alexametrics
33 C
Pontianak
Wednesday, August 10, 2022

Jokowi Keluhkan Regulasi Indonesia Paling Berbelit

JAKARTA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengungkapkan Undang-Undang (UU) Omnibus Law Cipta Kerja sangat dibutuhkan bagi Indonesia ini. Terutama bagi para pelaku usaha mikro kecil dan menegah (UMKM).

Jokowi mengatakan adanya UU Cipta Kerja ini akan memudahkan pelaku UMKM untuk mengurus perizinan. Sebab dari informasi yang ia dapatkan Indonesia adalah negara dengan regulasi paling rumit di dunia.

“Memprihatinkan sekali pada Juni lalu Indonesia ditempatkan nomor satu pada global complexity indeks. Artinya regulasi dan birokrasi Indonesia ditempatkan paling rumit di dunia,” ujar Presiden Jokowi dalam HUT Partai Golkar ke-56 yang disiarkan di YouTube Sekretariat Presiden, Sabtu (24/10).

Oleh karena itu pemerintah melakukan reformasi struktural, membenahi regulasi dan birokrasi secara besar besaran.

“Walaupun sedang ada pandemi Covid-19 yang melanda seluruh dunia tidak menghambat pemerintah untuk melakukan reformasi struktural. Ketika banyak negara maju mengalami kemunduran, ini lah saatnya bagi Indonesia melakukan lompatan kemajuan,” katanya.

Menurut Jokowi, itulah semangat berbagai kebijakan pemerintah termasuk UU Cipta kerja. Reformasi struktural ini dimaksudkan agar UMKM berkembang dengan pesat. Serta industri padat tenaga kerja tumbuh dengam pesat.

Baca Juga :  KLHK Sidik Tiga Perusahaan

“Kita permudah pendirian PT dengan modal minimal dan tak ada pembatasan. Koperasi bisa didirikan dengan hanya sembilan orang. Sertifikasi halal bagi UMK kita gratiskan dibiayai oleh APBN. Sekali lagi agar perekonomian rakyat segera cepat bergerak. UMKM tumbuh dan peluang kerja bertambah luas,” ungkapnya.

Oleh sebab itu, Presiden Jokowi menyampaikan apresiasi atas dukungan Golkar baik yang berada di eksekutif dan di DPR yang secara bersungguh-sungguh mendukung transformasi fundamental yang sedang dilakukan sekarang ini.

“Tahun 2021 akan menjadi tahun yang penuh peluang, tahun opportunity, tahun pemulihan ekonomi nasional dan pemulihan ekonomi global,” tuturnya. Jokowi menyebutkan, pandemi Covid-19 telah membuat kontraksi ekonomi di berbagai negara, tak terkecuali Indonesia.

“Perekonomian di berbagai negara mengalami kontraksi, bahkan resesi. Tak ada yang kebal dari pandemi, termasuk negara kita Indonesia,” ungkapnya. Kepala Negara menjelaskan, sebelum pandemi, ekonomi Indonesia selalu tumbuh sekitar 5 persen. Di tahun 2019 misalnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,02 persen.

Akibat pandemi, pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat menjadi 2,97 persen di triwulan pertama, dan minus 5,32 persen di triwulan kedua tahun 2020.

Baca Juga :  Jokowi Tanam Durian Serumbut

“Tetapi dibandingkan dengan negara-negara lain, kontraksi ekonomi Indonesia relatif lebih landai dan saya meyakini Insya Allah mampu untuk segera recovery, mampu melakukan pemulihan,” imbuhnya.

Hal tersebut terlihat dari pergerakan berbagai indikator strategis selama triwulan ketiga tahun 2020 yang telah menunjukkan perbaikan. Harga-harga pangan seperti beras tetap terjaga.

Selain itu, jumlah penumpang angkutan udara di bulan Agustus 2020 naik 36 persen dari bulan sebelumnya. Neraca perdagangan September 2020 juga surplus US$2,44 miliar. Purchasing Managers Index (PMI) mulai memasuki tahap ekspansi kembali, dan telah terjadi peningkatan konsumsi.

“Ini artinya, peluang untuk mengembangkan usaha akan semakin terbuka, pertumbuhan ekonomi akan terus membaik dan penciptaan lapangan kerja bisa semakin terbuka luas,” ungkapnya.

Di awal sambutan, Presiden tak lupa menyampaikan ucapan selamat ulang tahun yang ke-56 bagi Partai Golkar. “Semoga Partai Golkar yang sudah besar sekarang ini terus besar dan berkontribusi untuk Indonesia Maju,” pungkasnya.‎(jpc)

 

JAKARTA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengungkapkan Undang-Undang (UU) Omnibus Law Cipta Kerja sangat dibutuhkan bagi Indonesia ini. Terutama bagi para pelaku usaha mikro kecil dan menegah (UMKM).

