alexametrics
25 C
Pontianak
Sunday, May 22, 2022

Hari Kedua, Korban Bus Masuk Jurang Jadi 35 Orang Tewas

Enam Penumpang Bus Masih Hilang

PAGAR ALAM – Pencarian korban bus Sriwijaya yang jatuh ke jurang di Liku Lematang, Pagar Alam, kemarin dilanjutkan. Hasilnya, tujuh jenazah ditemukan. Dengan demikian, hingga kemarin jumlah korban yang meninggal mencapai 35 orang.

Pencarian hari kedua kemarin dilakukan oleh tim gabungan Basarnas, Polres, Satpol PP, BPBD, Tagana, dan warga setempat. Awalnya, tiga korban ditemukan pukul 10.35 WIB. Kemudian, satu korban lagi ditemukan pukul 12.55 WIB. Lalu, dua korban lain bisa dievakuasi pukul 15.22 WIB dan satu jenazah ditemukan pukul 16.41 WIB.

Enam korban ditemukan terjepit bangkai bus. Sedangkan satu jenazah hanyut cukup jauh. ”Semua sudah dibawa ke RS Besemah,” ucap Kepala Kantor Basarnas Palembang Berty D.Y. Kowaas kepada wartawan Sumeks kemarin.

Hingga kemarin, jumlah penumpang bus memang masih simpang siur. Sebagian mengatakan bahwa bus tersebut awalnya mengangkut 27 orang. Namun, dalam perjalanan, sopir mengangkut penumpang lagi hingga mencapai 54 orang. Jika informasi itu benar, berarti masih ada 6 korban lagi yang belum ditemukan. Sebab, pada hari pertama pencarian, petugas bisa mengevakuasi 28 jenazah dan 13 korban selamat. ”Pencarian akan kita lakukan sampai semua korban ditemukan,” tandas Berty.

Namun, proses evakuasi tidak mudah. Sebab, sebagian badan bus masih berada di bawah air. Tim penyelam terkendala arus deras. Selain itu, ada lubuk/cekungan air di lokasi. Beberapa korban diduga hanyut atau tersangkut di dasar dan sela bebatuan sungai. ”Kita tetap akan terus mencari sembari menunggu data pasti manifes penumpang,” tuturnya.

Untuk mempermudah pencarian, bangkai bus ditarik ke tepi sungai. Tampak bagian atap bus bernopol BD 7031 AU rute Bengkulu – Palembang itu terlepas dari bodi intinya. Deretan kursi penumpang terlihat dengan jelas.

Baca Juga :  Ibu- Anak Tewas Mengenaskan

Kapolres Pagar Alam AKBP Dolly Gumara mengatakan, dugaan awal bahwa kecelakaan dipicu rem bus yang blong tidak benar. Sebab, polisi menemukan bekas pengereman di jalan pinggir jurang. Namun, pengereman diprediksi tidak maksimal karena bus melaju terlalu kencang. Selain itu, hancurnya tembok beton pembatas jalan menandakan bahwa bus melaju dengan kecepatan tinggi sebelum terjun bebas ke jurang sedalam 80 meter itu. ”Pasti itu, kecepatannya pasti tinggi,” imbuhnya.

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) kemarin turun ke lokasi kecelakaan. Wakil Ketua KNKT Haryo Satmiko menyampaikan, pihaknya masih mengumpulkan data. Karena itu, KNKT belum bisa memastikan apakah kecelakaan dipicu human error atau kelayakan bus. “Ada lima tahapan yang harus dilalui untuk mengungkap penyebab kecelakaan ini, upaya yang kita lakukan baru melewati dua tahap,” urainya kemarin.

Wali Kota Pagar Alam Alpian Maskoni mengatakan, pemkot sebenarnya telah merencanakan pembangunan jembatan Lematang. Tapi, rencana yang diusulkan pada 2016 itu dibatalkan oleh pemerintah pusat. Yang ada hanya pelebaran jalan pada 2017 dan 2018 di sekitar lokasi kejadian. Padahal, pembangunan jembatan tersebut diusulkan untuk antisipasi kecelakaan di Liku Lematang. Pembuatan beton pembatas di pinggir jalan juga untuk pencegahan. ”Tapi tetap saja kejadian,” ucapnya.

Informasi yang dihimpun tim Sumeks, kecelakaan bus bukan kali pertama di Liku Lematang, Pagar Alam. Pada 1993, pernah terjadi insiden serupa. Kala itu, bus antarkota antarprovinsi (AKAP) terjun ke jurang maut tersebut. Tapi, korbannya tidak sebanyak sekarang. Pernah juga mobil pribadi terjun bebas di sana, dua penumpangnya tewas. Lalu, truk sembako juga pernah jatuh di jurang itu. Bahkan sepeda motor pun pernah.

