alexametrics
26.7 C
Pontianak
Saturday, May 21, 2022

Korupsi Jiwasraya, Jaksa Agung Cekal 10 Orang

Persoalan yang mendera Jiwasraya turut menyeret nama Menteri BUMN Erick Thohir. Belum lama ini, muncul fakta bahwa Jiwasraya sempat membeli saham perusahaan media yang didirikan Erick, yakni PT Mahaka Media Tbk (ABBA). Pembelian itu disebut-sebut sebagai salah satu penyebab Jiwasraya merugi.

Namun, Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga membantahnya. Dia menegaskan, Jiwasraya justru mendapat keuntungan besar dari investasi saham karena keputusan tersebut. Arya menjelaskan, pembelian itu dilakukan pada 23 Januari 2014.

”Nilai saham yang dibeli sekitar Rp 14,9 miliar dengan harga Rp 95 per saham,” ujarnya kemarin.

Arya menjelaskan, Jiwasraya kemudian menjual saham ABBA dua kali. Penjualan pertama dilakukan pada 17 Desember 2014. Jumlah saham yang dijual sekitar 11 miliar dengan harga Rp 114 per saham. Sisanya dijual pada hari yang sama dengan harga Rp 112. Dengan penjualan tersebut, Jiwasraya mendapatkan keuntungan Rp 2,8 miliar. ”Untungnya 18 persen dalam waktu tidak lebih dari setahun. Jadi, itu bukan saham gorengan,” katanya.

Yang membuat jengkel, meski dirundung persoalan keuangan, Jiwasraya justru sempat menggelontorkan dana untuk mensponsori klub sepak bola Manchester City. Arya memerinci kucuran dana tersebut. Antara lain biaya kunjungan Manchester City ke Indonesia Rp 4 miliar, biaya sponsorship Rp 7,5 miliar setelah pajak mulai 1 Juni 2014–31 Mei 2016, biaya suvenir Rp 1 miliar, dan biaya tahunan konsultan Rp 1 miliar.

Dengan demikian, total dana yang dikeluarkan mencapai Rp 13,5 miliar. ”Bayangkan, pada 2014 itu posisi keuangan Jiwasraya sudah jelek, tapi masih mark up (menaikkan, Red) buat jadi suporter Manchester City.”

Baca Juga :  Komunitas Xing Fu Tetap Berbagi di Masa Pandemi

Terpisah, Direktur Utama Jiwasraya Hexana Tri Sasongko blak-blakan mengungkap persoalan internal di perusahaannya. Hexana yang baru menjabat Dirut Jiwasraya menerangkan, sejak 2006 ekuitas perusahaan negatif Rp 3,2 triliun. Hal tersebut berlangsung terus hingga 2008. Pada 2009 perusahaan mencatat ekuitas surplus Rp 800 miliar. Surplus itu berlanjut hingga 2017. Namun, surplus tersebut dilakukan dengan upaya yang tidak tepat, yakni melalui skema reasuransi dan revaluasi aset.

”Awalnya reasuransi masih bisa dilakukan, tapi tahun 2012 sudah tidak boleh reasuransi. Akhirnya melakukan revaluasi aset pada 2013,” katanya. Namun, revaluasi aset itu hanya dilakukan di atas kertas. ”Tidak ada pemasukan,” imbuhnya. Bukannya menambah uang, yang ada malah pajak (PBB) makin tinggi. ”Jadi, benar kalau balance sheet Jiwasraya tidak sehat sudah lama,” tegasnya.

Upaya penyehatan perusahaan asuransi negara itu pun makin amburadul. Puncaknya, perusahaan mengalami defisit Rp 15,83 triliun pada 2018. Di sisi lain, fokus produk yang ditawarkan juga tidak tepat. Selama ini Jiwasraya menawarkan produk tradisional dengan skema garansi jangka panjang. Bunga yang ditawarkan sampai dengan 14 persen net.

Kebijakan tersebut merugikan perusahaan. Sebab, dalam jangka panjang, suku bunga justru mengalami penurunan. Hal itu diperparah dengan penerbitan produk saving plan. Produk tersebut menawarkan guaranteed return 9–13 persen selama 2013 hingga 2018 dengan periode pencairan setiap tahun. ”Return yang dihasilkan Jiwasraya Saving Plan saja lebih besar dibandingkan tingkat bunga deposito, bond yield, dan lainnya. Logikanya saja sudah tidak masuk,” tegasnya.

