alexametrics
22.8 C
Pontianak
Sunday, August 14, 2022

Dua Pelaku Tewas, 20 Jamaah Luka-Luka

JAKARTA- Teroris pengebom Gereja Katedral Makassar benar-benar keji. Dalam situasi darurat pandemi Covid 19, kelompok teroris masih berupaya menebar teror dengan aksi bom bunuh diri sepeda motor. Diduga pelaku berjumlah dua orang dan belum diketahui apakah ada pelaku selamat dalam aksi itu. Namun, versi Mabes Polri terdapat setidaknya 14 korban luka berat dan ringan. Berdasar update data yang diterima Kemenko Polhukam jumlah korban luka bertambah menjadi 20 orang.

Kadivhumas Polri Irjen Argo Yuwono menuturkan, dari informasi awal yang dihimpun, diduga pelaku dua orang berboncengan sepeda motor bernomor pelat DD 5984 MD. Keduanya mencoba masuk ke area pelataran gereja. ”Namun, dicegah oleh keamanan gereja,” ujarnya.

Kondisinya saat itu, jamaah baru saja selesai mengikuti kegiatan kematian tuhan dan misa sesuai dengan protokol kesehatan. Jamaah sedang menuju keluar gereja. ”Saat dicegah masuk itulah, terjadi ledakan yang diduga bersumber dari pengendara sepeda motor tersebut,” jelasnya.

Dari hasil olah tempat kejadian perkara (TKP), sementara ditemukan sepeda motor yang sudah hancur dan potongan bagian tubuh. Semua itu menjadi bagian dari penyidik kepolisian. ”Potongan tubuh ini apakah dari pelaku belum diketahui,” ujarnya.

Belum juga diketahui, apakah ada pelaku yang selamat dalam kejadian tersebut. Yang pasti, dalam bom bunuh diri ini terdapat 14 korban luka berat dan ringan. Terdiri dari tiga orang dirawat di RS Stela Maris, tujuh orang di RS Akadimis, dan empat orang di RS Pelamonia. ”Mereka mengalami luka di bagian, wajah, dada, perut hingga kaki,” tuturnya.

Luka tersebut akibat dari serpihan atau pecahan dari ledakan bom tersebut. Dia menuturkan bahwa saat ini sedang dicari sirkuti sumber ledakan, untuk bisa memastikan apakah ini bom high explosive atau low explosive. ”Itu bagian dari Densus 88 Anti Teror,” jelasnya.

Menurutnya, memang terdapat rangkaian penangkapan terduga teroris di Makassar, sebelum kejadian ledakan bom ini. Namun, belum bisa diketahui apakah terhubung dengan penangkapan tersebut. ”yang pasti ini menjadi evaluasi dari penyidik Densus 88, apakah terkait dengan penangkapan,” ungkapnya.

Saat ini Densus 88 terus melakukan penyelidikan untuk mengetahui jaringan mana yang menjadi pelaku bom bunuh diri. ”Mohon bersabar kita lakukan penyelidikan, kita akan tau jaringan mana ini,” terangnya dalam konferensi pers kemarin.

Sudah ada beberapa saksi yang diperiksa dalam kejadian tersebut. Didengar keterangannya, melihat atau mendengar apa saat kejadian. ”Kita masih kumpulkan, nanti akan disajikan,” terang mantan kabidhumas Polda Metro Jaya tersebut.

Dia menegaskan, untuk pencegahan kedepan Polri akan memberikan himbauan agar acara kematian tuhan dan paskah ini bisa dilakukan secara virtual. Nantinya, petunjuk itu akan diberikan asisten kapolri. ”Kami juga mengajak masyarakat untuk bersama menjaga kamtibmas,” ujarnya.

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengatakan, masyarakat diharapkan tidak panik, Densus 88 Anti Teror akan melakukan penindakan terhadap kelompok teroris. Hal itu merupakan komitmen dari korps bhayangkara. ”Untuk memberangus kelompok teror,” jelasnya.