Kakorlantas Mabes Polri Irjen Pol Istiono mengecek lokasi kecelakaan bus Sriwijaya di Pagar Alam. Dia juga mengunjungi para korban di RSUD Besemah. Katanya, bus berangkat dari loket Pasar Minggu, Kota Bengkulu, menuju Kota Palembang, sekira pukul 14.00 WIB. Penumpang yang tercatat ada 31 orang. ”Dalam perjalanan bertambah hingga 50-an orang. Jadi, masih ada korban yang belum ditemukan,” ujarnya didampingi Dirlantas Polda Sumsel Kombespol Juni dan Kabid Dokkes Kombespol dr Syamsul Bahar.

Baca Juga :  Lapas Kelas I Tangerang Terbakar, 41 Orang Tewas

Berdasar keterangan para korban yang selamat, sopir memacu bus dengan kecepatan cukup tinggi. Sebelum terjun bebas ke jurang itu, bus mengalami dua insiden, yakni serempetan dengan kendaraan lain dan terperosok masuk selokan. ”Jadi sudah ada gejala. Nah, di TKP, bus masuk jurang dengan kemiringan sekitar 45 derajat,” bebernya.

Dia mengimbau agar rambu-rambu peringatan di lokasi kecelakaan ditambah. Sebab,  karakteristik jalan di kawasan itu cukup berbahaya. “Trek ini terlalu tajam. Para sopir harus konsentrasi, fisik prima, rem pakem, dan selalu waspada karena jalannya banyak tikungan, naik dan turunan tajam,” imbuh Karkorlantas.

Kepala Humas Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Pitra Setiawan menyatakan, evakuasi dan penyelidikan terus dilakukan. ”Saya juga minta KNKT dan kepolisian untuk mengusut tuntas kejadian ini serta penyebabnya supaya ke depannya tidak terulang kejadian serupa lagi,” katanya kemarin.

Direktur Utama Jasa Raharja Budi Rahardjo langsung melihat kondisi korban selamat yang sedang dirawat. Dia juga menyerahkan bantuan pada korban kecelakaan bus tersebut. “Untuk 10 korban meninggal dunia telah kami serahkan santunan kepada masing- masing ahli waris yang sah melalui transfer. Yang lain segera menyusul,” imbuhnya. Ahli waris korban meninggal mendapat santunan Rp 50 juta. Sedangkan korban luka-luka akan mendapat jaminan biaya perawatan maksimum Rp 20 juta serta menyediakan manfaat tambahan biaya P3K maksimum Rp 1 juta, dan ambulans maksimum Rp 500 ribu. (ald/oni)

Enam Penumpang Bus Masih Hilang

PAGAR ALAM – Pencarian korban bus Sriwijaya yang jatuh ke jurang di Liku Lematang, Pagar Alam, kemarin dilanjutkan. Hasilnya, tujuh jenazah ditemukan. Dengan demikian, hingga kemarin jumlah korban yang meninggal mencapai 35 orang.

Pencarian hari kedua kemarin dilakukan oleh tim gabungan Basarnas, Polres, Satpol PP, BPBD, Tagana, dan warga setempat. Awalnya, tiga korban ditemukan pukul 10.35 WIB. Kemudian, satu korban lagi ditemukan pukul 12.55 WIB. Lalu, dua korban lain bisa dievakuasi pukul 15.22 WIB dan satu jenazah ditemukan pukul 16.41 WIB.

Enam korban ditemukan terjepit bangkai bus. Sedangkan satu jenazah hanyut cukup jauh. ”Semua sudah dibawa ke RS Besemah,” ucap Kepala Kantor Basarnas Palembang Berty D.Y. Kowaas kepada wartawan Sumeks kemarin.

Hingga kemarin, jumlah penumpang bus memang masih simpang siur. Sebagian mengatakan bahwa bus tersebut awalnya mengangkut 27 orang. Namun, dalam perjalanan, sopir mengangkut penumpang lagi hingga mencapai 54 orang. Jika informasi itu benar, berarti masih ada 6 korban lagi yang belum ditemukan. Sebab, pada hari pertama pencarian, petugas bisa mengevakuasi 28 jenazah dan 13 korban selamat. ”Pencarian akan kita lakukan sampai semua korban ditemukan,” tandas Berty.

Namun, proses evakuasi tidak mudah. Sebab, sebagian badan bus masih berada di bawah air. Tim penyelam terkendala arus deras. Selain itu, ada lubuk/cekungan air di lokasi. Beberapa korban diduga hanyut atau tersangkut di dasar dan sela bebatuan sungai. ”Kita tetap akan terus mencari sembari menunggu data pasti manifes penumpang,” tuturnya.

Untuk mempermudah pencarian, bangkai bus ditarik ke tepi sungai. Tampak bagian atap bus bernopol BD 7031 AU rute Bengkulu – Palembang itu terlepas dari bodi intinya. Deretan kursi penumpang terlihat dengan jelas.

