alexametrics
26.7 C
Pontianak
Saturday, May 21, 2022

Niken Arief Sulistyanto Berbagi Pengalaman sebagai Penyintas COVID-19 

Niken Arief Sulistyanto, Ketua Bhayangkari Gabungan 03 Baharkam, membagikan kisah saat dirinya dan sang suami, Arief Sulistyanto, Kabarhakam Polri, saat dinyatakan postif covid-19 pada Desember 2020 yang lalu. Sempat dirawat di RS Polri, kini keduanya telah pulih dan bisa beraktivitas seperti sediakala.

“Bila mengingat saat kami (saya dan suami) terkena COVID-19, rasanya sampai saat ini masih mengharu biru, alhamdulillah amat sangat bersyukur kami bisa melaluinya dengan sehat, selamat,” ungkap Niken.

Kabar bahwa hasil pemeriksaan tes PCR dirinya dan suami diketahui pada 15 Desember 2020 malam ketika mendapat telepon dari Karumkit Bhayangkara Lemdiklat. Sejak pertama mengetahui bahwa hasil tes PCR positif, keduanya optimis bisa mengalahkan virus di dalam tubuh mereka itu. Mereka kemudian memutuskan untuk memilih rawat inap di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur.

“Dalam perjalanan menuju RS, saya melihat suami, saya memegang tangannya dan berkata pelan, kita harus kuat, kita harus sehat kembali,” tuturnya menceritakan.

Niken mengingat kembali ke belakang, saat bulan Maret 2020 mulai dinyatakan COVID-19 sudah masuk ke Indonesia, dirinya dan keluarga berusaha menjaga kesehatan, mulai dari minum vitamin macam-macam, minum aneka jamu, serta minuman kesehatan lainnya. HIngga bulan Desember 2020 mereka sudah sudah menjalani tes lebih dari 17 kali.

Arief Sulistyanto, Kabarhakam Polri, dan Niken Arief Sulistyanto, Ketua Bhayangkari Gabungan 03 Baharkam

Keduanya memang baru pulang dari Semarang. Niken munduga, kondisi yang memang capek, bolak balik acara, bahkan pernah melakukan zoom meeting sepanjang perjalanan Jakarta – Semarang, sehingga menyita waktu istirahat. Ditambah dengan makan malam di satu ruangan ber-AC dengan seluruh pintu dan jendela harus tertutup semua dikarenakan di luar hujan deras. Dugaannya, mungkin saat itulah virus COVID-19 mulai masuk ke dalam tubuh.

Saat di RS Polri, mereka ditempatkan pada kamar yang sama, dengan terpasang infus. Mereka juga diberi obat antivirus, antibiotik, penurun panas, obat lambung, vitamin, baik melalui minum, suntikan vemplon atau langsung ke otot, dan infus.

“Kami berusaha tidur walaupun rasanya jelas berbeda dengan di rumah, apalagi malam itu bolak balik kami dengar seperti suara tabung oksigen yang didorong,” ucapnya.

Hari itu pula keduanya langsung mengumumkan ke banyak orang melalui Grup WA atau langsung japri, bahwa terkena COVID-19. mereka juga meminta agar yang bertemu dengan mereka agar  segera periksa swab PCR, sekaligus mohon doa agar segera sehat kembali. Keduanya berusaha menjaga semangat dan mood.

Baca Juga :  Midji Ingatkan Penyebaran Corona Sudah Transmisi Lokal

“Sejak hari pertama masuk RS saya makan dan minum banyak, apa saja yang dikirim oleh teman- teman yang baik hati, semoga Allah Ta’ala membalas kebaikan mereka, walau rasanya asin semua atau manis semua, pokoknya saya makan saja. Tapi beda suami, sudah mulai tidak mau makan,” imbuhnya.

