WMO Peringatkan El Nino Berpotensi Kembali, Indonesia Hadapi Risiko Kekeringan Juni–Agustus

PONTIANAK POST – Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperingatkan fenomena El Nino berpeluang berkembang dalam beberapa bulan mendatang dengan probabilitas mencapai 80 persen pada periode Juni–Agustus.
Fenomena ini berpotensi memicu cuaca lebih kering di Indonesia, meningkatkan risiko kekeringan, gelombang panas, dan gangguan terhadap kehidupan masyarakat serta sektor pangan.
WMO menyatakan peluang El Nino bertahan hingga setidaknya November mencapai 90 persen atau lebih.
Kondisi tersebut dipicu oleh suhu permukaan laut yang lebih hangat dari normal di Samudra Pasifik tropis, yang memengaruhi pola curah hujan dan temperatur global.
Indonesia Berisiko Mengalami Cuaca Lebih Kering
Indonesia termasuk wilayah yang berpotensi mengalami dampak signifikan jika El Nino berkembang penuh.
Menurut WMO, fenomena ini umumnya membawa kondisi lebih kering ke Indonesia, Australia, sebagian Asia Selatan, Karibia, Amerika Tengah, dan wilayah utara Amerika Selatan.
Berkurangnya curah hujan dapat memperbesar risiko kekeringan, penurunan ketersediaan air, serta ancaman terhadap produksi pertanian.
Dampak tersebut tidak hanya menyentuh sektor ekonomi, tetapi juga kehidupan masyarakat yang bergantung pada sumber air dan hasil pertanian.
Pengalaman pada peristiwa El Nino sebelumnya menunjukkan bahwa musim kemarau yang lebih panjang dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan di sejumlah daerah Indonesia.