Baca Juga :  Laka Air Wilayah Jongkong, Satu Warga Belum Ditemukan

Kapolres Pagar Alam AKBP Dolly Gumara mengatakan, dugaan awal bahwa kecelakaan dipicu rem bus yang blong tidak benar. Sebab, polisi menemukan bekas pengereman di jalan pinggir jurang. Namun, pengereman diprediksi tidak maksimal karena bus melaju terlalu kencang. Selain itu, hancurnya tembok beton pembatas jalan menandakan bahwa bus melaju dengan kecepatan tinggi sebelum terjun bebas ke jurang sedalam 80 meter itu. ”Pasti itu, kecepatannya pasti tinggi,” imbuhnya.

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) kemarin turun ke lokasi kecelakaan. Wakil Ketua KNKT Haryo Satmiko menyampaikan, pihaknya masih mengumpulkan data. Karena itu, KNKT belum bisa memastikan apakah kecelakaan dipicu human error atau kelayakan bus. “Ada lima tahapan yang harus dilalui untuk mengungkap penyebab kecelakaan ini, upaya yang kita lakukan baru melewati dua tahap,” urainya kemarin.

Wali Kota Pagar Alam Alpian Maskoni mengatakan, pemkot sebenarnya telah merencanakan pembangunan jembatan Lematang. Tapi, rencana yang diusulkan pada 2016 itu dibatalkan oleh pemerintah pusat. Yang ada hanya pelebaran jalan pada 2017 dan 2018 di sekitar lokasi kejadian. Padahal, pembangunan jembatan tersebut diusulkan untuk antisipasi kecelakaan di Liku Lematang. Pembuatan beton pembatas di pinggir jalan juga untuk pencegahan. ”Tapi tetap saja kejadian,” ucapnya.

Informasi yang dihimpun tim Sumeks, kecelakaan bus bukan kali pertama di Liku Lematang, Pagar Alam. Pada 1993, pernah terjadi insiden serupa. Kala itu, bus antarkota antarprovinsi (AKAP) terjun ke jurang maut tersebut. Tapi, korbannya tidak sebanyak sekarang. Pernah juga mobil pribadi terjun bebas di sana, dua penumpangnya tewas. Lalu, truk sembako juga pernah jatuh di jurang itu. Bahkan sepeda motor pun pernah.

Kakorlantas Mabes Polri Irjen Pol Istiono mengecek lokasi kecelakaan bus Sriwijaya di Pagar Alam. Dia juga mengunjungi para korban di RSUD Besemah. Katanya, bus berangkat dari loket Pasar Minggu, Kota Bengkulu, menuju Kota Palembang, sekira pukul 14.00 WIB. Penumpang yang tercatat ada 31 orang. ”Dalam perjalanan bertambah hingga 50-an orang. Jadi, masih ada korban yang belum ditemukan,” ujarnya didampingi Dirlantas Polda Sumsel Kombespol Juni dan Kabid Dokkes Kombespol dr Syamsul Bahar.

Baca Juga :  Mantan Bos Petral Terjerat Korupsi

Berdasar keterangan para korban yang selamat, sopir memacu bus dengan kecepatan cukup tinggi. Sebelum terjun bebas ke jurang itu, bus mengalami dua insiden, yakni serempetan dengan kendaraan lain dan terperosok masuk selokan. ”Jadi sudah ada gejala. Nah, di TKP, bus masuk jurang dengan kemiringan sekitar 45 derajat,” bebernya.

Dia mengimbau agar rambu-rambu peringatan di lokasi kecelakaan ditambah. Sebab,  karakteristik jalan di kawasan itu cukup berbahaya. “Trek ini terlalu tajam. Para sopir harus konsentrasi, fisik prima, rem pakem, dan selalu waspada karena jalannya banyak tikungan, naik dan turunan tajam,” imbuh Karkorlantas.

Kepala Humas Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Pitra Setiawan menyatakan, evakuasi dan penyelidikan terus dilakukan. ”Saya juga minta KNKT dan kepolisian untuk mengusut tuntas kejadian ini serta penyebabnya supaya ke depannya tidak terulang kejadian serupa lagi,” katanya kemarin.

Direktur Utama Jasa Raharja Budi Rahardjo langsung melihat kondisi korban selamat yang sedang dirawat. Dia juga menyerahkan bantuan pada korban kecelakaan bus tersebut. “Untuk 10 korban meninggal dunia telah kami serahkan santunan kepada masing- masing ahli waris yang sah melalui transfer. Yang lain segera menyusul,” imbuhnya. Ahli waris korban meninggal mendapat santunan Rp 50 juta. Sedangkan korban luka-luka akan mendapat jaminan biaya perawatan maksimum Rp 20 juta serta menyediakan manfaat tambahan biaya P3K maksimum Rp 1 juta, dan ambulans maksimum Rp 500 ribu. (ald/oni)

Most Read

SMP 14 Juara Festival Saprahan

Bunda PAUD Mesti jadi Teladan

Target Vaksin 70 Persen Warga

Akuntansi Polnep Gelar PPM  

Strategi Belajar di Masa Pandemi

Artikel Terbaru

/