alexametrics
28 C
Pontianak
Saturday, May 21, 2022

Kalimantan Barat Bersiap jadi Tuan Rumah BIMP-EAGA

Demi Peningkatan Ekspor dan Promosi Wisata di Asean

 

PONTIANAK – Pemerintah Kalimantan Barat akan mengajukan diri untuk menjadi tuan rumah pertemuan ekonomi tingkat menteri dalam forum Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia-Philippines East ASEAN Growth Area (BIMP-EAGA) ke-25 pada akhir tahun 2022 ini. Gubernur Kalbar sendiri telah menggelar pertemuan dengan mengundang sejumlah pemangku kepentingan dalam rangka kesiapan hal tersebut, Senin (24/1).

Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kalbar Santyoso Tio mengatakan, ajang internasional tersebut sangat penting bagi dunia usaha di provinsi ini. Para pelaku usaha diharapkan menjadi motor penggerak kerja sama dimaksud sedangkan pemerintah bertindak sebagai regulator dan fasilitator.

“Forum ini sangat penting bagi hubungan dagang antar-negara di Asia Tenggara, lebih-lebih bagi Kalbar. Karena negara-negara di kawasan Asia Tenggara ini ekonominya sedang berusaha bangkit. Tentu perlu ditopang dengan peningkatan hubungan dagang  di dalam kawasan sub-regional Asean ini,” ujarnya kepada Pontianak Post.

Baca Juga :  Telisik Stunting dan Ketahanan Pangan Kalbar

Menurutnya, Kalbar perlu mengambil momentum pemuluhan ekonomi saat ini dengan menjadi tuan rumah. Apalagi proyek Pelabuhan Internasional Kijing sudah hampir selesai. Bahkan sudah mulai beroperasi.

“Kita punya pelabuhan internasional yang besar. Tentu harus dimanfaatkan untuk meningkatkan ekspor kita. Makanya pertemuan tingkat menteri BIMP-EAGA nanti menjadi peluang. Karena selain dihadiri para menteri negara-negara itu, juga ada pertemuan antar-dunia usaha,” jelas Santyoso.

Santyoso juga melihat niat Kalbar untuk menjadi sentra hilirisasi komoditas sumber daya alam dan industri manufaktur lain memerlukan pertimbangan pasar. Forum BIMP-EAGA bisa menjadi sarana untuk membuka jalan bagi pasar Asia Tenggara.

“Kita punya banyak potensi seperti pertanian, perkebunan, dan lain-lain yang bisa disambungkan dengan negara-negara tetangga. Bahkan kita punya destinasi wisata alam yang bisa ditawarkan,” imbuhnya.

Kalbar sendiri sudah merasakan manfaat dari forum ini. Sejak tahun 2007, BIMP-EAGA telah menandatangani beberapa MOU dalam bidang perhubungan. Salah satunya implementasi MoU on Cross Border Movement of Commercial Busses and Coaches sekitar 40, 000 orang dalam kurun waktu Januari-Desember 2009 telah menggunakan jasa bus lintas wilayah BIMP-EGA (Pontianak-Bandar Seri Begawan).

Baca Juga :  Diperiksa Atas Kasusnya, Novel Koreksi Pasal 

Namun sejak pandemi, kinerja kerja sama ekonomi subregional Asia Tenggara antara Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia dan Filipina periode 2019-2020 mengalami kontraksi, terutama di sektor perdagangan dan pariwisata.

Dalam keterangannya belum lama ini, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan kontraksi pertumbuhan ekonomi itu tidak lepas dari dampak pandemi Covid-19 yang melanda dunia sejak 2020 lalu. Pada dua sektor tersebut, kinerja mengalami kontraksi terutama pada 2020. Sektor perdagangan mengalami penurunan dari US$107,6 miliar pada 2019, ke US$95,3 miliar pada 2020. (ars)

Demi Peningkatan Ekspor dan Promosi Wisata di Asean

 

PONTIANAK – Pemerintah Kalimantan Barat akan mengajukan diri untuk menjadi tuan rumah pertemuan ekonomi tingkat menteri dalam forum Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia-Philippines East ASEAN Growth Area (BIMP-EAGA) ke-25 pada akhir tahun 2022 ini. Gubernur Kalbar sendiri telah menggelar pertemuan dengan mengundang sejumlah pemangku kepentingan dalam rangka kesiapan hal tersebut, Senin (24/1).

Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kalbar Santyoso Tio mengatakan, ajang internasional tersebut sangat penting bagi dunia usaha di provinsi ini. Para pelaku usaha diharapkan menjadi motor penggerak kerja sama dimaksud sedangkan pemerintah bertindak sebagai regulator dan fasilitator.

“Forum ini sangat penting bagi hubungan dagang antar-negara di Asia Tenggara, lebih-lebih bagi Kalbar. Karena negara-negara di kawasan Asia Tenggara ini ekonominya sedang berusaha bangkit. Tentu perlu ditopang dengan peningkatan hubungan dagang  di dalam kawasan sub-regional Asean ini,” ujarnya kepada Pontianak Post.

Baca Juga :  Universitas Budi Luhur Buka Beasiswa Nusantara Online

Menurutnya, Kalbar perlu mengambil momentum pemuluhan ekonomi saat ini dengan menjadi tuan rumah. Apalagi proyek Pelabuhan Internasional Kijing sudah hampir selesai. Bahkan sudah mulai beroperasi.

“Kita punya pelabuhan internasional yang besar. Tentu harus dimanfaatkan untuk meningkatkan ekspor kita. Makanya pertemuan tingkat menteri BIMP-EAGA nanti menjadi peluang. Karena selain dihadiri para menteri negara-negara itu, juga ada pertemuan antar-dunia usaha,” jelas Santyoso.

Santyoso juga melihat niat Kalbar untuk menjadi sentra hilirisasi komoditas sumber daya alam dan industri manufaktur lain memerlukan pertimbangan pasar. Forum BIMP-EAGA bisa menjadi sarana untuk membuka jalan bagi pasar Asia Tenggara.

“Kita punya banyak potensi seperti pertanian, perkebunan, dan lain-lain yang bisa disambungkan dengan negara-negara tetangga. Bahkan kita punya destinasi wisata alam yang bisa ditawarkan,” imbuhnya.

Kalbar sendiri sudah merasakan manfaat dari forum ini. Sejak tahun 2007, BIMP-EAGA telah menandatangani beberapa MOU dalam bidang perhubungan. Salah satunya implementasi MoU on Cross Border Movement of Commercial Busses and Coaches sekitar 40, 000 orang dalam kurun waktu Januari-Desember 2009 telah menggunakan jasa bus lintas wilayah BIMP-EGA (Pontianak-Bandar Seri Begawan).

Baca Juga :  Sporty dan Canggih, Hyundai Creta Diperkenalkan di Kalbar

Namun sejak pandemi, kinerja kerja sama ekonomi subregional Asia Tenggara antara Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia dan Filipina periode 2019-2020 mengalami kontraksi, terutama di sektor perdagangan dan pariwisata.

Dalam keterangannya belum lama ini, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan kontraksi pertumbuhan ekonomi itu tidak lepas dari dampak pandemi Covid-19 yang melanda dunia sejak 2020 lalu. Pada dua sektor tersebut, kinerja mengalami kontraksi terutama pada 2020. Sektor perdagangan mengalami penurunan dari US$107,6 miliar pada 2019, ke US$95,3 miliar pada 2020. (ars)

Most Read

Artikel Terbaru

/