Menurutnya, Kadensus dan jajarannya telah diperintahkan untuk ke Makassar agar mendalami kasus terebut. ”Negara hadir dan tidak akan kalah dengan kelompok teroris,” terang mantan Kabareskrim tersebut.

Baca Juga :  Pemprov Sentil Kubu Raya Soal Kenaikan Kasus Covid-19

Argo Yuwono menambahkan, Kadensus telah berangkat ke Makassar Minggu siang. Tentu di Makassar juga telah ada Korwil Densus 88. ”Semua dikerahkan,” papar jenderal berbintang dua tersebut.

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mohammad Mahfud MD memastikan bahwa strategi terbaik sudah dilancarkan oleh instansi-instansi terkait guna membongkar peristiwa bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar. “Saya sudah melakukan koordinasi dan kontak langsung dengan kepala BIN, kapolri, kepala BNPT, tim-tim TNI, kemudian kapolda, juga dengan kepala Densus,” tegasnya.

Mahfud memastikan, siapapun yang terlibat dan terkait dengan peristiwa tersebut akan diburu, ditangkap, dan diadili sesuai ketentuan yang berlaku. “Pemerintah juga sudah meminta kepada aparat keamanan, yakni Polri dan TNI untuk meningkatkan pengamanan di rumah-rumah ibadah, di pusat-pusat keramaian, dan di berbagai wilayah publik lainnya di seluruh Indonesia,” kata mantan ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itu.

Sementara itu, Deputi VII Bidang Komunikasi dan Informasi Badan Intelijen Negara (BIN) Wawan Purwanto menyebut, instansinya sudah melihat indikasi aksi terorisme di Makassar sejak jauh hari. Tepatnya sejak mereka memonitor ratusan jemaah dibaiat oleh ISIS di Sudiang, Sulawesi Selatan (Sulsel) pada 2015 lalu. Pun demikian saat Polda Sulsel menangkap 20 orang terduga teroris dari jaringan JAD pada Januari tahun ini.

Wawan menyatakan bahwa mereka terlibat dalam sejumlah aksi kelompok teroris. Mulai pendanaan pelaku bom bunuh diri di Filipina sampai menjadi fasilitator pelarian Andi Baso yang tidak lain adalah pelaku pengeboman Gereja Oikomene, Samarinda pada 2017. “Mereka sudah melakukan persiapan fisik maupun kemampuan i’dad,” bebernya. Dia pun menyebutkan bahwa pengantin yang melakukan bom bunuh diri kemarin sedang dalam kejaran aparat keamanan.

Menurut Wawan, selain pelaku, masih ada beberapa orang yang juga tengah diburu aparat. “Masih ada beberapa yang belum terungkap dan terus dalam pengajaran,” jelas dia. Menurut dia, penangkapan sejumlah pelaku teror di Makassar yang sebagaian di antaranya merupakan anggota dan simpatisan eks organisasi masyarakat (ormas) masih terus digali dan didalami oleh pihak berwenang.

Sementara itu, Pakar terorisme Al Chaidar meyakini bom bunuh diri di depan Gereja Katedral Makassar bukan dilakukan oleh Kelompok Mujahiddin Indonesia Timur atau MIT. “Kelompok MIT itu sudah terkepung,” kata dia saat diwawancarai kemarin. Menurut dia, yang saat ini lebih bebas bergerak adalah kelompok Jemaah Ansharut Daulah (JAD). Dari pola bom bunuh diri yang dilakukan pun, Al Chaidar melihat tindakan pelaku bom bunuh diri tersebut sudah berkali-kali dilakukan oleh JAD.

