alexametrics
32 C
Pontianak
Thursday, August 11, 2022

Kolom Erupsi Merapi Enam Ribu Meter

JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan, berdasarkan data Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Gunung Merapi mengalami erupsi dengan ketinggian kolom mencapai 6.000 meter dari puncak pada pukul 09.13 WIB, Minggu (21/6). Erupsi kedua terjadi berselang 14 menit kemudian.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Raditya Jati menuturkan, erupsi Gunung Merapi tercatat pada seismogram dengan amplitudo 75 milimeter dan durasi 328 detik. Saat erupsi pertama terjadi arah angin menuju barat.

“Sedangkan pada erupsi kedua, amplitudo termonitor 75 mm dan durasi 100 detik. Tinggi kolom saat eruspi kedua ini tidak teramati,” kata Raditya dalam keterangannya, Minggu (21/6).

Baca Juga :  Merapi Bakal Terus Erupsi

Raditya menjelaskan, sebaran hujan abu vulkanik erupsi Gunung Merapi yang terpantau pada pukul 09.56 WIB terjadi di beberapa desa pada dua Kecamatan. Diantaranya Kecamatan Srumbung dan Kecamatan Dukun.

“Berdasarkan Volcano Observatory Notice for Aviation (VONA) atau notifikasi penerbangan menunjukkan kode warna merah,” ucap Raditya.

Notifikasi tersebut, lanjut Raditya, merujuk pada erupsi yang terjadi pada pukul 09.13 WIB dan 09.27 WIB. Warna merah berarti ketinggian letusan sudah lebih dari 6.000 meter di atas permukaan laut.

“VONA digunakan sebagai peringatan dini ketika terjadi erupsi gunung untuk keamanan penerbangan,” bebernya.

Bahkan, kata Raditya, beberapa desa terpantau abu vulkanik turun cukup deras, seperti di Desa Kemiren, Srumbung dan Banyuadem. Kini, Gunung Merapi berstatus level II atau waspada. “Karakter gunung dengan status tersebut, BPPTKG merekomendasikan masyarakat agar mengantisipasi bahaya abu vulkanik dari kejadian awan panas maupun letusan eksplosif,” ungkap Raditya.

Baca Juga :  Pengamat SMRC: Tingkat Kepuasan Publik Terhadap Pemerintah Meningkat

Oleh karena itu, masyarakat diharapkan untuk mewaspadai bahaya lahar, terutama saat terjadi hujan di sekitar puncak. Selain itu, tidak ada aktivitas manusia pada radius 3 kilometer dari puncak Gunung Merapi.

“Pada level itu, potensi ancaman bahaya berupa luncuran awan panas dan runtuhnya kubah lava dan jatuhan material vulkanik dari letusan eksplosif,” pungkasnya. (*)

JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan, berdasarkan data Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Gunung Merapi mengalami erupsi dengan ketinggian kolom mencapai 6.000 meter dari puncak pada pukul 09.13 WIB, Minggu (21/6). Erupsi kedua terjadi berselang 14 menit kemudian.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Raditya Jati menuturkan, erupsi Gunung Merapi tercatat pada seismogram dengan amplitudo 75 milimeter dan durasi 328 detik. Saat erupsi pertama terjadi arah angin menuju barat.

“Sedangkan pada erupsi kedua, amplitudo termonitor 75 mm dan durasi 100 detik. Tinggi kolom saat eruspi kedua ini tidak teramati,” kata Raditya dalam keterangannya, Minggu (21/6).

Baca Juga :  Merapi Bakal Terus Erupsi

Raditya menjelaskan, sebaran hujan abu vulkanik erupsi Gunung Merapi yang terpantau pada pukul 09.56 WIB terjadi di beberapa desa pada dua Kecamatan. Diantaranya Kecamatan Srumbung dan Kecamatan Dukun.

“Berdasarkan Volcano Observatory Notice for Aviation (VONA) atau notifikasi penerbangan menunjukkan kode warna merah,” ucap Raditya.

Notifikasi tersebut, lanjut Raditya, merujuk pada erupsi yang terjadi pada pukul 09.13 WIB dan 09.27 WIB. Warna merah berarti ketinggian letusan sudah lebih dari 6.000 meter di atas permukaan laut.

“VONA digunakan sebagai peringatan dini ketika terjadi erupsi gunung untuk keamanan penerbangan,” bebernya.

Bahkan, kata Raditya, beberapa desa terpantau abu vulkanik turun cukup deras, seperti di Desa Kemiren, Srumbung dan Banyuadem. Kini, Gunung Merapi berstatus level II atau waspada. “Karakter gunung dengan status tersebut, BPPTKG merekomendasikan masyarakat agar mengantisipasi bahaya abu vulkanik dari kejadian awan panas maupun letusan eksplosif,” ungkap Raditya.

Baca Juga :  Pengamat SMRC: Tingkat Kepuasan Publik Terhadap Pemerintah Meningkat

Oleh karena itu, masyarakat diharapkan untuk mewaspadai bahaya lahar, terutama saat terjadi hujan di sekitar puncak. Selain itu, tidak ada aktivitas manusia pada radius 3 kilometer dari puncak Gunung Merapi.

“Pada level itu, potensi ancaman bahaya berupa luncuran awan panas dan runtuhnya kubah lava dan jatuhan material vulkanik dari letusan eksplosif,” pungkasnya. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/