedanya persepsi terkait risiko dan kondisi ekonomi saat ini antara pemerintah, Bank Indonesia, dengan perbankan.

Untuk itu, semua pemangku kepentingan baik pemerintah, BI, OJK, LPS, dan perbankan harus sering-sering duduk bersama mendiskusikan dan menyamakan persepsi, bisa melalui focus group discussion (FGD) atau pertemuan lainnya. (ant)

Baca Juga :  Undang Natal, Muhaimin Kunjungi Kardinal Suharyo

BANDUNG- Pemulihan dan akselerasi pertumbuhan ekonomi di Indonesia pada tahun 2021 akan dipengaruhi pengucuran kredit ke pelaku usaha.

Ekonom dari Unpad, Aldrin Herwany menambahkan, jika hanya mengandalkan dana APBN dan dana Bank Indonesia, maka pemulihan ekonomi menjadi tidak optimal.

Ia melanjutkan, pengucuran kredit menjadi faktor pendorong pemulihan. Terlebih lagi saat ini suku bunga sudah turun dan permintaan kredit tinggi. Namun sayangnya, suplai dari kredit masih sangat rendah.

Salah satu penyebabnya karena perbankan masih melihat risiko yang tinggi saat memberi kredit ke pelaku usaha.

Ia mengaku telah melakukan survei terhadap 50-70 debitur kelas menengah ke atas dan merupakan nasabah eksisting bank yang berkategori lancar pembayaran cicilan kreditnya, namun mendapatkan penolakan secara halus dari bank atas pengajuan kredit modal kerjanya.

Baca Juga :  Ajang F1 Powerboat Sukses Digelar dengan Layanan Listrik PLN Tanpa Kedip

Menurut Aldrin, pelaku usaha khususnya korporasi, dalam kondisi seperti ini banyak yang memerlukan kredit modal kerja untuk mempertahankan keberlangsungan operasional dalam menghindari pemutusan hubungan kerja (PHK).

Bank memberikan persyaratan kredit yang lebih berat dan tidak biasa seperti pada saat kondisi sebelum pandemi Covid-19, sehingga pada akhirnya debitur mundur teratur dan pada akhirnya kredit tidak tumbuh.

Kondisi tersebut, lanjutnya, karena masih berbedanya persepsi terkait risiko dan kondisi ekonomi saat ini antara pemerintah, Bank Indonesia, dengan perbankan.

Untuk itu, semua pemangku kepentingan baik pemerintah, BI, OJK, LPS, dan perbankan harus sering-sering duduk bersama mendiskusikan dan menyamakan persepsi, bisa melalui focus group discussion (FGD) atau pertemuan lainnya. (ant)

Baca Juga :  Kementan Perluas Lahan Food Estate di Kalteng hingga 82 Ribu Hektare

Most Read

Artikel Terbaru