Al Chaidar menyatakan, teroris yang menyasar gereja sebagai target peledakan bom adalah pengidap chirsthopobia. Salah satu insiden ledakan bom bunuh diri dengan sasaran serupa, kata dia, pernah terjadi di Surabaya. Dengan pola yang mirip, sasaran yang sama, juga kelompok JAD di balik ledakan tersebut. “Kelompok JAD sudah lama terlibat di dalam upaya bom terhadap gereja,” imbuhnya. Menurut dia, bom bunuh diri yang terjadi di Makassar dipicu aksi Densus 88 Antiteror belakangan ini.

Baca Juga :  Pilkada Saat Pandemi Covid-19, KPU Yakin Partisipasi Masyarakat Tinggi

Dia menyebut, penangkapan puluhan teroris di Jawa dan Sumatera membuat anggota JAD yang berada di daerah lain bereaksi. “Penangkapan itu yang membuat mereka (kelompok JAD, Red) marah,” kata dia. Untuk mengantisipasi agar kejadian serupa tidak terulang lagi, Al Chaidar menyebutkan bahwa aparat kepolisian harus bertindak lebih aktif untuk mendeteksi pergerakan kelompok tersebut. “Harus dideteksi semua yang menganut paham itu. Polisi punya kemampuan untuk melakukannya,” tambahnya.

Selain itu, Al Chaidar menyatakan, pemerintah juga harus melakukan kontra wacana terhadap semua pihak yang terkait dengan paham tersebut. Selama ini, pemerintah melawan paham itu menggunakan strategi kontra narasi. Menurut dia, strategi tersebut sudah tidak efektif. “Dan kontra narasi dengan kontra wacana itu berbeda,” ujar dia. Karena itu, rantai penyebaran paham itu tidak kunjung terputus. Sehingga aksi-aksi teror seperti bom bunuh diri terus berulang terjadi.

Terpisah, Khairul Fahmi dari Institute for Security and Strategic Studies (ISSES) menyatakan, ada dua kelompok yang bisa jadi mendalangi bom bunuh diri di Makassar. JAD dan Jemaah Islamiyah (JI). Sementara MIT yang berbasis di Poso dia nilai minim kemungkinan turun gunung untuk beraksi di Makassar. Walau sejatinya daerah operasi MIT tidak jauh dari  Makassar. “Terlalu cepat kalau disimpulkan aksi (bom bunuh diri) itu dilakukan atau digerakkan secara langsung oleh MIT,” jelasnya.

Seperti Al Chaidar, Fahmi juga melihat pola sama antara bom bunuh diri di Makassar dengan bom di Surabaya. “Kalau dilihat dari pola, kemungkinan itu JAD masih ada,” ungkap dia. Namun, berdasar sel kelompok teroris yang belakangan terdeteksi aktif bergerak, dia melihat ada bayang-bayang JI di balik aksi teroris kemarin. “Kemungkinan pelakunya merupakan bagian dari sel JI yang belakangan terindikasi aktif melakukan rekrutmen dan penggalangan dana di sejumlah daerah,” tambahnya.

Dugaan itu semakin kuat saat aparat kepolisian di Makassar menyatakan ledakan di depan Gereja Katedral Makassar berjenis high explosive yang berdaya rusak cukup besar. “Itu salah satu yang membuat saya menduga (bom bunuh diri di Makassar) bagian dari jaringan lama seperti JI,” ujarnya. Kalau pun dugaan itu meleset, dia yakin pelaku pernah berhubungan atau bersentuhan dengan JI. Namun demikian, untuk memastikan dalang bom bunuh diri itu, masih dibutuhkan informasi yang lebih banyak.

