alexametrics
33 C
Pontianak
Monday, June 27, 2022

Banjir Datang Lagi, Waspada Leptospirosis dan Hipotermia

Banjir yang terjadi di wilayah Jabodetabek beberapa hari ini membuat sejumlah penyakit mengintai. Salah satu yang paling harus diwaspadai adalah penyakit kencing tikus dan juga kedinginan berlebihan.

Kencing tikus, atau dikenal dengan leptospirosis, adalah infeksi yang ditularkan hewan pengerat atau tikus. Infeksi ini biasa muncul saat musim banjir. Penularan bisa terjadi pada manusia jika punya luka lecet kulit dan mukosa hidung, mulut dan mata. Paparan melalui air yang terkontaminasi oleh urin dari tikus adalah penularan infeksi yang paling umum. Penularan dari manusia ke manusia jarang terjadi.

Satu jenis penyakit lain yang paling sering dialami korban banjir adalah hipotermia alias kedinginan yang berlebihan. Khususnya bagi mereka orang yang rentan seperti anak-anak, lansia, dan orang-orang dengan penyakit kronis

“Pada dasarnya saat banjir berbagai hal dapat terjadi. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), ada beberapa risiko yang mungkin terjadi saat terjadi bencana banjir, yaitu penyakit menular dan risiko celaka. Penyakit menular dibagi atas water borne disease (penyakit yg dibawa dan ditularkan melalui air seperti typhoid/tipes, cholera, hepatitis A, dan leptospirosis) dan vector borne disease (penyakit yg dibawa dan ditularkan melalui binatang seperti malaria, dengue),” kata Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Internist & Vaccinologis dari In Harmony Clinic, dr. Kristoforus HD, SpPD kepada JawaPos.com.

Baca Juga :  Permabudhi Gelar Pengobatan Gratis Korban Banjir

Menurut Kristo, risiko kecelakaan seperti tenggelam, trauma, dan tersetrum listrik, hingga hipotermia berpotensi terjadi. Risiko kematian terbesar pada bencana banjir biasanya adalah tenggelam, dan ini biasanya terjadi akibat luapan air yang mendadak dan masif, bukan karena air yang mengalir.

“Hipotermia yang dalam bahasa awam dikatakan kedinginan, dengan atau tanpa tenggelam, dapat terjadi pada setiap adanya bencana banjir,” katanya.

Biasanya, hipotermia paling sering terjadi bila terjadi banjir akibat pecahan batu es, atau pada sungai yang memiliki lapisan es di permukaannya. “Namun demikian, hipotermia tidak hanya disebabkan oleh banjir dengan luapan air es. Sebagian besar air yang mengalir saat banjir, biasanya memiliki suhu yang lebih rendah daripada suhu inti tubuh manusia,” tuturnya.

Baca Juga :  Ribuan Rumah di Melawi dan Kapuas Hulu Terendam Banjir

Dalam kondisi ini tindakan pertolongan utama yang dapat dilakukan sebelum korban dibawa ke rumah sakit adalah pencegahan hilangnya panas tubuh. Suhu tubuh penderita hipotermiaharus kembali ditingkatkan ke tahap normal untuk menghindari gangguan irama jantung akibat turunnya suhu inti tubuh tersebut.

Untuk pertolongan pertama bagi orang yang mengalami hipotermia, penolong harus menyarankan korban untuk meminimalisasi gerakan tubuh dan menunggu bantuan dengan sabar. Bila perlu, dapat diberikan bantuan oksigen pada korban. Letakkan korban ditempat yang hangat dan hindari penguapan atau pelepasan panas tubuh.

Pakaian basah harus dilepas dan diganti selimut yang kering atau kantong tidur (sleeping bag), serta berikan kompres hangat di ketiak, lipatan paha dan perut. Selain itu, dapat juga dilakukan skin to skin contact, misalnya dengan pelukan apabila tidak ada kompres hangat.

