alexametrics
26.7 C
Pontianak
Monday, May 16, 2022

Melihat Kehidupan Pesisir Merauke, Nelayan Berjalan Kaki di Atas Laut Arafura

Pantai Lampu Satu, di Kelurahan Samkai, Merauke berhadapan dengan Laut Arafura. Pantai ini sebagai denyut penghidupan bagi masyarakat pesisir. Ketika air laut tengah surut, puluhan kapal pun beristirahat. Disisi lain, para nelayan memukat ikan dan udang ke laut dengan menyisir surutnya laut sambil berjalan kaki.

Mirza Ahmad Muin, Merauke

Pagi itu, Pantai Lampu Satu, yang berada di Kampung Bahari Nusantara, Kelurahan Samkai, Merauke tak begitu banyak aktivitas. Pondok-pondok kecil yang menjual makan dan minuman pun belum buka.

Cuaca mendung, ketika saya sampai di Pantai Menara Lampu Satu. Angin berhembus lumayan kuat. Meski begitu, tak ada tanda hujan akan turun. Kondisi cuaca di Merauke, beberapa pagi memang seperti ini. Langit kerap mendung. Namun tak ada tanda akan turun hujan.

Disatu sisi, laut tengah surut. Dari kejauhan, tampak puluhan kapal tradisional pencari ikan, milik nelayan setempat  ditambat. Tak jauh dari rumah nelayan. Beberapa masyarakat sibuk membuat kapal kayu tradisional penangkap ikan di pinggiran pantai.

Baca Juga :  Terpidana Korupsi Jembatan Bawang Cs Ditangkap

Kata juru kemudi, Pantai Lampu Satu biasa disebut orang Merauke, dikarenakan lokasi pantai ini tak jauh dari keberadaan menara suar Pantai Lampu Satu. Di pantai ini akan disesaki pengunjung ketika hari libur.

Selain warga asli Papua, tepian pesisir ini telah lama dihuni warga Sulawesi. Rerata, mereka bermata pencarian sebagai pelaut.

Saat air laut surut seperti ini. Hamparan pasir terbentang luas. Disana juga terdapat jejeran pohon mangrove yang berdiri di muka pantai, sebagai benteng masyarakat menekan abrasi. Ketika air laut tengah pasang, hamparan pantai yang luas inipun menjadi lautan.

Dari arah laut, beberapa nelayan berjalan kaki menapaki pasir laut yang tengah surut, menuju bibir pantai. Jarak surutnya air laut dengan bibir pantai cukup jauh. Bisa ratusan meter.  Dengan membawa alat tangkap ikan dan udang sederhana. Merekapun kembali ke peraduan, membawa tangkapan hasil laut, untuk dijual ke pengepul.

Baca Juga :  Menkum HAM Yassona: UU Cipta Kerja Tetap Berlaku dan Pemerintah Siap Perbaiki

Ven (18) sudah sejak pukul empat subuh turun mencari udang putih ke laut. Hari ini (kemarin) hasilnya tak begitu banyak. Udang putih itu kelihatan masih segar dan akan segera dijual ke pengepul. “Belum saya timbang kaka. Kalau sekilonya biasa saya jual Rp 20 ribu,” ujarnya.

Ia menjelaskan, di bulan September, tangkapan udang memang tak banyak. Karena bukan musimnya. Namun di bulan tujuh kemarin, hasil tangkapan udang putihnya cukup banyak. Ia sendiri bisa mendapat 18-20 kilogram sekali turun. Dengan waktu kerja tiga sampai empat jam.

Cara tangkap udang putih dilakukan tradisional. Menggunakan sebatang bambu kurang lebih dua meter. Kemudian tiap ujung bambu dipasangi jaring dari alat yang ia sebut “Tarik Balo Elak”. Alat tersebut ia lempar ke laut. Sisanya tinggal menunggu keberuntungan. Bila nasib sedang baik. Banyaklah udang menyangkut di jaringnya.(**)

Pantai Lampu Satu, di Kelurahan Samkai, Merauke berhadapan dengan Laut Arafura. Pantai ini sebagai denyut penghidupan bagi masyarakat pesisir. Ketika air laut tengah surut, puluhan kapal pun beristirahat. Disisi lain, para nelayan memukat ikan dan udang ke laut dengan menyisir surutnya laut sambil berjalan kaki.

Mirza Ahmad Muin, Merauke

Pagi itu, Pantai Lampu Satu, yang berada di Kampung Bahari Nusantara, Kelurahan Samkai, Merauke tak begitu banyak aktivitas. Pondok-pondok kecil yang menjual makan dan minuman pun belum buka.

Cuaca mendung, ketika saya sampai di Pantai Menara Lampu Satu. Angin berhembus lumayan kuat. Meski begitu, tak ada tanda hujan akan turun. Kondisi cuaca di Merauke, beberapa pagi memang seperti ini. Langit kerap mendung. Namun tak ada tanda akan turun hujan.

Disatu sisi, laut tengah surut. Dari kejauhan, tampak puluhan kapal tradisional pencari ikan, milik nelayan setempat  ditambat. Tak jauh dari rumah nelayan. Beberapa masyarakat sibuk membuat kapal kayu tradisional penangkap ikan di pinggiran pantai.

Baca Juga :  Menkum HAM Yassona: UU Cipta Kerja Tetap Berlaku dan Pemerintah Siap Perbaiki

Kata juru kemudi, Pantai Lampu Satu biasa disebut orang Merauke, dikarenakan lokasi pantai ini tak jauh dari keberadaan menara suar Pantai Lampu Satu. Di pantai ini akan disesaki pengunjung ketika hari libur.

Selain warga asli Papua, tepian pesisir ini telah lama dihuni warga Sulawesi. Rerata, mereka bermata pencarian sebagai pelaut.

Saat air laut surut seperti ini. Hamparan pasir terbentang luas. Disana juga terdapat jejeran pohon mangrove yang berdiri di muka pantai, sebagai benteng masyarakat menekan abrasi. Ketika air laut tengah pasang, hamparan pantai yang luas inipun menjadi lautan.

Dari arah laut, beberapa nelayan berjalan kaki menapaki pasir laut yang tengah surut, menuju bibir pantai. Jarak surutnya air laut dengan bibir pantai cukup jauh. Bisa ratusan meter.  Dengan membawa alat tangkap ikan dan udang sederhana. Merekapun kembali ke peraduan, membawa tangkapan hasil laut, untuk dijual ke pengepul.

Baca Juga :  Anak Ditangkap Polisi, Ibu Pingsan di Mapolda

Ven (18) sudah sejak pukul empat subuh turun mencari udang putih ke laut. Hari ini (kemarin) hasilnya tak begitu banyak. Udang putih itu kelihatan masih segar dan akan segera dijual ke pengepul. “Belum saya timbang kaka. Kalau sekilonya biasa saya jual Rp 20 ribu,” ujarnya.

Ia menjelaskan, di bulan September, tangkapan udang memang tak banyak. Karena bukan musimnya. Namun di bulan tujuh kemarin, hasil tangkapan udang putihnya cukup banyak. Ia sendiri bisa mendapat 18-20 kilogram sekali turun. Dengan waktu kerja tiga sampai empat jam.

Cara tangkap udang putih dilakukan tradisional. Menggunakan sebatang bambu kurang lebih dua meter. Kemudian tiap ujung bambu dipasangi jaring dari alat yang ia sebut “Tarik Balo Elak”. Alat tersebut ia lempar ke laut. Sisanya tinggal menunggu keberuntungan. Bila nasib sedang baik. Banyaklah udang menyangkut di jaringnya.(**)

Most Read

Artikel Terbaru

/