Menurut Fahmi, informasi yang tersedia saat ini belum cukup untuk menarik kesimpulan kelompok mana di balik aksi teror itu. “Tapi, dari keterangan bahwa peledak yang digunakan bersifat high explosive, bisa diduga bahwa pelaku bukan lone wolf, sudah melakukan persiapan yg cukup matang, hanya saja beraksi terlalu dini,” bebernya. Dia menilai aksi teror itu dilakukan lantaran pelaku sudah dalam keadaan terdesak. Sehingga nekat melakukan bom bunuh diri. (idr/syn/)

JAKARTA- Teroris pengebom Gereja Katedral Makassar benar-benar keji. Dalam situasi darurat pandemi Covid 19, kelompok teroris masih berupaya menebar teror dengan aksi bom bunuh diri sepeda motor. Diduga pelaku berjumlah dua orang dan belum diketahui apakah ada pelaku selamat dalam aksi itu. Namun, versi Mabes Polri terdapat setidaknya 14 korban luka berat dan ringan. Berdasar update data yang diterima Kemenko Polhukam jumlah korban luka bertambah menjadi 20 orang.

Kadivhumas Polri Irjen Argo Yuwono menuturkan, dari informasi awal yang dihimpun, diduga pelaku dua orang berboncengan sepeda motor bernomor pelat DD 5984 MD. Keduanya mencoba masuk ke area pelataran gereja. ”Namun, dicegah oleh keamanan gereja,” ujarnya.

Kondisinya saat itu, jamaah baru saja selesai mengikuti kegiatan kematian tuhan dan misa sesuai dengan protokol kesehatan. Jamaah sedang menuju keluar gereja. ”Saat dicegah masuk itulah, terjadi ledakan yang diduga bersumber dari pengendara sepeda motor tersebut,” jelasnya.

Dari hasil olah tempat kejadian perkara (TKP), sementara ditemukan sepeda motor yang sudah hancur dan potongan bagian tubuh. Semua itu menjadi bagian dari penyidik kepolisian. ”Potongan tubuh ini apakah dari pelaku belum diketahui,” ujarnya.

Belum juga diketahui, apakah ada pelaku yang selamat dalam kejadian tersebut. Yang pasti, dalam bom bunuh diri ini terdapat 14 korban luka berat dan ringan. Terdiri dari tiga orang dirawat di RS Stela Maris, tujuh orang di RS Akadimis, dan empat orang di RS Pelamonia. ”Mereka mengalami luka di bagian, wajah, dada, perut hingga kaki,” tuturnya.

Luka tersebut akibat dari serpihan atau pecahan dari ledakan bom tersebut. Dia menuturkan bahwa saat ini sedang dicari sirkuti sumber ledakan, untuk bisa memastikan apakah ini bom high explosive atau low explosive. ”Itu bagian dari Densus 88 Anti Teror,” jelasnya.

Menurutnya, memang terdapat rangkaian penangkapan terduga teroris di Makassar, sebelum kejadian ledakan bom ini. Namun, belum bisa diketahui apakah terhubung dengan penangkapan tersebut. ”yang pasti ini menjadi evaluasi dari penyidik Densus 88, apakah terkait dengan penangkapan,” ungkapnya.

Saat ini Densus 88 terus melakukan penyelidikan untuk mengetahui jaringan mana yang menjadi pelaku bom bunuh diri. ”Mohon bersabar kita lakukan penyelidikan, kita akan tau jaringan mana ini,” terangnya dalam konferensi pers kemarin.

Sudah ada beberapa saksi yang diperiksa dalam kejadian tersebut. Didengar keterangannya, melihat atau mendengar apa saat kejadian. ”Kita masih kumpulkan, nanti akan disajikan,” terang mantan kabidhumas Polda Metro Jaya tersebut.

Dia menegaskan, untuk pencegahan kedepan Polri akan memberikan himbauan agar acara kematian tuhan dan paskah ini bisa dilakukan secara virtual. Nantinya, petunjuk itu akan diberikan asisten kapolri. ”Kami juga mengajak masyarakat untuk bersama menjaga kamtibmas,” ujarnya.

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengatakan, masyarakat diharapkan tidak panik, Densus 88 Anti Teror akan melakukan penindakan terhadap kelompok teroris. Hal itu merupakan komitmen dari korps bhayangkara. ”Untuk memberangus kelompok teror,” jelasnya.