Hari keempat Niken mulai merasa biasa, keluhan nyaris tidak ada. Tetapi berbeda dengan sang suami, yang mana mulai dirasakan cegukan dan rasa tidak enak di lambung walau sedikit. Kendati demikian suami masih mengetik dan kami juga masih olahraga ringan, jalan bolak balik di dalam kamar.  Hari kelima, keenam dan ketujuh sang suami demam, keluhan cegukan dan rasa tidak enak pada perut muncul berulang. Kondisi ini berlangsung sekitar tiga hari. Hari kedelapan Alhamdulillah sang suami sudah tidak demam lagi, tidak cegukan kembali, kondisi membaik. “Hari kesembilan kami tes PCR, hasilnya saya negatif, suami masih positif. Karena saya sudah negatif, saya harusnya langsung pulang, tetapi suami masih positif. Jadi saya memilih menemani suami dengan tetap menggunakan masker. Saya tahu ini berisiko, tapi saya tidak mungkin meninggalkan suami saya sendirian dalam kondisi seperti itu,” katanya.

Pada hari kesebelas sang suami dinyatakan negatif dan keduanya bisa pulang ke rumah. Namun, di rumah kondisi suami kembali terasa sesak dan dada tambah sakit, terutama saat tarik nafas panjang. Karena itu, keesokan harinya, mereka masuk RS kembali, tapi di tempat yang berbeda bukan di zona merah lagi.

Usut punya usut, keluhan suami ternyata adalah gejala sisa COVID-19 atau long COVID-19. Ibarat angin puting beliung yang datang pada suatu tempat meninggalkan kerusakan, lantas pergi. Inilah yang terjadi pada pasien COVID-19 dengan gejala sisa meninggalkan kerusakan yang harus segera diperbaiki secara cepat dan tepat agar segera membaik, sembuh dan tidak berakibat fatal.

Hari-hari selanjutnya, bagi Niken dan Arief adalah masa penuh ikhtiar dan doa.

Baca Juga :  Waspada Kasus Covid-19 Meningkat, Capai Dua Kali Lipat Puncak Kasus Delta

“Terbayang saat itu saya melihat kondisi suami yang sesak, yang harus menggunakan oksigen, bila tidak menggunakan oksigen saturasi O2 menurun, yang harus melakukan posisi pron, yang bila berjalan ke toilet memerlukan bantuan, Masya Allah betapa kecilnya kami. Benar-benar kami tidak mengetahui perjalanan apa dan bagaimana yang akan terjadi besok. Yang jelas kami harus terus ikhtiar dan berdoa,” jelasnya.

Berulang kali Niken sampaikan semangat untuk behat Kepala suami. Saat menemani suami, tugasnya adalah bolak balik mengecek lebih dahulu jenis, jumlah dan dosis obat yang diberikan, makanan minuman yang dikonsumsi. Di samping itu, dirinya juga berupaya menjaga diri sendiri agar tetap sehat.

“Saya makan banyak. Pesan segala macam masakan dari restoran di RS, ada kiriman makanan saya makan juga. Di RS saya sempat juga mengikuti dua kali acara melalui zoom meeting dengan pakaian PSH dan satu lagi PSU Bhayangkari, karena acara memang bagian dari tugas dan tanggung jawab saya,” katanya.

Di masa pemulihan, gejala sisa covid-19 ini benar-benar harus bisa mereka menjaga semangat untuk sembuh, karena berita-berita di luar tentang COVID-19 malah membuat semakin bingung dan keriting. Terlebih saat itu berita duka cita banyak, apakah di media elektronik atau media sosial. Di WA juga bolak balik mendapat terusan berita turut berduka cita. Hal ini membuat hati terasa berdebar.

Syukurnya, setelah berbagai ikhtiar, sang suami mulai membaik, dan mulai sesekali melepas oksigen. Selain itu, sang suami juga mulai bisa sholat dengan berdiri, dan terus menunjukkan perkembangan membaik setiap harinya. Setelah dilakukan pemeriksaan laboratorium dan CT Scan Thorax hasilnya membaik. Hingga akhirnya sang suami diizinkan pulang. Selama pemulihan di rumah, keduanya mulai latihan olahraga jalan kaki dan lanjut berjemur sampai batas maksimal pukul 9 pagi. kemudian dilakukan pula fisioterapi setiap hari selama seminggu, lanjut dua hari sekali selama seminggu, lanjut seminggu dua kali, lanjut seminggu sekali.