Baca Juga :  TMC Efektif Turunkan Intensitas Hujan

Kasus Hukum

Aroma korupsi dalam kasus Jiwasraya terus ditangani Kejaksaan Agung (Kejagung). Jaksa Agung ST Burhanuddin mengungkapkan, dugaan korupsi yang tengah disidik instansinya terus berkembang. Terbaru, pihaknya sudah meminta Direktorat Jenderal (Ditjen) Imigrasi Kemenkum HAM mencekal sepuluh nama terkait kasus tersebut.

Keterangan itu disampaikan langsung oleh Burhanuddin kemarin. ”Jadi, kami sudah minta untuk pencegahan ke luar negeri atau cekal itu untuk sepuluh orang,” terangnya. Menurut dia, permintaan tersebut sudah disampaikan kepada Ditjen Imigrasi Kemenkum HAM Kamis (26/12) malam. Dia menyebutkan, dari sepuluh nama tersebut, ada yang potensial jadi tersangka. Namun, Burhanuddin tidak membuka secara menyeluruh sepuluh nama yang dia sebut sudah dicekal. ”Nanti saja kita lihat perkembangannya,” tutur dia.

Orang nomor satu di Korps Adhyaksa itu menyampaikan bahwa pihaknya punya alasan kuat mencegah nama-nama tersebut untuk bepergian ke luar negeri. Sesuai ketentuan, pencekalan berlaku sampai enam bulan ke depan. Berkaitan dengan rencana Kemenkeu menggandeng KPK untuk menangani kasus Jiwasraya, Burhanuddin menyebutkan, sejauh ini belum ada komunikasi antara Kemenkeu dan instansinya. Yang pasti, lanjut dia, Kejagung tidak berhenti menyidik dugaan korupsi di perusahaan BUMN itu. Dia berjanji, perkembangan penanganan kasusnya terus disampaikan.

Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejagung Adi Toegarisman menyampaikan inisial sepuluh nama yang dicekal. ”Saya baca inisialnya saja ya, yakni HR, DYA, HP, MZ, DW, GL, ER, HH, BT, dan AS,” bebernya.

Editor : Ilham Safutra/Jawa Pos

Reporter : syn/dee/ken/syn/mar/c9/oni

Persoalan yang mendera Jiwasraya turut menyeret nama Menteri BUMN Erick Thohir. Belum lama ini, muncul fakta bahwa Jiwasraya sempat membeli saham perusahaan media yang didirikan Erick, yakni PT Mahaka Media Tbk (ABBA). Pembelian itu disebut-sebut sebagai salah satu penyebab Jiwasraya merugi.

Namun, Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga membantahnya. Dia menegaskan, Jiwasraya justru mendapat keuntungan besar dari investasi saham karena keputusan tersebut. Arya menjelaskan, pembelian itu dilakukan pada 23 Januari 2014.

”Nilai saham yang dibeli sekitar Rp 14,9 miliar dengan harga Rp 95 per saham,” ujarnya kemarin.

Arya menjelaskan, Jiwasraya kemudian menjual saham ABBA dua kali. Penjualan pertama dilakukan pada 17 Desember 2014. Jumlah saham yang dijual sekitar 11 miliar dengan harga Rp 114 per saham. Sisanya dijual pada hari yang sama dengan harga Rp 112. Dengan penjualan tersebut, Jiwasraya mendapatkan keuntungan Rp 2,8 miliar. ”Untungnya 18 persen dalam waktu tidak lebih dari setahun. Jadi, itu bukan saham gorengan,” katanya.

Yang membuat jengkel, meski dirundung persoalan keuangan, Jiwasraya justru sempat menggelontorkan dana untuk mensponsori klub sepak bola Manchester City. Arya memerinci kucuran dana tersebut. Antara lain biaya kunjungan Manchester City ke Indonesia Rp 4 miliar, biaya sponsorship Rp 7,5 miliar setelah pajak mulai 1 Juni 2014–31 Mei 2016, biaya suvenir Rp 1 miliar, dan biaya tahunan konsultan Rp 1 miliar.

Dengan demikian, total dana yang dikeluarkan mencapai Rp 13,5 miliar. ”Bayangkan, pada 2014 itu posisi keuangan Jiwasraya sudah jelek, tapi masih mark up (menaikkan, Red) buat jadi suporter Manchester City.”