Menurutnya, Kadensus dan jajarannya telah diperintahkan untuk ke Makassar agar mendalami kasus terebut. ”Negara hadir dan tidak akan kalah dengan kelompok teroris,” terang mantan Kabareskrim tersebut.

Baca Juga :  Acara Gernas BBI, Jokowi: Belanja Produk Lokal Dukung Perekonomian

Argo Yuwono menambahkan, Kadensus telah berangkat ke Makassar Minggu siang. Tentu di Makassar juga telah ada Korwil Densus 88. ”Semua dikerahkan,” papar jenderal berbintang dua tersebut.

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mohammad Mahfud MD memastikan bahwa strategi terbaik sudah dilancarkan oleh instansi-instansi terkait guna membongkar peristiwa bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar. “Saya sudah melakukan koordinasi dan kontak langsung dengan kepala BIN, kapolri, kepala BNPT, tim-tim TNI, kemudian kapolda, juga dengan kepala Densus,” tegasnya.

Mahfud memastikan, siapapun yang terlibat dan terkait dengan peristiwa tersebut akan diburu, ditangkap, dan diadili sesuai ketentuan yang berlaku. “Pemerintah juga sudah meminta kepada aparat keamanan, yakni Polri dan TNI untuk meningkatkan pengamanan di rumah-rumah ibadah, di pusat-pusat keramaian, dan di berbagai wilayah publik lainnya di seluruh Indonesia,” kata mantan ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itu.

Sementara itu, Deputi VII Bidang Komunikasi dan Informasi Badan Intelijen Negara (BIN) Wawan Purwanto menyebut, instansinya sudah melihat indikasi aksi terorisme di Makassar sejak jauh hari. Tepatnya sejak mereka memonitor ratusan jemaah dibaiat oleh ISIS di Sudiang, Sulawesi Selatan (Sulsel) pada 2015 lalu. Pun demikian saat Polda Sulsel menangkap 20 orang terduga teroris dari jaringan JAD pada Januari tahun ini.

Wawan menyatakan bahwa mereka terlibat dalam sejumlah aksi kelompok teroris. Mulai pendanaan pelaku bom bunuh diri di Filipina sampai menjadi fasilitator pelarian Andi Baso yang tidak lain adalah pelaku pengeboman Gereja Oikomene, Samarinda pada 2017. “Mereka sudah melakukan persiapan fisik maupun kemampuan i’dad,” bebernya. Dia pun menyebutkan bahwa pengantin yang melakukan bom bunuh diri kemarin sedang dalam kejaran aparat keamanan.

Menurut Wawan, selain pelaku, masih ada beberapa orang yang juga tengah diburu aparat. “Masih ada beberapa yang belum terungkap dan terus dalam pengajaran,” jelas dia. Menurut dia, penangkapan sejumlah pelaku teror di Makassar yang sebagaian di antaranya merupakan anggota dan simpatisan eks organisasi masyarakat (ormas) masih terus digali dan didalami oleh pihak berwenang.

Sementara itu, Pakar terorisme Al Chaidar meyakini bom bunuh diri di depan Gereja Katedral Makassar bukan dilakukan oleh Kelompok Mujahiddin Indonesia Timur atau MIT. “Kelompok MIT itu sudah terkepung,” kata dia saat diwawancarai kemarin. Menurut dia, yang saat ini lebih bebas bergerak adalah kelompok Jemaah Ansharut Daulah (JAD). Dari pola bom bunuh diri yang dilakukan pun, Al Chaidar melihat tindakan pelaku bom bunuh diri tersebut sudah berkali-kali dilakukan oleh JAD.

Al Chaidar menyatakan, teroris yang menyasar gereja sebagai target peledakan bom adalah pengidap chirsthopobia. Salah satu insiden ledakan bom bunuh diri dengan sasaran serupa, kata dia, pernah terjadi di Surabaya. Dengan pola yang mirip, sasaran yang sama, juga kelompok JAD di balik ledakan tersebut. “Kelompok JAD sudah lama terlibat di dalam upaya bom terhadap gereja,” imbuhnya. Menurut dia, bom bunuh diri yang terjadi di Makassar dipicu aksi Densus 88 Antiteror belakangan ini.

