alexametrics
30.6 C
Pontianak
Monday, August 8, 2022

Seorang TKI Bebas dari Hukuman Mati

Mengidap Skizofrenia, Akan Dipulangkan ke Indonesia

KUCHING – Mahkamah Persekutuan Malaysia membebaskan Sukardin bin Said, tenaga kerja Indonesia yang terlibat kasus pembunuhan atas Edirman, rekan sekerjanya di Ladang Setuan Belingian Muakah, Sarawak, Malaysia, pada September 2010 silam.

Tenaga Kerja Indonesia asal Bima, Nusa Tenggara Barat itu menyerang empat orang, yang tak lain adalah rekan kerjanya. Mereka terdiri dari dua laki-laki dan dua perempuan.

Penyerangan yang dilakukan Sukardin menewaskan Edirman. Edirman menderita luka bacok yang mengakibatkan tangan dan kaki nyaris putus. Sedangkan tiga orang lainnya menderita luka-luka.

“Sukardi dibebaskan dari hukuman mati oleh Mahkamah Persekutuan, Malaysia dan kemudian ditahan di rumah sakit jiwa, karena dianggap menderita gangguan jiwa,” ujar Yonny Tri Prayitno, Konsulat Jenderal RI di Kuching, Sarawak, Malaysia, kemarin.

Baca Juga :  Hukuman Mati Ancam Residivis

Dikatakan Yonny, sebelum dibebaskan dari hukuman mati, oleh Mahkamah Tinggi Sibu, Sukardin dijatuhi pidana berlapis, yakni pidana penjara 15 tahun karena melukai tiga orang dan pidana mati karena melakukan pembunuhan atas Edirman.

“Yang bersangkutan sebelumnya dikenakan pasal berlapis, yakni pasal 326 dengan pidana 15 tahun penjara dan pasal 302, karena menyebabkan kematian,” terangnya.

Pada 6 Juli 2012, Mahkamah Tinggi Sibu menurunkan pasal 302 dari pidana mati menjadi pasal 348, yang kemudian menahan Sukardin ditahan di rumah sakit jiwa Sentosa hingga mendapat pengampunan.

Tiga tahun kemudian, tepatnya 26 September 2016, Mahkamah Persekutuan menetapkan pembebasan atas Sukardin dari hukuman mati dan ditahan di rumah sakit jiwa hingga mendapat pengampunan.

Baca Juga :  Food Estate Solusi Tepat Hadapi Susut Lahan Pertanian Indonesia

Menurut Yonny, sejak 19 September 2010 hingga 19 Oktober 2020, Sukardin didiagnosa mengidap sakit skizofrenia, yaitu penyakit gangguan kejiwaan yang serius, dimana orang menafsirkan kenyataan secara tidak normal. Skizofrenia dapat menyebabkan beberapa kombinasi halusinasi, delusi, pemikiran serta prilaku yang tidak teratur dan dapat mengganggu sehari-hari.

“Kami dari KJRI Kuching telah melakukan permohonan pengampunan pada 15 Oktober 2020 lalu. dan yang bersangkutan telah dibebaskan serta diperbolehkan pulang,” jelasnya.

Hari ini, Senin (26/10), KJRI di Kuching akan mengantarkan Sukardin ke Indonesia melalui PLBN Entikong. Sukardin akan diserahkan kepada UPT BP2MI Kalbar untuk proses lebih lanjut. (arf)

Mengidap Skizofrenia, Akan Dipulangkan ke Indonesia

KUCHING – Mahkamah Persekutuan Malaysia membebaskan Sukardin bin Said, tenaga kerja Indonesia yang terlibat kasus pembunuhan atas Edirman, rekan sekerjanya di Ladang Setuan Belingian Muakah, Sarawak, Malaysia, pada September 2010 silam.

Tenaga Kerja Indonesia asal Bima, Nusa Tenggara Barat itu menyerang empat orang, yang tak lain adalah rekan kerjanya. Mereka terdiri dari dua laki-laki dan dua perempuan.

Penyerangan yang dilakukan Sukardin menewaskan Edirman. Edirman menderita luka bacok yang mengakibatkan tangan dan kaki nyaris putus. Sedangkan tiga orang lainnya menderita luka-luka.

“Sukardi dibebaskan dari hukuman mati oleh Mahkamah Persekutuan, Malaysia dan kemudian ditahan di rumah sakit jiwa, karena dianggap menderita gangguan jiwa,” ujar Yonny Tri Prayitno, Konsulat Jenderal RI di Kuching, Sarawak, Malaysia, kemarin.

Baca Juga :  Polisi Larang Petasan Saat Malam Tahun Baru, Kembang Api Ada Syaratnya

Dikatakan Yonny, sebelum dibebaskan dari hukuman mati, oleh Mahkamah Tinggi Sibu, Sukardin dijatuhi pidana berlapis, yakni pidana penjara 15 tahun karena melukai tiga orang dan pidana mati karena melakukan pembunuhan atas Edirman.

“Yang bersangkutan sebelumnya dikenakan pasal berlapis, yakni pasal 326 dengan pidana 15 tahun penjara dan pasal 302, karena menyebabkan kematian,” terangnya.

Pada 6 Juli 2012, Mahkamah Tinggi Sibu menurunkan pasal 302 dari pidana mati menjadi pasal 348, yang kemudian menahan Sukardin ditahan di rumah sakit jiwa Sentosa hingga mendapat pengampunan.

Tiga tahun kemudian, tepatnya 26 September 2016, Mahkamah Persekutuan menetapkan pembebasan atas Sukardin dari hukuman mati dan ditahan di rumah sakit jiwa hingga mendapat pengampunan.

Baca Juga :  Midji Tolak Pemulangan TKI, Pemprov Kalbar Akui Kerepotan

Menurut Yonny, sejak 19 September 2010 hingga 19 Oktober 2020, Sukardin didiagnosa mengidap sakit skizofrenia, yaitu penyakit gangguan kejiwaan yang serius, dimana orang menafsirkan kenyataan secara tidak normal. Skizofrenia dapat menyebabkan beberapa kombinasi halusinasi, delusi, pemikiran serta prilaku yang tidak teratur dan dapat mengganggu sehari-hari.

“Kami dari KJRI Kuching telah melakukan permohonan pengampunan pada 15 Oktober 2020 lalu. dan yang bersangkutan telah dibebaskan serta diperbolehkan pulang,” jelasnya.

Hari ini, Senin (26/10), KJRI di Kuching akan mengantarkan Sukardin ke Indonesia melalui PLBN Entikong. Sukardin akan diserahkan kepada UPT BP2MI Kalbar untuk proses lebih lanjut. (arf)

Most Read

Artikel Terbaru

/