Baca Juga :  Komunitas Xing Fu Tetap Berbagi di Masa Pandemi

Terpisah, Direktur Utama Jiwasraya Hexana Tri Sasongko blak-blakan mengungkap persoalan internal di perusahaannya. Hexana yang baru menjabat Dirut Jiwasraya menerangkan, sejak 2006 ekuitas perusahaan negatif Rp 3,2 triliun. Hal tersebut berlangsung terus hingga 2008. Pada 2009 perusahaan mencatat ekuitas surplus Rp 800 miliar. Surplus itu berlanjut hingga 2017. Namun, surplus tersebut dilakukan dengan upaya yang tidak tepat, yakni melalui skema reasuransi dan revaluasi aset.

”Awalnya reasuransi masih bisa dilakukan, tapi tahun 2012 sudah tidak boleh reasuransi. Akhirnya melakukan revaluasi aset pada 2013,” katanya. Namun, revaluasi aset itu hanya dilakukan di atas kertas. ”Tidak ada pemasukan,” imbuhnya. Bukannya menambah uang, yang ada malah pajak (PBB) makin tinggi. ”Jadi, benar kalau balance sheet Jiwasraya tidak sehat sudah lama,” tegasnya.

Upaya penyehatan perusahaan asuransi negara itu pun makin amburadul. Puncaknya, perusahaan mengalami defisit Rp 15,83 triliun pada 2018. Di sisi lain, fokus produk yang ditawarkan juga tidak tepat. Selama ini Jiwasraya menawarkan produk tradisional dengan skema garansi jangka panjang. Bunga yang ditawarkan sampai dengan 14 persen net.

Kebijakan tersebut merugikan perusahaan. Sebab, dalam jangka panjang, suku bunga justru mengalami penurunan. Hal itu diperparah dengan penerbitan produk saving plan. Produk tersebut menawarkan guaranteed return 9–13 persen selama 2013 hingga 2018 dengan periode pencairan setiap tahun. ”Return yang dihasilkan Jiwasraya Saving Plan saja lebih besar dibandingkan tingkat bunga deposito, bond yield, dan lainnya. Logikanya saja sudah tidak masuk,” tegasnya.

Baca Juga :  TMC Efektif Turunkan Intensitas Hujan

Kasus Hukum

Aroma korupsi dalam kasus Jiwasraya terus ditangani Kejaksaan Agung (Kejagung). Jaksa Agung ST Burhanuddin mengungkapkan, dugaan korupsi yang tengah disidik instansinya terus berkembang. Terbaru, pihaknya sudah meminta Direktorat Jenderal (Ditjen) Imigrasi Kemenkum HAM mencekal sepuluh nama terkait kasus tersebut.

Keterangan itu disampaikan langsung oleh Burhanuddin kemarin. ”Jadi, kami sudah minta untuk pencegahan ke luar negeri atau cekal itu untuk sepuluh orang,” terangnya. Menurut dia, permintaan tersebut sudah disampaikan kepada Ditjen Imigrasi Kemenkum HAM Kamis (26/12) malam. Dia menyebutkan, dari sepuluh nama tersebut, ada yang potensial jadi tersangka. Namun, Burhanuddin tidak membuka secara menyeluruh sepuluh nama yang dia sebut sudah dicekal. ”Nanti saja kita lihat perkembangannya,” tutur dia.

Orang nomor satu di Korps Adhyaksa itu menyampaikan bahwa pihaknya punya alasan kuat mencegah nama-nama tersebut untuk bepergian ke luar negeri. Sesuai ketentuan, pencekalan berlaku sampai enam bulan ke depan. Berkaitan dengan rencana Kemenkeu menggandeng KPK untuk menangani kasus Jiwasraya, Burhanuddin menyebutkan, sejauh ini belum ada komunikasi antara Kemenkeu dan instansinya. Yang pasti, lanjut dia, Kejagung tidak berhenti menyidik dugaan korupsi di perusahaan BUMN itu. Dia berjanji, perkembangan penanganan kasusnya terus disampaikan.

Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejagung Adi Toegarisman menyampaikan inisial sepuluh nama yang dicekal. ”Saya baca inisialnya saja ya, yakni HR, DYA, HP, MZ, DW, GL, ER, HH, BT, dan AS,” bebernya.

Editor : Ilham Safutra/Jawa Pos

Reporter : syn/dee/ken/syn/mar/c9/oni

Most Read

Artikel Terbaru

/