Baca Juga :  Polisi Periksa Sidik Jari Pelaku Bom Bunuh Diri

Dia menyebut, penangkapan puluhan teroris di Jawa dan Sumatera membuat anggota JAD yang berada di daerah lain bereaksi. “Penangkapan itu yang membuat mereka (kelompok JAD, Red) marah,” kata dia. Untuk mengantisipasi agar kejadian serupa tidak terulang lagi, Al Chaidar menyebutkan bahwa aparat kepolisian harus bertindak lebih aktif untuk mendeteksi pergerakan kelompok tersebut. “Harus dideteksi semua yang menganut paham itu. Polisi punya kemampuan untuk melakukannya,” tambahnya.

Selain itu, Al Chaidar menyatakan, pemerintah juga harus melakukan kontra wacana terhadap semua pihak yang terkait dengan paham tersebut. Selama ini, pemerintah melawan paham itu menggunakan strategi kontra narasi. Menurut dia, strategi tersebut sudah tidak efektif. “Dan kontra narasi dengan kontra wacana itu berbeda,” ujar dia. Karena itu, rantai penyebaran paham itu tidak kunjung terputus. Sehingga aksi-aksi teror seperti bom bunuh diri terus berulang terjadi.

Terpisah, Khairul Fahmi dari Institute for Security and Strategic Studies (ISSES) menyatakan, ada dua kelompok yang bisa jadi mendalangi bom bunuh diri di Makassar. JAD dan Jemaah Islamiyah (JI). Sementara MIT yang berbasis di Poso dia nilai minim kemungkinan turun gunung untuk beraksi di Makassar. Walau sejatinya daerah operasi MIT tidak jauh dari  Makassar. “Terlalu cepat kalau disimpulkan aksi (bom bunuh diri) itu dilakukan atau digerakkan secara langsung oleh MIT,” jelasnya.

Seperti Al Chaidar, Fahmi juga melihat pola sama antara bom bunuh diri di Makassar dengan bom di Surabaya. “Kalau dilihat dari pola, kemungkinan itu JAD masih ada,” ungkap dia. Namun, berdasar sel kelompok teroris yang belakangan terdeteksi aktif bergerak, dia melihat ada bayang-bayang JI di balik aksi teroris kemarin. “Kemungkinan pelakunya merupakan bagian dari sel JI yang belakangan terindikasi aktif melakukan rekrutmen dan penggalangan dana di sejumlah daerah,” tambahnya.

Dugaan itu semakin kuat saat aparat kepolisian di Makassar menyatakan ledakan di depan Gereja Katedral Makassar berjenis high explosive yang berdaya rusak cukup besar. “Itu salah satu yang membuat saya menduga (bom bunuh diri di Makassar) bagian dari jaringan lama seperti JI,” ujarnya. Kalau pun dugaan itu meleset, dia yakin pelaku pernah berhubungan atau bersentuhan dengan JI. Namun demikian, untuk memastikan dalang bom bunuh diri itu, masih dibutuhkan informasi yang lebih banyak.

Menurut Fahmi, informasi yang tersedia saat ini belum cukup untuk menarik kesimpulan kelompok mana di balik aksi teror itu. “Tapi, dari keterangan bahwa peledak yang digunakan bersifat high explosive, bisa diduga bahwa pelaku bukan lone wolf, sudah melakukan persiapan yg cukup matang, hanya saja beraksi terlalu dini,” bebernya. Dia menilai aksi teror itu dilakukan lantaran pelaku sudah dalam keadaan terdesak. Sehingga nekat melakukan bom bunuh diri. (idr/syn/)

Most Read

Artikel Terbaru

/