Editor : Banu Adikara

Reporter : Marieska Harya Virdhani

Banjir yang terjadi di wilayah Jabodetabek beberapa hari ini membuat sejumlah penyakit mengintai. Salah satu yang paling harus diwaspadai adalah penyakit kencing tikus dan juga kedinginan berlebihan.

Kencing tikus, atau dikenal dengan leptospirosis, adalah infeksi yang ditularkan hewan pengerat atau tikus. Infeksi ini biasa muncul saat musim banjir. Penularan bisa terjadi pada manusia jika punya luka lecet kulit dan mukosa hidung, mulut dan mata. Paparan melalui air yang terkontaminasi oleh urin dari tikus adalah penularan infeksi yang paling umum. Penularan dari manusia ke manusia jarang terjadi.

Satu jenis penyakit lain yang paling sering dialami korban banjir adalah hipotermia alias kedinginan yang berlebihan. Khususnya bagi mereka orang yang rentan seperti anak-anak, lansia, dan orang-orang dengan penyakit kronis

“Pada dasarnya saat banjir berbagai hal dapat terjadi. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), ada beberapa risiko yang mungkin terjadi saat terjadi bencana banjir, yaitu penyakit menular dan risiko celaka. Penyakit menular dibagi atas water borne disease (penyakit yg dibawa dan ditularkan melalui air seperti typhoid/tipes, cholera, hepatitis A, dan leptospirosis) dan vector borne disease (penyakit yg dibawa dan ditularkan melalui binatang seperti malaria, dengue),” kata Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Internist & Vaccinologis dari In Harmony Clinic, dr. Kristoforus HD, SpPD kepada JawaPos.com.

Baca Juga :  Bupati: Jangan Semua Tinggalkan Wamena

Menurut Kristo, risiko kecelakaan seperti tenggelam, trauma, dan tersetrum listrik, hingga hipotermia berpotensi terjadi. Risiko kematian terbesar pada bencana banjir biasanya adalah tenggelam, dan ini biasanya terjadi akibat luapan air yang mendadak dan masif, bukan karena air yang mengalir.

“Hipotermia yang dalam bahasa awam dikatakan kedinginan, dengan atau tanpa tenggelam, dapat terjadi pada setiap adanya bencana banjir,” katanya.

Biasanya, hipotermia paling sering terjadi bila terjadi banjir akibat pecahan batu es, atau pada sungai yang memiliki lapisan es di permukaannya. “Namun demikian, hipotermia tidak hanya disebabkan oleh banjir dengan luapan air es. Sebagian besar air yang mengalir saat banjir, biasanya memiliki suhu yang lebih rendah daripada suhu inti tubuh manusia,” tuturnya.

Baca Juga :  Banjir Rendam Ribuan Rumah

Dalam kondisi ini tindakan pertolongan utama yang dapat dilakukan sebelum korban dibawa ke rumah sakit adalah pencegahan hilangnya panas tubuh. Suhu tubuh penderita hipotermiaharus kembali ditingkatkan ke tahap normal untuk menghindari gangguan irama jantung akibat turunnya suhu inti tubuh tersebut.

Untuk pertolongan pertama bagi orang yang mengalami hipotermia, penolong harus menyarankan korban untuk meminimalisasi gerakan tubuh dan menunggu bantuan dengan sabar. Bila perlu, dapat diberikan bantuan oksigen pada korban. Letakkan korban ditempat yang hangat dan hindari penguapan atau pelepasan panas tubuh.

Pakaian basah harus dilepas dan diganti selimut yang kering atau kantong tidur (sleeping bag), serta berikan kompres hangat di ketiak, lipatan paha dan perut. Selain itu, dapat juga dilakukan skin to skin contact, misalnya dengan pelukan apabila tidak ada kompres hangat.

Editor : Banu Adikara

Reporter : Marieska Harya Virdhani

Most Read

Artikel Terbaru

/