“Alhamdulillah setelah sebulan terapi dan latihan semua dapat kembali membaik, termasuk dapat berolahraga jalan kaki kembali dengan jarak 9 km dengan kecepatan yang nyaris sama seperti sebelum terkena covid-19,” pungkasnya. **

Niken Arief Sulistyanto, Ketua Bhayangkari Gabungan 03 Baharkam, membagikan kisah saat dirinya dan sang suami, Arief Sulistyanto, Kabarhakam Polri, saat dinyatakan postif covid-19 pada Desember 2020 yang lalu. Sempat dirawat di RS Polri, kini keduanya telah pulih dan bisa beraktivitas seperti sediakala.

“Bila mengingat saat kami (saya dan suami) terkena COVID-19, rasanya sampai saat ini masih mengharu biru, alhamdulillah amat sangat bersyukur kami bisa melaluinya dengan sehat, selamat,” ungkap Niken.

Kabar bahwa hasil pemeriksaan tes PCR dirinya dan suami diketahui pada 15 Desember 2020 malam ketika mendapat telepon dari Karumkit Bhayangkara Lemdiklat. Sejak pertama mengetahui bahwa hasil tes PCR positif, keduanya optimis bisa mengalahkan virus di dalam tubuh mereka itu. Mereka kemudian memutuskan untuk memilih rawat inap di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur.

“Dalam perjalanan menuju RS, saya melihat suami, saya memegang tangannya dan berkata pelan, kita harus kuat, kita harus sehat kembali,” tuturnya menceritakan.

Niken mengingat kembali ke belakang, saat bulan Maret 2020 mulai dinyatakan COVID-19 sudah masuk ke Indonesia, dirinya dan keluarga berusaha menjaga kesehatan, mulai dari minum vitamin macam-macam, minum aneka jamu, serta minuman kesehatan lainnya. HIngga bulan Desember 2020 mereka sudah sudah menjalani tes lebih dari 17 kali.

Arief Sulistyanto, Kabarhakam Polri, dan Niken Arief Sulistyanto, Ketua Bhayangkari Gabungan 03 Baharkam

Keduanya memang baru pulang dari Semarang. Niken munduga, kondisi yang memang capek, bolak balik acara, bahkan pernah melakukan zoom meeting sepanjang perjalanan Jakarta – Semarang, sehingga menyita waktu istirahat. Ditambah dengan makan malam di satu ruangan ber-AC dengan seluruh pintu dan jendela harus tertutup semua dikarenakan di luar hujan deras. Dugaannya, mungkin saat itulah virus COVID-19 mulai masuk ke dalam tubuh.

Saat di RS Polri, mereka ditempatkan pada kamar yang sama, dengan terpasang infus. Mereka juga diberi obat antivirus, antibiotik, penurun panas, obat lambung, vitamin, baik melalui minum, suntikan vemplon atau langsung ke otot, dan infus.

“Kami berusaha tidur walaupun rasanya jelas berbeda dengan di rumah, apalagi malam itu bolak balik kami dengar seperti suara tabung oksigen yang didorong,” ucapnya.

Hari itu pula keduanya langsung mengumumkan ke banyak orang melalui Grup WA atau langsung japri, bahwa terkena COVID-19. mereka juga meminta agar yang bertemu dengan mereka agar  segera periksa swab PCR, sekaligus mohon doa agar segera sehat kembali. Keduanya berusaha menjaga semangat dan mood.

Baca Juga :  Mendag: Distributor Migor Tak Patuhi Aturan Akan Dikenakan Sanksi

“Sejak hari pertama masuk RS saya makan dan minum banyak, apa saja yang dikirim oleh teman- teman yang baik hati, semoga Allah Ta’ala membalas kebaikan mereka, walau rasanya asin semua atau manis semua, pokoknya saya makan saja. Tapi beda suami, sudah mulai tidak mau makan,” imbuhnya.

Hari keempat Niken mulai merasa biasa, keluhan nyaris tidak ada. Tetapi berbeda dengan sang suami, yang mana mulai dirasakan cegukan dan rasa tidak enak di lambung walau sedikit. Kendati demikian suami masih mengetik dan kami juga masih olahraga ringan, jalan bolak balik di dalam kamar.  Hari kelima, keenam dan ketujuh sang suami demam, keluhan cegukan dan rasa tidak enak pada perut muncul berulang. Kondisi ini berlangsung sekitar tiga hari. Hari kedelapan Alhamdulillah sang suami sudah tidak demam lagi, tidak cegukan kembali, kondisi membaik. “Hari kesembilan kami tes PCR, hasilnya saya negatif, suami masih positif. Karena saya sudah negatif, saya harusnya langsung pulang, tetapi suami masih positif. Jadi saya memilih menemani suami dengan tetap menggunakan masker. Saya tahu ini berisiko, tapi saya tidak mungkin meninggalkan suami saya sendirian dalam kondisi seperti itu,” katanya.