Jokowi mengatakan adanya UU Cipta Kerja ini akan memudahkan pelaku UMKM untuk mengurus perizinan. Sebab dari informasi yang ia dapatkan Indonesia adalah negara dengan regulasi paling rumit di dunia.

“Memprihatinkan sekali pada Juni lalu Indonesia ditempatkan nomor satu pada global complexity indeks. Artinya regulasi dan birokrasi Indonesia ditempatkan paling rumit di dunia,” ujar Presiden Jokowi dalam HUT Partai Golkar ke-56 yang disiarkan di YouTube Sekretariat Presiden, Sabtu (24/10).

Oleh karena itu pemerintah melakukan reformasi struktural, membenahi regulasi dan birokrasi secara besar besaran.

“Walaupun sedang ada pandemi Covid-19 yang melanda seluruh dunia tidak menghambat pemerintah untuk melakukan reformasi struktural. Ketika banyak negara maju mengalami kemunduran, ini lah saatnya bagi Indonesia melakukan lompatan kemajuan,” katanya.

Menurut Jokowi, itulah semangat berbagai kebijakan pemerintah termasuk UU Cipta kerja. Reformasi struktural ini dimaksudkan agar UMKM berkembang dengan pesat. Serta industri padat tenaga kerja tumbuh dengam pesat.

Baca Juga :  Polemik Kebijakan Kementerian Agama tentang Majelis Taklim

“Kita permudah pendirian PT dengan modal minimal dan tak ada pembatasan. Koperasi bisa didirikan dengan hanya sembilan orang. Sertifikasi halal bagi UMK kita gratiskan dibiayai oleh APBN. Sekali lagi agar perekonomian rakyat segera cepat bergerak. UMKM tumbuh dan peluang kerja bertambah luas,” ungkapnya.

Oleh sebab itu, Presiden Jokowi menyampaikan apresiasi atas dukungan Golkar baik yang berada di eksekutif dan di DPR yang secara bersungguh-sungguh mendukung transformasi fundamental yang sedang dilakukan sekarang ini.

“Tahun 2021 akan menjadi tahun yang penuh peluang, tahun opportunity, tahun pemulihan ekonomi nasional dan pemulihan ekonomi global,” tuturnya. Jokowi menyebutkan, pandemi Covid-19 telah membuat kontraksi ekonomi di berbagai negara, tak terkecuali Indonesia.

“Perekonomian di berbagai negara mengalami kontraksi, bahkan resesi. Tak ada yang kebal dari pandemi, termasuk negara kita Indonesia,” ungkapnya. Kepala Negara menjelaskan, sebelum pandemi, ekonomi Indonesia selalu tumbuh sekitar 5 persen. Di tahun 2019 misalnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,02 persen.

Akibat pandemi, pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat menjadi 2,97 persen di triwulan pertama, dan minus 5,32 persen di triwulan kedua tahun 2020.

Baca Juga :  Tidak Percaya Covid-19 dan Anti Masker, Dokter Lois Ditangkap Polisi

“Tetapi dibandingkan dengan negara-negara lain, kontraksi ekonomi Indonesia relatif lebih landai dan saya meyakini Insya Allah mampu untuk segera recovery, mampu melakukan pemulihan,” imbuhnya.

Hal tersebut terlihat dari pergerakan berbagai indikator strategis selama triwulan ketiga tahun 2020 yang telah menunjukkan perbaikan. Harga-harga pangan seperti beras tetap terjaga.

Selain itu, jumlah penumpang angkutan udara di bulan Agustus 2020 naik 36 persen dari bulan sebelumnya. Neraca perdagangan September 2020 juga surplus US$2,44 miliar. Purchasing Managers Index (PMI) mulai memasuki tahap ekspansi kembali, dan telah terjadi peningkatan konsumsi.

“Ini artinya, peluang untuk mengembangkan usaha akan semakin terbuka, pertumbuhan ekonomi akan terus membaik dan penciptaan lapangan kerja bisa semakin terbuka luas,” ungkapnya.

Di awal sambutan, Presiden tak lupa menyampaikan ucapan selamat ulang tahun yang ke-56 bagi Partai Golkar. “Semoga Partai Golkar yang sudah besar sekarang ini terus besar dan berkontribusi untuk Indonesia Maju,” pungkasnya.‎(jpc)

 

Most Read

Artikel Terbaru

/