Pada hari kesebelas sang suami dinyatakan negatif dan keduanya bisa pulang ke rumah. Namun, di rumah kondisi suami kembali terasa sesak dan dada tambah sakit, terutama saat tarik nafas panjang. Karena itu, keesokan harinya, mereka masuk RS kembali, tapi di tempat yang berbeda bukan di zona merah lagi.

Usut punya usut, keluhan suami ternyata adalah gejala sisa COVID-19 atau long COVID-19. Ibarat angin puting beliung yang datang pada suatu tempat meninggalkan kerusakan, lantas pergi. Inilah yang terjadi pada pasien COVID-19 dengan gejala sisa meninggalkan kerusakan yang harus segera diperbaiki secara cepat dan tepat agar segera membaik, sembuh dan tidak berakibat fatal.

Hari-hari selanjutnya, bagi Niken dan Arief adalah masa penuh ikhtiar dan doa.

Baca Juga :  Angka Covid-19 Landak Turun, Kapolres Landak: Saling Ingatkan Protokol Kesehatan

“Terbayang saat itu saya melihat kondisi suami yang sesak, yang harus menggunakan oksigen, bila tidak menggunakan oksigen saturasi O2 menurun, yang harus melakukan posisi pron, yang bila berjalan ke toilet memerlukan bantuan, Masya Allah betapa kecilnya kami. Benar-benar kami tidak mengetahui perjalanan apa dan bagaimana yang akan terjadi besok. Yang jelas kami harus terus ikhtiar dan berdoa,” jelasnya.

Berulang kali Niken sampaikan semangat untuk behat Kepala suami. Saat menemani suami, tugasnya adalah bolak balik mengecek lebih dahulu jenis, jumlah dan dosis obat yang diberikan, makanan minuman yang dikonsumsi. Di samping itu, dirinya juga berupaya menjaga diri sendiri agar tetap sehat.

“Saya makan banyak. Pesan segala macam masakan dari restoran di RS, ada kiriman makanan saya makan juga. Di RS saya sempat juga mengikuti dua kali acara melalui zoom meeting dengan pakaian PSH dan satu lagi PSU Bhayangkari, karena acara memang bagian dari tugas dan tanggung jawab saya,” katanya.

Di masa pemulihan, gejala sisa covid-19 ini benar-benar harus bisa mereka menjaga semangat untuk sembuh, karena berita-berita di luar tentang COVID-19 malah membuat semakin bingung dan keriting. Terlebih saat itu berita duka cita banyak, apakah di media elektronik atau media sosial. Di WA juga bolak balik mendapat terusan berita turut berduka cita. Hal ini membuat hati terasa berdebar.

Syukurnya, setelah berbagai ikhtiar, sang suami mulai membaik, dan mulai sesekali melepas oksigen. Selain itu, sang suami juga mulai bisa sholat dengan berdiri, dan terus menunjukkan perkembangan membaik setiap harinya. Setelah dilakukan pemeriksaan laboratorium dan CT Scan Thorax hasilnya membaik. Hingga akhirnya sang suami diizinkan pulang. Selama pemulihan di rumah, keduanya mulai latihan olahraga jalan kaki dan lanjut berjemur sampai batas maksimal pukul 9 pagi. kemudian dilakukan pula fisioterapi setiap hari selama seminggu, lanjut dua hari sekali selama seminggu, lanjut seminggu dua kali, lanjut seminggu sekali.

“Alhamdulillah setelah sebulan terapi dan latihan semua dapat kembali membaik, termasuk dapat berolahraga jalan kaki kembali dengan jarak 9 km dengan kecepatan yang nyaris sama seperti sebelum terkena covid-19,” pungkasnya. **

Most Read

Artikel Terbaru

/